Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Keistimewaan ‘silaturahim’ tidak perlu diragukan lagi. Secara khusus nama aktivitas ini dengan terambil langsung dari sifat ‘ar-Rahman’. Sebuah Hadits Qudsi shahih menguatkan hubungan silaturahim dengan sifat ketuhanan ini. “Aku adalah ar-Rahman, Aku menciptakan Rahim, Aku ambilkan nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya (silaturahim) akan Aku sambung (tahmat-Ku) untuknya. Siapa yang memutuskannya, Aku putuskan (Rahmat-Ku baginya)” (HR. Bukhari Muslim)
Ar-Rahman yang menjadi bagian nama silaturahim memiliki rahasia sendiri. Salah satu dari sifat-sifat-Nya yang boleh disebut sangat dominan karena selalu mengiringi nama ‘Allah’. Nama ini ternyata hanya dikhususkan bagi Allah saja, sedikit berbeda dengan ‘ar-Rahim’ yang boleh disandang bagi yang berhak menyandang, seperti Nabi Muhammad saw. Karakter nama ini juga menunjukkan kesempurnaan, maka tidak mempunyai bentuk plural. Adapun bentuk plural kata ‘Rahim’ adalah ‘ruhamak’. Maka, silaturahim yang diambil dari salah satu namanya juga tidak lepas dari rahasia keagungan yang terkandung di dalamnya.
Maka siapa saja yang berusaha menyambung hubungan dengan saudaranya, sebenarnya telah bersiap-siap menerima hujan rahmat yang Maha Rahman. Rahmat ini bermakna tercurahnya beragam kebaikan dan terhalangnya berbagai bentuk keburukan. Hal ini memang sudah ditetapkan sebelum terciptanya manusia. Namun sebaliknya, orang yang memutus hubungan kekeluargaan berarti berusaha menutup pintu rahmat-Nya. Maka boleh dikatakan, ia sedang bersiap-siap menghadapi bencana hidup.
Maka tak heran, yang Maha Rahman amat tidak menyukai siapapun yang memutuskan hubungan persaudaraan. Bahkan kemurkaan-Nya hingga titik laknat. Allah SwT mensejajarkan perusakan bumi yang mengancam kehidupan manusia dengan memutus silaturahim (QS. Muhammad [47]:22-23). Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Zubair juga menambahi bahwa pelakunya mendapat ancaman tidak akan mencium aroma surga (HR. Bukhari dan Muslim), amal kebaikan masih menggantung (HR. Ahmad). Inilah aspek Tauhid yang perlu digarisbawahi.
Adapun jika dilihat dari aspek spiritual, silaturahim merupakan sarana pembentukan mental dan melatih berjiwa besar. Hal ini sesuai dengan kandungan maknanya, ‘shilat’ yang bermakna menyambung, menghimpun atau menghubungkan. Semua makna ini ternyata menunjukkan gerak yang begitu dinamis. Sesuatu yang terputus asalnya tersambung, maka butuh untuk disambung kembali. Begitu juga hal-hal yang tercecer ataupun tercerai-berai perlu dihimpun kembali sehingga menjadi kesatuan. Yang terpisah perlu untuk terus selalu disambung. Seluruh objek hal ini adalah kasih sayang.
Semua kata yang terbentuk dari huruf ‘ra, ha, mim’ secara global bermakna kelemah-lembutan, kasih sayang, dan kehalusan pekerti. Kata ‘rahim’ juga masuk dalam medan makna-makna tersebut. Inilah makna yang diungkapkan pakar bahasa Ibnu Faris, pemilik ensiklopedia ‘Maqayis al-Lughah’. Dalam bahasa Arab keluarga dan kerabat juga bisa disebut ‘Rahim’ karena kuatnya hubungan diantara mereka. Oleh sebab itu, silaturahim adalah bentuk jalinan hubungan berdasarkan pada cinta kasih dan kasih sayang.
Kasih sayang menuntut untuk berbuat baik di atas rata-rata. Bersilaturahim kepada orang yang telah berlaku baik kepada kita tentunya hal yang biasa. Lebih dari sekadar biasa bersilaturahim dan mampu membalas kebaikan orang itu lebih dari apa yang dia perbuat. Yang sangat luar biasa jika mampu berjiwa besar; bersilaturahim dan berbuat baik kepada orang yang telah berbuat buruk kepada kita. Nah, silaturahim menuntut Muslim untuk melakukan ketiga-tiganya dengan baik. Maka, inilah makna Hadits “Bersilaturahim itu bukan hanya seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus” (HR. Bukhari)
Faktanya, seluruh aktivitas yang terdapat dalam silaturahim memang berhulu dan berhilir pada penguatan hubungan cinta kasih dan sayang antara dua belah pihak. Dimulai dengan salam sebagai doa keselamatan, jabatan tangan dan saling memaafkan, wajah ceria penuh gembira, jamuan-jamuan sebagai penyedap, dilengkapi dengan dialog kehangatan, apalagi jika ditambah dengan saling memberi hadiah. Sangat jarang atau bahkan tidak ada Muslim bersilaturahim dengan mata terbelalak sambil mengeluarkan kata-kata kotor.
Perilaku mulia itu tidak akan terwujud jika yang melaksanakan belum mensucikan hatinya. Sebelum melaksanakan proses silaturahim, sifat keakuan atau egoisme perlu dikikis habis. Sifat merasa paling benar sendiri perlu dienyahkan. Sikap merendahkan orang lain wajib dihanguskan. Rasa iri dan dengki harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika sampah-sampah jiwa ini tidak hilang, maka silaturahim hanya sekadar simbolis, belum sampai kepada cinta dan kelembutan sebagai makna yang dikandungnya.
Dengan jiwa yang bersih, kebahagiaan bisa diraih. Secara naluri dan kejiwaan, manusia sangat senang jika tercukupi kebutuhan hidupnya baik sandang, pangan dan papan. Kesehatan dengan umur yang panjang juga tidak ketinggalan. Semua tampak sempurna jika kebutuhan rohaninya terpenuhi. Hal ini juga sudah disinyalir oleh al-Qur’an (QS. Ali Imran [3]:14).

Untuk itu Nabi saw sendiri telah memberikan tawaran menarik terkait hal ini. “Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan dengan rezeki yang luas dan umur panjang maka hendaknya dia bersilaturahim” (HR. Bukhari). [islamaktual/alfalah/moh.isommudin]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top