Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Detik-Detik Kematian Freddy Budiman


Koordinator Kerohanian Islam Lembaga Pemasyarakatan Se-Nusakambangan K.H. Hasan Makarim mendapatkan tugas dari Kejaksaan Agung untuk memberi pendampingan bagi empat terpidana mati beragama Islam yang dieksekusi. Salah satu terpidana mati itu adalah Freddy Budiman.
Dia mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap Freddy Budiman. Saat bertemu, terpidana yang pernah mendekam di 16 lapas itu meminta nasihat padanya. Menurut dia, Freddy Budiman saat menjelang eksekusi tampak tegar.
"Dia mengaku sudah siap dieksekusi. Dia bilang: Alhamdulillah sebentar lagi akan bertemu Allah SWT," katanya dikutip dari republika.co.id, Sabtu (30/7) kemarin.
Bahkan saat keluarganya datang, kata dia, Freddy sungkem kepada ibunya sembari meminta ampun karena selama ini telah merepotkan. Menurut dia, Freddy juga berpesan kepada anak-anaknya untuk rajin shalat dan menjauhi narkoba.
Saat memberikan pendampingan, tak pernah membicarakan soal kematian.
"Seperti biasanya, selama pendampingan, saya tidak pernah bicarakan kematian. Saya berikan zikir, doa, dan penguatan mental," katanya.
Saat menjelang malam eksekusi, kata dia, Freddy bersama tiga terpidana mati yang beragama Islam itu menjalankan puasa Daud dan makan kurma setelah berbuka. Selanjutnya, keempat terpidana mati itu mengenakan pakaian warna putih yang dibawa Hasan dan diberi wewangian.
"Freddy kemudian berpamitan, bahkan berpelukan dengan petugas lapas sembari meminta maaf. Dia juga bilang, Insya Allah sebentar lagi saya bertemu Allah SWT," katanya
Menurut dia, Freddy dan tiga terpidana mati lainnya tampak tegar saat menunggu petugas yang akan membawa mereka ke Lapangan Tembak Tunggal Panaluan untuk menjalani eksekusi. Akan tetapi saat penjemputan, kata dia, hanya Freddy yang dibawa petugas menuju lokasi eksekusi sedangkan tiga orang lainnya tetap di ruang isolasi Lapas Batu karena eksekusi terhadap mereka ditunda.
Disinggung mengenai pesan terakhir Freddy, dia mengatakan terpidana mati itu minta dimakamkan di Surabaya dan minta agar jenazahnya dipakaikan kain ihram yang pernah dipakai keluarganya saat ibadah haji dan umroh.
"Kami sudah laksanakan permintaan Freddy dengan memakaikan tiga helai kain ihram pada jenazahnya," kata Hasan. [islamaktual/rol]

Din Syamsuddin : Islam Mengecam Semua Tindak Kekerasan


Kerusuhan SARA yang terjadi di Tanjungbalai Sumatera Utara menimbulkan kesedihan berbagai pihak. Tak luput pula Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin ikut menanggapi. Din menyesalkan terjadinya kerusuhan di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.
Menurut Din, segala bentuk kekerasan pengrusakan atas motif apapun tidak  bisa ditoleransi. "Agama khususnya Islam sangat mengecam tindak kekerasan. Saya mengimbau seluruh umat beragama khususnya umat Islam dapat mengendalikan diri," katanya usai pembukaan MTQ di NTB, Sabtu (30/7) malam.
Ia menyatakan, hubungan umat Islam dengan umat Budha selama ini cukup baik dan jangan sampai dirusak oleh insiden seperti ini. Din juga meminta pihak berwajib segera mengusut tuntas kasus ini dan mencari akar penyebabnya.

