Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Ragam Terminologi Ilmu Falak


Ilmu falak sebagai sains eksak klasik memiliki peran signifikan dalam kehidupan manusia, baik di era modern maupun di era klasik. Oleh karena perannya yang signifikan ini menjadikan disiplin ilmu ini memiliki ragam istilah atau terminologi.
Terminologi ilmu falak sendiri senantiasa mengalami pergeseran makna dan perspektif sesuai cara pandang yang berbeda oleh para pengkajinya dari sejak zaman dahulu sampai hari ini. Pergeseran makna dan atau penger­tian ini tidak lain disebabkan perbedaan kelengkapan alat-alat observasi yang digunakan, dan tentu juga karena perbedaan tujuan yang ingin dicapai. Beberapa terminologi yang berkembang dan menghiasi sumber-sumber klasik turtas diantaranya adalah: ‘ilm an-nujum, shina’ah an-nujum, shina’ah at-tanjim, ‘ilm at-tanjim, ‘ilm al-ahkam, ‘ilm hai’ah al-‘alam, ‘ilm hai’ah al-aflak, ‘ilm al-aflak wa an-nujum, ‘ilm al-falak, ‘ilm al-hai’ah, al-asthrunumiya, al-anwa’, dan ar-rashd. Lima terminologi pertama (‘ilm an-nujum, shina’ah an-nujum, shina’ah at-tanjim, ‘ilm at-tanjim, ‘ilm al-ahkam) dalam konteks keislaman hari ini masing-masing terhitung sebagai disiplin ilmu terlarang (haram, batil) oleh karena bertentangan dengan agama (Islam), namun di era abad pertengahan lima terminologi ini–beserta terminologi lainnya–merupakan nomenklatur dari ilmu astronomi.
Seperti dimaklumi, dalam konteks kehidupan zaman lampau, pemahaman dan pemaknaan alam (benda-benda langit di cakrawala) tidak semata persoalan keingintahuan atau keilmuan, namun juga terkait dengan prediksi atau ramalan kemanusiaan yang dikenal dengan nujum atau astrologi. Bahkan fenomena yang disebutkan terakhir ini tampak paling dominan berkembang. Oleh karena itu pula, percampuran dua fungsi (ilmu dan ramalan) ini tidak dapat dihindari, bahkan dalam konteks zaman itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Namun demikian, dari sejumlah terminologi yang ada, falak dan hai’ah beserta istilah yang mengiringinya adalah terminologi adalah istilah yang paling banyak digunakan dalam sumber-sumber klasik abad pertengahan, istilah-istilah ini merujuk pada makna ilmu astronomi yang tidak berbias astrologi. Falak (al-falak atau al-aflak) sendiri berasal dari kata fa-la-ka yang bermakna orbit atau edar benda-benda langit. Menurut al-Biruni (w 440/1048), ‘falak’ adalah benda bulat yang bergerak di tempatnya, yang mana dinamakan ‘al-falak’ oleh karena ia berputar dan bergerak menyerupai gulungan benang (falakiyyah al-maghzal). Sedangkan astronom al-‘Urdhi (w 664/1265) mengatakan, ‘falak’ sebagai nama yang diperuntukkan kepada sebuah benda yang berputar di atas sebuah permukaan bola (lingkaran) dan di sekelilingnya.
