Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam riwayat lain, dijelaskan tentang seorang yang ditugaskan oleh Rasulullah saw.
Dari Abi Humaid al-Sa’idi diberitakan kepadanya bahwa Rasulullah mempekerjakan seseorang untuk mengumpulkan zakat pada suatu daerah. Setelah kembali dari tugasnya, ia menyerahkan harta zakat yang sudah terkumpul kepada Rasulullah sw. Ia menjelaskan bahwa ada bagian hadiah yang diberikan masyarakat kepadanya. Setelah mendengarkan, Rasulullah saw. memberikan respons dengan mengajukan pertanyaan apakah kalau kamu duduk saja di rumah orangtuanya, kamu akan mendapatkan hadiah? Selanjutnya Rasul saw dengan tegas menyatakan ancaman terhadap orang tersebut bahwa nanti di hari kiamat ia akan menggendong di pundaknya semua yang ia terima. Jika hadiah itu kambing, maka ia akan mengembik, jika hadiahnya sapi, maka ia akan melenguh. Aku sudah sampaikan. (al-Bukhari, op.cit., juz 4 h.2870-2871; Muslim, op.cit., juz 3 h. 1463; Abu Dawud, ibid., juz 3 h. 134-135; al-Darimi, op.cit., juz 1 h.394, dan Ahmad ibn Hanbal, op.cit., juz 5 h.423. Uraian lebih luas dapat dilihat dalam al-Shiddiqi al-Syafi’i, Dalil al-Filihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin, jilid 1, juz 2 h. 344-347).
Dalam hadits di atas tidak dijelaskan ancaman pidana yang akan diterima oleh penerima gratifikasi, akan tetapi Rasul dengan tegas memerintahkan untuk mengembalikan kepada negara semua yang telah diterimanya yang dianggap sebagai hadiah untuknya. Disamping itu, ada ancaman hukuman di akhirat kelak, si penerima gratifikasi akan menanggung di pundaknya semua yang diterimanya.
Menurut al-Nawawi pernyataan Rasul saw itu menunjukkan bahwa haram hukumnya mengambil hadiah dan berkhianat (ghulul) dalam pelaksanaan tugas. Keharaman itu disebabkan ada kaitannya dengan pelaksanaan tugas, karena terdapat penyelewengan terhadap kekuasaan dan kepercayaan yang telah diberikan (Muhy al-Din Abu Zakariyya al-Nawawi, Shahih Muslim ‘ala Syarh al-Nawawi, [Beirut: Dar al-Fikr, 1981 M./1401 H.] juz 12, h.219).
Hadiah terkait tugas akan membawa pengaruh terhadap pelaksanaan tugas, bahkan dapat membawa kepada pelalaian tugas akan berorientasi pada hadiah. Pegawai yang sudah atau dijanjikan mendapatkan hadiah, mungkin akan bekerja sesuai dengan pesanan pemberi hadiah.
b. Hadiah kepada Hakim
Hadiah untuk Hakim, terutama yang sedang menangani kasus termasuk risywah, karena orang yang memberi hadiah setelah hakim menangani kasusnya pasti pemberian hadiah itu mengandung maksud tertentu. Hadiahnya itu dimaksudkan untuk melakukan pendekatan personal kepada hakim, menghormatinya atau menguntungkn dirinya.
Oleh sebab itu, ancaman yang ditujukan kepada pelaku risywah terlihat sangat tegas dalam Hadits berikut:
‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: Rasulullah melaknat orang yang menyogok (memberi suap) dan orang yang disogok (menerima sogokan). (Abu Dawud, Aqdiyah, no. 3109; al-Turmudzi, Ahkam, no. 1257; Ibn Majah, Ahkam, no. 2304).
Kata “la’ana” dalam Hadits bermakna jauh dari rahmat Allah. Sedangkan kata “rasyii” adalah orang yang memberikan suap/sogokan kepada seseorang untuk memuluskan urusan atau untuk mengaburkan putusan hukum.  Rasyi adalah orang yang memberikan hadiah untuk menjadikan yang salah tidak salah atau yang tidak berhak menjadi berhak (Abu al-’Ula Muhammad ‘abd al-Rahman ibn ‘Abd al-Rahim al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Turmuzi, juz 4, Beirut, dar al-Kutub al-’ilmiyyat, t.t. h.471). Sedangkan kata ‘murtasyi’ dalam Hadits berarti orang yang mengambil sogokan (Muhammad ‘Abd al-’Aziz al-Khuli, Adab al-Nabawi, Beirut, Dar al-Fikr, t.t., h.300).
