Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Orang-orang Liar, Tahanan dan Perubahan Sejarah


Setiap kali membaca atau mempelajari sejarah, biasanya kita berpikir tentang orang-orang yang hebat, para pemimpin, atau very important person yang menggerakkannya. Secara umum sejarah memang hampir selalu diwakili oleh sosok-sosok semacam ini. Namun, ada kalanya perubahan sejarah justru dipelopori oleh orang biasa-biasa saja, malah oleh mereka yang terlibat kejahatan.
Beberapa peristiwa penting dalam sejarah dunia justru dimulai oleh orang-orang yang tidak disiplin dan cenderung liar, bahkan juga oleh para tahanan. Berikut ini kami paparkan tiga contoh penting dalam sejarah masyarakat Eropa.
1. Perang Salib I
Pada bulan November 1095 di Clermont, Perancis, Paus Urbanus II mengumumkan Perang Salib untuk membantu orang-orang Kristen Timur dari ancaman Turki Saljuk dan untuk membebaskan Yerusalem dari penguasaan kaum Muslimin. Seruan ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Perancis dan Eropa lainnya. Para bangsawan dan masyarakat kecil berbondong-bondong menyatakan sumpah untuk berangkat ke Syria. Semangat menyambut seruan perang suci (holy war) dan membebaskan diri dari dosa memang merupakan motif penting yang mendorong orang-orang pergi keluar dari kampung halamannya menuju negeri yang sangat jauh untuk berperang dengan orang-orang Islam. Namun demikian, sambutan terhadap Perang Salib barangkali tidak akan sebesar itu sekiranya diumumkan pada waktu yang berbeda.
Beberapa buku menyebutkan bahwa kondisi Prancis dan bagian Eropa Barat lainnya ketika itu tidak terlalu bagus. G.G. Coulton dalam bukunya Crusades, Commerce and Adventure menyebutkan bahwa masyarakat Perancis pada masa itu sedang dalam masalah serius. Mereka terlibat dalam konflik yang parah, ‘perampokan kerap terjadi, dan jalan-jalan dipenuhi pencuri.’ Konflik dan pembakaran jadi pemandangan umum. Orang-orang akan merampas hak pihak lain setiap kali mereka memiliki kesempatan. Dilihat dari sisi ini, Paus sebenarnya telah berperan dalam mengalihkan ’energi yang berlebihan’ masyarakat Eropa kepada orang-orang Turki dan Arab di Syria (Suriah) sana.
Antony Bridge dalam The Crusades menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menggalang massa di Perang Salib I sebagian disebabkan oleh keadaan yang sulit. ’Wabah menyerang Eropa sejak 1083, banjir demi banjir menyapu Perancis dan Jerman pada tahun 1094, menghancurkan panen, dan pada tahun berikutnya terjadi kekeringan; dampaknya adalah kelaparan yang luar biasa.’ Orang-orang Eropa bisa menjadi sangat buas di masa kelaparan, sampai ke tingkat yang memungkinkan beberapa dari mereka melakukan kanibalisme, membunuh dan memakan daging manusia lain. Kota-kota dipenuhi para pengemis yang tidak punya penghasilan dan tak ada tempat tinggal. Di samping semua itu, Bridge juga mengemukan fenomena perampokan dan perampasan yang umum terjadi sebagaimana dijelaskan Coulton di atas.
Orang-orang inilah yang menjadi rombongan pertama Perang Salib, dipimpin oleh Peter the Hermit. Jumlah mereka mencapai tiga ratus ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak, terdiri dari orang-orang Perancis dan Jerman. Saat berangkat melewati kota-kota besar Jerman, tabiat buruk para peziarah ini muncul dan korban pertama pun berjatuhan: orang-orang Yahudi. Para peziarah ini miskin dan kesusahan, sementara orang-orang Yahudi Jerman – yang nenek moyangnya dipandang sebagai pihak yang menyalib Yesus – kaya raya. Tanpa bisa dihalangi oleh pemimpin Katholik sendiri, orang-orang Yahudi ditangkap, dibunuh, dan dirampas hartanya oleh para peziarah.
Persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Saat melalui Hunggaria, mereka dilayani dengan baik oleh penduduk setempat yang juga beragama Kristen (walaupun beraliran Ortodoks). Namun kekacauan kembali terjadi. Para peziarah ini mulai menyerang penduduk setempat, menjarah dan membakar pasar mereka. Peter the Hermit dan beberapa pemimpin Katholik yang membawa para peziarah ini tidak bisa menahan kerumunan yang terlalu besar dan tak disiplin ini. Penduduk yang diserang tentu saja lari dan tak mampu menghadapi orang-orang yang menyerang mereka. Namun, mereka segera berhimpun dengan warga di kota lain dan melakukan perlawanan sengit saat para peziarah lewat di kota tersebut. Kini para peziarah mulai merasakan akibat perbuatan mereka. Sebagian dari mereka lari pulang ke negeri mereka. Beberapa konflik masih terjadi di beberapa tempat yang mereka lalui, hingga pada saat mereka melewati pegunungan Thrace dan mendapat pengawalan dari pasukan Byzantium jumlah mereka sudah kurang dari separuhnya.
Kaisar Byzantium kemudian menempatkan mereka di luar kota Konstantinopel. Mereka disarankan untuk menetap dulu sampai pasukan yang lebih lengkap datang dan mereka bisa pergi bersama-sama menghadapi orang-orang Turki. Tapi orang-orang ini kembali membuat ulah. Mereka mulai mencuri di pasar dan rumah penduduk serta mengambil beberapa bagian bangunan gereja untuk dijual. Keadaan ini membuat kaisar mendorong mereka untuk segera menyeberangi Selat Bosporus dan pergi memasuki wilayah Muslim. Angkatan pertama Perang Salib ini akhirnya menerima nasib yang buruk di tangan pasukan Turki. Mereka dihancurkan dan yang tersisa lari dalam keadaan tercerai berai; misi mereka gagal total.
