Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sejak awal pertumbuhan Islam, Nabi Muhammad saw sangat menekankan toleransi pada segenap levelnya. Baik masalah akidah, ibadah, mu’amalah maupun ‘uqubah (pemberian sanksi). Dalam masalah akidah misalnya (sebagaimana al-Baqarah ayat 256), Nabi Muhammad tidak pernah memaksa orang lain memeluk Islam. Sejauh yang beliau bisa hanya mengajak, bukan memaksakan kehendak (al-Ghasyiah ayat 22).
Bahkan, sesuai surat al-An’am : 108 dengan sangat bijak Rasulullah melarang mencela agama lain. Semua ini dilakukan karena Islam mengajarkan sikap toleran.
Pada ranah ibadah pun Islam sejak awal dikenal toleran. Ketika menjadi Imam shalat misalnya, ia harus melihat ma’mumnya. Kalau di belakang Imam ada anak kecil menangis, orang sakit, atau orang yang sudah tua renta, maka Imam -atas nama semangat- tidak boleh memanjangkan bacaan (sebagaimana yang dulu pernah dilakukan Mu’ad ibn Jabal, yang kemudian mendapat teguran Rasulullah. [HR. Bukhari dan Muslim]), sebagai bentuk toleransi bagi para ma’mum.
Di bidang mu’amalah, Rasulullah saw juga memberi bimbingan: “Allah merahmati seorang yang toleran, jika ia berjual beli dan memutuskan perkara” (HR. Bukhari). Sedangkan dalam masalah ’uqubah (sanksi), misalnya dalam perkara pembunuhan: di samping qishas (balasan setimpal), Islam memberikan toleransi kemungkinan hukum di antaranya, membayar diyat (tebusan) kepada wali si mayit, atau yang paling tinggi adalah memaafkannya.
Toleransi antar umat beragama pun sangat dihormati oleh beliau -selama tidak mengganggu koridor yang disepakati dalam Piagam Madinah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, agama-agama bisa berdampingan dengan bik. Meski pada akhirnya kesepakatan itu dirusak oleh mereka sendiri. Demikianlah toleransi Islam yang dibangun sejak awal oleh Nabi Muhammad saw.
Bila ditelaah lebih jauh pada sejarah umat Islam pasca Rasulullah saw, mereka juga sangat toleran (dengan catatan, pertama, jika mereka berpegang teguh pada ajaran beliau. Kedua, ketika umat Islam berada pada posisi kuat).
Terlebih khusus, berkaitan dengan toleransi antar umat-beragama dalam sejarah umat Islam, ada peristiwa menarik yang dicatat SirThomas Arnold (penulis berkebangsaan Inggris, 1864-1930 M). Dalam bukunya yang telah di Arabkan berjudul al-Da’wah ila al-Islam, ada beberapa peristiwa yang menunjukkan toleransi umat Islam.
Pertama, Ilmuwan Yahudi, Musa bin Maimun (529-601 H/1135-1204 M) pada masa DInasti Muwahidin mengumumkan diri masuk Islam (sebagai upaya menjaga fanatisme agamanya). Ketika ia pindah ke DInasti Ayyubiyah Mesir, ia kembali mengumumkan keyahudiannya. Qadhi Fadhil (529-596 H/1135-1200 M) memberinya toleransi, kemudian membebaskannya dari tuduhan murtad, lantaran ia masuk Islam bukan karena keinginan sendiri dan dengan pilihan yang tegas.
Kedua, Sultan Mughol, Ghazman (694-703 H/1295-1304 M) ketika menemukan orang-orang beragama Budha masuk Islam pada masanya hanya nifaq (pura-pura Islam, padahal hatinya ingkar), ia mengijinkan (memberi toleransi) mereka kembali ke agamanya seperti sedia kala, jika mereka memang menginginkannya.
Ketiga, Baron Tafirnir, penjelajah berkebangsaan Perancis (1605-1689 M) menceritakan: “Ketika orang-orang Yahudi Ashfahan masuk Islam karena terpaksa (sebab mereka ditundukkan dengan kekuatan dan tipu muslihat), maka Hakim Dinasti Shafawiyah, Syah Abbas as-Tsani (1642-1767 M) membiarkan mereka kembali pada agama semula, serta hidup bersama umat Islam dengan tenang dan aman”.
Keempat, pada DInasti Fathimiyah, Khalifah al-Hakim bi Amrillah (386-411 H/996-1020 M) tak lama setelah beberapa hari menekan orang Yahudi dan Nasrani, lalu mereka ditolerir kembali ke agama masing-masing dan membangun kembali tempat peribadatan yang telah dirusak. Padahal, ia tetap menekan mayoritas Muslim Ahlus Sunnah di masa hidupnya.
Kelima, bahkan Thomas Arnold menyaksikan sendiri bahwa Islam adalah agama penjaga nilai toleransi, dan sebagai faktor pencegah penindasan bagi agama-agama lain.
Ia menuturkan, “Sebenarnya, dengan sangat mudah bagi hakim-hakim kuat Muslim menumpas kekuatan pemeluk agama Kristen, bahkan mengusir mereka dari negeri Muslim. Sebagaimana yang dilakukan Spanyol terhadap orang Arab, Inggris terhadap Yahudi selama sekitar empat abad lamanya.”
“Sultan Utsmani, Salim Awwal (875-926 H/1480-1520 M) pada tahun 1514 M, atau Sultan Ibrahim (1049-1058 H/1640-1648 M) sangat mungkin merealisasikan ide biadab sebagaimana yang dilakukan mereka sebagai upaya untuk menghabisi rakyat yang beragama Nasrani. Akan tetapi, para ulama syariat Islamlah yang memalingkan para Khalifah melakukan tindakan keji itu, sehingga toleransi tetap terjaga dengan baik”.

Pada intinya, dari sejarah umat Islam, kita bisa menemukan kenyataan unik: Ketika umat Islam jaya, mereka mampu menjadi pionir dalam menegakkan toleransi (pada segenap levelnya) bagi umat di dunia. Umat agama lain bisa berdampingan dengan baik tanpa harus mengorbankan kepercayaan masing-masing. [islamaktual/al-falah/mahmudbudisetiawan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top