Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bagi umat Islam, kata Yahudi biasanya terasosiasi dengan permusuhan atau peperangan. Apa yang dikisahkan dalam tulisan singkat ini berbeda.  Pernah Rasulullah SAW berbisnis dan berhutang kepada Zaid ibn Sihnah salah seorang ulama Yahudi saat itu. Secara tidak sopan, tanpa salam, ketika Rasulullah bersama para sahabat, Yahudi itu nyelonong masuk. Tentu para sahabat sangat teringgung dan tidak rela Rasulullah diperlakukan tidak sopan seperti itu. Yang paling merasa terganggu dan tersinggung adalah Umar ibn Khattab ra.
“Muhammad, mana pembayaran hutangmu? Kalian Bani Hasyim (keluarga Nabi) memang sudah dikenal kalau bayar hutang suka mengulur waktu,” hardik Zaid. Umar yang saat itu duduk di dekat Nabi spontan menghunus pedangnya dan meminta izin kepada Nabi untuk memenggal leher orang yang berani melecehkan Rasulullah itu. Kalau saja Nabi mengizinkan, cukup dengan isyarat saja, darah Yahudi itu pasti tumpah di tangan Umar.
Ternyata dengan wajah tanpa amarah serta suara berwibawa, Rasulullah berkata kepada Umar: “Bukan itu yang diperlukan hai Umar. Ajarkan kepada orang ini agar berakhlak yang baik dalam menagih dan kepada saya agar cepat kalau membayar hutang.”
Umar dan para sahabat menjadi tercengang dan sangat kagum melihat sikap Nabi yang benar-benar di luar dugaan mereka dan amat mulia itu. Zaid kemudian memecahkan keheningan dengan suara gemetar; “Demi Allah! Saya tidak lupa bahwa waktu untuk membayar hutang belum tiba. Tetapi saya sengaja lebih cepat menagih dengan cara kasar untuk menguji dan membuktikan, apakah Muhammad ini benar-benar nabi seperti yang dikabarkan oleh kitab Taurat. Semua sifat beliau yang tercantum di buku suci kami sudah saya pelajari dan buktikan, kecuali satu yang belum, yaitu: Muhammad itu bijaksana kalau marah (halimun ‘indal ghodhob). Hari ini sudah saya buktikan dan saya puas.”
Orang Yahudi itu lalu berserah diri di hadapan Rasulullah SAW sambil mengucap kalimat Syahadat. Adegan dramatis itu diikuti oleh para sahabat dengan rasa takjub. Mereka semakin menghormati dan mencintai Rasulullah SAW yang bersabda: “Innamal bu’itstu liutammima makaarimal akhlak” (Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Pesan moral dari peristiwa ini sangat penting untuk kita telaah, khususnya untuk menyukseskan dakwah Islamiyah yang damai dan sejuk. Rasulullah SAW sangat sukses dan dikagumi karena akhlak beliau yang amat memukau. Mudah dibayangkan apa yang terjadi sekiranya waktu itu Nabi terpancing untuk marah. Pasti Yahudi itu mati dan tidak sempat menikmati Al-Islam sebagai agama kebenaran yang akan mengantarnya ke surga. Allah SwT menyatakan dan menjamin bahwa surga diciptakan bagi orang yang bertakwa (QS. Shaad [38]:49-50). Salah satu tanda ketakwaan adalah mampu menjadi “komandan” hawa nafsu, bukan sebaliknya menjadi “anak buah” nafsu, apalagi budak nafsu, na’udzu billahi min dzalik!
Ada kecenderungan yang seragam terjadi pada banyak orang. Ketika belum menjadi pemimpin lebih mudah mengendalikan diri apalagi yang sudah sering menghadapi kesulitan dan problema. Mereka lebih terlatih untuk tabah dan sabar. Akan tetapi ketika menjadi pemimpin, merasa kuat dan berkuasa seringkali kehilangan sifat mulia tersebut dan mudah tergoda untuk bertindak keras atau semena-mena karena merasa berkemampuan, kemudian berubah menjadi keras dan kejam mentang-mentang berkuasa.
Ali ibn Abi Thalib ra berkata, “Medan juang manusia yang pertama adalah hawa nafsunya. Jika berkemampuan menundukkannya ia akan berhasil dalam menyelesaikan urusan-urusan yang lain. Sebaliknya jika dikalahkan oleh hawa nafsunya, maka untuk urusan yang lain ia akan kalah dan tidak sukses”.

Ibadah puasa mendidik kita untuk berakhlak mulia dan mampu mengendalikan hawa nafsu kita dengan baik. Bagi para pemimpin atau direktur perusahaan yang belum mampu berlaku santun karena kedudukan, atau pemuda yang masih lajang tidak kuasa menahan gejolak nafsu mudanya, lebih baik melatih dan mendidik diri sendiri dengan banyak berpuasa sunnah disamping yang wajib di bulan Ramadhan. [islamaktual/alfalah/m.taufikAB]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top