Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Keadaban Kata


Nabi Muhammad dikenal uswah hasanah. Menjadi suri tauladan terbaik dalam seluruh kehidupannya. Allah SwT yang memberi predikat mulia itu (QS. al-Ahdzab:21), bukan Muhammad sendiri. Allah bahkan menyebut Rasul akhir zaman itu berakhlaq yang agung (QS. al-Qalam:4). Martabat keadabannya yang mulia berada di puncak tertinggi.
Diantara sifat Nabi yang mulia itu ialah al-hilm, halus budi. Halus dalam sikap, lisan, dan tindakan. Beliau berperangai sempurna dan utama. Dari diri Nabi segala kebajikan terbaik lahir, yang menyebarkan rahmat bagi semesta. ‘Aisyah, istri tercintanya, bahkan mengidentifikasikan akhlaq Rasul adalah akhlaq al-Qur’an.
Padahal Muhammad lahir dalam lingkungan budaya Arab Jahiliyah yang kasar dan keras. Mereka terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bahkan sering bertumpah darah. Kekerasan dan pertumpahan darah melekat dalam tabiat masyarakat Arab kala itu, yang bagi mereka lambang dari kedigdayaan dan kehebatan diri.
Ketika hendak meletakkan Hajar Aswad pada renovasi Ka’bah, nyaris saling mengalirkan darah antar kabilah. Banyak hal diselesaikan dengan pedang. Maka datanglah sosok Al-Amin, yang terpercaya yang memberi solusi damai. Anak perempuan pun dihinakan, bahkan ada yang dibunuh karena dipandang makhluk yang lemah, hingga datang risalah Islam yang memuliakannya.
Ketika sudah masuk Islam pun, sebagian masih berperangai kasar dan keras. Termasuk dalam bertutur kata dan bersuara. Diantara mereka sempat berteriak-teriak memanggil Nabi dari balik kamar beliau, hingga turun al-Qur’an surat al-Hujurat yang mengajarkan keadaban kata dan tindakan.
Adakah muslim dan umat Islam yang menjadi pengikut Nabi akhir zaman mau meneladani sifat-sifat utama itu? Pasti. Lebih-lebih bagi mereka yang merasa atau mengaku paling islami. Merasa setia dan pembela al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Akhlak mulia yang diteladankan Rasulullah itu mestinya menjadi pakaian sehari-hari, baik yang dhahir maupun batin.
Kebiasaan bertutur kata yang vulgar, kasar, keras, dan lancang bukanlah cermin akhlak mulia Islami. Termasuk kasar kata melalui media sosial dan relasi apapun, baik lisan maupun tulisan. Apalah artinya menjadi pengikut Nabi manakala perangai masih jauh panggang dari api.
Muslim jangan menjadi pemarah dan penghasut. Perangai semacam itu bukanlah cermin uswah hasanah seorang muslim. Termasuk di lingkungan jamaah persyarikatan. “Berkatalah yang baik atau diam”, demikian pesan emas dari Nabi akhir zaman kepada umatnya. Manakala kita tidak suka orang lain berkata nista, kasar, keras, dan ujaran yang tak berkeadaban maka jangan lakukan hal yang sama, lebih-lebih dengan sesama.
Wajar ada marah, lebih-lebih ketika menyangkut urusan keyakinan agama. Tetapi marahnya orang beriman harus berbeda dengan mereka yang sekuler dan jauh dari api iman. Apalagi ketika kemarahan itu ditumpahkan kepada sesama seiman seperjuangan hanya karena berbeda cara dan jalan yang ditempuh, yang masih dalam koridor ijtihad di jalan mu’amalah duniawiyah.
Sungguh tidak ada satu jalan mutlak dalam cara berdakwah dan berjuang menegakkan ajaran Islam. Lebih-lebih manakala jalan dakwah dan perjuangan itu ditempuh secara sah, terorganisasi, dan didukung mayoritas. Ketika diantara sebagian kecil tak bersetuju dengan cara mayoritas itu, maka tak perlu memaksakan kehendak dengan cara-cara yang kurang mencerminkan akhlak mulia. Bahkan mereka yang banyak pun harus belajar menghormati yang sedikit, ketika ada berbeda cara dan jalan perjuangan.

Maka, menjadi sangat luhur dan mulia manakala baik dalam hubungan sehari-hari maupun dalam menempuh jalan perjuangan dakwah, setiap insan muslim menegakkan keadaban akhlak karimah. Termasuk keadaban kata dan ujaran. Itulah keadaban utama yang diteladankan Nabi akhir zaman, yang berakhlak agung dan sosok uswah hasanah nan sejati. [a.nuha/sm]