Sedangkan definisi ilmu falak di kalangan ulama-ulama abad pertengahan adalah suatu cabang pengetahuan yang mengkaji keadaan benda-benda langit dari segi bentuk, kadar, kualitas, posisi dan gerak benda-benda langit. Kata ‘falak’ sendiri antara lain disitir dalam Qs. Yasin [36] ayat 40 di mana pada ayat ini dijelaskan mengenai peredaran Matahari dan Bulan yang mana keduanya tidak dapat saling mengejar dan atau mendahului, semuanya beredar pada garis edarnya masing-masing. Menurut Nillino, kata ‘falak’ seperti tertera dalam ayat ini sejatinya bukan berasal dari bahasa Arab namun teradopsi dari bahasa Babilonia yaitu ‘pulukku’. An-Nadim (w 388/998) dalam al-Fihrist (Katalog) telah menyebut ‘falak’ sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Sementara itu orbit-orbit (al-aflak) benda langit adalah kajian dalam ilmu falak. Orbit-orbit yang menjadi kajian para astronom dan filsuf Muslim ini pada kenyataannya ada beragam pandangan tentang jumlahnya. Al-Biruni (w 440/1048) mengemukakan ada delapan lapisan (lingkaran, orbit) yang seluruhnya saling melingkari bagaikan lapisan kulit bawang. Delapan lingkaran (lapisan) itu secara berurutan adalah: Bulan (qamar), Merkurius (‘utharid), Venus (zuhrah), Matahari (syams), Mars (marikh), Jupiter (musytrai), Saturnus (zuhal, najm tsaqib), dan planet diam (kurrah tsabitah).
Sementara itu Ibn Sina (w 428/1037) menyatakan ada sembilan orbit di mana tujuh di antaranya merupakan tujuh lapis langit (as-samawat as-sab’). Orbit-orbit itu secara berurutan yaitu Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus,  falak al-kawakib ats-tsabitah al-wasi’ al-muhith, dan al-‘arsy al-‘azhim. Tiap-tiap orbit ini adalah langit bagi orbit yang terletak di bawahnya dan Bumi bagi orbit yang terletak di atasnya. Orbit Bulan adalah langit bagi Bumi, Bumi adalah orbit bagi Venus, demikian seterusnya hingga sampai kepada orbit Saturnus yang merupakan langit ke tujuh. Falak al-kawakib ats-tsabitah al-wasi’ al-muhith (orbit planet-planet tetap yang maha luas) adalah orbit penyebab terjadinya peredaran Matahari selamanya di sekitar Bumi, penyebab pergantian siang dan malam, pergantian musim, dan penyebab terjadinya fenomena yang berhubungan dengan Bumi. Sedangkan al-‘arsy al-‘azhim adalah singgasana besar, perhatikan Qs. Al-Haqqah [69] ayat 17.
Sedangkan hai’ah adalah terminologi yang diperuntukkan kepada ilmu falak yang juga cukup populer di abad peretengahan peradaban Islam. Bahkan, terminologi hai’ah memang muncul dan populer hanya di peradaban Islam. Hai’ah (Arab: al-hai’ah, jamak: al-hai’at dan al-haya’at) secara etimologi bermakna keadaan sesuatu baik bersifat nyata (mahsus) maupun logis (ma’qul). Keadaan nyata maupun logis ini antara lain disitir dalam Qs. al-Ma’idah [05] ayat 110. Keadaan (hai’ah) dalam pengertian astronomi bermakna susunan alam semesta (bunyah al-kawn). Dalam khazanah intelektual Islam klasik, hai’ah adalah disiplin ilmu yang mengkaji benda-benda langit yang berkaitan dengan tata susun dan urutan orbit-orbit benda langit, kuantitas planet-planet dan konfigurasi rasi-rasi bintang dalam jarak, kadar, gerak, dan lain-lain. Secara historis, hai’ah terhitung sebagai terminologi orisinal yang muncul di peradaban Islam. Terminologi ini muncul sebagai hasil olah observasi dan pengkajian benda-benda langit secara ilmiah yang tidak terpengaruh oleh tradisi astrologi. Disiplin ilmu ini muncul di peradaban Islam sejak pertengahan abad 3/9.
Selain falak dan hai’ah, dikenal pula satu istilah yang betapapun tidak secara langsung berkaitan dengan astronomi namun memiliki kesamaan bahasan, yaitu al-anwā’ atau an-nau’. Secara etimologis anwa’ (nau’) adalah suatu bintang di langit tatkala cenderung akan hilang (terbenam) pada waktu fajar dan pada saat yang sama bintang lainnya akan terbit di belahan timur. Al-anwa’ juga dimaknai hujan dan tiupan angin di arah barat dan munculnya bintang yang mengiringinya di bagian timur. Adakalanya pula, an-nau’ diperuntukkan untuk terbitnya bintang-bintang di timur dan pada saat yang sama kebalikannya yaitu terbenamnya bintang-bintang di barat yang disebut bintang jatuh. Bintang jatuh dalam dugaan orang-orang Arab tidak memiliki kekuatan dan pengaruh.
