Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Jika merujuk pada perintah puasa sebagaimana tertuang dalam Surat al-Baqarah ayat 183, setidaknya ada empat kata kunci dari ayat itu, yaitu, aamanuu (mereka yang telah beriman), kutiba (diwajibkan), al-shiyaam (puasa), serta tattaquun (kalian senantiasa bertakwa). Makna iman, sebagaimana yang diutarakan oleh Ar Raazi dalam kitab tafsirnya juz 5 halaman 10 adalah al-tashdiiq bi al-qalbi wal iqraar bil-lisaan wal ‘amal bil-jawaarih, meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan merealisasikan dengan amal perbuatan. Ketiganya harus simultan dan dalam satu kesatuan. Tidak boleh terpisah satu dengan yang lainnya. Jika terpisah melahirkan iman yang bohong/palsu.
Meyakini sepenuh hati, artinya kebenaran Dinul Islam harus mengakar dalam hati sanubari kita, mendarah daging. Tidak boleh ada kebimbangan dan keraguan sedikitpun tentang kebenaran Islam. Mengucapkan dengan lisan, maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai perwujudan isi hati yang tersembunyi. Dan merealisasikan keyakinan hati dan ucapan lisan tadi dalam perbuatan nyata. Pendek kata, Mukmin harus seia-sekata, senada-seirama antara hati, lisan dan aktivitasnya; sesuai perkataan dan perbuatannya, pernyataan dan kenyataannya.
Iman pangkalnya ada di hati. Hati dalam bahasa Arab disebut qalbun: sesuatu yang berubah-ubah, tidak tetap. Kadang senang, kadang sedih; suatu ketika marah, di lain waktu sabar; bisa ragu atau mantap, dan seterusnya. Jadi hati manusia itu bersifat labil, sementara hati tempat bersemayamnya iman. Konsekuensinya, iman juga akan naik-turun, tambah dan berkurang.
Salah satu wahana pemantapan iman yang ada di hati masing-masing orang yang beriman agar stabil dan tidak labil adalah “diwajibkan” atau “dipaksakan” orang beriman berpuasa. Wajib apabila tidak dilaksanakan mendapat punishment/dosa dan apabila dikerjakan ada reward/pahala. Mengapa ayat tersebut menggunakan kata kerja pasif/mabni majhul: pertama, karena sudah jelas Allah SwT yang memerintahkan, dan kedua, karena puasa itu sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia untuk hidup lebih baik dan sehat.
Kata shaum atau shiyaam secara bahasa adalah al-imsaak, al-shumt, dan al-rukuud (menahan, diam dan beku). Dalam al-Qur’an al-Shiyaam disebut 7 kali, dan al-shaum disebut sekali. Adapun puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, yaitu makan, minum dan berkumpul, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SwT dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Inti dari pesan puasa adalah pengendalian diri dari melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam rangka mengantarkan mukmin menjadi bertaqwa (tattaquun). Lalu apa takwa itu? Arti harfiahnya: takut, menjaga diri, dan sebagainya. Istilah syar’inya adalah menjalankan segala kewajiban, menjauhi segala larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara makruh (dibenci). Sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata ketika menafsirkan firman Allah surat Ali Imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beirman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya.” Katanya : “Hendaklah Dia (Allah) ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri dan tidak diingkari, diingat serta tidak dilupakan.” (HR. al-Thabrani).
Kata taqwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah ra ketika ditanya tentang taqwa. Dia mengatakan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, “Ya.”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, mak aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah” Maka berkata Abu Hurairah: seperti itulah taqwa.
Taqwa berada dalam wilayah abstrak, ibarat energi listrik dalam sistem mekanik, maka yang nampak adalah output dari energi tersebut. Lampu bisa menyala, mesin bisa berjalan, rice cooker bisa panas, kulkas bisa dingin, dan lainnya adalah karena ada energi listrik. Nabi saw bersabda: “Taqwa ada disini, sambil beliau menunjuk ke arah dada tiga kali” (HR. Muslim).
Yang nampak dari taqwa adalah perilaku dari pemiliknya atau “penampakannya”, baik perilaku dalam hubungannya dengan Allah SwT maupun sesama manusia. Ciri, sifat, atau perilaku orang yang bertaqwa telah banyak digambarkan dalam al-Qur’an maupun sunnah Rasul. Kiranya agar mudah dipahami dan diingat kalangan awam, untuk menggambarkan perilaku orang bertaqwa diformulasikan dalam sebuah akronim “PERKASA”. Meski belum memenuhi sebuah kriteria rumusan jami’ wal mani’, setidak-tidaknya telah memenuhi standar minimal sebuah akronim. Apa itu PERKASA? Kata PERKASA terdiri dari tujuh huruf, yaitu: P-E-R-K-A-S-A yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
P=PATUH. Patuh atau taat maknanya menjalankan ketentuan Allah SwT dan Rasul-Nya sepenuh hati, totalitas lahir batin, tanpa pertimbangan untung rugi, tanpa banyak bertanya. Karakter utama seorang Mukmin adalah menjalani kepatuhan kepada hukum dan ketentuan Allah dan Rasul-Nya secara total dalam hidup dan kehidupan sepanjang hayatnya. Firman Allah SwT dalam surat an-Nuur ayat 51, yang artinya: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘kami mendengar, dan kami patuh’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
E=EMPATI. Yaitu kemampuan seseorang merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga tumbuh kedermawanan dan kesetiakawanan sosial. Lahir semangat gotong royong antar sesama, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya menyantuni yang papa. Solidaritas sosial dan kedermawanan dalam Islam adalah nilai utama yang harus ditegakkan. Banyak instrumen kedermawanan yang disediakan oleh Islam, mulai yang wajib seperti: zakat, kafarat sumpah, fidyah maupun yang sunnah seperti: wakaf, infak, dan sedekah. Rasul saw bersabda: “Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim).
