Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Acara syukuran atau “slametan” bagi bangsa Indonesia, khususnya yang beragama Islam sudah begitu mendarah daging dan membudaya. Syukuran sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa seperti pindah rumah, punya anak, akan menikah dan masih banyak lagi contoh yang lain. Bahkan tidak jarang syukuran diadakan karena berhasil meraih jabatan yang diinginkan.
Sebelum lebih jauh diuraikan bagaimana upaya kita menjadi manusia yang bersyukur sesuai dengan parameter Rasulullah saw, perlu dipertanyakan terlebih dahulu, apakah jika seseorang memperoleh jabatan perlu mengadakan acara syukuran? Bukankah jabatan itu tugas dan amanah yang harus diperjuangkan dengan benar dan baik, agar pengembannya tidak berkhianat atau menyalahgunakannya. Maka yang lebih benar bukan mensyukuri datangnya jabatan agar tidak terkesan sebagai “hadiah” untuk menjadi kaya, melainkan perlu berdoa agar mampu beramanah dan mengoptimalkan kemampuan untuk bertugas. Jika ingin mengadakan syukuran lebih tepat dilaksanakan setelah melepaskan jabatan dan berhasil berprestasi dengan baik. Yang demikian ini lebih layak karena amanat selalu disumbang dari hasil dan prestasi yang dicapai.
Parameter syukur yang diajarkan oleh Rasulullah saw memiliki dua ciri khas, yang apabila dimiliki seseorang, ia akan tergolong bersyukur dan sabar. Sebaliknya jika kedua ciri itu tidak ada pada diri seseorang, ia termasuk orang yang dalam “catatan” Allah tidak bersyukur dan tidak bersabar. Kedua ciri itu adalah “Melihat urusan agama ke arah orang yang lebih agamis dari dirinya, kemudian selalu berupaya untuk meniru menjadi baik seperti orang tersebut. Yang kedua memandang urusan dunia (kekayaan) ke arah yang lebih bawah/miskin dari dirinya, kemudian dia mensyukuri kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya itu. Orang yang berperilaku demikian tergolong bersyukur dan sabar”.
Kebalikannya, adalah orang yang melihat dan membandingkan urusan agama ke arah yang agamanya kurang berkualitas dibanding dirinya dan melihat urusan dunia ke arah orang yang lebih tinggi (lebih kaya) kemudian dia menyesali keadaan dirinya. Di dalam catatan Allah, orang yang demikian bukan orang yang bersyukur dan bersabar, meskipun sering mengadakan acara syukuran.
Orang yang terbiasa melihat yang lebih rendah tingkatannya dari dirinya dalam urusan rizki, akan senantiasa merasa cukup dan kaya, kemudian bersyukur kepada Allah. Jika selalu melihat yang diatasnya bukan saja menjadi tidak bersyukur, tetapi juga tumbuh rasa iri dan dengki yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Rasulullah saw bersabda: Alhasadu ya’kulul hasawat, kamaa ya’kulunnarul khatab (menghasut berakibat memakan kebaikannya (pahala), seperti halnya api melahap kayu).
Dalam urusan keagamaan berlaku ketentuan yang sebaliknya. Sangat penting dan perlu bagi kita melihat orang yang lebih agamis dan berilmu agama lebih baik, sehingga mendorong kita berusaha meniru dan meningkatkan kualitas keagamaan. Jika dalam urusan keagamaan kita melihat ke arah yang lebih rendah, maka kita akan merasa lebih baik dan sombong. Itulah bibit tumbuhnya kesombongan dan perilaku tidak bersyukur, bahkan sampai menghina orang lain.

Marilah kita camkan baik-baik apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw tentang parameter syukur ini agar kita terhindar dari musibah dicabutnya nikmat-nikmat Allah dari kita. Nikmat yang sudah dicabut oleh Allah SwT karena kealpaan kita dalam bersyukur sangat jarang dapat kembali kepada kita lagi. Oleh karena itu dikatakan bahwa syukur itu pengikat nikmat, jika ikatan lepas nikmat akan lepas pula dari kita. Semoga kita menjadi hamba Allah yang bersyukur dan bersabar. [islamaktual/al-falah/m.taufiqAB]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top