Secara sintaksis, kata al-anwa’ menunjukkan suatu pengetahuan mengenai bintang. Dalam praktiknya, orang-orang Arab melakukan pengamatan terhadap gerak dan perpindahan bintang-bintang di posisinya, selain melakukan pengamatan terhadap perubahan posisi matahari dan bulan pada konstelasinya. Dalam hal ini bulan memiliki 28 manzilah yang merupakan jumlah satu putaran sinodis bulan. Dalam peredarannya, bulan akan turun dalam setiap manzilah satu kali dalam sehari, berbeda dengan matahari yang turun pada manzilahnya satu kali dalam setahun. Keseluruhan manzilah matahari ada 365 yang merupakan jumlah dalam setahun. Manzilah-manzilah dan bintang-bintang ini populer di kalangan Arab yang mana dinisbahkan terhadapnya fenomena hujan, angin dan cuaca, yang mana dinamakan ilmu al-anwa’.
Morlan mendefiniskan al-anwa’ sebagai sekumpulan hasil perhitungan yang dipersiapkan untuk suatu kegiatan sosial dan keagamaan yang dihubungkan dengan terbit dan tenggelam benda-benda langit tertentu dengan memanfaatkan bilangan tahun matahari dan membaginya dalam periode-periode tertentu. Dalam terminologi modern, al-anwa’ yang populer di kalangan Arab padang pasir sejatinya dapat diterjemahkan sebagai ilmu meteorologi, klimatologi dan geofisika (BMKG).

Dalam sejarahnya, terdapat ulama yang mendalami disiplin ilmu ini dan dituangkan dalam karya tulis. Beberapa karya mengenai hal ini antara lain: “Kitab al-Anwa’ fi Mawasim al-‘Arab” (Buku Meteorologi tentang Musim-Musim Arab) karya Ibn Qutaibah ad-Dinawari (w. 276/889), “Kitāb al-Anwa’” (Buku Meteorologi) karya az-Zajjaj (w 316/928), “al-Azminah wa al-Anwa’” (Zaman dan Meteorologi) karya al-Ajdabi (w ± 650/1252).

Sholat Khusufain Sesuai Tuntunan Nabi


Pertanyaan: Banyak pertanyaan disampaikan secara langsung maupun melalui pesan pendek (SMS) ke Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang masalah cara pelaksanaan salat gerhana.
Jawaban: Untuk itu Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan fatwa mengenai hal tersebut sebagai berikut:
  1. Pendahuluan
        Muktamar Tarjih XX di Garut tanggal 18-23 Rabiul Akhir 1386 / 18-23 April 1976 telah menetapkan keputusan tentang salat kusufain (salat gerhana matahari dan Bulan). Matan keputusan itu berbunyi,
    Apabila terjadi gerhana matahari atau bulan, hendaknya Imam menyuruh orang menyerukan “ash-shalatu jami‘ah,” kemudian ia pimpin orang banyak mengerjakan shalat dua raka’at; pada tiap rakaat berdiri dua kali, ruku’ dua kali, sujud dua kali, serta pada tiap rakaat membaca Fatihah dan surat yang panjang dan suara nyaring; dan pada tiap ruku’ dan sujud membaca tasbih lama-lama.
 Ketika telah selesai shalat ketika orang-orang masih duduk, Imam berdiri menyampaikan peringatan dan mengingatkan mereka akan tanda-tanda kebesaran Allah serta menganjurkan mereka agar memperbanyak membaca istighfar, sedekah dan segala amalan yang baik.