Menurutnya, kerusuhan ini tidak semata-mata lantaran motif keagamaan, melainkan juga ada sentimen etnis, perasaan kesenjangan sosial dan ekonomi. "Saya juga menelpon Bapak Kapolri, beliau sudah mengambil langkah-langkah cepat. Alhamdulillah sekarang suasana sudah kondusif. Persatuan bangsa yang majemuk harus ditegakkan," katanya menambahkan. [islamaktual/rol]

MTQ Nasional di NTB Gunakan e-MTQ


Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Machasin mengatakan, ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVI di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan diikuti 1.193 peserta.
Angka ini, menurut Machasin, menyusut dari jumlah pendaftar pertama sebanyak 1.303 orang, yang setelah diverifikasi hanya 1.200 yang laik mengikuti MTQN.
"Kemarin ada pendaftaran ulang, ternyata dari 1.200 orang, tujuh peserta tidak daftar atau mengundurkan diri, jadi MTQ akan diikuti 1.193 peserta," ujarnya dalam jumpa pers di Islamic Centre NTB, Mataram, Sabtu (30/7) kemarin seperti dikutip republika.co.id.
Machasin menerangkan, MTQ akan diikuti kafilah dari 34 Provinsi di Indonesia, di mana paling banyak setiap kafilah diisi 44 orang dan paling sedikit 22 orang.
Kali ini ada yang berbeda dengan pelaksanaan MTQ sebelumnya. Ya, mulai tahun ini pemerintah menggunakan e-MTQ yang dapat diakses melalui internet untuk mendata para peserta. Diharapkan kehadiran e-MTQ mampu meminimalisir kecurangan mengingat masyarakat bisa melihat secara langsung identitas peserta.
Dewan Hakim dipimpin Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah dan Hafidz-Hafidzah (Ipqah) Indonesia Said Agil Husein Almunawwar.
Pemilihan Dewan Hakim, lanjutnya, berdasarkan keahlian yang dimiliki pada bidangnya masing-masing seperti qari, ahli Al-Quran, ahli tafsir, dan ahli menulis serta pengalaman pada ajang serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
"Pagi ini ada pengarahan dewan hakim. Tidak boleh ada Handphone hakim dibawa masuk ruangan, kalau ketahuan membawa kita ganti," lanjutnya.
Dewan Hakim, akan ditempatkan secara steril agar tidak berhubungan dengan peserta maupun official. Ia melanjutkan, akan ada Dewan Pengawas yang dipimpin Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Mubarak yang dibantu empat orang lainnya. Tugasnya, mengawasi semua kinerja hakim.

Selain melakukan pengawasan pada identitas peserta, proses pemeriksaan juga dilakukan secara langsung atau cek fisik peserta. "Kita jaga jangan sampai ada joki, namanya sudah benar semua, eh orangnya lain," katanya menambahkan. [islamaktual/rol]