Al-Razi: Ahli Kedokteran Klinis


Pada abad pertengahan, penyakit cacar menyerang secara berkala di Eropa, menjadi endemis setelah jumlah perpindahan penduduk meningkat pada zaman Perang Salib. Kemudian pada abad ke 16 penyakit cacar melanda sebagian besar penduduk Eropa. Bahkan selama abad ke 18 sampai akhir, penyakit cacar mampu membunuh sekitar 400.000 penduduk Eropa per tahun, sehingga penyakit cacar menjadi persoalan yang cukup memprihatinkan bagi sebagian besar penduduk Eropa. Adalah Al-Razi ilmuwan pertama yang mendiagnosa penyakit cacar.
Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi. Di dunia Barat dikenal dengan nama Rhazes. Ia merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup di zaman keemasan Islam. Lahir di Rayy, Teheran pada tahun 865 M dan wafat pada tahun 925 M. Nama Al-Razi sendiri berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran.
Al-Razi dikenal sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. Hal ini karena sejak muda ia telah mempelajari filsafat, kimia, matematika, dan sastra. Saat masih kecil, ia tertarik menjadi penyanyi atau musisi, namun kemudian ia lebih tertarik pada bidang kimia. Ia termasuk salah seorang yang terampil melakukan proses-proses kimia, seperti distuasi, sublimasi, kalsinasi, kristalisasi, sintesa, serta berbagai analisis lainnya.
Ketika berusia 30 tahun, Al-Razi memutuskan berhenti menekuni bidang kimia, karena berbagai eksperimen yang membuat matanya menjadi cacat. Kemudian ia mencari seorang dokter yang dapat menyembuhkan matanya. Dari sinilah Al-razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.
Dalam bidang kedokteran, Al-Razi berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Selain pada Hunayn, ia juga berguru kepada Ali bin Sahal ath-Thabiri, seorang filosof dan dokter asal Merv. Mulanya, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah, al-Mu’tashim.
Al-Razi kembali ke kampung halamannya dan dikenal sebagai dokter di sana. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercayai untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Kedudukannya sebagai kepala rumah sakit ini terjadi pada masa kekuasaan Mansur Ibn Ishaq, seorang penguasa Samania. Ia pun menulis buku yang khusus dipersembahkan untuk Mansur Ibn Ishaq yang ia beri judul al-Thibb al-Mansur.
Beberapa tahun kemudian, Al-Razi hijrah ke Baghdad tepatnya pada masa kekuasaan Muktafi dan ia dipercaya memimpin rumah sakit Muqtadiri. Setelah kematian Khalifah Al-Muktafi pada 907 M, Al-Razi memutuskan kembali ke Rayy, kota kelahirannya. Di kota ini ia memiliki banyak murid.
Selain dikenal sebagai seorang yang terampil melakukan proses-proses kimia, ia juga yang berhasil menerapkan ilmu kimia dalam bidang kedokteran. Ia sukses mengobati penyakit melalui reaksi yang terjadi di dalam tubuh pasien. Ia mempunyai keahlian menemukan cologne yang disarikan dari sejenis tumbuh-tumbuhan.
Karya dan Sumbangan Al-Razi
Selama hidupnya, Al-Razi menulis tidak kurang dari 200 buku. Beberapa karyanya di bidang kedokteran. Diantaranya al-Hawi, buku induk bidang kedokteran. Buku ini merangkum ilmu-ilmu kedokteran yang pernah ia baca, dan diuji kebenarannya melalui eksperimen. Lalu kitab al-Judari wa al-Hasbah, buku yang mengupas seluk-beluk penyakit cacar. Kemudian kitab al-Asrar, buku yang berisi tentang berbagai macam luka serta penggunaan kayu pengapit dan penyangga untuk keperluan patah tulang. Selain itu dibahas pula terkait sakit perut, dan masih banyak karya-karya yang lainnya.
Al-Razi adalah orang pertama yang membuat diagnosa seputar penyakit cacar, “Cacar terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa.
Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi. Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Encyclopedia Britannica (1991) yang menulis: “Pernyataan pertama paling akurat dan terpercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9, yaitu Rhzes, yang menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan pengumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut”.
Al-Judar wa al-Hasbah (Cacar dan Campak) karya Al-Razi adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Kemudian buku ini diterjemahkan belasan kali ke dalam bahasa Latin dan Eropa lainnya. Penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir Al-Razi dalam buku ini.
Al-Razi juga diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit alergi asma, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Di salah satu tulisannya, ia menjelaskan timbulnya penyakit rhinitis (alergi umum) setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Al-Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, ia juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula, dan mortar, dan mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.
Al-Razi juga mengemukakan pendapat tentang etika kedokteran. Salah satunya ketika ia mengkritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Selain itu, ada pula pernyataannya terkait dunia kedokteran bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban segala penyakit dan menyembuhkan semua penyakit, untuk itu ia menyarankan agar meningkatkan mutu seorang dokter dan tetap belajar serta terus mencari informasi baru. Kemudian ia juga berargumen bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh, dan bermanfaat untuk masyarakat luas.

Al-Razi dikenal sebagai seorang yang murah hati, memperhatikan pasien-pasiennya, serta dermawan kepada orang-orang miskin. Oleh karenanya, ia tidak meminta bayaran sedikitpun kepada pasien yang berobat kepadanya. Di sela-sela aktifitasnya sebagai dokter, ketika sedang tidak bersama murid dan pasiennya, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar dan menulis. Inilah yang kemungkinan menjadi sebab penglihatannya berangsur-angsur lemah (rabun) dan akhirnya mengalami kebutaan. Al-Razi menolak untuk diobati dan ia mengatakan pengobatan itu akan sia-sia belaka, karena sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Benar saja, beberapa hari kemudian ia meninggal dunia pada 5 Sya’ban 313 H/27 Oktober 925 M, di kota kelahirannya, Rayy. [nurshifafauziyah/sm]

