Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid,
dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar”
(Shahih Muslim)


Jika membaca sekilas hadis tersebut, maka seolah-olah Nabi Muhammad saw menghindari pasar sebagai tempat paling dibenci oleh Allah SwT. Namun pada kenyataannya tidak, Beliau adalah pedagang ulung yang sangat akrab dengan pasar.
Bahkan ketika Abdurrahman ibn Auf sebagai kaum Muhajirin ditawari bantuan, beliau justru menyatakan, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian.” (Ar-Rahiq Al-Makhtum). Ternyata pasar sangat dekat dengan Nabi dan para Sahabat.
Kita perlu menafsiri secara sederhana bahwa dua tempat itu, masjid dan pasar, merupakan dua kutub utama dalam kehidupan manusia. Masjid dengan segala kearifannya membawa unsur kebaikan. Sedangkan pasar dengan segala transaksinya seringkali membawa unsur sebaliknya, kadang menggunakan cara yang tidak halal demi keuntungan.
Bumi Nusantara Indonesia pada dasarnya didesain berdasarkan peradaban masjid. Sisa-sisa dari rancangan visioner tersebut bisa terlihat dari beberapa tatanan di kota-kota besar yang memusatkan kota di sebuah masjid selalu bertetangga dengan alun-alun, dan di sekelilingnya berdiri kantor-kantor administrasi pemerintahan. Baru kemudian di sisi luarnya adalah pasar-pasar sebagai tempat perdagangan.
Namun demikian, desain besar itu kini perlahan-lahan berubah. Indonesia sedang digiring menuju peradaban pasar. Pusat kota berubah menjadi mall-mall besar bukan lagi masjid-masjid agung. Sehingga mall menjadi pusat tongkrongan dan dudukan para generasi penerus sekarang.
Padahal alur budaya pasar memiliki siklus pada sisi materi. Segala sesuatu dinilai berdasarkan laku jual atau tidak. Implikasinya adalah kapitalisme dalam segala bidang, bahkan kolonialisme dan imperialisme. Maka modal menjadi penentu. Contoh sederhananya, kekayaan sumber daya alam kita banyak dinikmati negara lain sebagai pemilik modal. Sedangkan rakyat sebagai pemilik sah kekayaan tersebut justru tidak bisa menikmatinya, bahkan terasing di negeri sendiri. Saat pasar yang berkuasa, rakyatlah yang terkena dampak buruknya.
Ketika peradaban pasar dikedepankan, tamu yang paling dihormati adalah investor, digelar karpet merah, panjang, disambut dengan penuh kehangatan. Pada saat pemilihan Presiden, para analisis selalu melihat bagaimana reaksi pasar. Tiap hari orang melihat gerakan pasar, pasar modal dan pasar saham. Lain halnya jika ada ulama yang datang, atau seorang alim yang berkunjung, seperti tidak dihargai.
Pada akhirnya negeri seperti tidak memiliki kehormatan, hanya tunduk pada pasar. Hal ini pula yang menjadi pangkal kerusakan bangsa cukup dalam. Imbasnya, tidak sedikit orang menggunakan segala cara demi keuntungan pribadi, seperti yang ada di pasar. Kadang demi tambahan keuntungan menggunakan tipuan timbangan, daging busuk dijual, barang rusak diperdagangkan. Inilah seburuk-buruknya peradaban ketika modal menjadi penentu, rakyat yang menderita. Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin.
Peradaban pasar juga memiliki alat penyebaran melalui tiga hal, sound, cinema dan sport. Inilah yang kemudian menjadi kiblat gaya hidup, gaya rambut, bahkan busana. Film-film yang ditayangkan berperan sebagai corong agar penontonnya bersegera ke pasar. Meniru gayanya, bahkan sampai tindak-tanduknya.
Kini dampak negatif yang cukup besar di negeri kita dari peradaban pasar mulai terasa. Pertandingan Barcelona melawan Real Madrid jantung para penggila bola sudah berdebar-debar sebelum pertandingan dimulai. Tapi pulau Natuna yang sedang bergejolak, ramai, tenang-tenang saja. Itulah pasar, merampas banyak hal termasuk nasionalisme.
Peradaban pasar ini, jika dibiarkan akan menggurita. Oleh sebab itu harus dilawan dengan peradaban masjid yang selalu mengedepankan kepentingan bersama, ta’awanu ‘alal birri wa al taqwa. Saya berusaha melakukannya dengan Masjid Jogokariyan, yang alhamdulillah sebentar lagi sudah berusia setengah abad.
Kita layak berkaca pada sejarah Indonesia dimana beberapa pemimpin terlahir dari peradaban masjid. Bung Hatta, Agus Salim, Jendral Soedirman, semua terlahir dari asahan masjid.
Di masjid setiap orang dididik menjadi pemimpin sebagai imam, dan menjadi rakyat sebagai makmum. Imam dipilih dengan kriteria tertentu, dan makmum taat kepada imam. Di masjid setiap orang dididik disiplin melalui medan shalat jamaah lima waktu, harus berbaris rapi dengan shaf shalat. Di masjid setiap orang dididik untuk berbicara di depan sebagai khatib, dan dididik untuk mau mendengar sebagai jamaah. Inilah dasar pendidikan kepemimpinan.

Masjid juga tempat kaderisasi umat. Rasul memiliki sahabat-sahabat yang kuat, tangguh juga ditempa dan dikader dari sebuah masjid. Wajar jika kemudian pertama kali yang dibangun Rasulullah saw ketika hijrah ke Madinah adalah Masjid. [islamaktual/alfalah/jazirasp]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top