Teror Berbuah Teror


Abu Jahal itu paman Nabi Muhammad. Tapi dia sosok paling menonjol dalam melakukan permusuhan terhadap keponakannya itu. Ia selalu menyebar kebencian, penghinaan, dan segala bentuk teror kepada Nabi dan kaum muslimun.
Suatu kali Abu Jahal menyebarkan info dirinya sakit. Ia tahu kalau Muhammad, sangat sayang terhadap keluarga dan ringan hati untuk menjenguk atau meringankan beban siapapun. Betul sekali, Nabi memang pergi menjenguk Abu Jahal ke rumahnya.
Abu Jahal girang sekali, lalu dia berlari menyongsong Nabi di halaman. Tapi, apa yang terjadi? Dia terperosok ke sebuah galian lubang yang persis berada di depan kediamannya. Muhammad kaget, lalu segera menolong Abu Jahal, hingga pamannya itu berhasil diselamatkan.
Nabi kemudian tahu, kalau Abu Jahal memasang perangkap. Maksud jahatnya, lubang itu disediakan agar  Nabi terjatuh. Itu sebuah bentuk teror agar keponakannya itu berhenti berdakwah. Namun akal bulusnya berbalik kepada dirinya. Senjata makan tuan. Si pembuat teror terkena teror yang dibuatnya sendiri.
Teror itu perbuatan menakut-nakuti, membuat tindakan apa saja atau menciptakan keadaan yang membuat ketakutan pihak lain. Dari takut yang ringan seperti ancam-an dalam beragam bentuk, termasuk melalui SMS atau telepon. Hingga ketakutan yang meluas seperti tindakan kekerasan,  perang, pemboman, dan perbuatan sejenis yang menyebabkan pihak lain menjadi korban.
Segala bentuk tekanan psikologis dan fisik yang membuat korban ketakutan merupakan perbuatan teror. Pelakunya disebut teroris. Paham atau ideologi yang membuat seseorang atau kelompok orang berani bahkan ketagihan melakukan teror disebut terorisme.
Nabi dan kaum Muslimun mengalami teror sepanjang perjuangan menunaikan risalahnya. Pada era Makkah orang-orang  yang masuk Islam diteror hingga  sempat hijrah ke Absenia. Bilal bin Rabbah disiksa, lalu dibebaskan oleh Abu Bakar. Nabi bahkan hendak dibunuh di kediamannya, yang menyebabkan beliau malam itu kemudian keluar dari Makkah dan berhijrah ke Yastrib.
Hijrah itulah yang menjadi momentum umat Islam memulai babak baru membangun kehidupan yang lebih leluasa. Namun teror kaum kafir tidak berhenti. Nabi dan kaum Muslimun dihalang-halangi masuk kota Makkah untuk berhaji, hingga berakhir dengan perjanjian Hudaibiyah. Setelah itu teror politik dan militer pun berlanjut, hingga akhirnya pecah Perang Badr dan Uhud tahun kedua dan ketiga hijrah.
Sejarah terus berputar dan perang lain tidak terhindarkan untuk mempertahankan diri dari hegemoni dan teror kaum kafir, yang berakhir dengan Fath Makkah pada tahun kesepuluh Hijrah.
Maka, umat Islam atau setiap muslim jauhi teror dan tindakan membuat teror atas nama apapun dan ditujukan kepada siapapun. Dari hal ringan seperti kebiasaan mengirim SMS terus-menerus kepada orang lain yang sifatnya menekan, merendahkan, melecehkan, menghina, hingga mengancam dengan berbagai ujaran kasar. Perbuatan seperti itu sesungguhnya tindakan teror.
Jangan karena mudah mengirim SMS lantas sembarangan mengobral kata dan ujaran, yang sadar atau tidak sadar mengandung teror. Jika perbuatan seperti itu dilakukan, lebih-lebih terus-menerus dan menjadi kebiasaan, maka Anda sebenarnya telah menjadi teroris. Apalagi perbuatan teror itu diwujudkan dalam berbagai tindakan kekerasan fisik, yang menyebabkan pihak lain menjadi korban.

Ingatlah, segala bentuk teror dan perbuatan buruk, pelan atau lambat, langsung maupun tidak langsung, akan berpulang kepada si-empunya sebagaimana Abu Jahal menerima akibat perbuatan jahatnya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya: “Jika kamu berbuat kebaikan maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat keburukan maka untukmu akibatnya.” (Qs Al-Isra: 7). Apakah masih mau berbuat teror? [islamaktual/sm/a.nuha]