Lata Risywah berasal dari bahasa Arab Rasya-yarsyu-risy-watan yang berarti sogokan, bujukan, suap, uang pelicin. Biasanya risywah ini memiliki makna memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya atau menghindarkan dari kewajiban yang harus dilaksanakan atau ditanggungnya. Dapat juga bermakna memberikan sesuatu kepada seseorang untuk membatalkan yang benar atau untuk membenarkan yang batal (al-Kahlani, op.cit., juz 4 h.124).
Di dalam al-Qur’an (Qs. al-Baqarah [2]:188) Allah dengan tegas melarang seseorang memakan sesuatu yang bukan haknya dengan cara yang batil (tidak benar) dan melarang orang membawa perkara kepada hakim dengan tujuan untuk mendapatkan harta orang lain dengan jalan berbuat dosa.
Secara tegas dalam Hadits larangan memberikan sogokan (supa, uang pelicin) dan menerima sogokan. Dalam riwayat lain ada pembatasan Hadits dengan kata “fi al-hukm” di ujung Hadits (Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi yang menurut at-Turmudzi kualitasnya Hasan Sahih), dengan penambahan dimaksud memberikan batasan kepada risywah yang berkaitan dengan masalah hukum saja. Namun jika dilihat dari pengaruhnya terhadap tugas yang ditimbulkan oleh adanya uang atau materi yang tidak legal yang berkaitan dengan tugas, maka larangan secara umum lebih dapat diterima. Akan tetapi pengaruh suap pada bidang hukum jauh lebih besar, karena dapat membuat hakim memutarbalikkan masalah dari fakta yang sebenarnya.
Sedangkan dalam Hadits riwayat Ahmad ada tambahan kata “al-raisy” setelah kata al-murtasyi orang yang menjadi perantara antara orang yang memberi dan menerima sogokan (Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Syaukani, Nail al-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbar min Ahadits Sayyid al-Akhyar, jilid 4 juz 9, Beirut: Darul Fikr, t.t h 158). Perantara ini cukup dominan memperlancar terjadinya sogok/suap bagi orang yang memberi suap dan penerima suap.
Oleh sebab itulah, orang yang memberi dan menerima risywah mendapatkan laknat dari Allah dan Rasul serta orang lain, karena pemberi risywah mendorong penerima melalaikan tugasnya sebagai penegak kebenaran; memudahkannya memakan sesuatu yang bukan milik secara batil; menumbuhkan perilaku tercela; membantu hakim mengambil keputusan hukum yang tidak benar. Sedangkan penerima sogokan mendapatkan laknat, karena mengambil harta orang lain secara tidak benar dengan menerima sogokan; dan menghalangi orang berhak mendapatkan haknya, atau membebaskan orang dari kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya (Al-Khuli, op.cit., h 301). Risywah dengan demikian haram bagi seorang hakim, karena berimplikasi pada penjatuhan hukuman secara tidak benar (Al-Shan’ani, op.cit., juz 4, h 124-125), berpihak dan tidak profesional (Al-Khuli, op.cit., h 301).
Hukum risywah adalah haram, karena dengan risywah tersebut seorang hakim akan menafikan keprofesionalan, tugas dan tuntunan serta tuntutan agama, ia bekerja sesuai dengan pesanan yang membayar, meskipun harus melawan hati nurani dan menzalimi pihak lain. Meskipun dalam Hadits tidak dijelaskan ancaman hukuman fisik akan tetapi dengan kata la’nat yang merupakan hukuman yang berat apabila dikaitkan dengan kehidupan yang jauh dari rahmat Allah.
Kesimpulan

Dari uraian tentang gratifikasi berdasarkan perspektif Hadits di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, Islam melarang dan mengharamkan korupsi/gratifikasi, karena ada penyalahgunaan wewenang di dalamnya, bahkan memutarbalikkan fakta. Kedua, Rasul saw memutuskan bagi orang yang menerima sesuatu yang bukan haknya agar mengembalikan yang telah diterimanya kepada negara. [islamaktual/sm/hj.enizar]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top