Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Yusya' bin Nun dan Kaleb bin Yefune (ilustrasi)
Perintah Memasuki Tanah Suci Palestina
Setelah kembali dari bukit Thursina dengan membawa 70 orang pemuka Bani Israil, Nabi Musa as kembali kepada kaumnya dan mengingatkan mereka betapa telah banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SwT kepada mereka. Allah SwT berfirman:
5_20.png
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-Nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain” (QS. al-Maidah [5]: 20)
Ada tiga nikmat Allah SwT yang diberikan kepada Bani Israil yang disebutkan dalam ayat di atas. Pertama, Allah SwT mengutus banyak Nabi dari kalangan mereka; Kedua, Allah SwT menjadikan mereka raja-raja dalam arti orang-orang yang merdeka, yang bebas mengendalikan diri sendiri setelah diperbudak oleh bangsa Qibti Mesir. Jadi raja-raja disini bukanlah dalam pengertian hakiki yaitu semua mereka jadi raja, tetapi dalam pengertian majazi. Kecuali kalau ungkapan ayat menggunakan kata fikum atau minkum seperti ungkapan ja’ala fikum mulukan atau minkum mulukan, tapi ayat mengungkapkan ja’alakum mulukan. Jika diartikan semua jadi raja tentu tidak sesuai dengan kenyataan, padahal Allah SwT tidak pernah menyalahi janji-Nya; Ketiga, mereka dianugerahi oleh Allah sesuatu hal-hal yang belum pernah dianugerahkan kepada kaum sebelumnya seperti mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah SwT kepada Musa dalam rangka penyelamatan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya, terutama mukjizat laut terbelah dua dan terbentang jalan raya di tengah-tengahnya.
Setelah mengingatkan betapa banyak nikmat yang diberikan Allah SwT kepada Bani Israil, Musa memerintahkan kepada mereka untuk pergi memasuki tanah suci (al-ardhu al-muqaddasah) yang telah dijanjikan oleh Allah untuk mereka. Allah SwT berfirman:
5_21.png
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. al-Maidah [5]: 21)
Menurut Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar (6: 269) yang dimaksud dengan tanah suci dalam ayat itu adalah Palestina yang sebelumnya dikenal dengan nama tanah Kan’an. Bumi ini dikenal juga dengan julukan tanah yang dijanjikan, merujuk kepada tanah yang dijanjikan untuk Ibrahim. Mengutip Kitab Kejadian (12:7), Rasyid Ridha menyebutkan bahwa janji itu disebutkan sekali sebelum kelahiran Ismail dan sekali setelah kelahirannya dan disebutkan juga Ismail akan memiliki keturunan yang banyak. Jadi bangsa Arab sebagai keturunan Ismail lebih berhak menguasai tanah tersebut dibanding Yahudi yang mengklaim tanah itu yang dijanjikan untuk mereka.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (3:60) surat al-Maidah ayat 21 tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Palestina atau Qudus atau Yerusalem adalah milik orang-orang Yahudi yang sah berdasarkan ketetapan Allah, karena yang ditetapkan bukan kepemilikannya tetapi ditetapkan dalam arti diwajibkan untuk memasukinya dan yang diwajibkan memasukinya adalah umat Nabi Musa ketika itu.
Bagaimana respon Bani Israil setelah diperintah oleh Musa untuk memasuki tanah suci tersebut? Apakah mereka segera melaksanakannya? Ternyata tidak. Tanpa rasa malu dan rasa bersalah sedikitpun mereka menolaknya. Allah SwT berfirman:
5_22.png
“Mereka berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa. Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya’” (QS. al-Maidah [5]: 22)
Dalam Kitab Bilangan (13-14) diceritakan bahwa Musa menugaskan 12 orang yang diambilkan masing-masing satu orang dari 12 suku Bani Israil untuk pergi mengintai dan menyelidiki Tanah Kan’an, bagaimana keadaan penguasanya, penduduknya, dan segala sesuatu tentang negeri yang akan dimasuki itu. Kedua belas orang pengintai ini berada di Tanah Kan’an atau Palestina selama 40 hari dan kemudian mereka melaporkan kepada Musa dan Harun di hadapan Bani Israil. Dari kedua belas suku itu bercerita bahwa negeri yang akan dimasuki itu memang negeri yang teratur dan makmur tapi penguasanya sangat kuat, benteng mereka sangat kokoh dan penduduknya besar-besar kuat perkasa.