Kerusuhan SARA di Tanjung Balai Rusak Rumah Ibadah


Kerusuhan berbau SARA pecah di Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat malam (29/7) kemarin. Kerusuhan ini diduga akibat provokasi yang dilakukan oleh oknum tertentu melalui media sosial. Emosi massa yang sudah tidak terbendung lagi akhirnya membakar sejumlah tempat ibadah di sekitar lokasi.
Berdasarkan informasi dikutip sindonews.com, peristiwa berawal dari seorang warga Jalan Karya Kel TB, Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai yang menegur pengurus rumah ibadah untuk mengecilkan suara mikrofon.
Malamnya, pengurus rumah ibadah itu menemui warga yang protes. Namun tanpa disangka, suasana memanas dan polisi terpaksa mengamankan pasangan pasangan suami istri itu ke Mapolsek Tanjung Balai Selatan demi keamanan.
Setibanya di Polsek, lalu dilakukan pertemuan dengan sejumlah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan camat setempat. Pada saat yang bersamaan, massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin oleh kelompok elemen mahasiswa.
Disini, massa bersama mahasiswa melakukan orasi memprotes sikap orang tersebut. Selanjutnya massa diimbau untuk tertib dan sempat membubarkan diri.
Namun sekitar pukul 22.30 WIB, Jumat 29 Juli 2016 malam, konsentrasi massa kembali terjadi. Diduga berkumpulnya massa ijni akibat informasi melalui media sosial (facebook) yang diposting oleh salah seorang aktivis.
Massa kemabli mendatangi rumah di Jalan Karya dan hendak membakarnya. Aksi massa berhasil dicegah warga sekitar yang tidak ingin kampung mereka tercoreng dengan ulah massa.
Karena massa semakin banyak dan sudah diliputi emosi, selanjutnya massa bergerak menuju rumah ibadah yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya.
Massa yang hendak melakukan pembakaran berhasil dihadang polisi, tetapi massa melakukan pelemparan sehingga sejumlah fasilitas di rumah ibadah itu rusak.

Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran dan perusakan secara masif hingga merusak delapan rumah ibadah. [islamaktual/sindo]

Kidung Agung Tidak Porno?