Saling Mencela


Kenapa cepat marah, curiga, menghujat, dan menghakimi? Kalimat tanya ini layak diajukan kepada siapapun yang saat ini hidup di dunia media sosial. Dunia baru berwatak virtual, digital dan maya. Sebuah dunia yang banyak mengubah perangai orang secara luar biasa menjadi gampang saling mencela!
Renungkanlah pesan terindah Rasulullah. Ketika seorang laki-laki bertanya “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Baginda Nabi menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Muslim dari Jabir ra).
Kini ujaran dan sikap mulia yang diajarkan Nabi tengah diuji oleh situasi umat yang sebagian mudah marah dan berujar kasar. Ketika Majalah Suara Muhammadiyah (SM) belum memuat kasus penistaan agama karena terlebih dahulu naik cetak dan baru di nomor terbaru, dengan mudah SM dituding “menjilat”. Padahal setiap hari SM-Online memuat terang benderang kasus tersebut.
Tatkala Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Majelis Ulama Indonesia, dan Nahdhatul Ulama memenuhi undangan Presiden pada 1 November 2016 ke Istana Negara, beragam suara sinis bermunculan di WA-group. Demikian pula ketika Presiden bersilaturahmi ke PP Muhammadiyah tanggal 8 November 2016 di Jakarta. Beragam penilaian sinis juga bermunculan. Bahkan ada yang minta ditolak dan berdemo.
Hanya karena berbeda diksi, kalimat, dan cara dalam menghadapi kasus Ahok meskipun prinsipnya sama, dengan mudah dikritik keras dengan ujaran tak nyaman. Tak perlu dihitung manakala ada tokoh atau orang yang berbeda pandangan dalam menghadapi kasus yang satu ini. Hujatan dan ujaran-ujaran tak baik berhamburan ke segala arah.
Kita sepakat bahwa kasus yang merendahkan, melecehkan, dan menista agama harus disikapi tegas sesuai prinsip akidah. Setiap muslim yang memiliki kesadaran akidah kuat, tak perlu diragukan keyakinan keislamannya. Siapa yang tidak ingin membela Islam dan menjadi muslim yang taat. Tidak ada yang ingin menyalahi akidah Islam.
Namun manakala bahasa, cara, dan tampilan yang dipilih untuk menyatakan keyakinan keislaman itu beragam satu sama lain semestinya dijadikan ranah tasamuh dan tanawu’. Bahkan kalaupun ada keragaman pandangan sejauh bukan prinsip yang dipahami bersama dan lebih merupakan cara berpikir, strategi, dan kafiyah maka satu sama lain belajarlah untuk lapang hati.
Sungguh menjadi terganggu rasa keadaban menurut takaran akhlak karimah serta bingkai tasamuh dan tanawu’ manakala keragaman cara pikir dan langkah dipandang dalam menyikapi sesuatu yang sifatnya bukan prinsip justru disikapi dengan ujaran dan tindakan yang kurang baik dan pantas. Lebih-lebih jika menjurus pada sikap tajasus, yang saling menghujat, merendahkan, dan menegasikan sesama kaum seiman.
Meskipun berbeda pemikiran, bahkan akhlak karimah tetap dikedepankan dalam menyikapi perbedaan pandangan. Ujaran dan sikap yang santun, baik, dan penuh keagungan akhlak mulia tetap dikedepankan oleh setiap muslim dalam menghadapi situasi yang panas sekalipun. Hal itu diperlukan untuk menunjukkan bahwa akhlak mulia sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah merupakan karakter setiap insan Muslim dalam keadaan apapun.

Allah SwT bahkan memerintahkan umat Muslim bertutur kata yang lembut (QS. Ali Imran:159). Ketika menghadapi keburukan pun bahkan harus dihadapi dengan cara yang baik: “Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat:34-35). Maka, kenapa harus mudah saling mencela dan menghujat dengan ujaran-ujaran buruk?. [a.nuha/sm]

