Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Entah apa yang berkecamuk di dalam pikiran gadis berjilbab itu. Tiba-tiba saja, saat dirinya berada di tengah-tengah pasar, seorang laki-laki mendatanginya. Tanpa basa-basi, laki-laki itu langsung menyodorkan dua buah pertanyaan sederhana: pertama, apa rukun Islam? Kedua, apa rukun iman.
Tak langsung dijawab, gadis itu kembali bertanya. Apa maksud dan tujuan dari pertanyaan itu? Apakah untuk menguji keimanannya? Dirinya merasa sedih, terhina. Alih-alih menjawab pertanyaan, sang gadis menyampaikan bahwa dirinya berasal dari keluarga muslim taat, aktifis dari sebuah ormas islam terbesar di Indonesia.
Pantang mundur, sang lelaki terus menuntut jawaban. Ia terdorong oleh rasa curiga. Curiga bahwa jilbab hanya dijadikan topeng belaka untuk menambah jumlah perolehan suara. Wajar saja, hari-hari itu adalah hari-hari menjelang Pilkada. Wajar, karena sang gadis hadir di pasar bersama teman-temannya dengan mengenakan kaos yang sama. Kaos yang menunjukkan pilihan politiknya untuk memenangkan calon gubernur yang sedang tersandung kasus penistaan agama.

***
Dalam pandangan masyarakat Indonesia, jilbab identik dengan Islam. Kesucian dan kehormatan melekat pada yang menggunakannya. Pantas saja pandangan itu muncul. Karena dalam sejarahnya di Indonesia, pada akhir tahun 80-an, mengenakan jilbab butuh keberanian dan keimanan yang kuat. Tekanan demi tekanan akan dihadapi oleh mereka yang memilih untuk mengenakannya.
Idealnya, perempuan muslim menggunakan jilbab karena didorong oleh keimanan, kepatuhan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SwT sebagaimana tersurat dalam al-Qur’an. Penggunaan jilbab adalah pengejawantahan dari rasa keimanan.
Keimanan pada Allah SwT inilah yang menjadi alasan mengapa muslimah di Indonesia di akhir 80-an itu berani dan bertahan menggunakan jilbab. Mereka tidak takut terhadap apapun juga, bahkan jika resikonya adalah mati. Begitulah jika iman telah berkobar-kobar dan menyala-nyala di dalam dadanya seorang manusia.
Seperti disampaikan Bung Karno dalam peringatan acara Nuzulul Qur’an yang diadakan di idtana negara. Soekarno selaku kepala negara Indonesia mengatakan, “Tuhan kekal dan abadi. Tuhan satu. Dan kepercayaan kepada Tuhan yang satu inilah, Tauhid inilah, yang menjadi api yang berkobar-kobar, menyala-nyala di dalam Qur’an itu. Dan jikalau api ini telah berkobar-kobar dan menyala-nyala pula di dalam dadanya seseorang manusia, manusia yang demikian itu menjadi manusia yang seperti dikatakan oleh saudara Hamka, tidak takut akan mati”.
Mereka yang memilih untuk menggunakan jilbab dan bertahan dengan penuh keimanan ini tentu tidak dapat dikatakan, -meminjam istilah Megawati-, penganut ideologi tertutup. Ajaran itu begitu jelas dan terbuka, menjadi tema dalam ruang-ruang diskusi. Meski begitu, mereka percaya pada kehidupan setelah dunia fana, karena kepercayaan kepada yang ghaib inilah fondasi utamanya: iman kepada Allah SwT, iman kepada malaikat-Nya, iman kepada kitab-Nya, iman kepada rasul-Nya, iman kepada Hari Akhir, dan iman kepada Qadha dan Qadhar.

***
Berulang kali pertanyaan diajukan sang lelaki. Berulang kali pula sang gadis mengelak, enggan menjawab. Tak kenal menyerah, akhirnya kegigihan sang lelaki mampu meluluhkan hati sang gadis. Sang gadis menjawab pertanyaan pertama. Tak dinyana, gadis itu lupa. Jawabnya: Syahadat, Sholat, Zakat, Naik Haji. Satu dari lima rukun Islam terlupakan: Puasa! Entah mengapa puasa yang terlupakan. Sebagaimana kita ketahui, puasa adalah satu-satunya ibadah yang hanya dirinya dan Allah SwT saja yang mengetahui.
Apa yang membuat kita lupa? Tekanan? Ya,bisa saja hati gelisah karenanya. Tapi, tidak dengan orang-orang beriman. Petunjuk dan ketenangan jiwa sebenarnya berasal dari Allah SwT, yang memiliki dan menata hati manusia. Allah SwT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram,” (QS. ar-Ra’d [13]: 27-28).

Mari kita lihat juga firman Allah SwT: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk,” (QS. az-Zukhruf [43]: 36-37). [fms/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top