        Istilah gerhana dalam hadis-hadis disebut kusuf atau khusuf dan kedua istilah ini dalam hadis dapat dipertukarkan penggunaannya. Hanya saja dalam literatur fikih dan di kalangan fukaha, biasanya kata kusuf digunakan untuk menyebut gerhana matahari dan khusuf untuk menyebut gerhana Bulan. Sering juga digunakan bentuk ganda “kusufain” untuk menyebut gerhana matahari dan gerhana Bulan sekaligus.
  1. Dasar Syar‘i Salat Gerhana
           Dasar syar‘i salat gerhana matahari dan gerhana bulan ditunjukkan oleh sejumlah hadis, antara lain,
عن عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلاَةَ جَامِعَةً فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ [رواه البخاري واللفظ له ، ومسلم ، وأحمد
Artinya: Dari Aisyah (diriwayatkan) bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka ia lalu menyuruh orang menyerukan “ash-shalatu jami‘ah”. Kemudian beliau maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud [HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad].
عن أبي مَسْعُودٍ قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ من الناس وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا [رواه البخاري ومسلم
Artinya: Dari Abu Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan Bulan tidak gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat gerhana keduanya, maka berdirilah dan kerjakan salat [HR al-Bukhari dan Muslim].
           Hadis pertama merupakan sunnah fikliah yang menggambarkan perbuatan Rasulullah saw melakukan salat saat terjadinya gerhana. Hadis kedua merupakan sunnah kauliah yang berisi perintah Nabi saw untuk melakukan salat pada saat terjadinya gerhana.
  1. Cara Melaksanakan Salat Kusufain
Apabila terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, maka dilaksanakan salat kusuf dan Imam menyerukan ash-shalatu jami‘ah. Salat kusuf dilaksanakan berjamaah, serta tanpa azan dan tanpa iqamah.
Dasarnya adalah hadis ‘Aisyah yang dikutip terdahulu di mana Imam menyerukan salat berjamaah, dan dalam hadis itu tidak ada azan dan iqamah.
Salat kusufain dilakukan dua rakaat yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan rukuk, qiyam dan sujud dua kali pada masing-masing rakaat.
Dasarnya adalah hadis Aisyah yang telah dikutip di atas, dan juga hadis an-Nasa’i berikut,
عن عَائِشَةَ قالت كَسَفَتْ الشَّمْسُ فَأَمَرَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً فَنَادَى أَنْ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ … … … ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ فِيهِمْ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه ثُمَّ قال إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ فَأَيُّهُمَا خُسِفَ بِهِ أو بِأَحَدِهِمَا فأفزعوا إلى اللَّهِ عز وجل بِذِكْرِ الصَّلاَةِ [رواه النسائي
        Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari lalu Rasulullah saw memerintahkan seseorang menyerukan ash-shalata jami‘ah. Maka orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah saw salat mengimami mereka. Beliau bertakbir … … …, kemudian membaca tasyahhud, kemudian mengucapkan salam. Sesudah itu beliau berdiri di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian berkata: Sesungguhnya matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Maka apabila yang mana pun atau salah satunya mengalami gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir melalui salat [HR al-Bukhari].
Pada masing-masing rakaat dibaca al-Fatihah dan surat panjang dengan jahar (oleh imam).
Setelah membaca al-Fatihah dan surat, diucapkan takbir, kemudian rukuk dengan membaca tasbih yang lama, kemudian mengangkat kepala dengan membacasami‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal-hamd, kemudian berdiri lurus, lalu membaca al-Fatihah dan surat panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir, lalu rukuk sambil membaca tasbih yang lama tetapi lebih singgkat dari yang pertama, kemudian bangkit dari rukuk dengan membaca sami‘allahu liman hamidah rabbana wa lakal-hamd, kemudian sujud, dan setelah itu mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama.
Dasar butir ke-3 dan ke-4 adalah,
عن عَائِشَةَ أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم جَهَرَ في صَلاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ [رواه البحاري ومسلم ، واللفظ له
Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa Nabi saw menjaharkan bacaannya dalam salat khusuf; beliau salat dua rakaat dengan empat rukuk dan sujud [HR al-Bukhari dan Muslim, lafal ini adalah lafal Muslim].
