Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ketika Rasulullah saw menerima firman Allah SwT pada permulaan tahun keempat dari nubuwwah yang berbunyi, “Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. asy-Syu’ara [26]: 214), maka tahap (marhalah) dakwah beliau sudah sampai pada tahap terang-terangan (idzharud dakwah). Pada fase inilah, beliau mulai mendapatkan tekanan yang sangat kuat dari kaum kafir Quraisy.
Beragam teror atau tekanan Rasulullah saw rasakan; dari yang bersifat teror verbal lewat caci maki, sampai pada teror fisik terhadap beliau dan para sahabatnya. Teror verbal dilakukan terhadap beliau dengan menyebutnya sebagai majnun (gila) (QS. al-Hijr [15]: 6) serta tukang sihir dan pendusta (QS. Shad [38]: 4). Al-Qur’an sebagai wahyu yang beliau terima juga disebut sebagai dongeng-dongeng kaum terdahulu (QS. al-Mutaffifin [83]: 13).
Teror fisik dilakukan kepada beliau dengan melempar isi perut domba dan meletakkan kotoran unta di punggungnya ketika sedang shalat. Dua putri beliau, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, bahkan diceraikan dari suaminya yang merupakan keturunan petinggi kaum Quraisy. Paman beliau, Abu Thalib, juga mendapatkan ancaman dari mereka yang tidak suka dengan dakwah Nabi Muhammad saw.
Perlakuan yang sangat berat dari orang-orang kafir terhadap Rasulullah saw adalah ketika beliau pergi berdakwah ke Thaif, sebuah wilayah berjarak enam mil dari Makkah al-Mukarramah. Ia melakukan dakwah dari pintu ke pintu, mengajak para pemuka wilayah itu untuk menerima seruan Allah. Namun yang terjadi, beliau diusir ndan dicaci maki. Di tengah jalan, orang-orang kafir yang mengerubunginya melempari batu hingga darah yang mengucur dari tumit dan kepala beliau.
Apa yang dilakukan Rasulullah ketika itu? Dengan tubuh yang lemah karena luka, beliau berteduh di bawah pohon anggur, lalu berdoa, “Ya Allah, kepada-Mu jualah aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Rabb Yang Maha Pengasih diantara para pengasih, Engkaulah Rabb bagi orang-orang yang lemah…”
Melawan Dengan Doa
Beliau terus memohon dan berdoa, meminta perlindungan dan keridhaan dari Allah SwT. “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan-Mu,” pinta beliau lirih. Sampai akhirnya malaikat penjaga gunung datang menghampiri beliau dan menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada warga Thaif jika beliau menginginkan.
Apa jawaban Rasulullah saw.? “Tidak, aku hanya berharap kepada Allah untuk mengeluarkan (melahirkan) dari tulang-tulang sulbi mereka, orang-orang yang menyembah Allah SwT semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya seikitpun.” Kisah ini bisa dibaca dalam Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam bab Dakwah rasulullah di Luar Makkah.
Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika berdakwah dan dalam posisi yang tidak memiliki kekuatan. Beliau menjadikan kesabaran dan doa sebagai senjata untuk menghadapi orang-orang kafir. Beliau menyadari lemahnya kekuatan dakwah ketika itu. Karena itu, beliau memilih untuk bersabar dan memohon pertolongan Allah agar memberikan kekuatan kepadanya dan membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang menolak dakwahnya. Beliau juga pernah mendoakan, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Jika sikap frontal yang dilakukan oleh beliau ketika itu, maka dengan sangat mudah dakwah akan ditumpas dan dihabisi. Karena dalam posisi lemah tanpa kekuatan. Kesabaran dan strategi beliau dalam berjuang terbukti memberikan buah manis pada masa depan. Doa beliau kepada Allah SwT agar lahir generasi penduduk Thaif suatu saat suatu kaum yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Dan Allah mengabulkan doa ini. Thaif termasuk wilayah yang steril dari orang-orang murtad atau pemurtadan (riddah) setelah wafatnya Nabi saw.
Begitu juga apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap Umar bin al-Khattab ra, seorang yang sangat disegani karena keberanian dan keganasannya ketika menghadapi musuh? Ketika Umar dengan penuh amarah mendatangi Rasulullah untuk membunuhnya, beliau mempersilahkan Umar masuk ke dalam rumah. Lalu mencengkeram bajunya dan memegang gagang pedangnya seraya mengatakan, “Ya Allah, inilah Umar bin al-Khattab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khattab.” Umar yang sebelumnya sudah membaca surat Thaha ayat 1-14, kemudian bersyahadat dan memeluk Islam, diiringi takbir para sahabat yang ada disitu.
Masuk Islamnya Umar bin al-Khattab ra adalah buah dari kesabaran Rasulullah dan bukti dari nubuwwah dalam doa beliau, “Ya Allah kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khattab atau dengan Amr bin Hisyam (Abu Jahal, red)” (HR. Tirmidzi dari Ibn Umar). Kelak, orang yang dipilih Allah SwT adalah Umar bin al-Khattab yang berjuluk Al-Faruq.
Inilah kepribadian Rasulullah saw. Beliau memiliki pikiran yang cemerlang dalm strategi dakwahnya. Beliau sosok yang selalu menjadikan kesabaran sebagai nafas panjang perjuangan. Ketika berada dalam posisi lemah, beliau bersabar dengan tetap menyusun strategi untuk kejayaan Islam. Ketika berkuasa, beliau tidak melakukan kezaliman kepada musuh-musuhnya.
Beliau sosok yang taat pada perjanjian dan tidak akan pernah terpikir baginya untuk mengingkari perjanjian, sebagaimana ia tercermin dalam Piagam Madinah yang menjadi Magna Charta dalam sejarah peradaban manusia. Beliau melindungi kafir dzimmi (orang yang meminta perlindungan kepada pemimpin muslim dengan syarat membayar jizyah) dan juga kafir mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin). Beliau dengan tegas mengatakan, “Siapa saja yang menyakiti kafir dzimmi, maka ia akan menjadi musuhku pada hari kiamat” (HR. Muslim).
Tegas Di Momen Tertentu
Namun, dibalik pesona kelembutan pribadinya, Rasulullah juga merupakan sosok yang tegas dan pemberani dalam menghadapi kafir harbi (orang kafir yang mengobarkan permusuhan terhadap Islam). Tercatat dalam sejarah, ada 27 peperangan (ghazwah) yang diikuti secara langsung oleh Rasululah saw dan 38 peperangan yang tidak diikuti oleh Rasulullah tetapi berdasarkan penunjukan dan persetujuan beliau (sariyah). Semua peperangan, ghazwah maupun sariyah bertujuan untuk menegakkan kemuliaan Islam, meninggikan kalimatullah, dan melawan kezaliman, bukan untuk kepentingan pribadi beliau semata.

Peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat pun dilakukan dengan cara-cara yang elegan, dengan batasan-batasan yang sangat menghargai kemanusiaan. Karena itulah, Rasulullah saw menjadi sosok yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Wallahu a’lam bish-shawab. [artawijaya/alfalah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top