Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Awal abad 20 Masehi terjadi gelombang besar dalam alam pemikiran dunia Islam. Gelombang yang disebut dengan pembaruan Islam. Gagasan yang diawali oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh di Mesir ini menyebar ke seluruh umat Islam di dunia. Di Tunisia ada Syeikh Ibnu Asyur. Di Mesir ada Rashid Ridha. Di Aljazair ada Ibnu Badis. Di Turki ada Bediuzzaman Said al-Nursi. DI India ada Sayyid Ahmad Khan. Dan di Indonesia ada Kyai H. Ahmad Dahlan. Orang yang terpengaruh faham pembaruan biasa disebut dengan madrasah al-ihya’ wa al-Tajdid (kelompok kebangkitan dan pembaru). Kelompok ini selalu menyuarakan untuk perbaikan kualitas kehidupan umat Islam dengan mengadopsi kemajuan dari Barat tanpa meninggalkan nilai keislaman, dan aktif dalam menggelorakan dunia-dunia Islam untuk lepas dari penjajahan atau kolonialisme.
Salah satu tokoh pembaru dari tanah Syam adalah Abdurrahman al-Kawakibi, seorang mujaddid dan pemikir politik Islam. Al-Kawakibi lahir pada 1854 di Aleppo yang sekarang bagian dari negara Syiria. Ia lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah seorang ulama, Syaikh Ahmad Mas’ud al-Kawakibi. Keluarganya mendirikan lembaga pendidikan keagamaan al-Madrasah al-Kawakibiyah.
Al-Kawakibi belajar di sekolah milik keluarganya yang dipimpin langsung oleh ayahnya. Seperti anak kebanyakan pada zaman itu, ia memperoleh pelajaran agama dan bahasa Arab, juga mempelajari filsafat, logika, dan sejarah. Selain itu, ia juga suka membaca buku-buku berbahasa Inggris dan Perancis. Kegemaran membaca inilah di masa depan membentuk karakter dirinya menjadi penulis. Hal ini terlihat pada masa dewasanya: ia menjadi wartawan surat kabar.
Mengawali karir wartawan, al-Kawakibi masuk surat kabar yang dimiliki pemerintah yaitu al-Furat,  tetapi tidak berselang lama ia keluar karena tulisannya tidak sesuai dengan pendapat pemerintah. Ia melaporkan kesengsaraan masyarakat kecil dan kedhaliman kaum penguasa. Tidak patah arah, ia mendirikan surat kabar yang dipimpinnya sendiri, yaitu al-Syahba. Rupanya usaha ini pun tidak berlangsung lama, al-Syahba keburu dibredel pemerintah. Sekali lagi, ia mendirikan surat kabar yaitu al-I’tidal, suara untuk membela kepentingan kaum miskin dan ketidak adilan pemerintah semakin kuat dengan surat kabar ini. Puncaknya, ia selalu dipersulit pemerintah dengan usaha surat kabarnya. Ia pun memutuskan pindah ke Mesir.
Berada di Mesir, al-Kawakibi akhirnya berjumpa dengan pimpinan redaksi majalah al-Manar, yakni Rashid Ridha. Bahkan ia ikut serta dalam redaktur majalah ini. Interaksi dengan kelompok reformis ini, mempunyai dampak kepada gagasan pembaruan keagamaan, terutama dalam pikiran politik seperti yang menonjol di karya tulisannya.
Pembaruan Politik Keagamaan
Dalam hal keilmuan, Abdurrahman al-Kawakibi memberikan warisan dua buku kepada kita yaitu Ummul Qura (Induk-Induk Negeri) dan Tiba’i al-Istibdab (Karakter Negara Tiran). Ia menggunakan nama pena dalam dua buku tersebut; Al-Rahhala dan Sayyid al-Furati. Ini tidak mengherankan sebab pengalamannya yang selalu bersitegang dengan pemerintah kerajaan Turki Usmani saat itu. Apalagi dua buku ini secara kritis memotret kezaliman para penguasa. Tulisan lain ditulis oleh cendekiawan Mesir, Dr. Muhammad Imarah, yang mengumpulkan tulisan dan buku secara lengkap karya al-Kawakibi, yaitu al-A’mal al-Kamilah li Abdr al-Rahman al-Kawakibi.
Dalam Ummul Qura, al-Kawakibi menulis dengan gaya novel untuk menjelaskan gagasannya tentang analisa sebab kemunduran suatu bangsa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu negara atau bangsa hancur, diantaranya adalah para penguasa yang tidak lagi mempedulikan umat atau rakyatnya, sehingga hak rakyat menjadi hilang. Faktor lainnya adalah faham jabariyah yang menjadi faham keagamaan mayoritas umat Islam. Oleh karena faham ini, akhirnya umat tidak dapat mengejar peradaban dan bangsa lain yang sudah maju. Dua faktor ini, menurutnya, ditambah dengan adanya unsur-unsur penyimpangan keagamaan. Akibat dari kehancuran bangsa ini adalah menjadikan umat selalu terbelakang.
Menurut al-Kawakibi, jalan umat Islam untuk maju tidak ada lain adalah perlu pembaruan pemikiran keagamaan dan lembaga politik. Kritik al-Kawakibi secara tidak langsung sebenarnya mengkritisi pemerintahan Kerajaan Turki Usmani yang semakin mundur.
Buku lainnya, Tiba’i al-Istibdab, al-Kawakibi menjelaskan bahwa pemerintahan yang tiran itu tidak sesuai dengan semangat kemanusiaan. Manusia mempunyai kebebasan individu untuk maju dan berkembang. Sementara, penguasa tiran selalu mengupayakan manusia agar menjadi rendah diri.

Menurut para pengamat, pemikiran al-Kawakibi pada masa itu berbeda dengan yang lain karena menekankan pada kebebasan (al-Hurriyah) manusia sebagai dasar kehidupan politik. Perbedaan sikap dan perilaku yang dialami oleh al-Kawakibi inilah menyebabkan kematiannya yang tragis. Ia meninggal karena diracun, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa kematiannya adalah dieksekusi oleh agen pemerintah Kerajaan Turki Usmani pada 1902. [fauziishlah/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top