Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download



Ketika kita merasakan kondisi yang sangat nyaman dalam hidup, yang membuat kita enggan untuk meninggalkannya, maka itulah zona nyaman. Tandanya, kita tidak merasakan suatu beban, tidak merasakan banyak tuntutan. Sudah menjadi naluri jika kemudian banyak orang memilih berdiam pada zona ini. Padahal ini adalah zona yang cukup riskan untuk jangka panjang.
Zona nyaman adalah hasil akumulasi dari kerja masa lalu yang dinikmati di masa sekarang. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana meraih zona nyaman di masa yang akan datang sehingga kita berani meninggalkan zona nyaman sekarang yang kita alami.
Merasa cukup dengan kerja keras masa lalu adalah tindakan bodoh. Sukses dari masa lalu hanyalah pelajaran untuk meraih sukses di masa depan. Ilustrasinya saat kita mengendarai mobil atau motor, tidak mungkin terus-menerus melihat spion (masa lalu), yang terjadi bukan sampai ke tujuan, tapi malah berpotensi menabrak benda di depannya.
Sebaliknya, zona nyaman sama artinya dengan hanya duduk dalam kendaraan sembari menengok spion kanan dan kiri, senyum-senyum sendiri sambil sesekali melihat ke depan, sama sekali tak berusaha menaikkan kecepatan untuk mendahului kendaraan. Yang berbahaya, si pengendara tersebut tidak sadar jika banyak mobil lain yang mendahului.
Mereka yang tengah berada dalam zona nyaman boleh jadi memang terus berjalan, namun karena kenyamanannya ia terlena bahwa banyak kendaraan lain yang mendahuluinya. Ia berjalan tapi tidak secepat kendaraan lain, ini sama artinya ia tertinggal. Anda pernah duduk dalam kereta yang berjalan lebih cepat? Apa yang anda rasakan? Ya, Anda seolah-olah berjalan mundur dibandingkan kereta di sebelah Anda. Siapa yang hanya mengandalkan masa lalu, akan mengalami kemunduran.
Zona nyaman setiap orang tidaklah sama. Setiap orang memiliki zona nyaman masing-masing. Ahamd bisa jadi memiliki zona nyaman di titik A, sedangkan Agus memiliki zona nyaman di titik selanjutnya, B. Namun yang perlu digarisbawahi, tidak semua orang mau mengorbankan zona nyaman A untuk berpindah ke kelas zona nyaman B.
Inilah titik pembeda antara satu dengan lainnya. Ketika Anda sudah berada pada zona nyaman tertentu, maka korbankanlah agar bisa berada pada suatu titik yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi. Apalagi di dunia ini tidak ada yang namanya zona yang benar-benar nyaman, hanya kita sendiri yang menciptakannya. Jika di dunia ada zona nyaman, maka tidak akan ada manusia yang berkeluh kesah (QS. al-Ma’aarij [70]:19).
Bagaimana agar tak terjebak pada zona nyaman? Caranya, jangan terlalu bernostalgia dengan kesuksesan masa lalu, jadikan hanya sebatas pelajaran, tidak lebih. Nostalgia masa lalu yang berlebihan hanya menjadikan Anda terlena sehingga tak bisa menatap masa depan dengan tantangan yang pasti tidak sama dengan masa kini apalagi masa lalu.
Ubah target pribadi agar bisa mencapai titik nyaman tahap selanjutnya. Sebagai pengemudi harus berani berpindah jalur, sehingga anda bersiap mengubah kecepatan, menyiapkan lebih banyak bekal, bila perlu mengganti kendaraan.
Zaman sekarang identik dengan gadget. Para gadgeter jarang memegang satu seri gadget dalam waktu lama. Begitu muncul seri baru, ia akan ganti gadget, muncul seri yang lebih canggih, ganti lagi gadget-nya. Inilah fitrah manusia, tidak gampang puas. Setiap orang berusaha berpindah dari satu zona nyaman ke zona nyaman selanjutnya. Ia berusaha lebih keras, rela berjuang lebih keras lagi, mau mengeluarkan energi yang jauh lebih besar demi zona nyaman lanjutan.
Dalam sejarah Islam, Daulah Abbasiyah bisa menjadi contoh. Pada masa keemasannya, para pejabat mulai terlena zona nyaman, tidak lagi berpikir untuk masa depan. Hingga akhirnya pendapatan negara menurun tapi hidup para pejabat justru semakin mewah. Sehingga kejatuhan tidak bisa lagi dihindarkan. Faktor eksternal seperti perang Salib dan serangan Dinasti Mongol mempercepat keruntuhannya.
Untuk benar-benar memahami bagaimana zona nyaman, mari perhatikan nyamuk. Meskipun kecil dan sering mengganggu manusia, namun Allah tidak menciptakan makhluk ini tanpa alasan. Nyamuk memiliki tubuh yang kecil, terbang begitu gesit, memiliki target jelas, dan lincah menghindar dari sesuatu yang mengancamnya. Namun ini baru bisa dilakukan saat nyamuk dalam kondisi lapar - tidak berada pada zona nyaman. Nyamuk yang lapar, ditepuk berkali-kali tidak mudah kena. Justru semakin aktif mengintai telinga manusia.
Namun sebaliknya, ketika ia berhasil menghisap darah mangsanya (berada dalam zona nyaman), nyamuk terlena, berpuas diri, tidak segera berpindah dan terus menghisap darah mangsanya sampai benar-benar kenyang. Efek negatifnya, sifat gesit nyamuk hilang, ia terbuai oleh kenyamanan menghisap mengsanya sehingga tidak peduli adanya ancaman di sekitarnya. Maka, yang akan terjadi selanjutnya mudah ditebak. Untuk membunuhnya, Anda tak perlu bersusah payah, apalagi mengambil tutup panci. Cukup gunakan salah satu jari Anda, si nyamuk tak bakal melawan.
Islam tak mengenal zona nyaman. Dalam al-Qur’an dijelaskan, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu amal), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. al-Insyirah [94]:7). Maka kemudian muncul petuah bijak Arrahatu fi tabadulil a’mal, istirahat (zona nyaman) hanya ada pada pergantian pekerjaan.

Maka, sudah selayaknya kita bergerak untuk berpindah dari zona nyaman satu ke zona nyaman yang lain. Teruslah menatap masa depan tanpa terjebak dengan nostalgia masa lalu. [islamaktual/alfalah/abdulkadirbaraja]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top