Pasukan salib berikutnya yang lebih disiplin baru berangkat beberapa bulan kemudian, dan mereka berhasil menguasai Yerusalem dan beberapa kota di sekitarnya. Sikap para tentara salib yang pergi belakangan ini lebih baik terhadap saudara-saudara Kristen mereka di Eropa Timur, tapi saat menghadapi kaum Muslimin, mereka tidak lebih manusiawi dari rekan-rekan mereka yang berangkat pertama kali. Mereka membunuhi Muslim dalam jumlah sangat banyak di kota-kota yang mereka kuasai. Dan saat menguasai kota Ma’arrat al-Nu’man dan terserang kelaparan, mereka mengeluarkan isi perut orang-orang Islam, mengiris daging-daging mereka, kemudian memanggang dan memakannya.
Demikianlah Perang Salib telah dimulai dengan gerombolan orang-orang Eropa Barat yang sangat buruk perangainya, bahkan terhadap rekan-rekan seagama mereka sendiri. Kini kita akan melihat contoh yang kedua.
2. Penemuan Benua Amerika
Pada tahun 1492, kira-kira setengah tahun sejak dikuasainya Granada oleh Kerajaan Aragon dan Castile, seorang pria kelahiran Genoa, Italia, berhasil mewujudkan rencananya melakukan ekspedisi laut ke India melalui jalur Barat. Ya, pria itu adalah Christoper Colombus. Ia tidak berhasil mencapai India dalam ekspedisinya tersebut. Namun, apa yang berhasil ditemukannya jauh lebih penting bagi Eropa. Colombus telah ‘menemukan’ sebuah dunia baru (a new world); ia menemukan benua Amerika. Sejak saat itu, orang-orang Eropa mengumumkan Colombus sebagai orang pertama yang menemukan benua Amerika, walaupun belakangan hal ini mulai dibantah. Laksamana Cheng Ho disebut-sebut telah tiba di benua tersebut lebih dari setengah abad sebelum ekspedisi Colombus.
Mari kita lupakan dulu soal siapa yang lebih dulu tiba di benua Amerika. Dalam upaya mewujudkan impiannya, Colombus menghadapi banyak kendala. Banyak orang Eropa masih percaya bahwa bumi itu datar. Tidak satu pelaut pun yang tertarik untuk berlayar ke Barat mengarungi Atlantik. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan mereka dapati di ujung Barat samudera itu. Itu merupakan ide yang gila; ide gila yang sama sekali tidak menimbulkan decak kagum, malah justru mengundang celaan dan tertawaan. Tapi Colombus percaya kalau bumi berbentuk bulat dan karenanya ia bisa mencapai India dengan berlayar ke Barat.
Karena gilanya rencana ini, Colombus sulit untuk mendapatkan sponsor untuk membiayai perjalanannya. Dan ketika Colombus berhasil mendapatkan dukungan dan dana, tidak ada orang yang ingin ikut bersamanya. Untuk mendapatkan anak buah kapal, misi ini kemudian ditawarkan kepada para narapidana (convicts) dengan ganjaran kebebasan bagi mereka yang menyertainya. Demikianlah perjalanan yang sangat bersejarah ini ikut dipelopori oleh orang-orang penjara.
Setelah mengarungi samudera dengan tiga kapal yang tidak seberapa besar selama kira-kira lima minggu, Christoper Colombus dan para kru kapalnya, termasuk para napi tadi, berhasil mencapai daratan (Amerika Selatan) dan berinteraksi dengan penduduk asli. Belakangan baru diketahui kalau itu bukan India, melainkan sebuah benua yang sama sekali belum pernah mereka dengar atau ketahui. Para narapidana yang menyertai Colombus telah ikut berperan membentuk sejarah baru dunia.
3. Penemuan Benua Australia
Orang-orang Eropa tentu saja bukan pihak pertama yang ‘menemukan’ benua Australia. Orang-orang Bugis telah berlayar ke Australia untuk mencari tripang jauh sebelum penjelajah Eropa yang pertama berhasil mencapai benua ini. Yang membedakan mereka hanyalah fakta bahwa orang-orang Bugis tidak pernah mengklaim benua itu sebagai wilayah mereka untuk kemudian menguasainya dan menjadikan penduduk aslinya (aborigin) sebagai warga kelas dua.
Pada awalnya, orang-orang Eropa tidak tertarik menjadikan Australia sebagai koloni mereka. Namun, belakangan Inggris merasa terpukul karena koloninya yang paling penting di benua Amerika memerdekakan diri pada tahun 1776 (kemudian menjadi negara Amerika Serikat). Mereka juga dipusingkan oleh sistem penjara mereka yang tak lagi mampu menampung para narapidana. Maka Australia pun mulai dilirik sebagai tanah yang menjanjikan bagi pembentukan koloni baru. Inggris kemudian memutuskan untuk mengirim para narapidana yang sudah tak bisa ditampung penjara-penjara Inggris ke Australia untuk menjadi generasi awal yang membangun koloni di sana.
Pembentukan koloni baru ini bermula pada bulan Januari 1788, dan para narapidana Inggris dikirm ke tempat ini secara bertahap. Hingga pertengahan abad ke-19 jumlah narapidana yang dikirim ke tempat ini mencapai seratus lima puluh ribu orang. Dua puluh persen dari jumlah ini merupakan kaum perempuan dan sebagian dari kaum hawa ini berprofesi sebagai pelacur. Setelah perekonomian koloni mulai berkembang, para imigran bebas (bukan narapidana) dari berbagai negara mulai berdatangan ke benua itu. Walaupun begitu, para narapidanalah yang telah memulai sejarah Australia modern. Orang-orang inilah, serta anak-anak mereka, yang menjadi generasi awal yang membentuk masyarakat dan negara Australia yang kita kenal sekarang.
Ketiga peristiwa di atas merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah dunia, khususnya sejarah Barat modern. Yang pertama (Perang Salib), walaupun sudah berlalu tujuh abad, masih terus mempengaruhi kehidupan kita hingga ke hari ini. Ia menjadi simbol utama konflik antara Barat dan Islam. Yang kedua dan ketiga membuka jalan bagi terbentuknya peradaban baru di dua benua yang sangat besar: Amerika dan Australia. Perjalanan sejarah ketiganya ternyata dimulai oleh orang-orang liar, para narapidana, atau dengan kata lain oleh warga masyarakat yang tidak terhormat.

