Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Taurat & Injil Mengharamkan Babi


Dalam kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an, Allah SwT mengharamkan beberapa makanan dan minuman. Diantara makanan & minuman yang diharamkan Allah SwT adalah babi dan khamr (anggur yang memabukkan). Lihat dalam al-Qur’an Surat al-Ma’idah [5]: 90 : “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syetan…” dan firman-Nya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…” (QS. al-Ma’idah [5]: 3)
Pendeta dr. Suradi dan Ev. Jansen Litik mengatakan dalam buku Penginjilan pribadi terbitan Christian Center Nehemia: “Di dalam Qur’an Babi Haram Babu Halal” sedangkan di dalam Bibel (alkitab) mengatakan Babi Halal Babu Haram.
Pendeta dr. Suradi telah melecehkan al-Qur’an yang menuduh babu (pembantu) halal digauli. Ternyata penginjil Ev. Jansen Litik membohongi umat yang menyatakan di dalam alkitab babi halal. Benarkah demikian? Mari kita telusuri apa betul dalam bibel (alkitab) tidak ada ayat yang mengharamkan babi dan anggur.

Masalah Haramnya Daging Babi
“Demikian juga babi karena memang berkuku belah, yaitu kukunya berselapanjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya jangan kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.” Kitab Taurat (Imamat [11]:7-8)
“Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya” Kitab Taurat (Ulangan 14:8)

Masalah Haramnya Minuman Keras/Anggur
“Tuhan berfirman kepada Harun: Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam kemah pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis. Dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan Tuhan kepada mereka dengan perantaraan Musa” Kitab Taurat (Imamat [10]: 8-11)

Haramnya Memakan Darah
“Demikianlah juga janganlah kamu memakan darah apapun di segala tempat ke diamanmu, baik darah burung ataupun darah hewan. Setiap orang yang memakan darah apapun, nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.” Kitab Taurat (Imamat 7: 26-27)
Catatan: Allah SwT telah mengharamkan babi, darah, minuman keras/anggur yang memabukkan, tetapi oleh Paulus dibatalkan tidak ada makanan maupun minuman yang haram lagi, jika diterima dengan ucapan syukur. Dan dalam buku “Tanya Jawab Dogmatika Kristologi” karangan EV Jansen Litik hal 59 menyebutkan: “Sekarang makan darah tidak diharamkan lagi.”
Bahkan di dalam Kitab Amsal sangat menggelikan dimana orang yang akan mati disuruh untuk diberikan minuman keras. Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: “Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya.” (Amsal [31]: 6-7)
Paulus juga menyuruh meminum khamr dan menghalalkan segala sesuatu. “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.” (1. Timotius [5]: 23)
Paulus berkata : segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. (1. Korintus 6: 12)
Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan” (1. Korintus 10: 25-26)
Padahal Yesus datang tidak membatalkan kitab taurat dan kitab para Nabi, melainkan menggenapinya, lihat ayat di bawah ini:
“Janganlah kamu menyangka. Bahwa aku (Yesus) datang untuk meniadakan hukum taurat dan kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Hukum taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan sorga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Hukum Taurat, aia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Injil Karangan Matius [5]: 17-19)
Sedangkan menurut Paulus, Kitab Taurat itu TELAH DIBATALKAN. Lihat surat kiriman Paulus kepada jemaat di Roma.
“Tetapi Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Kitab Roma 5: 20)
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Kitab Roma 6: 14)
“Sebab itu saudara-saudaraku (Paulus), Kamu juga telah mati bagi Hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik dia, yang telah dibangkitkan dari orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh Hukum taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari Hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut Hukum Taurat” (Kitab Roma 7: 4 dan 6)
“Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup,” LAI terjemahan Baru “Saya dahulu hidup tanpa hukum agama. Tetapi ketika hukum agama muncul, dosa mulai hidup,” LAI dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus yesus” (Kitab Roma 7: 9)
“Menurut kelahiran kami orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus Kristus, sebab itu kamipun telah percaya kepada Yesus Kristus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan Hukum Taurat. Sebab tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat.” (Kitab Galatia 2: 15-16)
“Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat, berada dibawah kutuk. Sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab Hukum Taurat.” Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan Hukum Taurat adalah jelas, karena: orang yang benar akan hidup oleh iman. (13) Kristus telah menebus kita dari dari kutuk Hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang bergantung pada kayu salib.” (Kitab Galatia 3: 10-11, 13)
Catatan: Dari surat-surat kiriman Paulus tersebut di atas, jelaslah bagi kita bahwa Hukum Taurat telah dibatalkan seluruhnya oleh Paulus padahal yesus datang bukan membatalkan/membuat ajaran baru, melainkan menggenapi Taurat. Justru Paulus memerintahkan untuk mengikuti ajaran Paulus sendiri. Sebagaimana dijelaskan di dalam I. Korintus 4:15-16 dan Ibrani 10: 1.
“Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak. Mempunyai banyak bapa. Karena itulah akulah yang dalam Kristus yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberikan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: Turutilah teladanku (Paulus)!” (1. Kor 4: 15-16).

