Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sayyid Qutb merupakan salah satu diantara banyak mufassir yang berupaya keras mengembalikan pemaknaan al-Qur’an pada titik yang mendekati kemurnian pesan penurunan al-Qur’an. Hal itu dapat dilihat dalam tafsir Fi Zilal Al-Qur’an. Ia memilih untuk mencukupkan al-Qur’an sebagai teks yang otentik dan orisinal. Dalam menafsirkan, ia berusaha mengeliminasi hal-hal yang memicu perdebatan tak berujung dan penakwilan yang bergeser dari frame akidah Islam.
Sayyid Qutb Ibrahim Husain Shadhili atau lebih dikenal dengan Sayyid Qutb lahir pada tahun 1906 di desa Musha, wilayah provinsi Asyut, tetapi secara geografis masuk bagian wilayah Sa’id, kawasan yang menghubungkan arus sungai Nil dari Aswan menuju ke dekat dasar delta, Mesir.
Ayahnya, al-Hajj Qutb Ibrahim, kabarnya masih keturunan India. Ia adalah tuan tanah yang mengelola agrikultur modern. Agrikultur yang dulu dirintis dinasti Muhammad Ali hingga kemudian dikuasai Inggris yang mulai menjajah Mesir tahun 1882. Ayahnya menikah dua kali. Dari istrinya yang kedua lahirlah tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki; Nafisah, Sayyid, Aminah, Muhammad dan si bungsu Hamidah.
Sayyid Qutb pertama kali belajar al-Qur’an di desanya pada umur sepuluh tahun. Al-Qur’an yang sudah dihafalnya sejak kecil mempunyai pengaruh besar dalam mengembangkan kemampuan sastra dan seninya dalam usia yang masih muda. Ketika berumur 15 tahun atau setelah terjadinya Revolusi Mesir pada tahun 1919 (melawan pendudukan Inggris), tepatnya pada tahun 1921, Sayyid Qutb meninggalkan Musha menuju Kairo untuk melanjutkan sekolahnya dengan sistem pendidikan negeri, layaknya kebanyakan pendatang pedesaan yang membanjiri Kairo saat itu.
Di Mesir, Sayyid Qutb menumpang di rumah pamannya, Husain Usman. Husain adalah sarjana dari Universitas Al-Azhar. Ia tinggal di Zaitun, timur laut kota Kairo. Husain inilah yang banyak memberikan dukungan dan berperan besar dalam pembentukan kepribadiannya. Sayyid Qutb empat tahun menumpang di rumah pamannya.
Atas bimbingan pamannya, Sayyid Qutb mengikuti sekolah persiapan Dar al-Ulum. Pada tahun 1929, ia melanjutkan lagi di sekolah yang sama. Tahun 1933, Sayyid Qutb lulus dari Dar al-Ulum dengan ijazah di bidang bahasa dan sastra Arab. Setelah lulus, Sayyid Qutb mengajar sekolah dasar selama enam tahun. Ia berpindah-pindah selama mengajar. Pertama kali di Kairo lalu pindah ke Dumyat, Bani Suwaif, dan Hulwan. Pada tahun 1940, ia berhenti mengajar dan menjabat sebagai Inspektur Kementerian Pendidikan, hingga Oktober 1952.
Dalam bidang sastra, Sayyid Qutb banyak terinspirasi Abbas Mahmud al-Aqqad (1899-1964). Abbas Mahmud al-Aqqad adalah seorang pembaharu intelektual yang sangat berpengaruh pada diri Sayyid Qutb. Kecenderungan Sayyid Qutb terhadap sastra kian terlihat ketika pada tahun 1939, artikelnya al-Taswir al-Fanni fi Al-Qur’an (ilustrasi artistik dalam al-Qur’an), dimuat di majalah al-Muqtataf, dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1945. Dalam artikel tersebut, ia menjelaskan bagaimana garis besar mengenai sastra al-Qur’an dan ketidaksempurnaan memahami al-Qur’an.
Selain al-Taswir al-Fanni fi Al-Qur’an, masih banyak karya monumental Sayyid Qutb yang lain. Diantaranya yaitu, al-’Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Islam, Fi Zilal Al-Qur’an, al-Syati’ al-Majhul, Masyahid al-Qiyamah fi Al-Qur’an, Ma’rakah al-Islam wa Ra’samaliyah, al-Salam al-’Alami wa al-Islam, Khasa’is al-Tasawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu, dan lain-lain.
