Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Penyimpangan fundamental Syi’ah dari ajaran Islam yang haq -selain masalah tahrif (reduksi, interpolasi) al-Qur’an- adalah penilaian buruk mereka terhadap para sahabat Nabi. Penilaian negatif tersebut mulai dari cacian, pendiskreditan, hingga pengkafiran terhadap mereka. Oleh sebab itu, menurut Dr. Hamid Muhammad al-Khalifa, wajib hukumnya secara ilmiah dan syar’i kita mendustakan dan mematahkan asumsi-asumsi kelompok yang mendiskreditkan para sahabat Nabi. Bahkan hal itu menjadi kebutuhan mendesak (lihat al-Mawqif min at-Tarikh al-Islami wa Ta’shil al-Huwiyyah, hal 87). Singkat kata, darurat moral dan ilmiah untuk menelanjangi syubhat dalil ala Syi’ah ini.
Jalaluddin Rakhmat, misalnya, menyatakan bahwa keadilan sahabat itu bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah Nabi, Fakta Sejarah, dan Akal Sehat. Sebelumnya ia mengklaim bahwa ahlusunnah memaksumkan para sahabat Nabi (40 Masalah Syi’ah, hal.74), tapi tak lama berselang ia mengatakan keadilan sahabat itu bertentangan dengan 4 hal (40 Masalah Syi’ah, hal 76), yang menunjukkan dirinya tidak konsisten menggunakan istilah.
Syubhat yang dilontarkan JR terkait al-Qur’an dan Sunnah sangat jelas untuk disingkap kerancuan dan kedustaannya. Karena kebencian dan kedengkiannya kepada sahabat Nabi yang menjadi penghubung ajaran Islam antara Nabi Muhammad saw dengan umatnya. JR secara vulgar dan terang-terangan menghukumi sahabat, bahkan secara mutlak; adalah orang-orang munafik dan kafir. JR menyatakan dengan tegas dalam tulisannya, “Di dalam al-Qur’an ada banyak ayat yang mengecam sahabat-sahabat Nabi saw, sebuah surah turun khusus untuk membongkar dan mengecam para sahabat Nabi saw. Kita menyebutnya surah at-Tawbah. Nama lainnya adalah al-Fadhihah, al-Muqasyqisyah, dan al-Mu’abbirah.”
Padahal ciri-ciri kemunafikan dan perangai kaum munafik sangat jelas dibedakan dengan kelurusan iman dan akhlak para sahabat Nabi, apalagi jika diasosiasikan label munafik itu kepada para sahabat besar seperti 10 orang yang dijanjikan masuk syurga oleh Rasulullah saw. Begitu pula sahabat masyhur lainnya seperti Abdullah ibn Mas’ud, Bilal ibn Rabah, Hudzaifah ibn al-Yaman dan lain-lain.
Demikian pula, JR menyoroti pasukan muslim yang lari dari Perang Uhud sebagaimana dikisahkan dalam surah Ali Imran ayat 153. Namun, JR dengan sengaja tidak mengutip ayat 155 dalam surah yang sama yang isinya; Allah telah memaafkan mereka. Juga surah al-Jumu’ah ayat 11 yang turun di awal periode Madinah, ketika itu sebagian sahabat yang baru mengenal Islam, pergi meninggalkan khutbah Rasul, oleh sebab itu turunlah ayat itu untuk mendidik dan mengasah para sahabat Nabi.
Salah satu syubhat Syi’ah untuk meruntuhkan keadilan sahabat adalah Hadits telaga yang populer. Hadits tersebut digunakan untuk membantah soal keadilan para sahabat.
Pengkafiran Sahabat Dalam Tafsir Syi’ah
Tujuan Syi’ah melontarkan doktrin pemalsuan (tahrif) al-Qur’an untuk menyerang karakter kesalehan para sahabat Nabi dan menegaskan akidah imamah mereka. Doktrin imamah Syi’ah ditegakkan di atas doktrin-doktrin rusak. Salah satu di antaranya adalah doktrin bahwa sahabat Nabi telah kafir (takfir shahabah). Alasannya, meyakini kesalehan dan kelurusan iman para sahabat yang senantiasa konsisten menaati perintah Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal adalah argumentasi kuat yang otomatis meruntuhkan pondasi doktrin imamah. Karena jika imamah memang benar telah diwasiatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka pastilah sahabat Nabi akan tunduk menaati ‘ketetapan suci’ tersebut dikarenakan kelurusan iman mereka. Fakta bahwa mereka yang terkenal dengan kelurusan imannya itu memilih imam kaum muslimin berdasarkan syura dan bai’at, bukan dengan sistem teks wasiat dari Rasul, memastikan bahwa hal tersebut memang tidaklah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam al-Qur’an dan Sunnah.
