Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Perceraian papa dan mama, ditambah kondisi perekonomian keluarga yang sedang jatuh kala itu, membuat mama tiba-tiba mengasingkanku dan kakakku Emilio di sebuah kota di pulau seberang, tepatnya di Manado. Aku kira kami berdua dititipkan ke saudara disana, ternyata bukan. Kami dititipkan kepada orang yang tidak kami kenal. Aku yang ketika itu masih kelas 5 SD, sedang kakak empat tahun di atasku, dititipkan kepada saudara dari teman mama yang merupakan jemaat gereja di Jakarta.
Disana aku merasa dijual, karena aku dipindahtangankan dari satu orang ke lain orang. Aku sempat merasa kesal, kok teganya mama berbuat seperti ini pada anaknya. Sekilas kalimat yang masih kuingat, “Kalian disini itu numpang, jadi kalian harus kerja. Tidak ada uang sepeserpun untuk kalian dari gereja, kalian makan pakai uang saya!” Aku yang masih di bawah umur kala itu, juga kakakku, dipaksa bekerja dan mendapat kekerasan. Menyapu, mengepel, membereskan ruangan, hingga berkebun namun tak mendapat upah. Kekerasan fisik yang kualami membuatku ingin berontak dan melarikan diri.
Sempat aku mencoba mengontak keluargaku di Jawa, namun hasilnya nihil. Aku yang waktu itu sudah tidak tahan namun bingung mencari pertolongan, mencari cara agar bisa pergi dari sana. Ada seorang guru di sekolah yang merasa prihatin karena tahu apa yang aku alami. Dari situlah akhirnya aku bekerja sama dengan guruku itu. Setiap pergi ke sekolah tasku selalu penuh dengan baju-baju, lalu aku titipkan di sekolah. Hal itu kulakukan agar bisa kabur bersama barang-barang yang perlu kubawa. Beruntung, kakakku akhirnya mendapat nomor telepon papa yang berada di Madiun. Papa seketika mengirimkan uang untuk kami berdua agar membeli tiket pulang.
Tiba di Madiun, aku mengungkapkan panggilan hatiku pada papa bahwa aku ingin masuk Islam saja. Pengalaman tidak mengenakkan yang kudapat dari jemaat gereja juga merupakan salah satu faktor mengapa aku ingin pindah agama. Papaku yang seorang Muslim akhirnya menyekolahkanku di SMP Muhammadiyah di Madiun, di sekolah itu pula aku berikrar dua kalimat syahadat, dibimbing guru dan disaksikan teman-teman sekelas. Lega dan nyaman, itulah yang aku rasakan saat menjadi mualaf.
Tahun 2009, tepat aku kelas 2 SMP. Papaku menghadap pada Sang Khalik terlebih dahulu. Sedih, namun hidup harus terus berjalan. Dan aku mulai terbiasa dengan yang namanya kemandirian. Dengan mama aku lepas kontak. Aku tak tahu dimana dia berada, dimana alamatnya, juga tinggal dengan siapa. Sampai pada usai lulus SMA, aku memutuskan untuk sekolah pramugara di Surabaya. Setelahnya, aku bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pramugara kereta.

Semua kebekuan menjadi cair, saat Allah mempertemukanku lagi dengan mama. Aku sempat bertemu dengannya di Jakarta, walau hanya sebentar di sela-sela jam kerja menjadi pramugara. Walau tak tahu di mana tempat tinggalnya berada, namun aku tetap menjaga kabar lewat pesan singkat dengan mama hingga kini. Walaupun mama sempat marah dan kecewa mengetahui aku pindah Islam, namun aku tetap berusaha memegang teguh keyakinan ini. Semoga aku istiqamah dalam melaksanakan kewajiban dan menjalankan sunnatullah yang aku bisa. [islamaktual/al-falah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top