Ternyata Paulus lah yang membelokkan ajaran Yesus dan Paulus menyerukan supaya mengikuti Injil Paulus. [abudeedatsyihab/tabligh]

Kisah Nabi Musa as [23]


Berguru Kepada Khidir
Musa berusaha meyakinkan Khidir bahwa dia Insya Allah akan dapat bersabar dan tidak akan membantah apapun asal diizinkan berguru. Akhirnya Khidir dapat menerima dengan syarat Musa tidak boleh bertanya apapun yang dia lihat, Musa harus diam dan memperhatikan saja. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Musa berkata: ‘Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun’. Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu’.” (QS. al-Kahfi [18]: 69-70)
Maka berjalanlah guru dan murid ini menyusuri pantai. Sampai kemudian mereka menaiki sebuah perahu yang bersandar di pantai. Tiba-tiba Khidir melubangi perahu itu. Spontan Musa memprotesnya: “Mengapa engkau melubangi perahu itu akiabtnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Dalam pandangan Musa, gurunya itu telah melakukan sebuah perbuatan salah, merusak perahu milik orang lain, dan juga akan membahayakan siapa saja yang nantinya akan menaikinya. Allah SwT berfirman:
18_71.png
“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu akibatnya engkau menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar’.” (QS. al-Kahfi [18]: 71)
Persis seperti prediksi Khidir sebelumnya, Musa tidak akan sanggup bersabar mengikutinya. Khidir memberitahu Musa akan prediksinya tersebut. Allah SwT berfirman:
18_72.png
“Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku’.” (QS. al-Kahfi [18]: 72)
Musa menyadari kealpaannya. Dia meminta maaf kepada Khidir dan mohon tidak dihukum karena kelupaannya itu. Artinya Musa minta tetap diizinkan mengikuti Khidir. Allah SwT berfirman:
18_73.png
“Musa berkata: ‘Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku’.”  (QS. al-Kahfi [18]: 73)
Khidir memaafkan Musa. Lalu mereka meneruskan perjalanan. DI tengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang anak remaja. Tanpa sebab apapun Khidir membunuh remaja tersebut. Naluri anti kezaliman Musa langsung bergejolak. Dia memprotes perbuatan gurunya yang dalam pandangan Musa adalah kemunkaran. Bagaimana tidak munkar, bukankah setiap jiwa dijaga kesuciannya. Tidak ada seorang pun yang boleh menumpahkan darah orang lain tanpa sebab yang dibenarkan oleh Allah SwT. Allah SwT berfirman:
18_74.png
“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak,  maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu yang munkar’.” (QS. al-Kahfi [18]: 74)
Khidir menanggapi protes Musa dengan jawaban yang sama yaitu Musa tidak akan sabar mengikutinya. Allah SwT berfirman:
18_75.png
“Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’” (QS. al-Kahfi [18]: 75)
Musa kembali menyadari kesalahannya. Dia sudah berjanji, tidak akan bertanya kepada Khidir apapun yang terjadi. Sekarang dia sudah melanggarnya dua kali. Maka Musa mohon diberi kesempatan sekali lagi. Allah SwT berfirman:
18_76.png
“Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepada engkau tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya engkau sudah cukup memberikan uzur padaku’.” (QS. al-Kahfi [18]: 76)
Khidir kembali memaafkan Musa. Lalu mereka meneruskan perjalanan. Kali ini memasuki sebuah perkampungan penduduk suatu negeri. Karena sudah lama berjalan, mereka berdua merasa lapar, tapi tidak ada seorangpun penduduk yang bersedia menjamu mereka.
Tiba-tiba Khidir melihat, di negeri itu ada sebuah rumah yang hampir roboh. Tanpa diminta siapapun Khidir bergerak memperbaikinya. Menyaksikan hal itu, spontan saja Musa berkomentar: “Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu.”. Allah SwT berfirman:
18_77.png
“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu. Tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu’.” (QS. al-Kahfi [18]: 77)
Sekarang datanglah waktu perpisahan itu. Musa tidak lagi diizinkan mengikuti perjalanan Khidir. Sebelum berpisah Khidir bersedia menjelaskan kepada Musa, rahasia tiga peristiwa yang dilakukannya. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera’.” (QS. al-Kahfi [18]:78-79)
“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)” (QS. al-Kahfi [18]: 80-81)
18_82.png
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikianlah itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. al-Kahfi [18]: 82)
Demikianlah, perjumpaan dengan Khidir menyadarkan Musa bahwa masih ada orang yang lebih tinggi ilmunya dari Musa. Musa melihat segala sesuatu dari segi lahir. Dalam perspektif fiqh, pandangan Musa tidak salah. Tetapi ternyata Khidir diberi oleh Allah SwT ilmu tentang rahasia dibalik peristiwa. Itulah ilmu laduni yang dianugerahkan Allah SwT kepada Khidir. Banyak orang yang berobsesi ingin memiliki ilmu seperti ilmu Khidir, tapi ilmu seperti itu tidak bisa dipelajari. Allah SwT menganugerahkan ilmu itu kepada siapa yang Dia kehendaki.

