Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Daud adalah seorang Raja yang juga Nabi. Dia sediakan waktu khusus untuk mengurusi kerajaannya, termasuk menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi pada rakyatnya. Dan dia sediakan pula waktu khusus untuk khalwah dan beribadah, membaca Zabur, melantunkan tasbih dan puji-pujian kepada Allah SwT di dalam mihrabnya.
Demikianlah sebagai seorang Raja yang juga Nabi, Daud memerintah dengan adil dan bijak, termasuk dalam menyelesaikan perselisihan yang muncul di tengah-tengah umat atau warganya. Pada suatu hari, kebijakan Daud dalam memutuskan perkara diuji. Allah SwT berfirman yang artinya:
(21) “Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat tembok tempat ibadah? (22) Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (23) Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan’. (24) Daud berkata: ‘Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; dan amat sedikitlah mereka ini’. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. (25) Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (QS. Shad [38]: 21-25)
Pada suatu hari, Daud menyendiri di tempat beliau beribadah. Tidak seorang pun diizinkan masuk. Tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi. Tetapi, tiba-tiba Daud dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang masuk dengan memanjat tembok. Dua orang itu berhasil meyakinkan Daud, bahwa mereka berdua tidak bermaksud jahat. Hanya ingin mengadukan perkara yang terjadi antara mereka berdua. Mereka minta Raja Daud menyelesaikannya.
Salah seorang dari mereka menceritakan persoalannya: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.
Tidak dijelaskan dalam ayat tersebut bagaimana hubungan persaudaraan antara mereka berdua. Apakah saudara kandung, saudara sebapak atau seibu, atau saudara seiman. Barangkali yang terakhir itulah yang benar, yaitu saudara seiman, sama-sama pengikut Nabi Daud, bukan saudara dalam hubungan darah.
Tanpa meminta penjelasan dari pihak yang satu lagi, Daud langsung memutuskan bahwa yang punya 99 ekor kambing betina itu telah berbuat zalim. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.”
Daud langsung membuat keputusan tanpa meminta penjelasan lebih dahulu dari pihak satu lagi, yaitu lawan perkara. Harusnya, agar dapat membuat keputusan yang adil, seorang hakim harus mendengarkan kedua belah pihak terlebih dahulu. Barangkali yang punya 99 ekor kambing betina itu punya alasan sendiri kenapa dia meminta kambing saudaranya yang satu ekor itu digabungkan kepada kambingnya yang sudah berjumlah 99 ekor itu.
Menyadari kekeliruannya, Daud segera memohon ampun kepada Allah SwT, dan Allah Yang Maha Pengampun mengampuninya. Daud sadar bahwa dia sedang diuji oleh Allah SwT.
Barangkali muncul pertanyaan, kenapa Daud segera sadar bahwa dia sedang diuji oleh Allah SwT? Dalam ayat tidak ada penjelasan. Tetapi ada mufassir yang mengatakan bahwa setelah Daud memutuskan perkaranya, tiba-tiba dua orang yang berperkara itu menghilang. Melihat dua orang itu hilang begitu saja, sadarlah dia bahwa dua orang itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah SwT untuk menguji dan memberikan pelajaran kepadanya, agar selalu mendengar dua pihak yang berperkara sebelum membuat keputusan.
Mufassir lain menyatakan bahwa akhirnya Daud sadar bahwa tidak ada orang yang bisa masuk Mihrab tempat dia menyendiri beribadah tanpa diketahui oleh para pengawalnya. Kalau kemudian ada dua orang yang tiba-tiba masuk memanjat tembok, berarti mereka berdua bukan manusia tetapi malaikat yang diutus oleh Allah SwT untuk mengujinya. Daud segera sadar akan kekeliruannya, kemudian segera minta ampun, lalu tersungkur jatuh dan bertaubat.
Menurut Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur’an (5: 3018), perkara yang diajukan salah seorang yang berperkara itu sudah terang benderang, masalahnya sangat jelas, bagaimana satu orang yang sudah memiliki 99 ekor kambing betina masih menginginkan satu ekor kambing yang dimiliki saudaranya. Secara naluri, siapapun akan memutuskan bahwa itu adalah perbuatan zalim. Namun demikian, seorang hakim tidak boleh memutuskan dengan terburu-buru, dia harus meminta keterangan juga dari pihak yang tertuduh, barangkali dia punya alasan yang bisa dibenarkan. Hal itu tidak dilakukan Daud. Dia langsung saja membuat keputusan. Sampai kemudian kedua orang yang berperkara itu menghilang, barulah Daud sadar bahwa dia sedang diuji dan diberi pelajaran oleh Allah SwT. Maka segera dia minta ampun lalu jatuh tersungkur sujud kepada Allah SwT.
Menurut riwayat Nasa’i dari Ibn ‘Abbas ra bahwasanya Nabi saw tanpa membaca ayat ini sujud lalu bersabda: “Daud ‘alaihi as-salaam sujud karena taubat, kita sujud karena bersyukur.” (Tafsir Ibn Katsir, 13: 83)
Nabi Daud dipuji Allah SwT sebagai seorang awwib. Allah SwT berfirman:
38_17.png
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan)” (QS. Shad [38]: 17)

Demikianlah kisah seorang Raja yang juga seorang Nabi. Daud as meninggal pada tahun 963 SM. Kepemimpinannya, baik sebagai raja maupun nabi, diteruskan oleh puteranya Nabi Sulaiman as. [yunaharilyas/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top