Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Di sekolah minggu saat aku masih kecil, ada yang kutanyakan pada pendeta. Pertanyaan itu mengenai 10 perintah Allah yang diajarkan padaku. Salah satu dari perintah itu adalah: DIlarang menyembah berhala. Aku yang masih lugu, tak mengerti apa arti berhala.
Saat kutanyakan apa itu berhala, aku mendapat jawaban dari pendeta bahwa itu adalah patung, batu, yang tidak memiliki jiwa atau mati. Dibuat oleh manusia, dan disembah oleh manusia. Seketika aku menunjuk salib yang ada di hadapanku. Namun pendeta mengatakan bahwa itu Tuhan Yesus. Aku terdiam. Tapi dalam hati aku mengatakan: Mengapa itu dipasang? Bukankah itu berhala? Pendeta berkata, “Nanti kalau kamu besar, kamu akan tahu.”
Pertanyaan itu nyatanya terus menggelayut mencari jawab. Aku gelisah. Saat beranjak dewasa aku kembali mencari jawaban dari pertanyaan yang mengganjal. Perihal konsep Tuhan di agamaku. Aku pun mencoba bertanya pada pastur yang berbeda. Namun masih juga tidak menemukan jawaban memuaskan. Aku hanya disuruh untuk mengimani dan banyak belajar. Lagi-lagi aku mendapat jawaban semu, bahwa kelak aku akan tahu.
Seiring bertambahnya usiaku, aku mulai tahu bahwa papaku ternyata seorang Muslim. Hal itu baru aku ketahui saat papa tidak ada di rumah pergi melaksanakan shalat Jumat. Saat itu aku dilanda rasa penasaran, mengapa Papa memilih Islam? Maklum, keluarga besar Mama Nasrani dan ketika itu akupun masih memeluk Katholik.
Sejujurnya, aku juga sempat memberi stigma negatif pada Islam. Perasaan benci itu muncul karena di masa kecilku aku memiliki teman Muslim yang berperilaku nakal. Dia teman sekolahku di sekolah dasar.
Di sekolah, agama teman-temanku beragam. Waktu itu aku sempat bertanya pada teman-teman, mengapa memilih agama tertentu untuk dianut. Aku mendapat jawaban, rata-rata mereka mengikuti agama yang dianut orangtuanya. Itulah yang antara lain menginspirasi dan mendorong keinginanku untuk beralih ikut agama Papa. Sebab aku memang sejak lama tidak merasa nyaman memeluk Katholik. Ketika niat itu aku ungkapkan kepada Papa, beliau menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Beliau memegang prinsip bahwa agama tidak bisa dipaksakan dan merupakan hak prerogatif seseorang.
Tibalah hari bersejarah itu. Memasuki kelas dua sekolah menengah pertama (SMP), aku berikrar mengucapkan dua kalimat kesaksian, syahadat dibimbing Papa. Sejak itu aku langsung belajar shalat.
Meski telah memeluk agama Islam, di usia sebelia itu, bukan berarti aku sudah mantap dan sudah benar-benar Islam. Aku memang sudah percaya adanya Tuhan, namun tak percaya pada agama. Karena itu aku sempat melakukan safari agama. Mulai dari Kristen yang aku bandingkan dengan Katolik, kemudian Konghucu yang masih mempercayai leluhur untuk meminta berkah, Budha, Hindu, dan yang terakhir mendalami ajaran-ajaran Islam.

Ketika itulah aku menemukan sesuatu yang membuatku tertarik. Apa itu? Pernyataan al-Qur’an bahwa kaum Nasrani sendiri sebetulnya bingung dengan apa yang diimani. Apakah Yesus itu yang disalib atau bukan. Saat itulah aku seolah menemukan potongan puzzle yang mengisi bagian kosong di kepalaku. Membuatku makin penasaran untuk mencari petunjuk. Lama-kelamaan aku semakin mantap dengan ajaran islam. [islamaktual/alfalah/theobiyanwinata]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top