Nabi Harun as



Nama Nabi Harun ‘alaihi as-salaam disebut dalam al-Qur’an sebanyak 19 kali, tersebar dalam surat al-Baqarah (1 kali), surat an-Nisa’ (1 kali), surat al-An’am (1 kali), surat al-A’raf (2 kali), surat Yunus (1 kali), surat Maryam (1 kali), surat Thaha (4 kali), surat al-Anbiya’ (1 kali), surat al-Mu’minun (1 kali), surat al-Furqan (1 kali), surat asy-Syu’ara (2 kali), surat al-Qashash (1 kali), dan surat ash-Shaffat (2 kali). Ada satu nama Harun lagi disebutkan pada surat Maryam ayat 28, tetapi para mufassir berbeda pendapat apakah yang dimaksud Harun saudara Musa atau Harun yang lain yang ada di zaman Maryam ibunya Nabi Isa as.
Nama Harun pertama kali disebut dalam Mushaf pada surat al-Baqarah ayat 248. Allah SwT berfirman:
2_248.png
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah [2]:248)
Sepeninggal Nabi Musa dan Harun ‘alaihima as-salaam, Bani Israil dipimpin oleh Yusya’ bin Nun, murid Nabi Musa yang pernah dibawa menjadi pendamping beliau waktu mencari Nabi Khidir di pertemuan dua lautan. Setelah berhasil membawa Bani Israil ke tanah yang dijanjikan, yaitu negeri Palestina, maka mereka memohon diberi seorang raja yang bisa mengalahkan Raja Jalut yang perkasa. Yusya’ bin Nun lalu menunjuk Thalut, tapi mereka menolaknya karena dianggap orang biasa saja seperti Bani Israil umumnya, tidak ada keistimewaan apa-apa. Tetapi setelah Thalut menunjukkan tanda kerajaannya yaitu dapat menghadirkan tabut dan peninggalan keluarga Musa dan Harun yang lainnya, barulah mereka dapat menerimanya.
Umumnya memang penyebutan nama Harun dirangkai dengan nama Musa as. Kisah hidup dan perjalanan Harun pun berhimpitan dengan kisah Musa, karena memang Harun diangkat oleh Allah SwT menjadi Nabi atas permintaan Musa as seperti disebutkan dalam firman Allah yang artinya berikut ini:
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku (yaitu) Harun saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku.” (QS. Thaha [20]:29-32).
Terakhir kali nama Harun disebut dalam Mushaf pada surat ash-Shaffat ayat 120, dalam rangkaian ayat sejak ayat 114. Lebih baik kita kutip lengkap sejak ayat 114. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu): ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. ash-Shaffat [37]:114-122)
Nasab dan Tempat
Karena Harun adalah kakak kandung Musa, maka nasabnya sama dengan nasab Musa. Sedangkan nasab Musa sudah disebutkan dalam bagian awal kisah Nabi Musa as. Kita tinggal ganti nama Musa dengan Harun. Sumber yang kita gunakan untuk nasab Musa dan tentu juga Harun adalah Muhammad al-Washfi dalam Tarikh al-Anbiya’ wa ar-Rusul wa al-Irtibath a-Zamani wa al-’Aqaidi (2001:187). Dari nasab Musa kita tahu Harun adalah putera dari ‘Imran ibn Quhat ibn Lawi ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Sedangkan ibu Harun adalah Yukabid saudara perempuan dari Quhat dan bibi dari ‘Imran sendiri. Dari ‘Imran, Yukabid melahirkan tiga orang anak, satu perempuan yang paling tua bernama Maryam, dan dua laki-laki yaitu Harun dan Musa. Lawi adalah saudara satu bapak dari Nabi Yusuf as. Lawi bersama saudara-saudaranya yang lain, serta keluarga masing-masing bersama Nabi Ya’qub diajak pindah oleh Yusuf dari Madyan ke Mesir.
Menurut Ibn Katsir dalam Kisah Para Nabi (2011:336) Musa dan juga Harun adalah putera ‘Imran ibn Qahits ibn Azie ibn Lawi ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Terlihat ada perbedaan antara sumber yang dikutip Washfi di atas dengan Ibn Katsir. Yang paling menonjol perbedaannya adalah antara Qahits dan Lawi dalam versi Ibn Katsir ada Azir, sedangkan dalam versi Washfi di atas Quhat langsung Lawi. Wallahu ‘alam.
Keluarga besar Ya’qub itulah generasi pertama Bani Israil yang menetap di Mesir. Mereka berkembang dengan cepat, bekerja dengan giat dalam bidang pertanian dan peternakan sehingga menimbulkan kecemburuan dan ketakutan bangsa Mesir. Akhirnya di bawah perintah Fir’aun (sebutan untuk Raja Mesir) Bani Israil ditindas, dipaksa bekerja dan diperbudak, sampai akhirnya Allah SwT mengirim Musa untuk membebaskan mereka dan membawa keluar dari Mesir menuju padang pasir Sinai, menyeberang laut dengan mukjizat dari Allah SwT.
Berbeda dengan Musa yang lahir pada tahun dimana tentara Fir’aun membunuhi semua bayi laki-laki Bani Israil yang baru dilahirkan, sehingga Musa bayi harus disembunyikan dan kemudian dihanyutkan di sungai Nil, maka Harun lahir pada masa jeda dari pembunuhan. Semula Fir’aun memerintahkan sepanjang tahun semua bayi laki-laki yang dilahirkan dari kalangan Bani Israil harus dibunuh, tetapi kemudian ada kekhawatiran yang disampaikan para pembesar Fir’aun, kalau semua bayi laki-laki Bani Israil dibunuh, maka pada suatu saat nanti Fir’aun dan para pembesarnya serta bangsa Mesir akan kesulitan karena tidak ada lagi laki-laki Bani Israil yang akan mereka paksa bekerja. Oleh sebab itu Fir’aun mengeluarkan perintah selang seling tahun, satu tahun semua bayi laki-laki Bani Israil dibunuh, satu tahun berikutnya dibiarkan hidup, begitu seterusnya. Maka Harun lahir pada masa bebas dari pembunuhan sehingga ibunya tidak perlu menyembunyikan atau menghanyutkannya.
Tidak dijelaskan berapa tahun beda umur antara Musa dan Harun, barangkali cuma beda satu tahun, sehingga Ibu Musa masih dalam masa menyusui. Kalau beda tiga tahun atau lebih tentu air susu tidak akan keluar lagi dari Ibu Musa, padahal jelas-jelas Ibu Musa dapat menyusui Musa di Istana.
Harun diasuh sepenuhnya oleh ibunya di rumah, sementara Musa diasuh oleh isteri Fir’aun di istana. Tidak diceritakan apakah selama masa berada di istana Fir’aun, Musa dapat berkomunikasi dengan ibu dan kakaknya. Kemungkinan itu ada, karena kemudian kita mengetahui bahwa Musa mengenal dirinya bagian dari Bani Israil. Boleh jadi informasi itu pernah disampaikan ibunya pada suatu waktu, atau ibu angkatnya yaitu isteri Fir’aun yang memberitahunya. Kalau tidak ada komunikasi, tidak mungkin Musa kenal Harun, padahal faktanya Musa kenal baik Harun sehingga tatkala diangkat menjadi Nabi dan rasul dan ditugaskan oleh Allah SwT untuk membebaskan Bani Israil, Musa memohon kepada Allah agar dia dibantu oleh saudaranya Harun.
Harun punya kelebihan fasih berbicara, sementara Musa sadar bahwa dirinya, akibat memasukkan bara api ke mulutnya waktu kecil, tidak fasih berbicara. Harun selalu mendampingi Musa dalam menghadapi Fir’aun dan para pembesarnya, menghadapi para tukang sihir, membawa Bani Israil keluar dari Mesir, menyeberang ke Sinai, dan menghadapi kehidupan yang sulit di padang pasir Sinai, apalagi memimpin Bani Israil yang tidak pandai berterima kasih, suka membantah, tidak selalu patuh kepada mereka berdua dan karena sudah lama diperbudak di Mesir sudah tidak punya jiwa merdeka, tidak memiliki moralitas yang tinggi.
Harun tidak dibawa oleh Musa ke Bukit Thursina. Dia bertugas memimpin Bani Israil selama ditinggal oleh Musa. Harun seorang dirilah yang menghadapi Samiri dan sebagian Bani Israil yang mau menerima ajakan Samiri untuk menyembah patung anak sapi. Setelah kembali dari Thursina sempat terjadi kesalahfahaman antara Musa dan Harun. Musa menyalahkan Harun karena dianggap membiarkan Samiri dan para pengikutnya menyembah patung anak sapi. Sampai-sampai Musa memegang baju Harun di lehernya. Untunglah Harun dapat dengan sabar mengingatkan Musa dan menjelaskan apa yang terjadi.
Begitu juga waktu pergi mencari hamba Allah yang shalih, yang ilmunya lebih tinggi dari Musa di pertemuan dua lautan, Musa juga tidak membawa Harun, Musa hanya didampingi oleh Yusya’ bin Nun.