Sejarah terkadang memang aneh dan agak memalukan …, tapi itulah sejarah. [islamaktual/hidayatullah/alwialatas]

Fikih Kepemimpinan Non-Muslim


  oleh : Wawan Gunawan Abd. Wahid

Pendahuluan
Di antara persoalan dalam hukum Islam (fikih) yang selalu hangat untuk diperbincangkan adalah persoalan kepemimpinan. Ini dipengaruhi oleh banyak sebab. Di antaranya, sebagaimana umumnya tema-tema lain dalam fikih, tema kepemimpinan dirujukkan pada landasan Al-Quran an al-Sunnah. Sementara di sisi lain, pembacaan terhadap kedua sumber hukum Islam dimungkinkan untuk terjadinya keragaman pemahaman dan tafsir. Kedua, kerancuan berpikir di kalangan umat sehingga sulit memilah antara sumber hukum Islam yang sakral dengan turunan dari kedua sumber hukum tersebut sebagai buah pikiran manusia yang sesungguhnya dapat dikritisi (qabil li al-niqash).
Demikianlah, sealur dengan itu, sebelum ini dan hingga saat ini hangat didiskusikan tentang kepemimpinan perempuan. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah relatif sudah menuntaskan persoalan ini dengan dua dokumen penting yang dihasilkan dalam dua musyawarah dalam jarak 34 tahun. Pertama Muktamar Tarjih Garut tahun 1976 yang menghasilkan dokumen risalah Adabul Marah fil Islam. Kedua, Munas Tarjih Malang tahun 2010 yang menghasilkan dokumen Fikih Perempuan menurut Ulama Muhammadiyah. Dalam dua dokumen tersebut disebut persoalan kepemimpinan perempuan yang pada intinya tidak ada larangan perempuan menjadi pemimpin dan dipuncaki dengan simpulan bahwa tidak ada larangan perempuan menjadi presiden.
Dengan aura yang kurang lebih sama, saat ini hangat diperbincangkan kepemimpinan non-Muslim di tengah masyarakat muslim. Panitia Halaqah Fikih Kebhinekaan dari MAARIF Institute sangat jeli membaca momentum ini sehingga mengundang para ahli untuk mendiskusikannya dalam kesempatan ini.

