Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Aku berasal dari keluarga non-muslim yang tinggal di lingkungan Muslim, di sebuah desa di Kabupaten Gresik. Di satu kecamatan hanya keluargaku saja yang non-Muslim. Itulah mengapa sedari kecil aku akrab pada hal yang berkaitan dengan Islam.
Saat masih duduk di bangku sekolah, aku pun sudah akrab dengan bacaan Al-Fatihah. Tiap memulai pelajaran dan akan pulang, doa yang sempat aku tolak dalam hati ketika itu, selalu dirapal bersama-sama. Membuatku terngiang-ngiang hingga hafal dengan sendirinya.
Beranjak dewasa dan masih memeluk keyakinan yang sama, aku dekat dengan seorang pria Muslim. Dia bertanya padaku soal trinitas. Aku yang menjawab sebisanya malah bertanya pada diri sendiri, hingga menanyakan kembali pada pendeta, juga teman-temanku yang lebih paham agama. Aku juga dilanda kebingungan mengenai Yesus yang mengucap “Eli Eli lama sabakhtani” saat disalib. Jika dia Tuhan, mengapa dia berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa ada cerita bahwa Yesus itu bersujud dan berdoa pada Tuhan? Alih-alih menemukan jawaban yang pas di hati, aku justru semakin bingung. Dalam kebingunganku, aku lantas berdoa meminta petunjuk. Dari doa itu aku mendapatkan tiga mimpi yang aku rasa menjadi hidayah untukku.
Pertama aku bermimpi menangis dan muncul seorang kakek yang memberiku buku berjudul La Tahzan. Kedua aku bermimpi dikejar-kejar orang yang kesurupan yang akan membunuhku. Aku berdoa dengan cara Kristen, tapi tetap saja tidak berpengaruh, kemudian berganti membaca al-Fatihah dan ternyata selamat. Mimpi ketigalah yang membuatku semakin yakin. Aku bermimpi menangis lagi dan bertemu seorang kakek yang memberiku al-Qur’an, aku disuruh olehnya untuk membaca kitab suci itu. Dari situ aku mulai cari tahu tentang ajaran Islam dan belajar shalat. Aku juga bertanya pada teman-temanku bagaimana caranya masuk Islam.
Setelah mantap, aku memutuskan masuk Islam. Aku berikrar kalimat syahadat di Kantor Urusan Agama (KUA) Lidah Kulon, dekat tempatku indekos saat masih kuliah di Surabaya. Ada perasaan tenang dalam hati, meskipun aku masuk Islam diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua.
Remaja Masjid
Aku memulai kehidupan baruku. Tinggal di Yogyakarta untuk mengambil S2 pengkajian seni pertunjukan di Universitas Gadjah Mada. Aku dihadiahi kuliah S2 oleh orangtuaku karena berhasil menyelesaikan S1 dalam kurun waktu 3,5 tahun. Disana aku semakin matang. Kebetulan aku tinggal di kampung yang remaja masjidnya aktif berkegiatan. Aku ikut bergabung dalam kegiatan masjid.
Lambat laun rahasiaku mulai terkuak. Kabar bahwa aku sudah menjadi muslim sampai ke orangtuaku, setelah adikku mengetahui di kamarku ada seperangkat alat shalat dan al-Qur’an. Orangtuaku marah, dan memberhentikan kulihaku. Kuliahku pun hanya berjalan setahun dan aku kembali pulang ke Surabaya.
Konflik antara aku dengan orangtua mulai terjadi setelah aku diketahui aktif melaksanakan ajaran Islam. Banyak ujian yang aku dapati. Mulai dari dipaksa ikut ke gereja, digoda saat berpuasa, tidak diperkenankan memakai hijab, hingga tak mendapat restu saat akan menikah. Akhirnya aku menikah diam-diam dengan pria muslim yang sudah aku kenal beberapa tahun, semenjak aku belum masuk Islam.
Pria yang kini menjadi suamiku itu tidak pernah sekalipun mengajakku masuk Islam. Saat aku masuk Islam, dia juga tidak memaksaku belajar, melainkan membuatku sadar dengan sendirinya akan kewajibanku. Bahwa kelak aku akan menjadi ibu dari anak-anaknya, yang sudah sepatutnya mempelajari agama sebagai bekal membimbing anak.
Itulah yang membuatku tertarik padanya. Ia juga memperjuangkan agar aku sah menjadi istrinya di mata Allah SwT, walaupun orangtuanya sempat ragu karena aku mualaf. Akhirnya orangtuanya pun merestui setelah mengetahui aku sungguh-sungguh ikut bimbingan mualaf di Masjid Al-Falah Surabaya.
Semakin lama, Allah SwT semakin menunjukkan rahmatnya. Kehidupanku banyak mengalami perubahan. Mulai dari diterimanya aku menjadi pegawai negeri sipil dan mengajar kesenian di sebuah sekolah negeri di Surabaya, bisa membeli rumah hasil perjuangan bersama suami yang juga berprofesi sebagai guru, juga dikaruniai dua anak lucu yang akhirnya membuat orangtuaku luluh. Alhamdulillah hubunganku dengan orangtuaku menjadi harmonis seperti sediakala.

Aku tak henti-hentinya bersyukur pada Allah SwT, yang telah menuntunku pada cahaya. Ya, Islam bagiku ibarat cahaya. Kita membutuhkan itu agar tahu kemana arah berjalan. Aku berharap bisa istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya. Juga berdoa agar orangtua dan adik-adikku mendapat hidayah. [islamaktual/alfalah/tauriska]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top