Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Menjadi Pedanda (pendeta dalam agama Hindu) membuatku bergelut dengan ritual dan persembahan. Duduk bersila hingga merasakan melayang dengan membaca mantra, kebal dari bacokan dan tembakan, semua itu pernah aku rasakan. Sebagai orang yang sempat menjadi penganut agama tertua di dunia itu, aku tak hanya melakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi (sebutan bagi Tuhan dalam agama Hindu) namun juga mengakui keberadaan para dewa. Utamanya Trimurti yaitu tiga dewa yang menciptakan, memelihara, dan melebur.
Sejujurnya ada yang membuatku tak nyaman, yakni ritual yang aku lakukan. Menyembelih hewan namun tidak dimakan, diambil darahnya saja lalu melarungkannya. Hal itu sebetulnya meninggalkan gurat tanya dalam benakku. Untuk beribadah juga tidak mudah, harus ada bunga-bunga yang sempat kuyakini bahwa bunga itulah yang akan mengantarkan doaku. Saat pindah ke Surabaya dari Kediri, ibadahku mulai berkurang bahkan sampai aku tinggalkan. Hal itu dikarenakan sulitnya mendapatkan alat-alat untuk ritual.
Pernah bekerja di jasa pengamanan, membuatku berkesempatan mengawal acara Ramadhan pada tahun 2008. Aku bertugas mengawal tamu VIP dan bertemu dengan penceramah Aa Gym. dari acara itu aku diberi cinderamata berupa sepuluh buah al-Qur’an. Aku yang waktu itu menjadi koordinator lapangan, membagikan pemberian itu pada anak buah, namun menyisakannya satu untuk kubawa pulang. Sampai di rumah aku hanya memandangi kitab suci itu lalu menyimpannya.
Seiring bergulirnya waktu, ada angin yang membuatku tiba-tiba jatuh cinta dengan seruan adzan. Padahal dahulu aku sempat membenci suara adzan. Merasakan hal itu, aku berdoa pada Tuhan dengan bahasa agamaku yang lama agar dihilangkan kebingungan dan diberi jalan keluar. Jawaban datang melalui mimpi. Aku bermimpi bertemu dengan mantan bosku seorang Muslim, bernama Haji Adhie. Di mimpi itu aku diberi nasehat olehnya, dia mengatakan bahwa aku mendapat hidayah. Aku yang waktu itu tak tahu hanya berkata, siapa itu hidayah?
Ternyata hidayah bukanlah nama seseorang, melainkan petunjuk. Dari situ aku mulai memberanikan diri untuk pergi ke masjid, juga menegunjungi kyai untuk blajar shalat dan mengaji. Pernah mengikuti gerakan shalat Jumat di masjid, aku merasakan ketenangan dalam batin. Jalanku menuju pintu Islam telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SwT. Terbukti saat aku makan siang di warung pinggir jalan, aku bertemu seseorang dan mengobrol dengannya.
Rupanya orang itu adalah takmir masjid. Ia bercerita bahwa di masjid tempatnya mengabdi menyediakan fasilitas bimbingan mualaf. Masjid itu bernama Al falah, dan lokasinya ternyata di depan warung tempat aku makan. Aku tak mengira sebelumnya bahwa itu adalah sebuah masjid. Aku disarankan ke sana menemui ustadz jika aku berkeinginan untuk mendalami Islam.
Tekadku semakin bulat untuk masuk islam. Di akhir 2010 aku memutuskan untuk berikrar mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Al-Falah. Setelah resmi menjadi mualaf, aku belajar mengenai akidah, juga belajar tata cara ibadah di Masjid Al-Falah. Segala hal yang membuatku penasaran juga aku tanyakan dan alhamdulillah dijelaskan dengan baik oleh ustadz yang membimbingku. Aku juga diajak untuk shalat malam dan menemukan ketenangan dari itu.
Pulang ke kampung halaman, aku mulai berani untuk menunjukkan bahwa aku sudah masuk Islam ke keluarga. Memang dahulu keluarga sempat bangga karena aku menjadi pemuka agama di Hindu, namun alhamdulillah tidak ada pertentangan saat aku memutuskan masuk Islam. Bahkan aku sangat bersyukur, ibu dan adikku juga mengikuti jejakku masuk Islam. Mungkin melihat perubahanku dari yang keras kepala menjadi sabar setelah masuk Islam, keluargaku akhirnya ikut nyaman setelah mengetahui bagaimana ajaran Islam. Setelah masuk Islam, kami tahu posisi diri sebagai manusia. Bagiku Islam itu mengatur semuanya dan apa yang kita cari semuanya ada. Mulai dari tata cara ibadah yang harus suci sebelum menghadap Tuhan, tata cara makan, cara berintraksi sosial, semua diatur dalam Islam. Bahkan segala aspek kehidupan ada dalam Islam.

Alhamdulillah, telah dua kali Idul Fitri kami lewati dan keyakinan kami semakin kuat. Jiwa sosialku pun semakin meningkat. Sekarang aku aktif di berbagai kegiatan sosial, kegiatan sedekah, pembinaan mualaf, juga menangani anak-anak yatim. Harapanku ke depan adalah lebih istiqamah dalam ibadah, ingin lebih bermanfaat, dan bisa menularkan ilmu yang didapat. Aku juga punya keinginan membuat tempat pengajian untuk anak-anak di kampung halaman. Yang terakhir, semoga kelak aku dapat pergi berhaji. [islamaktual/al-falah/narko]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top