Pengkafiran terhadap sahabat nabi bagi Syi’ah adalah conditio sine quanon (pra-syarat mutlak) dari adanya doktrin imamah yang menyimpang. Sebab bagi Syi’ah, konsep teks wasiat imamah adalah niscaya (dharuri), maka otomatis 3 khalifah pertama dan para sahabat yang membaiatnya divonis kafir karena dianggap menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika ada seorang Syi’ah membenarkan dan mengakui keabsahan kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum, maka otomatis ia telah mengakui kebatilan konsep imamah Ali dan keturunannya yang konsekuensinya adalah kafir menurut ijma’ sekte itsna ‘asyariah.
Konsep imamah Syi’ah meniscayakan pengkafiran sahabat, meski untuk tujuan tersebut mereka sampai menuduh al-Qur’an telah dikurangi atau dirubah oleh para sahabat Nabi. Sebagaidampak lanjutannya, mereka mengalihkan makna setiap ayat yang memuji para sahabat nabi, sembari memberikan muatan makna kafir, munafiq, fasiq, musyrik, sesat, zalim, maksiat, lalu disematkan untuk para sahabat nabi. Sehingga term kafir ditafsirkan sebagai mengingkari imamah Ali; musyrik diartikan sebagai menyekutukan atau menduakan Imam Ali dengan imam lainnya; munafiq dipahami sebagai bermuka dua terhadap imamah Ali; zalim berarti menzalimi hak-hak keluarga nabi, dan seterusnya.
Prof. Dr. Muhammad Husein al-Dzahabi menulis bahwa salah satu prinsip penafsiran yang dipegang oleh kelompok imamiyah adalah: pertama, teori 2 tingkatan makna al-Qur’an antara yang zhahir (eksoteris) dan yang bathin (esoteris). Meski teori 2 tingkatan makna zhahir dan bathin ini juga diakui oleh sebagian ahli tafsir sunni, namun berbeda dari mereka, kelompok Syi’ah Imamiyah melampaui teoritisasi sunni dan mengklaim bahwa makna zhahir al-Qur’an di sisi Allah adalah dakwah kepada Tauhid, Kenabian dan Risalah, sedangkan makna bathinnya adalah seruan kepada wilayah dan imamah Ahlulbait. (Lihat At Tafsir Wa Al Mufassirun, vol.2/22-23)
Selain prinsip tafsir di atas, menurut Prof. adz-Dzahabi, kelompok imamiyah dalam upaya menyuntikkan doktrin imamah versi mereka, juga meyakini dua prinsip lainnya, yaitu: (a) seluruh isi al-Qur’an atau sebagian besarnya adalah turun berkaitan langsung dengan imam-imam mereka yang berjumlah 12 orang dan mengecam lawan dan musuh-musuh mereka yang telah merampas hak imamah dari Ahlulbait, dan (b) klaim mereka bahwa al-Qur’an telah mengalami tahrif dan perubahan dari wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. (ibid, vol.2/22)
Teori Dua Tingkatan Makna Al-Qur’an yang Zhahir dan Bathin
Kaum Syi’ah berkeyakinan bahwa al-Qur’an mempunyai makna tersurat (zhahir). Manusia hanya bisa mengetahui makna lahirnya saja, sedangkan makna bathinnya hanya bisa diketahui melalui penuturan dan ajaran imam-imam mereka yang dimaksumkan oleh Syi’ah.
Dengan paham seperti ini, Syi’ah telah membuka pintu zindiq, atheis dan aneka kesesatan dengan cara mempermainkan al-Qur’an. Mereka sibuk dengan teori makna zhahir dan bathin ini. Melalui konsepsi ini, Syi’ah berusaha menafsirkan al-Qur’an agar sesuai dengan keyakinan mereka demi menopang teologi imamah. Dengan metode ini, mereka juga leluasa menjadikan al-Qur’an sebagai senjata untuk menyerang dan melukai para sahabat nabi sambil mengagung-agungkan ahlulbait dan mengalamatkan segala sesuatu kepada ahlulbait padahal mereka sendiri menentang hal tersebut.