Fikih dan Faktor Determinannya
Fikih adalah rumusan pemikiran yang pada hakikatnya karya intelektual para ulama (fuqaha) dengan basis rujukan, utamanya Al-Quran dan hadis Nabi. Rumusan pemikiran ini hadir sebagai respons jawaban para ulama terhadap berbagai persoalan manusia, baik yang bersifat ritual (ibadah), hukum keluarga (ahwal syakhshiyyah), urusan pidana (jinayah), urusan ekonomi (mu’amalat iqtishadiyyah) maupun politik (siyasah).
Persoalan paling penting namun acapkali terlupakan berkaitan dengan fikih adalah ia selalu hadir melalui aktivitas pikiran yang tidak datang dalam ruang dan waktu yang hampa. Fikih senantiasa muncul dengan latar masyarakat tertentu, waktu tertentu, kejiwaan-kejiwaan tertentu yang mempengaruhi seorang fakih atau mujtahid saat merespons persoalan yang ada dihadapannya. Perhatikan, bagaimana seorang Malik bin Anas memutuskan masalah puasa enam hari di bulan Syawal, yang disebabkan tidak adanya praktik penduduk Madinah (amal ahl al-madinah) yang melaksanakan puasa Syawal. Malik tiba pada simpulan makruh untuk menunaikannya. Hal yang sama dialami oleh Muhammad bin Idris al-Syafi’i yang mengadaptasi beberapa pendapatnya selama di Irak (qaul qadim) dengan pendapat barunya selama menetap di Mesir (qaul jadid). Dalam kaitan ini, kiranya penting untuk dikutip tawshiyah Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam salah satu karyanya, I’lam al-Muwaqqi’in saat mengatakan :
“Jangan Anda terpaku dengan teks-teks yang dikutip dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Manakala orang dari luar daerahmy menemuimu untuk meminta fatwa, sebaiknya tanyailah terlebih dahulu tradisinya. Setelah itu Anda putuskan berdasarkan tinjauanmu terhadap tradisi itu dan bukan berdasar tradisi tempat Anda dan apa yang terdpat dalam kitab-kitab yang Anda baca. Para ulama menegaskan bahwa ini masalah yang jelas. Sikap diammu dengan tidak memperhatikan tinjauan kemasyarakatan dan memaksakan untuk berfatwa berdasarkan teks-teks yang ada dalam kitab-kitabmu adalah kesesatan dan tidak memahami maksud para ulama dan generasi muslim awal”. (lihat Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-’Alamin, Riyadh: Dar ar-Rasyad, T.th,III:78)
Lebih jauh Ibn Qayyim mengingatkan bahwa tradisi, motivasi, situasi, tempat dan waktu memengaruhi perubahan dan keragaman fatwa atau pemikiran hukum atau fikih. Ia mendeklarasikan adagiumnya (kaidah) yang berbunyi:
“Perubahan dan keragaman fatwa (dimungkinkan terjadi) karena memperhatikan perubahan zaman, tempat, keadaan, niat dan adat-istiadat”
Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa melahirkan fatwa atau fikih tanpa memperhatikan lima faktor yang telah disebutkan merupakan keputusan yang sesat dan menyesatkan.
Memperhatikan hal-hal yang dapat mengalami perubahan dan tidak dapat mengalami perubahan, hukum Islam itu diklasifikasikan pada dua kelompok besar. Pertama, al-Tsawabit. Kedua al-Mutaghayyirat. Adapun yang dimaksud dengan al-Tsawabit adalah hukum Islam yang sejak dituntunkan dan diperintahkan agama sama sekali tidak mengalami perubahan. Umumnya kelompok ini adalah menyangkut ibadah mahdhah dan persoalan akidah.
Sedangkan al-Mutaghayyirat adalah hukum Islam yang dapat mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Dalam hal ini hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalat trmasuk di dalamnya masalah politik-kenegaraan. Maknanya, hukum yang berkaitan dengan fikih politik (fiqh al-siyasah) bersifat fleksibel.
Demikian uraian tersebut di atas dituliskan untuk mengingatkan bahwa diperlukan sikap kritis dalam membaca kitab-kitab fikih. Itu dilakukan bukan untuk menegasikannya sama sekali tetapi untuk memilih dan memilah yang benar-benar masih berlaku untuk saat ini dan mana yang perlu diperbarui. Dalam hubungan ini dapat diberlakukan kaidah yang berbunyi:
“Menjaga yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”