Demikianlah kisah Nabi Musa as. Beliau meninggal di Sinai sebelum bisa membawa bani Israil ke tanah yang dijanjikan. Nabi Harun as meninggal lebih dahulu dari Musa. Nanti Yusya’ ibn Nun lah yang meneruskan misi membawa Bani Israil ke tanah yang dijanjikan itu. [yunaharilyas/sm]

IKHTIAR


Dalam hidup kita dituntut untuk berusaha (ikhtiar). Ikhtiar itu adalah usaha untuk memilih yang terbaik diantara yang baik. Ikhtiar itu bagian dari menjalankan sunnatullah. Tidak ada iktiar yang keluar dari sunnatullah. Pertama, sunnatullah yang biasa (al-’adah). Ini yang paling banyak dialami oleh umat manusia. Nama lainnya adalah hukum alam. Hal ini bisa mudah diketahui. Kalau dia lapar maka harus makan. Kalau sakit harus berobat.
Kedua, ada sunnatullah yang tidak biasa. Sunnatullah yang tidak biasa itu bisa terjadi pada para Nabi, atau calon Nabi. Jika terjadi pada Nabi dan rasul disebut mukjizat. Sebagai contoh Nabi Ibrahim ketika dibakar oleh Raja Namrud. Jika mengikuti hukum alam, ketika dibakar seharusnya hangus. Sifat api itu panas dan membakar. Namun dalam kasus Nabi Ibrahim, hal itu tidak terjadi. Api menjadi dingin atas perintah Allah. Disebut dalam surat al-Anbiya ayat 69: “Kami berfirman, Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim”.
Ada juga khalqul ‘adah yang terjadi pada orang-orang shalih, para auliya tertentu dan wali-wali Allah. Misalnya pada Maryam ibu Nabi Isa as, yang melahirkan tanpa proses kawin. Tetapi Maryam tidak bisa mengulangi dan tidak tahu kapan datangnya.
Umar bin Khattab juga pernah mengalaminya. Berpidato di depan kaum Muslimin di Madinah dan memberi perintah kepada pasukan perang di suatu tempat yang jauh untuk naik ke atas bukit. Ketika itu, Umar bisa melihat para pasukan yang telah terkepung dan pasukan juga bisa mendengar instruksi Umar. Itulah namanya karomah. Hanya diberikan pada saat benar-benar terdesak dan sangat dibutuhkan. Umar tidak tahu itu terjadi dan tidak bisa mengulanginya lagi.
Kalau ada yang mengaku-ngaku punya karomah itu bukan wali Allah. Jika ada orang yang bukan nabi, bukan rasul dan bukan wali, namun bisa melakukan sesuatu di luar kebiasaan, maka itu merupakan ilmu. Bisa dipelajari dan ada trik tertentu. Termasuk ilmu sihir. Seperti halnya tukang sihir zaman Nabi Musa. Nabi Musa diperintahkan melempar tongkatnya dan memakan ular-ular tukang sihir. Sihir tidak merubah kenyataan. Sihir hanya merubah pandangan orang.
Sihir tidak bisa merubah batu menjadi dolar. Seandainya sihir bisa merubah kenyataan, maka tukang sihir bisa menjadi orang paling kaya di dunia. Dia akan merubah bukit menjadi emas, merubah kertas menjadi uang.
Termasuk juga ilmu adalah ilmu pengetahuan. Bisa jadi orang tidak tertembak karena pakai baju anti peluru, tidak terbakar karena memakai baju anti api. Terkait penggandaan uang Dimas Kanjeng, ada dua kemungkinan. Pertama, itu uang palsu. Kedua, itu uang dari Bank Indonesia yang dipindahkan oleh jin. Jika uang palsu maka telah melanggar hukum. Bank Indonesia saja tidak boleh mencetak uang semaunya. Akan terjadi inflasi dan efek lainnya. Mencetak uang ada aturannya.
Sebagai orang Muslim, pertama, kita tetap berpegang teguh dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, selalu menggunakan akal sehat. Harus kritis. Syaikh Abdul Qadir Jailani, pada suatu malam tatkala sedang berdzikir di masjid bersama muridnya, tiba-tiba datang satu sosok manusia dan duduk di depannya. Ia memakai baju putih dan mengaku malaikat Jibril. Ia mengatakan, “Saya diutus oleh Allah untuk mengabarkan kabar gembira kepadamu, yaitu amal ibadahmu diterima oleh Allah dan diampuni semua kesalahanmu. Oleh karena itu, mulai detik ini engkau dibebaskan dari syariah. Tidak ada lagi kewajiban ibadah.”