Syi’ah Rafidhah menyebarkan tafsir yang berlawanan dengan kaidah-kaidah tafsir sehingga bertolak belakang dengan akal, bahasa dan logika. (lihat Dirasah ‘an Al Firaq fi Tarikh Al Muslimin, hal.233-234)
Akar metode tafsir makna bathin (tersirat) yang merebak di kalangan Syi’ah Imamiyah Rafidhah dapat ditelusuri jejaknya dari upaya Abdullah ibn Saba’ untuk mencari sandaran al-Qur’an dalam mendukung kepercayaannya tentang ar-Raj’ah (hidup kembali setelah mati) dengan melakukan penafsiran kebatinan.
Ibn Saba’ misalnya menyatakan, “Sungguh mengherankan orang yang percaya Isa akan kembali ke dunia tetapi tidak percaya Muhammad akan kembali, padahal Allah berfirman, “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”. (al-Qashash:85)”
Demikian pula dengan tafsir ayat yang berbicara tentang umat nabi terdahulu, “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepasa manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.” (QS. al-A’raf:159) secara batin ayat ini menunjuk kepada umat Islam yang setia kepada Ahlulbait yang dengannya mereka dapat memberi petunjuk Allah. Padahal zhahir ayat itu adalah pelajaran dari kaum Musa bahwa diantara Bani Israil ada yang mendapat petunjuk dari Allah.
Juga ayat berikut ini, “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (al-Insyiqaq:19) menurut sebagian mufassir mereka, ayat ini mengisyaratkan bahwa umat Islam akan menempuh jalan umat-umat terdahulu yang telah mengkhianati para penerima wasiat dari nabi mereka. Padahal ayat itu berbicara tentang tahap demi tahap penciptaan manusia, mulai dari nutfah, ‘alaqah, mudghah, ruh, hidup dan mati, lalu kebangkitan dari alam kubur menuju akhirat.
Beberapa kitab Ahlussunnah menyebutkan contoh-contoh penafsiran Syi’ah Imamiyah terhadap kitab Allah. Namun yang ditemukan pada masa kini lebih membahayakan akidah, pemikiran dan kebudayaan umat Islam.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari (dalam kitab Maqalat al-Islamiyyin 1/73), Abdul Qahir Al-Baghdadi (dalam kitab Al-Farq bayna al-Firaq h.24) dan As-Syahrastani (dalam kitab al-Milal wa an-Nihal 1/177), dan yang lainnya meriwayatkan dari al-Mughirah ibn Said, ia telah menafsirkan kata ‘setan’ dalam firman Allah “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketia Dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, Maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” (al-Hasyr:16) sebagai Umar ibn al-Khattab RA.
Penafsiran semacam ini diadopsi para ulama Syi’ah Imamiyah dan direproduksi dalam kitab-kitab mereka yang terpercaya. Hal ini dapat ditemukan dalam Tafsir al-Iyasyi (vol.2/223), Tafsir ash-Shafi, Tafsir Al-Qummi (vol.3/84), Tafsir al-Burhan (vol. 2/309) dan Bihar Al Anwar (vol. 3/378).
Diriwayatkan dari Abu Ja’far ihwal firman Allah “Dan berkatalah setan tetkala perkara hisab telah diselesaikan” (Ibrahim:22), ia (setan) adalah si orang kedua (maksudnya Khalifah Umar, khalifah kedua). Dan setiap kali dalam al-Qur’an disebut “wa qala Asy syaithan”, pastilah artinya si orang kedua (Umar). Kitab-kitab Syi’ah itsna asyariah pun mendukung kelompok al-Mughiriyah dengan menetapkan penyimpangan terhadap kitabullah itu sebagai akidah yang diyakini. (lihat Ushul As Syi’ah Al Imamiyah vol. 1/206).
Riwayat-riwayat yang didukung kitab-kitab Syi’ah itsna asyariyah hingga Abu Ja’far al-Baqir ini merupakan kebohongan-kebohongan al-Mughirah ibn Sa’id dan orang semisalnya. Imam adz-Dzahabi menyebutkan dari Katsir an-Nuwa’ (seorang tokoh Syi’ah, menurut salah satu riwayat; dia telah keluar dari Syi’ah) bahwa Abu Ja’far mengatakan “Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari Al-Mughirah ibn Said dan Bayan bin Sam’an karena keduanya telah berbohong atas nama kami Ahlulbait.” (Lihat Mizan Al Itidal, vol.4/161)
Al Kisyi meriwayatkan dari Abu Abdillah mengatakan “semoga Allah mengutuk Al Mughirah ibn Said karena ia telah berbohong atas nama kami”. (lihat Rijal Al Kisyi hal.195) dan ia menyebutkan banyak riwayat tentang ini.
