Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Berkenaan pohon Ara, W.R.F. Browning dalam A Dictionary of The Bible, kemudian Liem Khiem Yang dan Bambang Subandrijo menerjemahkan; Kamus Alkitab, diterbitkan BPK Gunung Mulia Jakarta, pada halaman 31 menjelaskan: “Pohon yang pada musim dingin gugur semua daunnya, namun mulai bersemi pada bulan Februari. Daun-daunnya tampak kembali pada bulan April.
Menyadari arti penting pemberitaan Alkitab tentang pohon Ara dimaksud, agar memperoleh gambaran sedikit lengkap, selanjutnya ada baiknya kita simak penjelasan William Barclay yang dalam dunia ke-Kristen-an dijuluki termasuk salah seorang teolog perantara.
Lewat bukunya The Daily Study Bible : The Gospel of Matthew Vol. II kemudian diterjemahkan Ferdinand Suleeman; Pemahaman Alkitab Setiap Hari - Injil Mathius Pasal 11-28, Penerbit BPK Gunung Mulia Jakarta, pada halaman 398 William menjelaskan bahwa pohon Ara melambangkan kesuburan, kedamaian, dan kemakmuran. Pohon tersebut sangat disukai karena kerindangan daunnya yang memberikan keteduhan.
Sesuai judul tulisan Nestapa Pohon Ara, ternyata tidak semua penulis Injil mewartakan kenestapaannya. Jadi cerita tersebut hanya terdapat dalam Injil Matius dan Injil Markus, namun luput dari pemberitaan Lukas dan Yohanes. Lalu kenapa Lukas dan Yohanes tidak memberitakannya, memang sesuatu yang patut untuk dipertanyakan.
Agar segera melihat bagaimana kenestapaan yang dialami pohon Ara tersebut, secepatnya mari kita baca Injil Matius pasal 21: 18-20, berikut petikannya:
Pagi-pagi keesokan harinya, dalam perjalanan kembali ke kota, Yesus lapar. Ia melihat sebatang pohon ara di pinggir jlan. Ia pergi ke pohon itu, tetapi tidak menemukan satu buah pun kecuali daun-daun saja. Lalu Yesus berkata kepada pohon itu, “Engkau tidak akan berbuah lagi!” Langsung pohon itu layu.
Pada waktu pengikut-pengikut Yesus melihat kejadian itu, mereka heran sekali. “Bagaimana pohon ara itu bisa langsung mati seluruhnya?” tanya mereka.
Melihat latar kejadian, tersebab rasa lapar menyenak, lalu kemudian Yesus melihat pohon Ara di pinggir jalan. Namun setelah didekati, Ia tidak mendapatkan sebuah pun buah ara untuk mengganjal rasa laparnya, lalu serta merta Yesus mengutuk pohon itu. Dan akibat kutukan-Nya seketika pohon Ara itu mati. Jadi sangat sederhana sekali penyebab kenestapaan yang menimpa pohon Ara tersebut.
Dari pewartaan Matius tersebut, beragam penafsiran dipastikan tumbuh saling berbeda. Kenapa tidak. Seperti di atas telah dijelaskan, lalu bagaimana mungkin Yesus Kristus lupa bahwa pohon Ara sejatinya merupakan lambang atau simbol kesuburan, kedamaian, dan kemakmuran. Jadi keberadaannya sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia. Namun ternyata tersebab pohon Ara itu tidak berbuah, lalu Yesus sontak melaknatnya. Akibatnya pohon Ara tersebut layu meregang nyawa dan mati.
Sebab lainnya dan ini merupakan yang terpenting. Ketika peristiwa itu terjadi, tidak mungkin Yesus Kristus tidak tahu bahwa masa ketika itu tidak musim pohon Ara berbuah. Memfaktakan hal tersebut mari kita baca Injil Markus pasal 11:12-14, petikannya: “Keesokan harinya, ketika mereka sedang berjalan keluar dari Betania, Yesus lapar. Dari jauh Ia melihat sebatang pohon Ara yang daunnya lebat. Jadi Ia pergi ke pohon itu untuk melihat apakah ada buahnya. Tetapi ketika Ia sampai di pohon itu, Ia tidak menemukan apa-apa, kecuali daun-daun saja, sebab pada waktu itu belum musim buah ara. Lalu Yesus berkata kepada pohon Ara itu, “Mulai sekarang tidak ada seorang pun yang akan makan buah daripadamu lagi!” Pengikut-pengikut Yesus mendengar ucapan itu.