Pendeta Yotam Teddy K, MS, M.Th dalam mengapresiasi Petrus Kwik atas bukunya Ayat-Ayat Heboh Dalam Alkitab (Menyingkap Rahasia Ilahi di Balik Ayat-Ayat yang Tidak Lazim!), penerbit Spirit Grafindo Solo, pada kulit luar belakang buku menyatakan: “Full Inspiration and Creative Idea. Tak terbayangkan, tak terpikirkan… Amazing!”
Untuk tujuan serupa pendeta Ishak Sugianto, S.Th kemudian turut berujar: “Siapa bilang Alkitab itu buku kuno yang sulit dimengerti dan tak relevan di zaman ultra modern ini? Saya percaya pendapat ini langsung sirna ketika Anda membaca buku “Ayat-Ayat Heboh Dalam Alkitab’ ini”. Tidak ketinggalan pendeta Larry Nathan Kurniadi, MA selanjutnya ikut menimpali : “Petrus Kwik berhasil menungkil batu-batu permata kebenaran Alkitab yang begitu indah dan secara praktis menterjemahkannya dalam penerapan kehidupan sehari-hari.”
Terdapat 11 topik yang diurai Petrus Kwik dalam bukunya itu, satu diantaranya yang ditempatkan pada urutan ketiga, Kidung Agung Kitab Porno? Setelah berulang kali membaca paparan Petrus Kwik kemudian melakukan hal yang sama terhadap teks-tes Kidung Agung yang terdapat dalam Alkitab, maka hal demikian membuat penulis terpanggil untuk menulis catatan ini, Kidung Agung Tidak Porno? Kontra berlawanan dengan Petrus Kwik.
Di halaman topik terlihat sebuah ilustrasi, bagai di taman surga sepasang anak manusia sedang bercinta dalam kondisi pakaian wanita tersimbah menyibak lutut, sementara di bawahnya tercantum judul Kidung Agung Kitab Porno?
Tidak kepalang tanggung, Petrus kemudian menyediakan satu halaman khusus hanya untuk memuat kutipan Kidung Agung Pasal 7 ayat 7; ‘Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan buah dadamu gugusannya.’ Seterusnya, sebelum masuk ke pembahasan Petrus terlebih dahulu menyuguhkan Kidung Agung Pasal 7 ayat 6-11 berona puis;
Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
Kataku: “Aku ingin memanjat pohon kurma itu dan memegang
Gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur
Dan nafas hidungmu seperti buah apel.
Kata-katamu manis bagaikan anggur! “Ya, anggur itu
Mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah
Ke bibir orang-orang yang sedang tidur!
Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.
Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!
Mengawali paparan, kepada pembaca Petrus langsung melontarkan beberapa pertanyaan; Bagaimana reaksi Anda ketika membaca ayat-ayat Kidung Agung tersebut di atas? - Apakah muka Anda memrah karena malu dan merasa jengah?- Barangkali hatikecil Anda juga bertanya-tanya, pantaskah syair cinta seperti itu dimasukkan ke dalam Kitab Suci?
Dibalik ketiga pertanyaan tersebut, Petrus terlihat sangat menyadari bahwa Kidung Agung merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang sangat unik. Seperti menurut Petrus keunikannya bukan hanya karena memuat puisi-puisi cinta, tapi bagaimana cinta diekspresikan dengan begitu nyata dan terang-terangan.
Petrus menyadari bahwa hal tersebut kemudian menjadi ‘senjata’ bagi orang-orang tertentu untuk menyerang kekristenan. Menurut Petrus, para penyerang kekristenan berkata; Apakah pantas kata-kata vulgar, cabul, dan kotor seperti itu disebut Kidung Agung? -Apakah Tuhan kehabisan kota kata sehingga Dia menggunakan kata-kata seperti itu dalam Firman-Nya yang suci?- Pantaskah sebuah Kitab Suci membuat kata-kata yang sedemikian vulgar? -Lebih pantas disebut Kidung Porno daripada Kidung Agung!
Menepis berbagai tuduhan dan tudingan di atas, berdalih bahwa seks adalah hal yang suci, mulia, dan merupakan anugerah yang diberikan Tuhan untuk kita nikmati. Memperkuat argumen tersebut, Petrus kemudian menyatakan sependapat dengan seseorang yang mengatakan bahwa kita berhutang pada seks sebab tanpa seks kita tidak mungkin dilahirkan.
Begitulah, berpayung pada logika berpikir demikian Petrus lalu bertanya: Beranikah kita berkata bahwa seks adalah hal yang kotor dan tabu, jika sejak dari awal Tuhan sendiri yang menganugerahkan seks dalam kehidupan manusia?