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ فِي صَلاةِ الْكُسُوفِ [رواه ابن حبان والبيهقي وأبو نعيم في المستخرج
Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa Nabi saw menjaharkan bacaannya dalam salat kusuf [HR Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan Abu Nu‘aim dalam al-Mustakhraj].
عن عَائِشَةَ زَوْجِ النبي صلى الله عليه وسلم قالت خَسَفَتْ الشَّمْسُ في حَيَاةِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَخَرَجَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إلى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ الناس وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فقال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قام فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى من الْقِرَاءَةِ اْلأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هو أَدْنَى من الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ -ولم يذكر أبو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ- ثُمَّ فَعَلَ في الرَّكْعَةِ اْلأُخْرَى مِثْلَ ذلك حتى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتْ الشَّمْسُ قبل أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قام فَخَطَبَ الناس فَأَثْنَى على اللَّهِ بِمَا هو أَهْلُهُ ثُمَّ قال إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ فإذا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ [رواه مسلم
Artinya: Dari ‘Aisyah, isteri Nabi saw, (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi saw. Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah saw membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami‘allahu liman hamidah rabbana wa lakal-hamd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama, namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud. [Abu Thahir tidak menyebutkan sujud]. Sesudah itu pada rakaat terakhir (kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu matahari terang (lepas dari gerhana) sebelum beliau selesai salat. Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka segeralah salat [HR al-Bukhari].
        Perlu dijelaskan bahwa dua prasa faqtara’a qira’atan tawilatan dalam hadis Muslim yang disebutkan terakhir di atas diinterpretasi sebagai membaca al-Fatihah dan suatu surat panjang, karena tidak sah salat tanpa membaca al-Fatihah. Karena farsa pertama difahami sebagai membaca al-Fatihah dan surat panjang, maka frasa kedua yang sama dengan frasa pertama tentu juga difahami sama. Jadi pada waktu berdiri pertama dalam rakaat pertama dibaca al-Fatihah dan surat panjang, maka pada berdiri kedua dalam rakaat pertama juga dibaca al-Fatihah dan surat panjang.
        Pemahaman seperti ini dikemukakan oleh sejumlah ulama. Imam asy-Syafi’’i dalam kitab al-Umm menyatakan,
        Dalam salat kusuf imam berdiri lalu bertakbir kemudian membaca al-Fatihah seperti halnya dalam salat fardu. Kemudian pada berdiri pertama setelah al-Fatihah, imam membaca surat al-Baqarah jika ia menghafalnya atau kalau tidak hafal, membaca ayat al-Quran lain setara surat al-Baqarah. Kemudian ia rukuk yang lama … … …, kemudian bangkit dari rukuk sambil membaca sami‘allahu liman hamidah rabbana wa lakal-hamd, kemudian membaca Ummul-Quran dan surat setara dua ratus ayat al-Baqarah, kemudian rukuk … … … dan sujud. Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, lalu membaca Ummul-Quran dan ayat setara seratus lima puluh ayat al-Baqarah, kemudian rukuk … … …, lalu bangkit dari rukuk, lalu membaca Ummul-Quran dan ayat setara seratus ayat bal-Baqarah, kemudian rukuk … … … dan sujud [al-Umm, I: 280].
        Kemudian asy-Syafi‘i menjelaskan lagi bahwa apabila tertinggal membaca surat dalam salah satu dari dua berdiri itu, maka salatnya sah apabila ia membaca al-Fatihah pada permulaan rakaat dan sesudah bangkit dari rukuk pada setiap rakaat. Apabila ia tidak membaca al-Fatihah dalam satu rakaat salat kusuf pada berdiri pertama atau pada berdiri kedua, maka rakaat itu dianggap tidak sah. Namun ia meneruskan rakaat berikutnya, kemudian melakukan sujud sahwi, seperti hal ia apabila ia tidak membaca al-Fatihah dalam salah satu rakaat pada salat fardu di mana rakaat itu tidak sah [al-Umm, I: 280].