Laporan ini menyebabkan Bani Israil ketakutan, bahkan ada yang menangis membayangkan bagaimana nasib mereka jika pergi berperang ke negeri tersebut. Mereka mulai menyesali Tuhan, menyesali Musa dan Harun, kenapa setelah bersusah payah meninggalkan Mesir bebas dari perbudakan yang dilakukan Fir’aun dan penduduk Mesir, sekarang mereka harus mengantar nyawa ke negeri Kan’an, dan nanti isteri dan anak-anak mereka akan menjadi budak. Akhirnya mereka menolak untuk mengikuti perintah Musa. Mereka baru akan memasuki negeri itu apabila penduduk negeri yang gagah perkasa itu pergi meninggalkan tanah Kan’an.
Dari dua belas pengintai dari dua belas suku itu, hanya ada dua orang yang tidak takut, dan siap untuk berperang ke tanah Palestina seperti yang diperintahkan Musa. Allah SwT berfirman:
5_23.png
“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman’ : (QS. al-Maidah [5]: 23)
Mereka berdua disebutkan oleh ayat sebagai orang-orang yang takut kepada Allah SwT, bukan takut memasuki negeri Palestina. Al-Qur’an tidak menyebutkan siapa nama dua orang tersebut, tetapi di dalam Alkitab (Kitab Bilangan 14) disebutkan nama keduanya yaitu Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune. Dalam ejaan Arab Yosua bin Nun disebut Yusya’ bin Nun. Mereka berdua tetap bersemangat untuk masuk ke tanah Palestina, tidak takut berperang menghadapi penguasa yang kuat dan penduduk yang gagah perkasa itu. Mereka berdua berusaha meyakinkan yang lain bahwa yang penting kita masuk dan akan mendapatkan kemenangan, selebihnya bertawakal kepada Allah SwT.
Tetapi Yusya’ dan Kaleb tidak berhasil meyakinkan mereka. Yang lain tetap takut dan menolak untuk mematuhi perintah Musa. Allah SwT berfirman:
5_24.png
“Mereka berkata: ‘Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’” (QS. al-Maidah [5]: 24)
Karena sudah begitu lamanya diperbudak oleh Fir’aun dan bangsa Qibti di Mesir, Bani Israil sangat trauma untuk kembali diperbudak. Mental mereka sudah jatuh dari awal saat membayangkan akan berperang menghadapi raja yang gagah perkasa dengan bala tentara yang tentu akan perkasa juga. Mereka belum memiliki mental orang-orang merdeka yang gagah berani.
Keimanan mereka juga belum kuat, padahal jika mereka belajar dari pengalaman dipimpin oleh Musa, betapa banyak pertolongan yang telah diberikan oleh Allah SwT dalam rangka menyelamatkan mereka dari kekuasaan dan kedzaliman Fir’aun, bahkan sampai laut pun terbelah. Apakah sama sekali tidak ada keyakinan pada mereka bahwa pertolongan Allah akan menyertai jika mereka mau berjuang melaksanakan perintah Musa.

Penolakan mereka terhadap perintah Musa disampaikan dengan sangat vulgar, tanpa basa-basi dan rasa hormat sedikitpun kepada Musa yang telah memimpin mereka keluar dari Mesir. Tanpa malu mereka menyuruh Musa dan Tuhan saja yang berperang ke Palestina. Bersambung [yunaharilyas/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top