Demikianlah, kisah hidup dan perjalanan dakwah Nabi Harun as dapat kita ikuti melalui kisah Nabi Musa as yang sudah diuraikan panjang lebar pada bagian sebelumnya. Harun meninggal lebih dahulu dari Musa. Kedua-duanya tidak sempat sampai ke negeri yang dijanjikan. [yunaharilyas/sm]

Al-Qur'an dan Pemimpin


Hari-hari itu bukanlah hari-hari raya. Tapi suara takbir bergema ke hampir seluruh penjuru nusantara. Dan pada satu hari yang ditetapkan, 2/12, gema takbir dan doa-doa mengguncang pusat ibukota. Menarik penguasa keluar istana, menghampiri rakyatnya. Ikut bersama menyuarakan takbir yang mulia.
Ada apa gerangan? Seorang ‘pemimpin’ dianggap telah menista al-Qur’an. Satu ayat telah dihinakan, “Bapak ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat al-Maidah 51 macem-macem itu,” kata sang pemimpin yang kini duduk di kursi pesakitan.
Sungguh, ujian ini kembali lahirkan kesadaran. Sebagian besar umat tersadarkan akan pentingnya memilih pemimpin yang memahami dan mencintai al-Qur’an.
Allah SwT memang telah menjamin terpeliharanya al-Qur’an. Namun demikian, dalam sejarah peradaban, Allah telah tetapkan hati para amirul mukminin, pemimpin kaum yang beriman, dalam terpeliharanya al-Qur’an. Bagaimanakah peran pemimpin kaum yang beriman itu?
Mari kita buka kembali lembaran sejarah pada masa khalifah pertama, Abu Bakar as-Shidiq. Disana akan kita temui kisah perang Yamamah. Dalam peperangan itu, begitu banyak penghafal al-Qur’an menemui syahidnya. Hal ini membuat Umar ibn Khattab merasa sangat khawatir, bahwa dengan syahidnya para penghafal al-Qur’an akan disertai pula dengan hilangnya al-Qur’an. Umar pun mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan al-Qur’an yang berserak-serak itu. Sebagaimana diketahui, rasulullah saw sebelumnya telah memerintahkan para sahabat menuliskan al-Qur’an pada media-media yang bisa digunakan, seperti pelepah kurma, tulang yang pipih, batu tipis, kulit binatang, dan lain-lain. Pada saat Rasulullah saw wafat, al-Qur’an telah dihafal oleh para sahabat dan tertulis meskipun masih berserak-serak dalam banyak media.
Awalnya usul Umar ra. Ditolak oleh Abu Bakar dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah?” Tetapi Umar terus mengulang-ulang permintaannya hingga Abu Bakar memahami pentingnya pengumpulan tulisan al-Qur’an dan berpendapat seperti pendapatnya Umar.
Abu Bakar kemudian meminta Zaid ibn Tsabit untuk mengumpulkan tulisan al-Qur’an. Zaid bin Tsabit dipilih karena ia sahabat yang mendampingi rasulullah saw dan menuliskan al-Qur’an untuk beliau. Zaid pun pada awalnya menolak dengan pernyataan yang sama seperti Abu Bakar. Namun demikian, Umar terus meyakinkan para sahabat bahwa pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang baik.
Setelah berhasil diyakinkan Umar, Zaid bin Tsabit lalu mengumpulkan lembaran-lembaran al-Qur’an yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran tersebut diterima setelah dilakukan verifikasi dan terbukti dituli di hadapan Rasulullah dengan minimal dua saksi sahabat, diperoleh dari salah seorang sahabat, dan harus dihafal oleh kalangan sahabat. Lembaran-lembaran tersebut disimpan Abu Bakar selama hidupnya, dilanjutkan Umar bin Khattab dan Hafshah binti Umar.
Kemudian, pada masa Khalifah Usman bin Affan, terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur’an. Penduduk Syam membaca dengan bacaan Ubay bin Kaab, sedangkan penduduk Irak dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud. Perbedaan tersebut menimbulkan perselisihan di kalangan kaum muslimin. Hudzaifah bin al-Yaman melihat perbedaan tersebut dapat membahayakan keutuhan kaum muslimin. Ia menghadap Khalifah Usman bin Affan dan berkata, “Wahai amirul mukminin, sadarkanlah ummat ini sebelum mereka berselisih tentang al-Kitab (al-Qur’an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani.”
Khalifah Usman kemudian memerintahkan Zaid bin tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin lembaran-lembaran yang telah dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar ra yang disimpan oleh Hafshah. Tim dapat menyelesaikan proses penyalinan dengan baik, dan menghasilkan 7 (tujuh) salinan dikirim masing-masing 1 (satu) ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kuffah, dan Madinah. Mushaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Usmani yang dijadikan rujukan dalam penyalinan al-Qur’an hingga sekarang.