Mendengar hal itu, maka Ysaikh Abdul Qadir Jailani spontan mengatakan, “Setan, pergi dari sini!” Muridnya heran dan bertanya, “Mengapa guru tahu dan menyuruhnya pergi?”. Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, “Saya memakai akal sehat. Nabi saja sebagai nabi dan rasul dan kekasih Allah tidak pernah dibebaskan dari syariat, bahkan lebih berat dari syariat umatnya. Nabi tidak hanya diwajibkan shalat sehari-hari tapi juga diwajibkan shalat malam.” [yunaharilyas/sm]

Kisah Nabi Musa as [22]


Kisah Khidir
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, dari Ibn ‘Abbas ra dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ubayya ibn Ka’ab ra, bahwasanya dia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Musa pada suatu kali berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau ditanya: ‘Siapakah orang yang paling tinggi ilmunya?’ Musa menjawab: ‘Saya’
Allah mengecam Musa karena dia tidak mengembalikan pengetahuan tentang hal itu kepada Allah SwT. Kemudian Allah memberitahu Musa bahwa Dia memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan. “Dia lebih tinggi ilmunya daripada engkau”. Musa bertanya: “Ya Rabb, bagaimana caranya aku bisa bertemua dengan hamba itu?” Allah berfirman: “Ambillah seekor ikan, tempatkan ia di wadah yang terbuat dari daun kurma, lalu di tempat mana engau kehilangan ikan itu, maka disanalah engkau akan bertemu dengannya”.
Musa memilih salah seorang muridnya untuk mendampinginya mencari hamba Allah yang shalih dan berilmu tinggi itu. Menurut Ibn Katsir dalam Kitab Tafsir al-Qur’an al-’Azhim (IX: 161) murid yang dipilih Musa itu adalah Yusya’ ibn Nun.
Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah fata yang secara harfiah berarti pemuda atau anak muda. Pemuda Yusya’ ibn Nun telah dididik oleh Musa sejak kecil. Dalam perjalanan mencari hamba Allah yang berilmu tinggi tersebut, pemuda tadi berfungsi sebagai asisten yang mendampingi Musa dalam perjalanan, membawa perbekalan dan melakukan hal-hal yang lain yang diperlukan.
Musa bertekad akan menyusuri pantai, berapapun jauh dan lamanya untuk dapat bertemu dengan hamba Allah yang disebutkan Allah tersebut. Allah SwT berfirman:
18_60.png
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi [18]: 60)
Tempat yang dituju oleh Musa adalah pertemuan dua lautan (majma’ al-bahrain). DImanakah pertemuan dua lautan itu? Dalam hal ini para mufasir berbeda pendapat. Sebagian mengatakan pertemuan laut merah dan laut putih. Yang lain mengatakan pertemuan Teluk Aqabah dan Teluk Suez di Laut Merah.
Kalau kita lihat pada masa itu Musa dan Bani Israil berada di Padang Sinai, maka tempat pertemuan dua lautan yang paling dapat diterima adalah pertemuan Teluk Aqabah dan Teluk Suez di Laut Merah. Musa dan Yusya’ bisa  saja menyisir pantai Teluk Aqabah dan bisa juga menyisir pantai Teluk Suez. Padang Sinai tempat Bani Israil berputar-putar selama 40 tahun itu berada antara dua teluk tersebut.
Sebelum berangkat Musa memerintahkan kepada Yusya’ untuk menyiapkan perbekalan makan mereka, dan juga membawa seekor ikan yang sudah dimasak atau dipanggang, ikan itu diletakkan dalam jinjingan. Dalam perjalanan, tanpa mereka sadari, ikan itu melompat ke laut. Sebenarnya mereka sudah sampai di pertemuan dua lautan yang mereka cari itu. Musa dan Yusya’ belum menyadari hal itu. Allah SwT berfirman:
18_61.png
“Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (QS. al-Kahfi [18]: 61)
Mereka terus saja berjalan menyusuri pinggir laut, sampai kemudian mereka merasa lelah dan lapar. Lalu Musa memerintahkan kepada asistennya Yusya’ agar mengeluarkan makan siang yang sudah disiapkan. Allah SwT berfirman:
