Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Meski bantuan kemanusiaan sudah mulai masuk ke wilayah Madaya Suriah yang terkepung berbulan-bulan oleh rezim Assad dan milisi Syiah Hizbullah, namun kisah-kisah tragis dan memilukan terus terdengar dari wilayah tersebut.
Seorang dokter gigi yang berhasil melarikan diri dari kota Madaya satu bulan yang lalu, menjelaskan kepada Anadolu Agency situasi kota itu selama dikepung oleh rezim Suriah pimpinan Assad dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon.
Dr Mohammed Khair yang juga anggota dari dewan kota lokal di Madaya, menceritakan bagaimana pasukan rezim dan Syiah Hizbullah mengepung kota dengan pagar logam dan menanam ranjau darat untuk mencegah warga setempat datang atau pergi ke wilayah itu.
Pengepungan terhadap Madaya dan desa terdekatnya Baqin, selama 200 hari terakhir, menurut Khair telah memaksa banyak warga lokal harus bertahan hidup dengan mengkonsumsi anggur yang direbus. Dan warga lainnya ada yang bertahan hidup dengan hanya meminum air asin ataupun dedaunan yang direbus karena minimnya persediaan makanan.
Banyak bayi di kota Madaya harus kekurangan susu, sehingga tubuh mereka mengalami malnutrisi.
Menurut Khair, warga lanjut usia di Madaya – banyak dari mereka menderita penyakit kronis – menjadi warga yang paling menderita akibat pengepungan bersama dengan bayi dan anak-anak.
Banyak ibu di Madaya dan Baqin harus berjuang keras untuk memberi makan anak-anak mereka yang ayahnya telah tewas selama konflik Suriah berlangsung.
Ketika ditanya bagaimana warga lokal bisa selamat dari pengepungan selama lima bulan, Khair mengatakan sedikitnya 42 orang di kota itu baru-baru ini meninggal karena kelaparan.
Sementara warga yang selamat hidup dengan mengkonsumsi daging hewan yang sudah sakit-sakitan, yang didistribusikan oleh sebuah organisasi sosial.
Khair juga memperingatkan bahwa kota Madaya kini menderita kekurangan peralatan serta staf medis yang parah.
“Bersama dengan saya, ada seorang dokter hewan dan ahli anestesi serta beberapa mahasiswa kedokteran,” terang Khair.
“Dengan staf kecil ini, kami melakukan 15 operasi caesar untuk ibu hamil dan kami juga merawat sejumlah warga yang cedera karena ranjau darat rezim,” kenang Khair.
“Peralatan medis, terutama anestesi, sudah hampir habis,” Khair menambahkan. Dan dia menyesali pasokan medis sangat terbatas yang diizinkan masuk ke kota itu meskipun berasal dari PBB.
Warga Madaya harus bertahan hidup dari cuaca dingin dengan menggunakan pohon yang mereka bakar namun parahnya para penembak jitu rezim mencegah warga mengumpulkan kayu bakar tersebut.
Ketika ia melarikan diri kota Madaya satu bulan yang lalu, dokter gigi ini harus menghabiskan dua hari untuk menavigasi antara ranjau darat dan pegunungan berbahaya.
Dia akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari Madaya dan mencoba untuk memberitahukan ke dunia luar tentang kondisi yang menyedihkan di Madaya setelah rezim mengingkari janji mereka untuk mengangkat pengepungan.

Selama usaha melarikan diri ke Turki, enam orang yang bersamanya harus tewas terkena ranjau darat. [islamaktual/islampos]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top