Bagai telah berhasil memasukkan domba-domba gembalaan ke kandang, akhirnya Petrus berujar; logikanya membicarakan seks tentu bukanlah hal yang tabu. Dus, tidak ada yang salah dengan kitab Kidung Agung meski di dalamnya banyak ayat-ayat tentang cinta maupun seks.
Menyederhanakan persoalan Petrus kemudian menyatakan bahwa inti dari Kidung Agung sejatinya adalah: 1. Dari sisi keluarga, Kidung Agung menekankan pentingnya hubungan yang mendalam dan intim antara suami dengan istri; 2. Dari sisi tradisi yahudi, Kidung Agung sebagai gambaran kasih Allah kepada umat Israel; dan 3. Dari sisi kekristenan, orang Kristen melihat Kidung Agung sebagai lukisan kasih Kristus kepada gereja-Nya.
Terkait poin ketiga lebih lanjut Petrus menyatakan: “Kidung Agung berbicara soal hubungan yang mendalam antara Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan jemaat sebagai mempelai perempuan”. Menangkap logika berfikir Petrus Kwik, Petrus terlihat bagai telah berhasil menggiring pembaca untuk turut menyatakan bahwa Kidung Agung bukan kitab porno.
Menyikapi persepsi Petrus tentang seks, seratus peratus penulis sependapat dengan berbagai argumen yang dikemukakannya. Namun sayang, penulis nyaris tidak melihat relevansi berbagai argumen tersebut terhadap pembelaan Petrus tentang permasalahan seks yang ditimbulkan Kidung Agung.
Persoalan seks yang dimunculkan Kidung Agung adalah masalah pornografi. Dalam kaitan demikian Kidung Agung sebagai wahyu suci dituding terindikasi sangat erotis. Memfaktakan kebenaran tudingan tersebut adalah sebuah kemestian bagi kita untuk terlebih dahulu memahami ulang arti kata porno.
Kata porno dalam entri pornografi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan: penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.
Berpegang pada pengertian porno di atas, sesuatu perbuatan akan dikatakan atau dinilai porno bila padanya terdapat unsur penggambaran tingkah laku secara erotis dan penggambaran itu bertujuan untuk membangkitkan nafsu berahi.
Rumusan di atas bukan tanpa alasan. Berbicara tentang organ manusia, tidak semua organ tubuh tersebut bisa diperbincangkan dan atau diperkatakan secara umum dan terbuka, buah dada umpamanya. Tegasnya, berbicara tentang organ manusia terlebih dalam konteks pendidikan (baca: pendidikan seks) tidak terlarang malah sebaliknya dianjurkan.
Namun tidak demikian halnya bila pembicaraan telah mengumbar nafsu berahi. Bila ini yang terjadi, maka perilaku demikian dibahasakan sebagai porno. Bila berbentuk gambar, orang akan mengatakan gambar porno. Bila berbentuk cerita, orang akan mengatakan cerita porno. Bila berbentuk buku, orang pun akan mengatakan buku porno. Tidak terkecuali kendati hal itu terdapat dalam kitab suci, dipastikan orang akan mengatakan bahwa kitab suci tersebut kitab suci porno.
Kembali kepada Kidung Agung 7:6-11 yang dijadikan Petrus sebagai sampel hujah untuk menyatakan bahwa Kidung Agung dalam Alkitab bukan kitab porno. Menakar sejauh mana kebenaran pernyataan tersebut lebih lanjut mari kita cermati petikan ayat berikut: Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan buah dadamu gugusannya.
Dalam konteks seni, kendati ada frase buah dadamu gugusannya, sebatas itu mungkin dinilai wajar. Namun kewajaran tersebut sontak berubah menjadi ‘kurang ajar’ setelah kemudian kita membaca; “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya.” eterusnya; Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju. -Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam diantara bunga-bunga pacar!
Memanjat pohon korma itu -memegang gugusan-gugusannya- kepadaku gairahnya tertuju- sepasang kekasih di malam sepi pergi ke padang berada di antara bunga-bunga pacar… Maaf! Tersebab kevulgaran ayat-ayat Kidung Agung yang suci, tidak mampu saya untuk membahasakan pada tulisan ini seperti apa peristiwa atau kejadian yang terjadi pada sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta berahi. Bila demikian ihwalnya, sungguh tidak tertampik bahwa sejatinya Kidung Agung memang lebih pantas disebut Kidung Porno ketimbang Kidung Agung!

