Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kedua: Waspadai Susupan Sekulerisme dan Pluralisme
Dalam kesempatan lain di buku PKN yang berbeda saya mendapati “bentuk-bentuk kerukunan hidup umat beragama” yang diselewengkan. Yakni pada saat hari raya keluarga yang berbeda-beda agama saling mengunjungi dan memberikan selamat. Ini jelas menggebyah uyah, memukul rata. Seolah-olah hal yang demikian adalah baik menurut semua agama.
Pendidikan moral utamanya harus memperhatikan norma agama. Dalam Islam penghormatan kepada ummat beragama lain tidak boleh ditunjukkan dengan sikap pembenaran kepada agama selain Islam, melainkan sikap toleransi terhadap penyelenggaraan kegiatan beribadah. Misalnya, ummat Islam tidak dibenarkan menghancurkan atau merusak rumah ibadah ummat Nasrani, Buddha, Hindu, atau agama apapun. Namun di sisi lain, ummat Islam juga dilarang ikut serta atau sekedar mengucapkan “selamat” kepada perayaan-perayaan ibadah mereka.
Batasan-batasan ini tidak boleh dilanggar dan harus dimaklumi oleh setiap orang. Sehingga tidak boleh ada kesan pluralisme, yakni secara doktriner memaksa kaum Muslimin untuk hidup rukun dan damai dengan cara yang melanggar agama dan keyakinan Islam.
Lalu bagaimana mengemasnya dalam buku pelajaran? Ini contohnya:
“Pak Sitorus sedang merayakan natal. Pak Sitorus mengundang semua teman-temannya. Namun Pak Sitorus tidak mengundang pak Abu Bakar, karena pak Abu Bakar seorang Muslim. Pak Sitorus memaklumi bahwa seorang Muslim tidak boleh merayakan natal. Pak Sitorus menghormati ajaran ummat Islam.”
Atau
“Pak Sitorus sedang merayakan natal. Pak Sitorus mengundang semua tetangga-tetangganya. Pak Abu Bakar datang ke rumahnya dan menyampaikan permohonan maaf. Orang Islam tidak boleh merayakan natal, kata pak Abu Bakar. Maka pak Abu Bakar dan tetangga-tetangga lain yang Muslim tidak dapat hadir. Pak Sitorus memaklumi hal tersebut. Mereka hidup saling menghormati.”
Nah, bagaimana? Anda punya redaksi yang lebih baik? Disini saya tidak menampilkan bagaimana seharusnya ummat Kristiani saat Ummat Islam merayakan Romadon dan Idul Fitri. Apakah mereka tidak boleh mengucapkan selamat juga sebagaimana Muslim ataukah boleh. Saya tidak dalam kapasitas menyampaikan pendapat itu. Namun yang jelas, para penulis buku harus lebih serius melakukan penelitian agar materi-materi ajar sekolah tidak menyelewengkan ajaran agama tertentu.
Memandang seriusnya masalah ini, tidak boleh tidak, sekolah Islam harus lebih ketat menyaring buku pelajarannya agar tidak disajikan secara mentah kepada siswa. Ini tentunya membutuhkan seleksi guru yang berpemahaman utuh tentang Islam, sebab kendatipun di sekolah-sekolah berlabel Islam, masih kerap dijumpai guru yang sekedar mengajarkan apa yang tertuang di materi diktat tanpa menjaganya dengan aqidah yang benar. [islamaktual]

Gilig Pradhana Perintis pendirian Kuttab di Jember

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top