Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ada banyak perempuan Indonesia yang telah berjasa untuk negeri ini, selain Kartini tentunya. Jasanya pun beragam. Sehingga menarik tuk kita telusuri jejak-jejaknya dan banyak pula hikmah yang bisa kita petik. Satu di antara perempuan itu bernama Sitti.
Nama Sitti sepertinya sangat asing di telinga kita. Wajar, karena mana ada peringatan hari Sitti, lagu ibu kita Sitti, foto Sitti di ruang kelas dan kisah Sitti di buku pelajaran sejarah. Jujur, saya kenal Sitti juga baru-baru ini. Kenalnya pun pertama kali di majalah lawas Hikmah 1956.
Sitti berasal dari kampung Manggopoh, Sumatera Barat. Lahir pada tahun 1881. Dibesarkan oleh keluarga yang sangat taat beragama. Tak heran, ia tumbuh menjadi anak yang shalihah. Kala itu di Manggopoh belum ada sekolah rakyat, sehingga ia hanya belajar Al-Qur’an di masjid.
Kampung Sitti subur dan makmur. Padinya tumbuh dan hewan ternaknya berkembang biak. Keadaan itu membuat penjajah Belanda ngiler memungut pajak dari rakyat. Penjajah membutuhkan uang untuk menutup kerugian yang tak sedikit selama menaklukan daerah-daerah lain di Indonesia. Maka pada akhir tahun 1907, mereka memulai ulahnya itu. Tentu saja masyarakat Manggopoh tak suka. Karcis-karcis pajak yang dibagikan oleh penjajah, dirobek-robek olehnya. Ulama-ulama di sana bahkan sampai mengobarkan semangat jihad tuk menentang penjajahan itu.
Terbentuklah gerakan anti pajak. Di dalamnya ada 14 pemimpin yang masih muda-muda dan kuat-kuat. Diantaranya ada Sitti, Rasyid (suami Sitti), Majo Ali, dan St. Marajo Dullah. Ke-14 pejuang ini keliling kampung mengajak masyarakat menyiapkan senjata.
Mengendus bau perlawanan, penjajah lalu menerjukan 55 tentara di Manggopoh. Setiap hari tentara itu patroli ke kampung-kampung, memburu mereka. Tak kunjung dapat, tentara itu malah menangkap istri St. Marajo Dullah, dan kakak perempuannya Majo Ali. Sungguh bukan cara yang perwira! Entah seberapa tebal tembok di muka mereka!
Mengetahui kejadian itu, mereka berunding di tempat yang tersembunyi, di tepi sungai Batang Antokan. Mereka memutuskan akan bertempur besok Jum’at setelah shalat maghrib.
Perang Meletus
Malam 15 Juni 1908. Usai shalat maghrib berjamaah, tangan ke-14 pejuang itu menengadah, memohon rahmat dan pertolongan-Nya. Kemudian, mereka bersumpah, “Setapak tak kan mundur, selangkah tak kan kembali. Siapa berpaling, siapa kafir, dan siapa mungkir, dihukum kutuk kalamullah”. Setelah itu, mereka serentak berdiri. Saat itulah Sitti menyindir, “Kalau saudara-saudara berpaling nanti, saya akan tampil sebagai seorang laki-laki.” Maka berangkatlah mereka menuju asrama tentara Belanda.
Setibanya di sana, Rasyid, St. Marajo Dullah, dan Majo Ali lebih dulu menyerbu asrama. Rasyid membuka jendela, St. Maradjo Dullah merusak pintu, dan Majo Ali memecahkan semua lampu. Setelah sukses menjalankan tugasnya masing-masing, 14 pejuang itu masuk ke dalam asrama secepat kilat. Meletuslah perang.
Cahaya bulan yang menembus jendela jadikan suasana di dalam gelap samar-samar. Cukup tuk bedakan mana kawan mana lawan. Rudus dan golok pejuang bersilangan, berkilatan, mengenai sasaran. Darah memuncrat dan mengalir membentuk anak sungai di atas lantai. Berkat pertolongan-Nya, tentara-tentara Belanda tak bisa gunakan senjatanya. Sehingga tak kedengaran bunyi “dar der dor” barang sekali pun. Kehebohan perang itu hanya diselingi suara tenggorokan tentara mengeluarkan darah seperti kerbau disembelih.