Dalam konteks demikian, sebagaimana dikemukakan pada bagian awal tulisan ini, lalu bagaimana bisa terjadi Petrus Kwik sampai memalingkan penafsiran Kidung Agung yang porno hingga berbentuk: 1. Dari sisi keluarga, Kidung Agung menekankan pentingnya hubungan yang mendalam dan intim antara suami dengan istri; 2. Dari sisi tradisi Yahudi, Kidung Agung sebagai gambaran kasih Allah kepada umat Israel; dan 3. Dari sisi kekristenan, orang Kristen melihat Kidung Agung sebagai lukisan kasih Kristus kepada gereja-Nya. Kok bisa begitu??? Wallahua’lam bishawab. [tabligh/izharilyas]

Kisah Nabi Musa [6]


Setelah masa perjanjian sepuluh tahun antara Musa dan mertuanya Syu’aib selesai, maka Musa pamit untuk hidup mandiri dengan keluarganya. Allah SwT berfirman:
28_29.png
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan,” (Qs Al-Qashash [28]: 29).
Sebenarnya Musa bebas memilih antara menyelesaikan perjanjian 8 tahun atau 10 tahun. Menurut beberapa riwayat yang dikutip oleh Ibn Katsir, Musa memilih waktu yang paling sempurna yaitu 10 tahun. Dalam sebuah riwayat dari Al-Bazar dan Ibn Abi Hatim dari Utbah ibn an-Nadar, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya: “Ya Rasulallah, mana dua batas waktu yang dipenuhi Musa?” Beliau menjawab: “Yang paling baik dan yang paling sempurna.” (Ibn Katsir: Kisah Para Nabi, hal 353).
Musa membawa isteri dan anak-anaknya –sambil menggiring beberapa ekor kambing yang diberikan oleh mertuanya– meninggalkan Madyan. Tentu Musa ingin hidup mandiri dengan keluarganya, tidak lagi menumpang di rumah mertuanya. Tapi ke mana Musa akan pergi? Apakah dia berani kembali ke Mesir, berkumpul dengan Ibunya, dan dengan dua kakaknya Maryam dan Harun? Wajar kalau dalam hati Musa ada kerinduan untuk berkumpul dengan keluarganya yang di Mesir. Tapi Musa tidak akan gegabah langsung kembali ke Mesir mengingat statusnya sebagai buronan. Jelas akan sangat berbahaya kalau dia langsung kembali ke Mesir. Yang paling mungkin dilakukan Musa adalah mencari negeri lain untuk tinggal menetap buat sementara, sampai situasi memungkinkan dia untuk kembali ke Mesir.
Demikianlah, dalam perjalanan mencari negeri baru untuk menetap itu Musa sampai di suatu tempat. Malam itu sangat dingin dan gelap gulita, Musa berusaha untuk menghidupkan api, tapi api itu tidak mau menyala. Lalu Musa mencoba mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, di lereng gunung ada api yang menyala-nyala. Maka segera dia pamit kepada keluarganya untuk menuju tempat api tersebut. Jika ada api tentu ada kehidupan. Kalau pun tidak ada perkampungan di situ, paling kurang dia bisa membawa sesuluh api dari bukit itu untuk menghangatkan badan.
Setelah sampai di tempat api tersebut Musa mendengar namanya dipanggil. Suara itu datang dari arah pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu. Musa jelas mendengar suara: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”. Allah SwT berfirman menceritakan hal tersebut:
28_30.png
“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam,” (Qs Al-Qashash [28]: 30).
Dalam Surat Thaha ayat 11-12 Allah SwT menjelaskan bahwa Musa berada di lembah suci Thuwa. Oleh sebab itu dia harus menanggalkan kedua terompahnya, sebagai bentuk penghormatan kepada tempat yang suci diberkahi tersebut. Allah SwT berfirman:
Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa,”(Qs Thaha [20]: 11-12).
Tidak hanya tempat itu yang diberkahi, orang-orang yang berada di dekat api itu juga diberkahi. Allah SwT berfirman:
27_8.png
Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa Telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs An-Naml [27]: 8).
Allah SwT berbicara langsung dengan Musa dari balik hijab, artinya Musa bisa mendengar suara tetapi tidak bisa melihat-Nya.
Pada saat itulah Musa diangkat oleh Allah SwT sebagai Nabi dan Rasul. Allah SwT berfirman yang artinya:
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat  Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (Qs Thaha [20]: 13-16).
Pada saat itu juga Musa diberi oleh Allah SwT beberapa mukjizat, seperti tongkat berubah menjadi ular dan tangan Musa bercahaya. Allah SwT berfirman:
Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. Tetapi orang yang berlaku dzalim, kemudian ditukarnya kedzalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); Maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan Karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (Qs An-Naml [27]: 10-12).
Musa tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika tongkatnya dilemparkan. Dia patuh saja kepada perintah Allah yang dia dengar langsung tanpa perantara malaikat. Tanpa berpikir panjang dia lemparkan tongkatnya, tatkala tiba-tiba tongkat itu berubah jadi ular dan bergerak dengan gesit, Musa jadi ketakutan dan lari ke belakang tanpa menoleh-noleh lagi. Allah SwT memanggilnya dan menyatakan bahwa seorang Rasul tidak perlu takut di hadapan Allah. Hanya orang dzalimnya yang takut. Musa berbalik, dan Allah mengampuni Musa karena kesalahannya lari dari hadapan-Nya.
Dalam surat Al-Qashash ayat 31 diceritakan bahwa setelah Musa lari ke belakang karena ketakutan, maka Allah SwT memanggilnya dan memberikan jaminan keamanan. Allah SwT berfirman:
28_31.png
Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.” (Qs Al-Qashash [28]: 31).

