Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Gerakan terorisme di Indonesia menurut Wakil Ketua PP Muhammadiyah bidang Hukum dan HAM, Busyro Muqoddas ada unsur pembiaran dan kesengajaan. Busyro Muqaddas menyebut, pola-pola gerakan radikalisme saat ini cenderung sama dengan gerakan radikalisme di era orde baru.
“Ini sistemik,” ujar Busyro usai konferensi pers Refleksi Akhir Tahun 2015 di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (30/12) lalu.
Mantan ketua KPK ini menilai ada kepentingan proyek di belakangnya. Ia khawatir di balik isu terorisme ada proyek internasional atau proyek negara tertentu yang tidak menginginkan Indonesia stabil secara ekonomi.
“Memecah belah sehingga sektor ekonomi dikuasai asing. Lihat saja perusahaan raksasa multinasional, kasus Freeport, ini lagu lama,” ujarnya dikutip islampos.com.
Bahkan, dirinya mensinyalir gerakan radikal ini dibuat oleh aparat intelijen negara dengan tujuan mendepolitisasi peran umat Islam.
Sejak 1997, Busyro bersama sejumlah aktivis HAM melakukan penelitian terkait gerakan radikal di Indonesia. Ia menemukan adanya indikasi keterlibatan pemerintah dalam gerakan radikalisme di Indonesia.
“Kami temukan data primer dimana bahwa yang berperan melakukan radikalisasi kala itu, terutama era orde baru justru negara, kami sebut state terorism. Pelakunya intelijen liar,” tukasnya.
Gerakan yang dimaksud adalah gerakan pengacau keamanan (GPK), Liqo, kelompok ekstrem yang terkoordinir dalam gerakan Komando Jihad.
Bahkan, mantan Ketua Komisi Yudisial ini menyatakan gerakan tersebut dipelihara hingga saat ini.
“Ada kesan dipelihara, bahkan ada aktornya sekarang masih hidup dan namanya terus berganti,” jelasnya.
Sayangnya pemerintah tidak pernah memberikan penjelasan yang adil kepada masyarakat.

“Pemerintah bertindak sepihak melalui BNPT, Densus 88, dan Polri,” katanya. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top