18_62.png
“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kta; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’” (QS. al-Kahfi [18]: 62)
Pada saat itulah Yusya’ baru ingat belum memberitahu Musa bahwa ikan yang dibawa sudah tidak ada lagi dalam jinjingan. Yusya’ memberitahukan  bahwa pada saat mereka tadi istirahat di sebuah batu di pinggir laut, ikan itu secara ajaib keluar dari jinjingan dan melompat ke laut. Dikatakan ajaib karena ikan itu sudah dimasak atau dipanggang, tapi bisa hidup kembali dan melompat ke laut. “Tidak ada yang membuat saya lupa kecuali syaitan,” kata Yusya’ menyesali kelalaiannya. Allah SwT berfirman:
18_63.png
“Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (QS. al-Kahfi [18]: 63)
Mendengar pengakuan muridnya itu, Musa bukannya marah, tapi malah senang. “Itulah (tempat) yang kita cari”, kata Musa. Lalu keduanya kembali ke tempat ikan itu melompat ke laut dengan menyusuri jejak-jejak kaki mereka sendiri di pasir pantai. Allah SwT berfirman:
18_64.png
“Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari’. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (QS. al-Kahfi [18]: 64)
Setelah sampai di tempat yang dituju, mereka menemukan di situ seorang hamba Allah yang telah mendapatkan rahmat dan ilmu langsung dari sisi-Nya. Allah SwT berfirman:
18_65.png
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi [18]: 65)
Siapakah hamba Allah yang dijumpai Musa tersebut? Apakah dia seorang Nabi semata yang dapat wahyu dari Allah SwT, atau juga seorang Rasul sekaligus, atau seorang wali Allah saja? Sebagian mufassir beranggap dia seorang Nabi karena mendapatkan ilmu langsung dari sisi Allah SwT. Ilmu yang didapat langsung dari sisi Allah SwT adalah wahyu, sedangkan yang menerima wahyu hanyalah seorang Nabi. tetapi yang lain menyatakan, hamba Allah itu bukan Nabi tapi hanya seorang wali, ilmu yang dia dapat langsung dari Allah SwT adalah ilham.
Tentang nama hamba Allah itu, sebagian besar mufassir menyebutkan namanya adalah Khidir. Khidir secara bahasa artinya hijau. Disebutkan dalam Shahih Bukhari, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (IX: 180-181) dari Hamam, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Dinamai Khidir, karena kalau dia duduk di atas rumput yang kering, maka rumput itu bergerak dan berubah menjadi hijau”. Barangkali ucapan Nabi ini merupakan perumpamaan tentang kedatangan Khidir mendatangkan berkah bagi sekelilingnya.
Dalam ayat dinyatakan bahwa hamba Allah yang dicari Musa itu telah dianugerahi oleh Allah rahmat dan ilmu dari sisi-Nya. Untuk rahmat diungkapkan dengan menggunakan kata min ‘indina, sedangkan untuk ilmu digunakan kata min ladunna. Apakah perbedaan ungkapan tersebut sekadar variasi kalimat dengan makna yang sama atau mempunyai makna yang berbeda.
Menurut Thahir ibn ‘Asyur sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (8: 95), perbedaan ungkapan tersebut hanya sekadar penganekaragaman semata agar tidak terulang dua kata yang sama. Sementara itu menurut al-Biqa’i mengutip Abu Hasan al-Harrah, kata ‘inda dalam bahasa Arab adalah menyangkut sesuatu yang jelas dan tampak, sedangkan kata ladun untuk sesuatu yang tidak nampak.
Setelah mengucapkan salam, Musa memperkenalkan diri, lalu menyampaikan maksud kedatangannya menemui Khidir. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Musa berkata kepada Khidir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ “ (QS. al-Kahfi [18]: 66-68)

