Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Hari-hari itu bukanlah hari-hari raya. Tapi suara takbir bergema ke hampir seluruh penjuru nusantara. Dan pada satu hari yang ditetapkan, 2/12, gema takbir dan doa-doa mengguncang pusat ibukota. Menarik penguasa keluar istana, menghampiri rakyatnya. Ikut bersama menyuarakan takbir yang mulia.
Ada apa gerangan? Seorang ‘pemimpin’ dianggap telah menista al-Qur’an. Satu ayat telah dihinakan, “Bapak ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat al-Maidah 51 macem-macem itu,” kata sang pemimpin yang kini duduk di kursi pesakitan.
Sungguh, ujian ini kembali lahirkan kesadaran. Sebagian besar umat tersadarkan akan pentingnya memilih pemimpin yang memahami dan mencintai al-Qur’an.
Allah SwT memang telah menjamin terpeliharanya al-Qur’an. Namun demikian, dalam sejarah peradaban, Allah telah tetapkan hati para amirul mukminin, pemimpin kaum yang beriman, dalam terpeliharanya al-Qur’an. Bagaimanakah peran pemimpin kaum yang beriman itu?
Mari kita buka kembali lembaran sejarah pada masa khalifah pertama, Abu Bakar as-Shidiq. Disana akan kita temui kisah perang Yamamah. Dalam peperangan itu, begitu banyak penghafal al-Qur’an menemui syahidnya. Hal ini membuat Umar ibn Khattab merasa sangat khawatir, bahwa dengan syahidnya para penghafal al-Qur’an akan disertai pula dengan hilangnya al-Qur’an. Umar pun mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan al-Qur’an yang berserak-serak itu. Sebagaimana diketahui, rasulullah saw sebelumnya telah memerintahkan para sahabat menuliskan al-Qur’an pada media-media yang bisa digunakan, seperti pelepah kurma, tulang yang pipih, batu tipis, kulit binatang, dan lain-lain. Pada saat Rasulullah saw wafat, al-Qur’an telah dihafal oleh para sahabat dan tertulis meskipun masih berserak-serak dalam banyak media.
Awalnya usul Umar ra. Ditolak oleh Abu Bakar dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah?” Tetapi Umar terus mengulang-ulang permintaannya hingga Abu Bakar memahami pentingnya pengumpulan tulisan al-Qur’an dan berpendapat seperti pendapatnya Umar.
Abu Bakar kemudian meminta Zaid ibn Tsabit untuk mengumpulkan tulisan al-Qur’an. Zaid bin Tsabit dipilih karena ia sahabat yang mendampingi rasulullah saw dan menuliskan al-Qur’an untuk beliau. Zaid pun pada awalnya menolak dengan pernyataan yang sama seperti Abu Bakar. Namun demikian, Umar terus meyakinkan para sahabat bahwa pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang baik.
Setelah berhasil diyakinkan Umar, Zaid bin Tsabit lalu mengumpulkan lembaran-lembaran al-Qur’an yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran tersebut diterima setelah dilakukan verifikasi dan terbukti dituli di hadapan Rasulullah dengan minimal dua saksi sahabat, diperoleh dari salah seorang sahabat, dan harus dihafal oleh kalangan sahabat. Lembaran-lembaran tersebut disimpan Abu Bakar selama hidupnya, dilanjutkan Umar bin Khattab dan Hafshah binti Umar.
Kemudian, pada masa Khalifah Usman bin Affan, terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur’an. Penduduk Syam membaca dengan bacaan Ubay bin Kaab, sedangkan penduduk Irak dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud. Perbedaan tersebut menimbulkan perselisihan di kalangan kaum muslimin. Hudzaifah bin al-Yaman melihat perbedaan tersebut dapat membahayakan keutuhan kaum muslimin. Ia menghadap Khalifah Usman bin Affan dan berkata, “Wahai amirul mukminin, sadarkanlah ummat ini sebelum mereka berselisih tentang al-Kitab (al-Qur’an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani.”
Khalifah Usman kemudian memerintahkan Zaid bin tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin lembaran-lembaran yang telah dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar ra yang disimpan oleh Hafshah. Tim dapat menyelesaikan proses penyalinan dengan baik, dan menghasilkan 7 (tujuh) salinan dikirim masing-masing 1 (satu) ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kuffah, dan Madinah. Mushaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Usmani yang dijadikan rujukan dalam penyalinan al-Qur’an hingga sekarang.

Itulah sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana peran para Amirul Mukminin, pemimpin kaum yang beriman, dalam terpeliharanya al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Islam seluruh dunia, kemarin, kini dan nanti, yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya. Kita berharap, esok, di bumi nusantara ini, muncul pemimpin-pemimpin yang benar-benar mencintai al-Qur’an, menjaganya dan menjadikannya pedoman dalam seluruh dimensi kehidupan. Sehingga dapat membawa bangsa ini meninggalkan segala keterbelakangan menuju jalan-jalan kemajuan yang diridhoi Allah SwT. [firmansyah/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top