Itulah sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana peran para Amirul Mukminin, pemimpin kaum yang beriman, dalam terpeliharanya al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Islam seluruh dunia, kemarin, kini dan nanti, yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya. Kita berharap, esok, di bumi nusantara ini, muncul pemimpin-pemimpin yang benar-benar mencintai al-Qur’an, menjaganya dan menjadikannya pedoman dalam seluruh dimensi kehidupan. Sehingga dapat membawa bangsa ini meninggalkan segala keterbelakangan menuju jalan-jalan kemajuan yang diridhoi Allah SwT. [firmansyah/tabligh]

MUI Sesalkan Kunjungan Anggotanya Ke Israel


Kunjungan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. Ibtisyaroh ke Yerusalem Israel menuai kritikan keras. Meski tidak mewakili MUI, kunjungan Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI itu dianggap menyalahi kebijakan organisasi.
Zainut Tauhid Saadi wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa dalam waktu dekat ini akan meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan.
"MUI dalam waktu dekat akan memanggil beliau untuk meminta klarifikasi atau tabayyun atas kunjungannya, karena kunjungan tersebut dilakukan tanpa seizin dan sepengetahuan pimpinan MUI," ungkap Zainut melalui pernyataan tertulisnya, yang diterima di Jakarta, Jumat (20/01/2017) kemarin.
Pimpinan MUI menurut Zainut menyesalkan kunjungan wanita yang juga salah satu pengurus PBNU tersebut. MUI lanjut Zainut melarang semua pengurusnya untuk berkunjung ke negara zionis dengan atau tanpa dalih apa pun.
MUI sebagai salah satu representasi umat Islam Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Negara Palestina.
Larangan berkunjung ke Israel itu menurut Zainut sesuai dengan konstitusi yakni menolak segala macam bentuk penjajahan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan Israel menurutnya merupakan salah satu negara penjajah dengan bentuk kedzaliman terhadap Palestina dan warganya.
Sementara itu Ketua MUI bidang Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi juga menyayangkan kehadiran Prof Ibtisyaroh ke Israel atas undangan Presiden Israel Reuven Rivlin. KH Muhyidin juga memastikan bahwa kehadiran Ibtisyaroh bukan mewakili lembaga MUI.
"Seharusnya beliau paham posisi MUI dan Indonesia tentang Palestina," kata dia menanggapi langkah kontroversial Ibtisyaroh itu.
Terlebih kondisi sekarang, Yahudi dunia merasa di atas angin menanggapi pernyataan Donald Trump yang berencana memindahkan kedubes Amerika ke Yerusalem. Sebagaimana klaim Israel bahwa ibukota mereka pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Muhyidin melanjutkan bahwa sebaiknya yang bersangkutan sebaiknya mengundurkan diri dari jabatan ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga MUI, sebelum pimpinan MUI yang mengambil keputusan. "Itu lebih baik demi muruah MUI dan Indonesia," kata dia. [islamaktual/rol]

Kyai Azhar Basyir : Ulama Cendekiawan Muhammadiyah (1)


Pada 1968, Pak Azhar kembali ke tanah air. Kehadirannya di Indonesia pasti telah lama dinantikan oleh orangtua dan keluarga. Benar dan terbukti seperti apa yang dikatakan oleh Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir. Kepulangannya telah banyak pihak yang memerlukannya. Setahun berada di Yogyakarta, ia menjadi Dosen tetap Fakultas Filsafat UGM hingga pensiun (1969-1993). Ia juga diminta memberi kuliah di Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra UGM. Selain itu, ia memberi kuliah di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi UII, UMY, UMS, dan UMM. Juga memberi kuliah pada Program Pascasarjana UI dan IAIN SUnan Kalijaga Yogyakarta.
Menjadi Ketua PP Muhammadiyah
PP Muhammadiyah yang waktu itu berada di bawah kepemimpinan KH AR Fachruddin tentu menyambut menyambut kepulangan Pak Azhar dengan senang hati dan rasa syukur kepada Allah. Karena yang telah sekian lama ditunggu telah datang dengan selamat. Pastilah kepadanya telah disampaikan banyak harapan untuk berkiprah kembali meneruskan perjuangan dan memperkuat Muhammadiyah. Apalagi sejak masih anak dan remaja, ia aktif dalam Kepanduan Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, sebelum berangkat ke luar negeri untuk tugas belajar, ia menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1954-1956).
Menjelang Muktamar ke-42, Pak AR, demikian panggilan akrabnya di kalangan Muhammadiyah dan masyarakat, dalam banyak kesempatan sudah sering mengisyaratkan agar Pimpinan Muhammadiyah tidak lagi memilihnya menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Karena ia telah lama menduduki jabatan itu dan telah berusia. Orang yang paling tepat untuk menggantikannya ialah Pak Ahmad Azhar. Sadar diri terhadap hal itu, maka pantas kalau ia berharap kepadanya kesediaan untuk menggantikannya.
Muktamar ke-42 berlangsung di Yogyakarta tahun 1990. Presiden Soeharto hadir memberi amanah dan sekaligus membuka Muktamar ke-42. Upacara pembukaan Muktamar bertempat di Stadion Mandalakrida. Berlangsung meriah dan banyak mendapat perhatian masyarakat khususnya dari keluarga besar Muhammadiyah. Sedangkan sidang-sidang Muktamar bertempat di lapangan ASRI (di tengah lapangan dibuat bangunan tobong besar) yang bangunan bagian depannya adalah gedung bertingkat kampus awal UMY di Jl. HOS. Cokroaminoto, Yogyakarta. Gedung ini sekarang antara lain digunakan untuk ASRI Medical Centre.

