Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kenapa cepat marah, curiga, menghujat, dan menghakimi? Kalimat tanya ini layak diajukan kepada siapapun yang saat ini hidup di dunia media sosial. Dunia baru berwatak virtual, digital dan maya. Sebuah dunia yang banyak mengubah perangai orang secara luar biasa menjadi gampang saling mencela!
Renungkanlah pesan terindah Rasulullah. Ketika seorang laki-laki bertanya “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Baginda Nabi menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Muslim dari Jabir ra).
Kini ujaran dan sikap mulia yang diajarkan Nabi tengah diuji oleh situasi umat yang sebagian mudah marah dan berujar kasar. Ketika Majalah Suara Muhammadiyah (SM) belum memuat kasus penistaan agama karena terlebih dahulu naik cetak dan baru di nomor terbaru, dengan mudah SM dituding “menjilat”. Padahal setiap hari SM-Online memuat terang benderang kasus tersebut.
Tatkala Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Majelis Ulama Indonesia, dan Nahdhatul Ulama memenuhi undangan Presiden pada 1 November 2016 ke Istana Negara, beragam suara sinis bermunculan di WA-group. Demikian pula ketika Presiden bersilaturahmi ke PP Muhammadiyah tanggal 8 November 2016 di Jakarta. Beragam penilaian sinis juga bermunculan. Bahkan ada yang minta ditolak dan berdemo.
Hanya karena berbeda diksi, kalimat, dan cara dalam menghadapi kasus Ahok meskipun prinsipnya sama, dengan mudah dikritik keras dengan ujaran tak nyaman. Tak perlu dihitung manakala ada tokoh atau orang yang berbeda pandangan dalam menghadapi kasus yang satu ini. Hujatan dan ujaran-ujaran tak baik berhamburan ke segala arah.
Kita sepakat bahwa kasus yang merendahkan, melecehkan, dan menista agama harus disikapi tegas sesuai prinsip akidah. Setiap muslim yang memiliki kesadaran akidah kuat, tak perlu diragukan keyakinan keislamannya. Siapa yang tidak ingin membela Islam dan menjadi muslim yang taat. Tidak ada yang ingin menyalahi akidah Islam.
Namun manakala bahasa, cara, dan tampilan yang dipilih untuk menyatakan keyakinan keislaman itu beragam satu sama lain semestinya dijadikan ranah tasamuh dan tanawu’. Bahkan kalaupun ada keragaman pandangan sejauh bukan prinsip yang dipahami bersama dan lebih merupakan cara berpikir, strategi, dan kafiyah maka satu sama lain belajarlah untuk lapang hati.
Sungguh menjadi terganggu rasa keadaban menurut takaran akhlak karimah serta bingkai tasamuh dan tanawu’ manakala keragaman cara pikir dan langkah dipandang dalam menyikapi sesuatu yang sifatnya bukan prinsip justru disikapi dengan ujaran dan tindakan yang kurang baik dan pantas. Lebih-lebih jika menjurus pada sikap tajasus, yang saling menghujat, merendahkan, dan menegasikan sesama kaum seiman.
Meskipun berbeda pemikiran, bahkan akhlak karimah tetap dikedepankan dalam menyikapi perbedaan pandangan. Ujaran dan sikap yang santun, baik, dan penuh keagungan akhlak mulia tetap dikedepankan oleh setiap muslim dalam menghadapi situasi yang panas sekalipun. Hal itu diperlukan untuk menunjukkan bahwa akhlak mulia sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah merupakan karakter setiap insan Muslim dalam keadaan apapun.

Allah SwT bahkan memerintahkan umat Muslim bertutur kata yang lembut (QS. Ali Imran:159). Ketika menghadapi keburukan pun bahkan harus dihadapi dengan cara yang baik: “Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat:34-35). Maka, kenapa harus mudah saling mencela dan menghujat dengan ujaran-ujaran buruk?. [a.nuha/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top