        Hal yang sama dikemukakan pula oleh fukaha-fukaha yang lain. Al-‘Abdar³ (w. 897/1492), seorang fakih Maliki, mengutip al-Maziri yang menegaskan bahwa setelah bangkit dari rukuk dibaca al-Fatihah dan suatu surat panjang, dan pada rakaat kedua juga demikian, artinya membaca al-Fatihah sebelum membaca masing-masing surat [at-Taj wa al-Iklil, II: 201]. Ibnu Qudamah (w. 620/1223) dalam dua kitab fikihnya juga menegaskan bahwa setelah bangkit dari rukuk pertama dibaca al-Fatihah dan surat pendek baik pada rakaat pertama maupun pada rakaat kedua [al-Kafi, I: 337-338; dan al-Mughni, II: 143].
Setelah selesai salat gerhana imam berdiri sementara para jamaah masih duduk, dan menyampaikan khutbah yang berisi wejangan serta peringatan akan tanda-tanda kebesaran Allah serta mendorong mereka memperbanyak istighfar, sedekah dan berbagai amal kebajikan. Khutbahnya satu kali karena dalam hadis tidak ada pernyataan khutbah dua kali.
Dasarnya adalah:
عَائِشَةَ أنها قالت خَسَفَتْ الشَّمْسُ في عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قام فَأَطَالَ الْقِيَامَ وهو دُونَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وهو دُونَ الرُّكُوعِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ في الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ما فَعَلَ في اْلأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وقد انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ الناس فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه ثُمَّ قال إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ لاَ ينخسفان لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ فإذا رَأَيْتُمْ ذلك فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا … … … [رواه البخاري ، واللفظ له ، ومسلم ومالك
       Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw. Lalu beliau salat bersama orang banyak. Beliau berdiri dan melamakan berdirinya kemudian rukuk dan melamakan rukuknya, kemudian berdiri lagi dan melamakan berdirinya, tetapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan melamakan rukuknya, tetapi tidak selama rukuk yang pertama, kemudian sujud dan melamakan sujudnya. Kemudian pada rakaat kedua beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama. Kemudian beliau menyudahi salatnya sementara matahari pun terang kembali. Kemudian beliau berkhutbah kepada jamaah dengan mengucapkan tahmid dan memuji Allah, serta berkata: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, salat dan bersedekahlah… … … [al-Bukhari, lafal ini adalah lafalnya, juga Muslim dan Malik].  
… … … فإذا رَأَيْتُمْ منها شيئا فَافْزَعُوا إلى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ [رواه البخاري ومسلم عن أبي موسى
Artinya: … … … Maka apabila kamu melihat hal tersebut terjadi (gerhana), maka segeralah melakukan zikir, do‘a dan istigfar kepada Allah [HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa].
Waktu Pelaksanaan Salat Kusufain
    Salat kusufain dilaksanakan pada saat terjadinya gerhana, berdasarkan beberapa hadis antara lain,
عَنِ الْمُغِيرَةِ بنِ شُعْبَةَ قال انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ يوم مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فقال الناس انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إبراهيم فقال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حتى يَنْجَلِيَ [رواه البخاري
        Artinya: Dari al-Mughirah Ibn Syu‘bah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim. Lalu ada orang yang mengatakan terjadinya gerhana itu karena meninggalnya Ibrahim. Maka Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakan salat sampai matahari itu terang (selesai gerhana) [HR al-Bukhari].
        Dalam hadis ini digunakan kata idz± (إذا) yang merupakan zharf zaman(keterangan waktu), sehingga arti pernyataan hadis itu adalah: Bersegeralah mengerjakan salat pada waktu kamu melihat gerhana yang merupakan tanda kebesaran Allah itu. Yang dimaksud dengan gerhana di sini adalah gerhana total (al-kus­f al-kulli), gerhana sebagian(al-kusuf al-juz‘i) dan gerhana cincin (al-kusuf al-halqi) berdasarkan keumuman kata gerhana (kusuf).