Pada tahun 1949, Sayyid Qutb meninggalkan Mesir untuk belajar ke Amerika. Semasa di Amerika, ia memiliki kesan bahwa peradaban materialistik Barat tak mengandung nilai-nilai dasar kemanusiaan. Peradaban ini, menurutnya, membawa umat manusia pada kerusakan spiritual, sosial, bahkan fisik. Setelah menyelesaikan masa studinya selama dua tahun, ia kembali ke Mesir dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, saat itu sebagai satu-satunya kekuatan politik terbesar di Mesir.
Fi Zilal Al-Qur’an
Secara umum, penafsiran Sayyid Qutb sangat memperlihatkan usaha kerasnya untuk kembali pada al-Qur’an yang murni. Itu terlihat dalam Fi Zilal Al-Qur’an. Ia menyelesaikan Kitab Tafsir ini di penjara. Kata zilal dipilih karena terinspirasi artinya, yakni bayang-bayang atau naungan. Menurutnya, bayangan yang sempurna tentu akan mengikuti gerakan benda aslinya. Sebagaimana al-Qur’an sebagai kalam Ilahi akan selalu mendekat pada apapun yang menjadi bayangannya.
Dalam Fi Zilal Al-Qur’an, Sayyid Qutb menggunakan metode analisis (tahlili) yang bercorak pergerakan. Ia menganalisis beberapa ayat berdasarkan urutan ayat dalam mushaf al-Qur’an baru kemudian dijabarkan. Corak ini sangat dipengaruhi oleh aktivitasnya sebagai bagian dalam Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, bahasa-bahasa yang digunakan banyak sekali yang bernada persuasif-provokatif dan reflektif. Ia berharap dakwah yang disampaikan dapat membekas di benak penerimanya.
Berbeda dengan Kitab Tafsir pada umumnya, Fi Zilal Al-Qur’an memiliki karakteristik tersendiri. Sayyid Qutb nyaris tanpa menukil referensi dari mana pun. Hal ini hampir tidak dilakukan oleh penulis-penulis Kitab Tafsir saat itu. Ia mengosongkan murni menggunakan semua pengetahuannya tentang al-Qur’an dan menjauhkan diri dari cara berpikir masa lalu. Selain itu, ia juga memandang satu surat sebagai satu kesatuan makna. Maksudnya, setiap satu surat dalam al-Qur’an sesungguhnya memiliki kekhasan dan keunikan yang berbeda dengan surat-surat lainnya. Suatu surat mempunyai satu titik fokus masalah dimana seluruh masalah yang terbahas dalam surat tersebut. Dengan demikian, yang diharapkan oleh Sayyid Qutb adalah bahwa menafsirkan al-Qur’an berarti berupaya untuk menjelaskan dan mengungkapkan maksud dan kandungan al-Qur’an.
Keteguhan pandangan inilah yang menjadikan Sayyid Qutb dan Kitab Tafsirnya selalu menjadi rujukan umat Islam hingga kini. Meskipun, dalam penerjemahannya dalam bahasa Indonesia mengandung banyak unsur kepentingan. Unsur kepentingan ini yang kemudian dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk menggiring pemahaman umat Islam pada faham keislaman tertentu. Terlepas dari itu, kekhasan penafsiran Sayyid Qutb menjadi referensi penting dalam penafsiran al-Qur’an.

Sebagaimana diketahui oleh Umat Islam, meskipun Sayyid Qutb dikenal sebagai ilmuwan, sastrawan, dan penulis Kitab Tafsir, tetapi ia meninggal justru karena keaktifannya di Ikhwanul Muslimin. Ia meninggal di tiang gantungan pada 29 Agustus 1966 oleh rezim Gamal Abdul Nasser. Ia dihukum gantung karena dianggap telah melakukan konspirasi untuk membunuh Presiden Gamal Abdul Nasser. Ia juga dituduh melakukan aktivitas subversif untuk menjatuhkan pemerintahan. Sayyid Qutb syahid di tiang gantungan bersama dua temannya yaitu Abdul Fattah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwas. [islamaktual/sm/fadhlilwafi]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top