Kriteria Pemimpin dalam Fikih Siyasah
Persoalan kepemimpinan dalam fikih diposisikan dalam klasifikasi fikih siyasah. Mencari kriteria pemimpin dalam tema fikih siyasah ditemukan dalam persoalan memilih pemimpin atau kepala negara (‘aqd al-iamamah). Berikut ini kriteria atau syarat0syarat pemimpin menurut para ulama.
Al-Mawardi menyebutkan bahwa syarat seorang pemimpin adalah: (1) memiliki sikap adil dengan segala persyaratannya; (2) memiliki ilmu pengetahuan yang dapat mengantarkan pada ijtihad; (3) memiliki pendengaran, penglihatan, dan lisan yang sehat; (4) memiliki anggota tubuh yang utuh; (5) memiliki deposit wawasan yang mencukupi untuk mengelola kehidupan rakyat dan kepentingan umum; (6) memiliki keberanian untuk melindungi rakyatnya dan melawan musuh; (7) berasal dari keturunan Quraisy. (lihat Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bashri al-Baghdadi al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah wa al-Wilaayaat ad-Diiniyah, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., h.6)
Hampir senada dengan al-Mawardi, al-Juwaini menyampaikan delapan syarat kepala negara. Kedelapan syarat itu adalah: (1) seorang Muslim; (2) berjenis kelamin laki-laki; (3) seorang yang merdeka; (4) berasal dari keturunan Quraisy; (5) mampu berijtihad secara mandiri sehingga ia dapat melakukan simpulan secara mandiri; (6) berintegritas moral yang tinggi; (7) memiliki dukungan militer yang nyata sehingga mampu menjamin keamanan negara; dan terakhir (8) mempunyai keahlian mengelola negara. (Abdul Malik ibn Yusuf al-Juwaini, Ghiyats al-Umam fi at-Tiyas azhulm, Iskandaria:Dar al-Dakwah, tt. h.43)
Pada masa pertengahan Islam, Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun, menuliskan lima syarat kepala negara. kelima syarat itu adalah: (1) memiliki pengetahuan yang luas; (2) seorang yang adil; (3) mampu melaksanakan tugas sebagai kepala negara; (4) sehat fisik dan memiliki panca indera yang lengkap; (5) berasal dari keturunan Quraisy.
Ibn Taimiyah menegaskan bahwa syarat seorang pemimpin itu ada dua: (1) orang yang kuat; (2) orang yang amanah. Yang dimaksud orang kuat itu adalah seorang yang memiliki keberanian dan pengalaman menghadapi musuh dalam berbagai peperangan. Orang semacam ini adalah orang yang memiliki keterampilan memanah, menombak dan semacamnya. Karakteristik ini merujuk pada surah al-Anfal ayat 60 dan hadis Nabi saw tentang keterampilan berkuda dan memanah. Seseorang dikatakan kuat manakala dia memiliki kekuatan ilmu pengetahuan tentang keadilan dan cara melaksanakan hukum Allah. Sedangkan yang dimaksud memiliki amanah adalah seseorang yang memiliki rasa takut kepada Allah. (lihat Ibn Taimiyah, Majmu’at al-Fatawa, (Saudi Arabia: Dar al-Ifta wal irsyad, 1977), XXVIII:253)
Di tempat lain Ibn Taimiyah menegaskan bahwa keadilan merupakan syarat terpenting bagi seorang pemimpin. Sedemikian pentingnya tentang keadilan ini, Ibn Taimiyah mengatakan:
“Sesungguhnya Allah menyokong negara yang adil meskipun kafir (pemimpinnya) dan tidak mendukung negara yang despotik meskipun Muslim (pemimpinnya). Dunia itu dapat tegak dengan memadukan antara kekufuran dan keadilan dan dunia tidak dapat tegak dengan modal kezaliman dan keislaman.
Kalimat Ibn Taimiyah di atas kiranya mengisyaratkan bahwa kepala negara yang mampu mengejawantahkan keadilan meskipun non-Muslim lebih baik daripada kepala negara yang beragama Islam tetapi tidak mampu mengejawantahkan keadilan.

Dari Ibn Taimiyah ke Muhammad Abduh
Ketika Ibn Taimiyah mengatakan bahwa negara yang adil itu disokong oleh Allah meskipun dipimpin oleh seorang yang bukan Muslim dan negara yang despotik tidak disokong Allah meskipun kepala negaranya seorang Muslim, ia sedang menegaskan bahwa syarat seorang pemimpin itu adalah adil tanpa memperhatikan agama yang dianutnya. Pernyataan Ibn Taimiyah ini menyisakan pertanyaan. Bagaimana memperlakukan nash-nash al-Qur’an yang secara tegas menyebutkan larangan mengangkat seorang pemimpin non-Muslim. Nash-nash al-Qur’an dimaksud antara lain sebagai berikut:
Pertama, Surah Ali Imran [3] ayat 28:
ali_imran-3_28.png
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).
Kedua, Surah al-Maidah [5] ayat 51:
almaidah-5_51.png
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Ketiga, Surah an-Nisa’ [4] ayat 144:
an-nisa'-4_144.png
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?
Keempat, Surah al-Anfal [8] ayat 73:
8_73.png
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

Menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengutip uraian Muhammad Abduh. Kata Abduh, ayat-ayat yang dikutip oleh para ulama yang menolak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin sama sekali tidak dapat ditolak kebenarannya. Yang tidak disebutkan, kata Abduh, bahwa mereka yang dilarang untuk dipilih itu adalah karena memusuhi umat Islam. Ketika entitas non-Muslim itu tidak memusuhi umat Islam dan mereka bersama-sama umat Islam dalam satu entitas negara sebagai warga negara maka mereka dapat dipilih sebagai kepala negara. (Muhammad Abduh, al-A’mal al-Kamilah, Beirut: al-Muassah, al-Arabiyah lid-Dirasah wan-Nasyr, 1972, p.107-108) Abduh melandasi argumentasinya dengan surah al-Mumtahanah ayat 7, 8, dan 9 sebagai berikut:
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Lebih jauh Muhammad Abduh menegaskan, manakala nash-nash al-Qur’an yang berisikan larangan kepada kaum Muslimin untuk memilih pemimpin non-Muslim itu dikaitkan dengan ketiga ayat yang membolehkannya, maka masalah (perbedaan pendapat) ini menjadi sangat terang. Karena larangan memilih non-Muslim sebagai pemimpin kaum Muslimin itu terikat dengan syarat, yaitu jika mereka (non-Muslim) itu melakukan pengusiran terhadap Rasulullah dan kaum Muslimin dari tanah airnya. Setiap non-Muslim yang (dalam hatinya) menyimpan rasa permusuhan dan bertindak sewenang-wenang terhadap kaum Muslimin maka keharaman memilih mereka adalah sesuatu yang pasti.
Mencermati Surat al-Mumtahanah ayat 7, kata Abduh, kiranya dipahami bahwa harapan terciptanya hubungan yang harmonis yang sarat dengan silih asih silih asah antara kaum Muslimin dengan kaum Musyrikin yang sebelumnya begitu keras memusuhi Nabi saw merupakan sesuatu yang didambakan.
Sementara dengan mencermati ayat 8 dan 9 dari Surat al-Mumtahanah dapat dipahami bahwa Allah tidak melarang kaum Muslimin melakukan kebajikan dan bersikap adil kepada kaum Musyrikin yang tidak memusuhi mereka. Karena itu, larangan memilih non-Muslim sebagai pemimpin kaum Muslimin dibatasi hanya pada non-Muslim yang memerangi kaum Muslimin karena semata-mata hanya alasan mereka memeluk agama Islam, mengusir mereka dari tanah airnya dan membantu orang lain melakukan pengusiran.
Selanjutnya Abduh menutup uraiannya dengan menegaskan bahwa larangan mengangkat pemimpin non-Muslim itu merupakan larangan yang ber-’illat. Yaitu manakala mereka (non-Muslim) itu orang-orang yang berperilaku buruk terhadap umat Islam. Manakala perilaku buruk itu tidak ada, maka larangan tersebut tidak lagi berlaku. Dengan demikian larangan tersebut sama sekali bukan berkaitan dengan perbedaan agama.
Kalimat-kalimat Ibn Taimiyah dan Muhammad Abduh tetap masih menyisakan pertanyaan. Bagaimana mungkin seorang yang tidak Muslim dapat mempraktikkan kebajikan. Dalam hal ini melaksanakan keadilan. Jika adil disini dipahami sebagai menempatkan seuatu pada tempatnya maka misal berikut menjelaskan kalimat Ibn Taimiyah di atas.
Tahun 2001 dalam Seminar Internasional tentang Pengelolaan Zakat yang diselenggarakan di Palembang, hadir seorang petugas karyawan senior dari Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). Teman Muslim Singapura ini menerangkan dengan fasih bagaimana Pemerintah Singapura sangat membantu MUIS untuk mengelola pendistribusian zakat yang dipungut langsung oleh pemerintah berdasarkan database kekayaan setiap orang yang dicatat secara akurat. Dengan sistem data informasi yang sangat canggih setiap orang di Singapura tidak dapat mengelak dari pajak yang harus dibayarkannya. Dari database itu pula diketahui berapa orang muzaki yang harus membayarkan zakatnya sebanyak 2,5% dari kekayaannya kepada mustahik. Diketahui bahwa Singapura bukanlah negara Islam. Ilustrasi yang diuraikan di atas kiranya menjelaskan bahwa Singapura yang bukan negara Muslim mempraktikkan perkhidmatan kepada orang Islam. Ini negara yang mayoritas non-Muslim. Hemat penulis, dalam negara yang mayoritas Muslim dan pemimpinnya non-Muslim secara ideal akan melakukan hal baik yang lebih banyak dari yang diceritakan.