Ibn Qudhmah menegaskan, waktu salat gerhana itu adalah sejak mulai kusuf hingga berakhirnya. Jika waktu itu terlewatkan, maka tidak ada kada (qadha) karena diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakan salat sampai matahari itu terang (selesai gerhana). Jadi Nabi saw menjadikan berakhirnya gerhana sebagai akhir waktu salat gerhana … … … Apabila gerhana berakhir ketika salat masih berlangsung, maka salatnya diselesaikan dengan dipersingkat … … … Jika matahari terbenam dalam keadaan gerhana, maka berakhirlah waktu salat gerhana dengan terbenamnya matahari, demikian pula apabila matahari terbit saat gerhana bulan (di waktu pagi) [Al-Mughni, II: 145].
Imam ar-Rafi‘i menegaskan, Sabda Nabi saw Apabila kamu melihat gerhana, maka salatlah sampai matahari terang (selesai gerhana)menunjukkan arti bahwa salat tidak dilakukan sesudah selesainya gerhana. Yang dimaksud dengan selesainya gerhana adalah berakhirnya gerhana secara keseluruhan. Apabila matahari terang sebagian (baru sebagian piringan matahari yang keluar dari gerhana), maka hal itu tidak ada pengaruhnya dalam syarak (maksudnya waktu salat gerhana belum berakhir) dan seseorang (yang belum melaksanakan salat gerhana) dapat melakukannya, sama halnya dengan gerhana hanya sebagian saja (V: 340).
        Imam an-Nawawi (w. 676/1277) menyatakan, “Waktu salat gerhana berakhir dengan lepasnya seluruh piringan matahari dari gerhana. Jika baru sebagian yang lepas dari gerhana, maka (orang yang belum melakukan salat gerhana) dapat mengerjakan salat untuk gerhana yang tersisa seperti kalau gerhana hanya sebagian saja[Raudlat at-Thalibin, II: 86].
Orang Yang Melakukan Salat Gerhana
    Dari penegasan pada sub D di atas, maka dapat difahami bahwa salat kusufain dilakukan oleh orang yang berada pada kawasan yang mengalami gerhana. Sedangkan orang di kawasan yang tidak mengalami gerhana tidak melakukan salat kusufain. Dasarnya adalah hadis yang disebutkan terakhir [huruf D] di atas yang mengandung kata ra’aitum (‘kamu melihat’), yaitu mengalami gerhana secara langsung, serta kenyataan bahwa Rasulullah saw melaksanakan salat gerhana ketika mengalaminya secara langsung. Hal ini sesuai pula dengan interpretasi para fukaha bahwa apabila gerhana berakhir, berakhir pula waktu salat gerhana, dan apabila matahari tenggelam dalam keadaan gerhana juga berakhir waktu salat gerhana matahari. Tenggelamnya matahari jelas terkait dengan lokasi atau kawasan tertentu sehingga orang yang tidak lagi mengalami gerhana karena matahari telah tenggelam di balik ufuk, tidak melakukan salat gerhana. Begitu pula pula apabila gerhana bulan terjadi di waktu pagi menjelang terbitnya matahari, maka waktu salat gerhana bulan berakhir dengan terbitnya matahari. Ibn Taimiyyah (w. 728/1328) menegaskan,
فإن صَلاَةَ اْلكُسُوْفِ وَاْلخُسُوْفِ لاَ تُصَلَّى إِلاَّ إِذَا شَاهَدْناَ ذَلِكَ [مجموع الفتاوى ، 24: 258
Artinya: Sesungguhnya salat gerhana matahari dan gerhana Bulan tidak dilaksanakan kecuali apabila kita menyaksikan gerhana itu [Majmu‘ al-Fatawa, 24: 258].
        Perempuan juga ikut melaksanakan shalat gerhana karena keumuman perintah melaksanakan salat gerhana dalam hadis-hadis yang dikutip di atas. Wallahu a’lam bish-shawab.
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

sumber : tarjih.or.id

Visit Us


Top