Di saat perang sedang berkecamuk, tetiba Sitti melihat Majo Ali sedang dikepit Letnan Tentara Belanda. Sitti langsung menolongnya dengan memukul pangkal lengan Letnan itu dengan punggung rudusnya. Majo Ali terlepas dan Letnan itu dengan cepat menangkap Sitti, memegang dan memintal rambutnya yang sedang terurai. Dengan cepat pula, Sitti mengayunkan rudus yang masih dipegangnya ke leher Letnan itu. Leher letnan itu putus dan tewas tergeletak di atas lantai.
Dalam tempo yang tak lama, perang dapat disudahi. Mayat-mayat lalu diperiksa demi memastikan apakah benar-benar sudah mati atau belum. Ketika itu, para pejuang yakin semuanya sudah mati. Namun setelah meninggalkan asrama, terdengar suara tembakan dari dalam. Rupanya masih ada dua tentara yang hidup. Menurut pengakuan Sitti, dua tentara itu kemungkinan bersembunyi di bawah meja atau pura-pura mati.
Sialnya, Sitti dan Rasyid terkena tembakan itu. Sitti terkena di bagian punggung dan pinggang. Sementara Rasyid di bagian (maaf) testisnya. Meski cidera, mereka tetap meneruskan perjalanan menuju Kampung Padang Subalik dan di sinilah mereka diobati.
Kalau dinilai dari jumlah korban, tim Sitti menang telak dalam peperangan ini. Karena tak ada satu pun dari mereka yang gugur. Sedangkan jumlah tentara Belanda yang tewas sebanyak 53 orang.
Sitti Dipenjara
Dua tentara Belanda yang masih hidup tadi, pada malam itu juga langsung melapor ke atasan. Esoknya, atasan mengirimkan bala bantuan dari Bukittinggi dan Pariaman ke Manggopoh.  Jumlahnya berlipat ganda dari yang ditempatkan semula. Manggopoh kian seram.
Tentara-tentara itu mulai patroli lagi memburu 14 pejuang. Waktu patroli di Padang Batu Tongga, mereka bertemu St. Marajo Dullah dan Majo Ali. Keduanya dipukul dengan pangkal senapan sampai jatuh pingsan. Kejamnya lagi, mereka juga memasukkan ujung senapannya ke dalam mulut St. Marajo Dullah dan Majo Ali, “dor”, peluru itu sampai menembus kepalanya dan keduanya gugur seketika.
Sementara itu, Sitti dan Rasyid terus mengembara dari satu tempat ke tempat lain demi menyelamatkan diri. Hingga akhirnya mereka tertangkap di daerah Bawan dan ditahan di penjara Lubuk Basung. Dari penjara Lubuk Basung, mereka dipindahkan ke Pariaman, dan kemudian ke Padang.
Setelah 17 bulan lamanya di dalam penjara, mereka dibawa ke pengadilan Padang. Dalam pengadilan, Rasyid mengakui sebagai pelopor perang Jum’at lalu. Akhirnya pengadilan ketok palu: Rasyid dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan Sitti beserta pejuang lainnya dibebaskan.
Dalam hukumannya itu, Rasyid dibuang ke Manado. Sementara Sitti tinggal di Sasak bersama keluarganya. Sedih. Kini pasangan pejuang itu terpisah jauh. Bisa dibayangkan, betapa rindunya mereka. Alangkah teganya penjajah itu!
Sedihnya lagi, meski Indonesia sudah merdeka, keduanya tak sempat bertemu sampai maut menjemput. Rasyid lebih dulu dijemput di Manado, disusul Sitti di Kampung Dalam Pariaman, pada tahun 1963, dalam usia 82 tahun. Semoga kelak keduanya berjumpa di surga.
Jasa Sitti tak kalah hebat dari Kartini. Ia rela berkorban nyawa melawan penjajah Belanda, merasakan pahit getirnya pindah dari penjara satu ke penjara lain hingga terpisah dengan suami tercinta. Sungguh besar jasanya untuk Indonesia! Maka sudah sepantasnyalah pemerintah menghargai jasa Sitti dengan memberinya gelar pahlawan nasional. [islamaktual/hidayatullah.com]

(oleh:Muh. Cheng Ho Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) / jejakislam.net)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top