Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Seorang Muslimah yang sedang berekreasi di pantai Nice, Perancis, mendadak dikepung oleh polisi bersenjata. Para polisi pria itu memaksa sang Muslimah untuk menelanjangi diri dengan mencopot kerudungnya. Kesewenang-wenangan ini mengukuhkan diterbitkannya larangan pakaian renang burkini (burka-bikini) oleh Walikota Cannes di kota tersebut pada pertengahan bulan ini. BBC Indonesia mencatat, dalam ketetapan di Cannes, siapa pun yang tertangkap melanggar larangan burkini, diancam denda sebesar €38 (sekitar Rp 550.000).
Kendatipun diprotes banyak pihak, pengadilan administratif setempat tetap berkeras bahwa keputusan itu legal. Padahal standar pelarangan baju renang “Muslimah” itu sendiri ambigu. Pihak keamanan Perancis dipastikan akan kesulitan membedakan mana pakaian yang dilarang dan mana yang tidak, kecuali dengan mengidentifikasi agama pemakainya.
pic_02.jpg
Petugas keamanan tidak segan-segan akan memaksa Muslimah untuk melepas busana mereka dan menggantinya dengan bikini, atau mengusirnya dari pantai kendatipun sama-sama merupakan warga negara Perancis. Hakim menyebutkan itu diberlakukan "dalam konteks keadaan darurat dan serangan kaum militan Islamis belakangan ini, terutama yang terjadi di Nice sebulan yang lalu." Sebagaimana yang lebih gencar di media sekuler, tragedi truk maut yang menabrak sekumpulan orang dianggap sebagai serangan terorisme yang dikait-kaitkan dengan Muslim. Bahkan Presiden Jokowi juga mengecam peristiwa ini, tidak sebagaimana terorisme lain manakala terjadi pada dunia Muslim.
Ini bukan kali pertama Perancis menunjukkan kebencian kepada simbol-simbol agama Islam. Tahun lalu pada Oktober 2015 Pengadilan Negeri Perancis melarang burqa dan niqab (cadar) sampai-sampai di jalanan Muslimah berjilbab menerima serangan dan pelecehan dari orang-orang tak dikenal. Hanya saja para penyerang itu tidak dilabeli teroris oleh pihak berwajib.
Yasir Qadhi, seorang ulama berkewarganegaraan Amerika, yang menjadi dekan urusan akademi di Institut Al-Maghrib menyoroti sikap mendua pemerintahan Perancis. Di satu sisi negara-negara Barat mengklaim sebagai negara yang demokratis dan memberikan kebebasan beragama, namun disini nampak jelas bahwa pelecehan mereka terhadap Muslim tidak akan ditujukan kepada biarawati atau para penyelam. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hukum Perancis memang sejatinya ditujukan untuk menyerang Islam dan kaum Muslimin saja.
pic_03.jpg

Yasir Qadhi juga geram kepada orang yang mengusir Muslim dengan alasan tidak taat hukum negara,”Muslim juga warga negara yang sah sebagaimana yang lain.” Sebagaimana juga yang kerap terjadi di Indonesia, keberpihakan terhadap syariat Islam membuat para pengidap islamophobia merasa lebih berhak tinggal di nusantara, seolah lupa siapa yang memperjuangkan kemerdekaan dan  persatuan Indonesia. [gilig/islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top