Demikian pula Imam al-Asy’ari, Al-Baghdadi, Ibn Hazm dan Nasywan al-Himyari (lihat Maqalat Al Islamiyyin, 1/73, Al Farq bayna Al Firaq hal 242, Al Muhalla 5/44, dan Ushul As Syi’ah 1/207) sepakat  bahwa Jabir al-Ju’fi yang meletakkan pondasi penafsiran Syi’ah berdasarkan paham tersirat (bathin) itu adalah penerus Al-Mughirah ibn Sa’id yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata “setan” di dalam al-Qur’an adalah Amirul Mukminin Umar ibn Khattab RA. Semua itu sangat berbahaya dan ikut andil dalam kerusakan paham Syi’ah. (lihat ushul as-Syi’ah 1/208)
Berikutnya, tafsir bathin ini dilanjutkan oleh Ibn Muthahhar Al Hilli (w. 726 H) yang mengemukakan dalil tentang hak Ali atas imamah dengan perkataannya: “Bukti ketiga puluh adalah firman Allah “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing” (ar-Rahman:19-20) ia menafsirkan bahwa keduanya adalah Ali dan Fathimah, sedangkan antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing, maksudnya adalah Nabi Muhammad saw. Sementara ayat dari keduanya keluar mutiara da marjan (ar-Rahman:2) ia tafsirkan sebagai Al Hasan dan Al Husain.
Ketika Ibn Muthahhar mengemukakan ini, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (661-728 H) berkomentar, “perkataan ini dan semisalnya hanya dilontarkan orang yang tidak memahami apa yang dikatakannya. Sepintas ia seperti penafsiran al-Qur’an padahal ini sejenis tafsir kaum atheis, qaramithah dan batiniyah terhadap al-Qur’an. Bahkan lebih buruk lagi, tafsir seperti ini merupakan salah satu penjelek-jelekan terbesar terhadap al-Qur’an”. (lihat Minhaj As Sunnah, vol. 4/66)
Kesesatan Takwil Batini Aliran Syi’ah
Dr. Ali M. Al-Shallabi memberikan contoh-contoh kesesatan Syiah rafidhah dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menerapkan paham tersirat (bathin) terhadap penafsiran al-Qur’an dalam hal berikut ini (lihat Fikr Al Khawarij wa As Syi’ah fi Mizan Ahlissunnah wal Jama’ah, hal 266-268):
  1. Menyimpangkan Makna Tauhid yang Menjadi Pondasi Dasar Agama Menjadi Makna lain, yaitu Kewalian Imamah
Diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia mengatakan, “Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, pastilah dengan membawa kewalian kami dan berlepas diri dari musuh kami, dan hal tersebut adalah firman Allah SwT dalam kitabnya “dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (an-Nahl:36) Artinya, riwayat ini ingin menyatakan bahwa kedudukan wilayah/imamah para imam Syi’ah adalah sepadan dengan tauhid dan menyembah Allah, dan para penentang imam adalah thaghut yang wajib dijauhi. (lihat Tafsir Al Iyasyi vol. 2/261 dan Tafsir Al Burhan vol. 2/373)
  1. Menyimpangkan Makna Allah menjadi Makna Imam
Ihwal firman Allah, “Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; Sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut” (an-Nahl:51), Abu Abdillah menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah jangan angkat dua imam karena imam itu hanya satu orang saja. (lihat Tafsir Al Burhan vol. 2/373, dan Ushul As Syi’ah vol. 1/209)

Oleh sebab itu, maka siapa saja yang mencela dan merendahkan para sahabat nabi, ia telah mendustakan nash-nash dari dalil yang qoth’i, baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Hanya orang zindiq yang hendak menghancurkan sendi-sendi Islam, yaitu risalah Nabi; Al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka itulah yang mendustakan kemuliaan dan kesalehan para sahabat Rasul karena mereka adalah mata rantai agama kepada ummat Rasulullah saw yang terpercaya. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Abu Zur’ah al-Razi yang dikutip oleh al-Khatib al-Baghdadi dan ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab al-Ishobah fi Tamyiz Al Shahabah, vol. 1/10. Wallahu a’lam bi-l-shawab. [islamaktual/tabligh/fahmisalim]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top