Penutup
Jika ditnyakan, siapa yang mesti dipilih antara pemimpin Muslim yang tidak mampu memimpin dengan pemimpin non-Muslim yang mampu memimpin? Jawaban yang diharapkan tentu saja jawaban yang melampaui pertanyaannya itu. Yaitu pemimpin Muslim yang mampu memimpin. Namun demikian, jika suatu saat terjadi maka jawaban yang realistis adalah pemimpin non-Muslim yang mampu memimpin.
Karena itu pula tulisan ini dapat ditutup dengan penegasan. Memilih pemimpin non-Muslim di tengah masyarakat Muslim hukumnya diperbolehkan. Itu dirujukkan pada dua hal. Pertama, masalah kepemimpinan dalam hukum Islam merupakan persoalan yang bukan absolut (al-mutaghayyirat). Kedua, larangan memilih pemimpin non-Muslim dikaitkan dengan sebab yang menyertainya. Yaitu manakala mereka (non-Muslim) melakukan penistaan kepada umat Islam. Dalam suatu masyarakat majemuk dimana antara umat Islam dan non-Muslim bersatu dalam suatu entitas negara-bangsa, maka antara keduanya bisa merajut hubungan harmonis yang saling memerlukan. [islamaktual]

*dimuat dalam Buku Fikih Kebhinekaan, Pandangan Islam Indonesia tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim, Maarif Institute, Penerbit MIZAN:2015, h.317-325

Islamic Book Fair 2016 Resmi Dibuka Anies Baswedan


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan resmi membuka Pameran Buku Islam (Islamic Book Fair/IBF) yang ke-15 pada Sabtu, 18 Jumadil Awwal 1437 (27/02) kemarin.
Tak seperti penyelenggaraan sebelumnya, IBF kali ini yang sudah dimulai sejak Jumat (26/02) baru dibuka secara resmi pada hari kedua.
Bertempat di panggung utama IBF, Istora, Senayan, Jakarta, agenda pembukaan ini berlangsung pukul 10.00-12.00 WIB. IBF ini mengusung tema “Indahnya Keluarga Qur’ani”.
“Dengan membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’, Islamic Book Fairke-15 secara resmi dinyatakan dibuka,” ujar Anies di depan ribuan pengunjung yang memadati Istora.
Anies dalam sambutannya memberikan mengapresiasi pameran buku ini yang sudah berlangsung 15 kali. Ia pun menyebut, ajang tersebut bukan lagi sebatas pameran buku.
“Ini sudah lebih dari Islamic Book Fair, ini sudah jadi Islamic Cultural (Fair). Ini sudah menjadi Pekan Budaya Islam,” ujarnya dikutip hidayatullah.com.
Ia beralasan, yang dipamerkan pada IBF tak cuma buku, tapi sudah bervariasi. Seperti diketahui, IBF juga memamerkan berbagai produk non-buku, nasyid, situs-situs bersejarah dalam Islam, dan sebagainya.
Ia pun berharap, IBF 2016 menjadi ajang pendidikan bagi masyarakat Indonesia.
”Kita semua mengharapkan bahwa Islamic Book Fair datang untuk merangsang dan memungkinkan munculnya sebuah wadah intelektual umat Islam,” ujar menteri.
Ketua Panita IBF 2016 mengatakan, IBF kali ini diikuti oleh 430 penerbit yang menghadirkan ribuan judul buku Islam.
Pembukaan acara tersebut dihadiri Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, pendiri AQL Bachtiar Nasir, dan banyak lagi.

IBF ini sendiri akan berlangsung hingga Ahad (06/03) mendatang. [islamaktual]

Lagi, Tiga Muslim Tewas Dibunuh di Amerika


Pembunuhan terhadap Muslim di Amerika Serikat kembali terjadi. Kali ini tiga orang pemuda muslim ditemukan tewas di wilayah negara bagian Indiana.
Polisi negara bagian juga mengkonfirmasi bahwa tiga korban Muslim yang mayatnya ditemukan di Indiana telah dibunuh dengan gaya eksekusi, dikutip islampos.com.
Mayat Mohamedtaha Omar, 23 tahun, Adam K. Mekki, 20 tahun, dan Muhannad A.Tairab, 17 tahun, semuanya warga Fort Wayne di negara bagian Indiana, ditemukan tewas ditembak di dalam sebuah rumah Rabu lalu.
Otoritas setempat belum bisa menyimpulkan bagaimana ketiga korban ditembak, namun kepala polisi daerah Garry Hamilton pada Jumat lalu melaporkan bahwa korban ditembak beberapa kali dan Direktur Keamanan Publik Rusty York mengatakan ketiga korban ditembak dengan gaya eksekusi.
York menambahkan bahwa pihak kepolisian sampai saat ini belum memiliki tersangka, mengatakan, “Mudah-mudahan, Anda tahu, kita akan fokus apa alasan penembakan, tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak ada alasan untuk percaya ini adalah jenis dari kejahatan kebencian atau serangan yang berfokus karena agama mereka atau kebangsaan mereka.”