Musa memiliki karakter keras, tegas dan terbuka. Dari awal hamba Allah yang dapat ilmu langsung dari Allah tersebut sudah menduga Musa tidak akan sanggup berguru kepadanya. Sebagaimana yang akan terlihat nanti, menyaksikan sesuatu yang menurutnya tidak benar, Musa akan segera memberikan reaksi. Reaksi itu kadang-kadang keras. Ingat tatkala terjadi peristiwa Samiriy, Musa langsung memegang leher baju Harun saudaranya. Dia juga menghempaskan alwah yang sedang dipegangnya karena sangat emosi melihat apa yang dilakukan oleh Bani Israil bersama dengan Samiriy. Bersambung. [yunaharilyas/sm]

Bertasbih Kepada Al-Quddus


Al-Quddus, (Maha Suci) adalah satu dari Asma Al Husna yang dipunyai Allah. Kata dasar dari Al-Quddus adalah Qaddasa yang artinya menyucikan dan menjauhkan dari kejahatan, bisa pula diartikan membesarkan dan mengagungkan.
Al-Quddus dalam al-Qur’an ada pada urutan keempat dalam urut-urutan Al Asma Al Husna setelah sebelumnya menyebut Ar Rahman, Ar Rahim dan Al Malik. Ini bisa dilihat dalam surat al-Hasyr [59] ayat 23:
59_23.png
“Dialah Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Raja (Al Malik) Yang Maha Suci (Al Quddus) Yang Maha Sejahtera Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara keselamatan Yang Maha Perkasa Yang Maha Kuasa Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Sedangkan penyebutan Ar Rahman dan Ar Rahim ada pada ayat sebelumnya, al-Hasyr [59] ayat 22 yang artinya : “Dialah Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih (Ar Rahman) Maha Penyayang (Ar Rahim)”
Tentang kemahasucian Allah ini ditegaskan dalam tasbih pada akhir ayat al-Hasyr 23, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Tentang bertasbih (memahasucikan Allah) ini juga dapat dilihat dalam surat al-Jumu’ah [62] ayat 1:
62_1.png
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah Maha Kuasa (Raja), Yang Maha Suci Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
Bertasbih (memahasucikan Allah) bisa dilakukan dengan lisan dengan mengucap Subhanallah, tetapi juga harus dilakukan dengan tindakan nyata agar tindakan-tindakan yang dilakukan tidak mengarah pada hal-hal yang mensekutukan Allah SwT.
Beberapa tindakan atau ucapan yang harus dilakukan dalam bertasbih ini dapat dilihat dalam surat al-Ikhlas yang artinya:
“Katakanlah (Muhammad) ‘Dialah Allah Yang Maha Esa’ (1) Allah tempat meminta segala sesuatu (2) (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan (3) Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia (4)”
Dengan demikian tindakan yang bertentangan dengan ayat-ayat di atas merupakan tindakan yang tidak mensucikan atau memahasucikan asma Allah. Tindakan demikian tergolong tindakan mensekutukan Allah. Sedangkan mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar sebagaimana termaktub dalam surat Luqman ayat 13 yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya. ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Misalnya perkataan yang mengatakan Allah mempunyai anak, ucapan sebaliknya dari ayat 3 surat al-Ikhlas. Ini digolongkan kepada tidak mensucikan asma Allah. Ini bisa dilihat di dalam surat al-Baqarah ayat 116: “Dan mereka berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Maha Suci Allah, bahkan milik-Nya lah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya.”

Sebagai makhluk ciptaan Allah, kewajiban  kita untuk bertasbih, memuji dan mensucikan Asma Allah serta menghindari tindakan yang mempersekutukan Allah. Walllahu a’lam bishshawab. [lutfieffendi/sm]

Visit Us


Top