Dalam Muktamar ke-42 ini terpilih KH. Ahmad Azhar Basyir, MA menjadi ketua PP Muhammadiyah (1990-1995). Inilah puncak karier pengabdian Pak Azhar sebagai Ketua PP Muhammadiyah meski tidak sampai akhir periode. Sebab, tahun 1994, satu tahun sebelum periodenya habis, ia telah dipanggil lebih dahulu menghadap ke hadirat Allah SwT. Meski ia lebih muda daripada Pak AR yang menyerahterimakan estafet kepemimpinan kepadanya. Kemudian barulah Pak AR menyusulnya menghadap Allah beberapa bulan setelah itu. Sisa akhir periode kepemimpinan Pak Azhar lalu dilanjutkan oleh Prof. Dr. HM. Amien Rais, MA. yang dalam periode ini menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Dan dalam Muktamar ke-43 tahun 1995, Pak Amien Rais terpilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah (1995-2000).bersambung. [muchlasabror/sm]

Makna Wali Allah


“Dari Abu Hurairah ia berkata, rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.” [HR. Bukhari]
Hadits ini shahih, bersumber dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 6502, Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, III/346; IX/219. Dalam Syarhus Sunan al-Baghawi no. 1248, komentar beliau (al-Baghawi) tentang hadits ini adalah shahih. Demikian juga, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata; Nabi bersabda dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan dari Rabbnya, sambil menyebutkan hadits di atas.
Meski hadits ini dinilai shahih oleh al-Baghawi dan Ibnu Taimiyah, dan diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, namun ada juga ulama yang memperbincangkannya, karena ada rawi yang lemah. Nashirudin al-Albaniy mengatakan hadits ini shahih, karena ada “syawahid”nya (penguatnya) sebagaimana yang dijelaskan al-Albaniy dalam silsilah al-Hadits as-Shahihah no. 1640.
Makna Wali; dalam bahasa Arab kata “Wali” diambil dari kata “al-walayah” yang artinya kedekatan. Maksudnya adalah; orang yang mendekatkan diri kepada Allah SwT melalui amalan-amalan yang shalih dan perkataan yang lurus. Semakin shalih amalan seseorang, maka akan semakin dekat juga kedudukannya dengan Allah. Berarti, tingkat/derajat kewaliannya juga akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin sedikit amalan shalihnya seseorang, maka akan semakin jauh kedudukannya dari Allah, dan tingkat kewaliannya juga akan semakin rendah.
Jadi makna wali yang dimaksud adalah; bukan tertuju kepada “hebat”nya seseorang, yang dianggap serba bisa; bisa menghilang, bisa terbang, bisa berjalan di atas air, bisa pulang pergi ke Mekkah dalam tempo satu jam, bisa menyembuhkan orang dengan “karomah”nya dan lain sebagainya. Tetapi yang dimaksud adalah ghirah ibadah seseorang yang dia lakukan secara konsisten dalam rangka menjalin kedekatan kepada dirinya kepada Allah SwT. Di dalam surat al-Isra’ [17]:57 Allah berfirman:
17_57.png

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” [moh.shodiq/sm]