Puncak perbedaan paham dalam penafsiran terhadap ayat-ayat di atas benar-benar tidak terelakkan. Menyadari realitas tersebut terlihat bijak bila dalam menyikapi persoalan ini William Barclay menyatakan: “Hanya sedikit pembaca alkitab yang akan menyangkal bahwa perikop ini barangkali yang paling sukar dalam Perjanjian Baru. Apabila dimengerti secara harfiah sepenuhnya, kisah ini menunjukkan Yesus sedang melakukan aksi yang sangat mengguncang seluruh konsepsi kita tentang diri-Nya”
Dus karena itu, William sang teolog perantara tersebut lebih lanjut menyatakan: “Kisah ini harus didekati dengan keinginan yang sungguh untuk menemukan kebenaran yang berada di baliknya dan dengan keberanian untuk memikirkan caranya”.
Mencermati penawaran William Barclay atas pemecahan masalah sebagaimana dikemukakan di atas, terlihat kisah nestapa pohon Ara benar-benar telah melahirkan sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk diselesaikan para teolog. Tersebab itu, apa yang pernah kita pertanyakan; kenapa Lukas dan Yohanes tidak mewartakan kenestapaan pohon Ara tersebut dalam Injil mereka, boleh jadi hal tersebut biang penyebab dan atau memang peristiwa atau kejadian itu tidak pernah terjadi sama sekali. Lalu, ya entahlah!
Sisi lain yang tidak kurang mengundang tanda tanya besar dalam pikiran adalah pertentangan antara pewartaan Injil Matius dan Injil Markus. Bila dalam Injil Matius sebagaimana terbaca, pohon Ara tersebut langsung mati sehabis Yesus melaknatnya. Menyegarkan pemahaman, mari kembali kita baca petikan Injil tersebut: pada waktu pengikut-pengikut Yesus melihat kejadian itu, mereka heran sekali. “Bagaimana pohon ara itu bisa langsung mati seluruhnya?” tanya mereka.
Namun tidak demikian halnya dalam pewartaan Markus, supaya jelas pula sekarang mari kita telisik Injil Markus pasal 11: 20-21: “Pagi-pagi keesokan harinya, waktu mereka melewati pohon Ara itu, mereka melihat pohon itu sudah mati sampai ke akar-akarnya. Lalu Petrus teringat akan peristiwa sehari sebelumnya. Maka Petrus berkata kepada Yesus, “Bapak Guru, coba lihat! Pohon Ara yang Bapak kutuk itu sudah mati!” Lantas pewartaan siapa yang benar, Matius atau Markus? Satu lagi persoalan teologi alkitab mencuat.
Last but not least. Kita baru saja bagai menyesali kenestapaan yang menimpa pohon Ara tidak berbuah. Namun hal serupa tidak dialami pohon Ara lainnya, malah sudah tiga tahun tidak berbuah sama sekali. Mujur, pohon Ara itu berada dalam penanganan seorang tukang kebun nan bijak bersahaja.

Untuk melihat bagaimana ceritanya, mari kita baca Lukas 13:6-9 : “Setelah itu Yesus menceritakan juga perumpamaan ini, “Ada seorang mempunyai pohon ara di kebun anggurnya. Suatu hari pergilah ia mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukan sebuah pun. Jadi, ia berkata kepada tukang kebunnya. ‘Lihat, sudah tiga tahun saya datang mencari buah ara pada pohon ara ini, tetapi tidak menemukan sebuah pun. Tebanglah saja pohon itu! Ia hanya menghabiskan zat makanan dari tanah!’ Tetapi tukang kebun itu menjawab, ‘Biarkanlah ia tumbuh setahun ini lagi tuan. Saya akan mencangkul tanah sekelilingnya dan menaruh pupuk. Barangkali ia nanti berbuah tahun depan. Tetapi kalau tidak, bolehlah Tuan menyuruh menebangnya’”. Wallahu a’lam bishawab. [islamaktual/tabligh/izharilyassinaroalam]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top