R=RAJIN. Rajin dalam bahasa Arab berarti istiqamah atau mujahadah, perilaku sungguh-sungguh dan giat dalam beraktivitas dan dilakukan secara kontinyu/terus menerus. Islam meniscayakan berperilaku rajin dalam kebaikan dan taqwa dan melarang pemeluknya untuk menjadi pemalas. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Ali Imran ayat 114, yang artinya: “dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”
Kebaikan yang kita kerjakan harus ajeg atau terus-menerus/rutin, jangan hangat-hangat tahi ayam, sesekali saja dikerjakan dengan jumlah banyak, setelah itu berhenti. Taraweh sampai 23 rakaat di bulan Ramadhan, setelah itu tidak sama sekali. Sabda Rasul saw: “Sebaik-baik agama (amalan) yang dikerjakan berkelanjutan/rutin oleh pelakunya.” (HR. Muslim).
K=KOMPAK. Orang yang bertaqwa dalam menjalani kehidupan sosialnya harus menjadi perekat dalam persatuan dan kesatuan umat. Mendorong agar aktivitas dalam berjamaah berjalan kompak, kompak antara para pemimpin, antara pemimpin dan yang dipimpin dan antara para anggota. Saling bahu-membahu dan bekerjasama menuju target dan tujuan yang sama.
Kekompakan menghadirkan kesatuan, kesatuan modal utama sukses. “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”, demikian ungkapan klasik yang sudah sangat terkenal. Kebersamaan dalam bekerja dalam wujud kerjasama dan sama-sama kerja. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.
“Sesungguhnya orang Mukmin terhadap Mukmin lainnya laksana bangunan, saling menguatkan satu dengan lainnya.” (HR. Bukhari).
A=ARIF. Yaitu bertindak dengan bijak, penuh pertimbangan dari berbagai aspek dengan matang dan tidak gegabah. Bila kita mampu menahan diri, tidak cepat emosi, bertindak gegabah dan sebagainya, itu pertanda kita telah dewasa. “Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan”, demikian salah satu bunyi iklan. Sejalan dengan sabda Nabi saw: “Buknalah orang kuat itu orang yang mempunyai kompetensi kecepatan penyerangan dalam peperangan, tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri.” (HR. Bukhari-Muslim).
S=SABAR. Artinya tahan/tabah menghadapi cobaan, tenang dan tidak terburu-buru serta putus asa. Sabar meliputi: sabar menghadapi masalah, sabar menjalani ketaatan, dan sabar berpantang melakukan kemaksiatan. Sabar merupakan potensi diri untuk menggapai kesuksesan demi kesuksesan. Oleh karenanya, dalam banyak ayat dan hadits, Allah dan Rasul-Nya mengharuskan adanya kesabaran dalam menjalani kehidupan untuk meraih sukses. Firman Allah SwT dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 153, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
A=AMANAH. Yaitu sesuatu kepercayaan yang dititipkan kepada seseorang, baik berupa harta maupun non-harta dan seseorang tersebut wajib menjaga kepercayaan saudaranya. Misalnya jabatan yang dititipkan oleh rakyat kepada seseorang maka ia wajib melaksanakan tugas dan tanggungjawab jabatan itu sebagaimana seharusnya. Firman Allah SwT dalam QS an-Nisa’ ayat 58, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Demikian akronim PERKASA yang menggambarkan ‘keperkasaan’ orang Mukmin yang telah menjalani ibadah Ramadhan. Hadir menjadi insan yang berkarakter mulia: patuh kepada ketentuan agamanya, empati terhadap sesama, rajin dalam menjalankan amal kebajikan, kompak dalam kerjasama untuk kebaikan dan ketakwaan, arif dan bijak dalam bertindak, sabar dalam menghadapi ujian dan amanah jika menerima kepercayaan. Itulah gambaran manusia taqwa, insan kamil yang senantiasa didambakan oleh Allah SwT dan sesama manusia. Semoga kita tergolong hamba-hambanya yang bertaqwa. Amin Yaa Robbal ‘Alamien. [islamaktual/matan/zahri,sh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top