Dalam beberapa bulan terakhir, telah terjadi tren yang mengkhawatirkan tindak kekerasan dan ancaman terhadap masyarakat Muslim Amerika. [islamaktual]

Fahira Idris : Negara Perlu Miliki UU Ketahanan Keluarga dan UU Anti LGBT


Fahira Idris, Senator DKI Jakarta dalam acara Seminar Kebangsaan Sabtu (27/02) kemarin, menyatakan bahwa semua elemen bangsa mesti bersama-sama membangun ketahanan keluarga.
“Keluarga itu, kan, adalah miniatur sebuah bangsa dan negara. Karena pada hakikatnya sebuah bangsa terbentuk dari keluarga-keluarga,” ujarnya dalam acara seminar yang mengambil tema “Ketahanan Keluarga dalam Menjawab Tantangan LGBT” di Ciracas, Jakarta Timur, dikutip dari hidayatullah.com.
Menurut Anggota Gerakan Indonesia Beradab (GIB) ini, bagi sebuah bangsa, keluarga adalah kekuatan tak terelakkan yang mesti terus dikuatkan.
Banyak ancaman dan serangan kuat bagi pelemahan keluarga Indonesia. Sehingga, kata dia, dirasa sangat urgen bagi orangtua memahami masalah ini dengan baik.
“Serangan terhadap keluarga berupa pornografi, seks bebas, narkoba dan LGBT disampaikan dalam beragam media. Dulu pernah saya temukan buku yang disebar di kalangan anak-anak yang mengkampanyekan LGBT,” tuturnya.
“Jadi, para orangtua memang harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang bahaya yang jelas mengancam ketahanan keluarga ini,” sambungnya dalam rangkaian cara se-wilayah Jakarta Bogor Depok Bekasi itu.
Oleh karena itu, ia berharap agar para keluarga Indonesia betul-betul selektif dalam memberikan tontonan serta bacaan terhadap anak-anak di dalam rumah.
“Anak-anak kita didekati lewat bacaan, tontonan, media sosial. Jadi orang tua mesti benar-benar selektif dalam hal ini,” imbau Pendiri Gerakan Nasional Anti Miras itu.

Sebelum menutup sesi paparannya, Fahira mengatakan bahwa penting negara ini memiliki UU Ketahanan Keluarga dan UU Anti LGBT. [islamaktual]

Belajar Toleransi Kepada Rasulullah


Setelah wafatnya Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkunjung ke perkampungan Thaif. Beliau menemui pemuka suku kaum Tsaqif. Rasulullah mengajak mereka untuk melindungi para sahabatnya agar tidak diganggu oleh suku Quraisy. Namun, kenyataan pedih yang dialami beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dan dilempari batu oleh kaum Tsaqif. Akibatnya, darah pun mengalir dari tubuh beliau. Menyaksikan kejadian itu, Malaikat Jibril memohon izin untuk menghancurkan kaum Tsaqif karena telah menyiksa Rasulullah. Namun, apa jawaban Rasulullah? “Jangan! Jangan! Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”
Beliau pun berdo’a untuk kaum Tsaqif. “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka belum mengetahui (kebenaran)” (HR. Baihaqi).
Pada kisah yang lain, Rasulullah saw mengampuni musuh-musuhnya selepas penaklukan Kota Mekkah (Fathul Makkah). Penduduk Mekkah yang selama ini memusuhi Rasulullah dan Umat Islam, ketakutan ketika umat Islam berhasil menaklukkan kota Mekkah. Sebab, sebelum penaklukan itu, umat Islam sering ditindas oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Tak jarang, mereka juga menghalang-halangi dakwah Rasulullah, bahkan hingga bermaksud membunuhnya.
Namun, setelah penaklukan kota Mekkah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan sikap mereka. Tidak ada balas dendam. Kekuasaan yang dimilikinya, tak menjadikan diri Rasul menjadi sombong atau bertindak sewenang-wenang. Ketika penduduk Quraisy menanti keputusan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya, ‘tiada celaan atas kalian pada hari ini’. Pergilah! Kalian smeua bebas.” (HR. Baihaqi)
Inilah Rasul kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengajari kita tentang ketulusan hati dan tenggang rasa. Ia tidak menggembar-gemborkan jargon toleransi untuk pencitraan dakwahnya. Beliau menyeru kepada Islam dengan bekal sikap pemurah dan pemaaf. Beliau memperlakukan manusia dengan cinta sejati yang tidak dimiliki oleh para penyeru konsep toleransi saat ini. Dakwah mengajak kepada kebenaran hakiki, beliau lakukan dengan ketulusan hati. Hingga nampak pada perilaku beliau sikap pemaaf dan cinta yang sejati.

Inilah Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak mendakwahkan toleransi. Tapi mempraktikkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, manusia pada hari ini semangat dari mendakwahkan toleransi; di saat yang bersamaan, mereka tidak toleran terhadap orang-orang yang ingin menerapkan ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin. [islamaktual/tabligh/mrh]

Visit Us


Top