Ibn Al-Haytham : Bapak Optika Modern


Optika tidak dapat dipisahkan dari cahaya. Ilmuwan teori tentang cahaya yang dikenal selama ini adalah para ilmuwan Barat, seperti Rene Decartes (1596-1650) yang mempublikasikan model (fenomena) cahaya, yang mempengaruhi ide-ide Isaac Newton (1643-1727) hingga dihasilkan teori partikel cahaya.
Ilmuwan Belanda yang sezaman dengan Newton, Cristian Huygens (1629-1695) membangkitkan kembali teori impuls cahaya Decartes dan dihasilkan teori gelombang cahaya yang dikenal dengan prinsip Huygens. Pada 1801, Thomas Young (1773-1829) dan rekannya, Augustin Fresnel (1788-1827), menghidupkan kembali teori gelombang cahaya Huygens.
Penting diketahui bahwa 500 tahun sebelumnya telah ada ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi penting untuk memahami penglihatan (vision), optika (optics), dan cahaya (light). Dia adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al-Haytham, ilmuwan yang lahir di Basra pertengahan abad ke-10, tepatnya 965 M/354 H. Al-Haytham dikenal dengan nama al-Basri (berasal dari kata Basra) dan al-Misri karena ia dikenal juga sebagai ilmuwan dari Mesir. Dunia barat mengenalnya dengn nama Alhacen (dari namanya al-Hasan) dan terakhir dikenal dengan nama Alhazen.
Awal pendidikan al-Haytham dimulai di Basra. Perkembangan dirinya tidak lepas dari keluarganya yang akrab dengan dunia ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah di Basra. Oleh karena itu, pendidikan al-Haytham kecil sangat diperhatikan untuk memperoleh yang terbaik, terutama sains. Apalagi saat itu adalah masa kejayaan peradaban Islam. Segala bidang pengetahuan berkembang pesat diantaranya sains, kedokteran, maupun pendidikan.
Sebelum serius mendalami ilmu, al-Haytham sempat bekerja sebagai pegawai pemerintah sampai diangkat menjadi pejabat pemerintahan yang membawahi Basra dan sekitarnya. Jabatan ini bertentangan dengan minatnya terhadap ilmu, ia pun memutuskan mengundurkan diri dan merantau untuk memperdalam ilmu. Ia pun pergi ke Ahwaz, Baghdad, dan terakhir hijrah ke Mesir. Ia juga pernah ke Spanyol. Pemikirannya dipengaruhi oleh Aristoteles (384-322 SM), Euclid yang hidup sekitar abad ke-4 SM, Ptolemy (90-168), ilmuwan Fisika Yunai Galen (129-200), al-Kindi (801-873), Banu Musa yang hidup di abad ke-9, Thabit ibn Qurra (826-901), Ibrahim ibn Sinan (908-946), al-Quhi, dan Ibn Sahl (940-1000).
Ketika al-Haytham tiba di Mesir, bertepatan dengan masa khalifah al-Hakim, sekitar awal abad ke-11. Ia belajar secara otodidak dengan menerjemahkan buku-buku, terutama matematika dan ilmu falak. Ia pun tertantang untuk mengerjakan proyek bendungan sungai Nil, namun setelah ia melakukan survei dan perhitungan, ternyata ia tak mampu melanjutkan proyek yang telah disepakati bersama Khalifah. Ia pun pura-pura gila untuk menghindari kemarahan Khalifah, karena orang gila dilindungi hukum Islam. Karenanya, ia diasingkan dan ditahan selama 10 tahun, layaknya tahanan rumah sampai al-Hakim wafat tahun 1011.
Selama di pengasingan, al-Haytham merasa bosan, jauh dari hiruk pikuk diskusi ilmiah. Namun, dalam kebosanan tersebut ia justru menemukan konsep tentang cahaya dan proses mata melihat suatu objek. Dia melakukan eksperimen menggunakan ruang gelap yang disebut al-Baith al-Muslim (latin: camera obscura) yang kemudian menjadi dasar fotografi. Ia melakukan eksperimen berulang kali dan hasilnya ia menemukan bahwa cahaya dalam perjalanannya membentuk garis-garis lurus sejajar dan mata dapat melihat objek apabila cahaya tersebut masuk ke dalam mata. Ia adalah ilmuwan pertama yang mengidentifikasi bagian-bagian mata seperti iris, kornea, dan retina, sekaligus menjelaskan konsep penglihatan. Untuk memperdalam temuannya, ia melakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan berbagai lensa dan cermin,baik datar, sperik, parabolik, silinder, konvek maupun konkaf. Hasil eksperimennya adalah objek dapat dilihat karena pemantulan cahaya. Dan 500 tahun kemudian, ilmuwan Belanda Wilebrord Snellius (1580-1626) mengenalkan konsep ini yang dikenal dengan Hukum Snellius.
Al-Haytham menuliskan temuannya dalam tujuh seri buku, Kitab al-Manadhir, ‘Book of Optics’, yang ia rilis tahun 1027, enam tahun setelah wafatnya Khalifah al-Hakim. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Latin (De Aspectibus) dan berbagai bahasa di Eropa yang dijadikan acuan oleh para ilmuwan Eropa. Book of Optics menuliskan dasar-dasar optik yang mendasari dan mempengaruhi penemuan-penemuan di masa mendatang. Al-Haytham bukan hanya ilmuwan besar di abad ke-11, tetapi ia adalah ilmuwan optika sepanjang abad. Ia dijuluki sebagai Bapak Optika Modern.
Dalam melakukan eksperimen, al-Haytham selalu melakukan analisa empiris secara berulang yang dikenal dengan metode ilmiah. Karena adanya kecenderungan terjadi kesalahan selama proses eksperimen, ia melakukan pengujian dan pembuktian hasil eksperimen sampai memperoleh hasil yang valid. Ia melakukan metode ilmiah sampai validasi, 200 tahun sebelum ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1219-1292), menjelaskan tentang metode penelitian. Al-Haytham pun disebut sebagai Bapak Metode Ilmiah.

Dari 96 buku yang ia tulis, hanya 55 yang diketahui terselamatkan, yang berhubungan dengan permasalahan cahaya: The Light of the Moon, The Light of the Stars, The Rainbow and the Halo, Spherical Burning Mirrors, Parabolic Burning Mirrors, The Burning Sphere, The Shape of the Eclipse, The Formation of Shadows, Discourse on Light, dan karya terbesarnya, Book of Optics. Menjelang akhir hayatnya, al-Haytham sempat menjadi pengajar di Suriah sambil menuliskan karya-karyanya sampai ia kembali ke Mesir dan tutup usia pada 1039 M/430 H dalam usia 74 tahun. Namun amat disayangkan, sepeninggalnya banyak karya-karyanya diklaim ilmuwan Barat. [yulihastiani/sm]

Visit Us


Top