Mukjizat kedua yang diperlihatkan kepada Musa adalah tangannya bisa berubah bercahaya setelah dimasukkan melalui rongga leher bajunya. Dua mukjizat ini termasuk ke dalam sembilan mukjizat yang nanti akan diperlihatkan Allah SwT di hadapan Fir’aun. [islamaktual/sm/yunaharilyas]

Kesaksian Sang Distributor Narkoba


Freddy Budiman, distributor Narkoba kelas kakap Jumat (29/7) lalu telah dieksekusi mati. Namun bukan berarti beritanya kemudian hilang. Bahkan terungkap kisah baru yang diceritakan oleh Haris Azhar dari Lembaga KontraS. Menurut Haris, kisah itu diceritakan Freddy Budiman saat ditemuinya tahun 2014 lalu, Freddy bercerita ‘horor’ tentang perilaku korup oknum penegak hukum di Indonesia yang berkolaborasi dengan Freddy Budiman.
Maka jika benar kesaksian dari Freddy tersebut, antara Koruptor dan Narkoba memang tak bisa dipisahkan termasuk pula hukumannya harus yang setimpal. Berikut adalah penuturan Freddy Budiman kepada Haris Azhar seperti dilansir sangpencerah.com.
“Cerita Busuk dari Seorang Bandit”
Ditengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secra komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.
Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja.
Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada gelombang kedua (April 2015).
Saya patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.
Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.
Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri.
Menurut ibu pelayan rohani yang mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan.
Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:
“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya.
Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (Boss saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu, saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga).
Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?
Saya menjawab 50.000. Fredi langsung menjawab:
“Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina, makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya.
Ketika saya telepon si pihak tertentu ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak, selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?”
Fredy menjawab sendiri, “Karena saya bisa dapat per butir 200.000, jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 Miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu.”
Fredy melanjutkan ceritanya. “Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas, saya jadi dipertanyakan oleh Bos saya (yang di Cina). Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?’”
Menurut Freddy, “Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu temukan oleh jaringan saya di lapangan.”
Fredi melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu. Dalam hitungan saya selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.”
Saya prihatin dengan pejabat yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan menceritakan dimana dan siapa bandarnya, saya bilang, investor saya anak salah satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA), saya siap nunjukkin dimana pabriknya, dan saya pun berangkat dengan petugas BNN (tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina sampai ke depan pabriknya. Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.
Saya selalu kooperatif dengan petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya bukan kabur, ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur, padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu polisi itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 Miliar dari harga yang disepakati 2 Miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan memeras saya.”
Freddy juga mengekspresikan bahwa dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang melindungi.
Kemudian saya bertanya ke Freddy dimana saya bisa dapat cerita ini? Kenapa anda tidak bongkar cerita ini? Lalu freddy menjawab:
“Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas, saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”
Lalu saya pun mencari pledoi Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung, yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Dalam putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy. Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut. (islamaktual/sp)

Visit Us


Top