Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Alangkah indahnya hidup ini sekiranya kita ditakdirkan memiliki kondisi hati yang membuat kita selalu merasakan nikmat dan bahagia setiap kali melihat kebaikan tersebar di muka bumi ini. Juga selalu merasakan nikmat dan lezat manakala kita sendiri berbuat kebaikan. Dan bahkan setiap desah nafas kita adalah cerminan rindunya senantiasa untuk dapat melakukan aneka kebaikan dan rindu pula akan semakin banyaknya saudara-saudara kita yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menyebarkan kebaikan.
Orang-orang yang semula kafir dan ingkar menjadi muslim. Orang-orang yang semula munafik dan durjana menjadi bertaubat. Orang-orang yang semula fasik dan durhaka pun menjadi taat. Ya, kita memang harus menginginkan sebanyak mungkin makhluk-makhluk Allah di muka bumi ini menjadi mulia.
Orang-orang yang pernah menyakiti kita semoga oleh Allah SwT diampuni dan dikaruniai petunjuk. Begitupun orang-orang yang pernah tersakiti oleh kita, Semoga Dia yang Mahaperkasa mengangkat derajat kemuliaannya. Bukankah Allah telah berfirman yang artinya,”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah?” (QS. Ali Imran [3]:110).
Artinya apa? Umat yang terbaik adalah umat yang memiliki kesanggupan untuk selalu menata, menjaga, merawat, dan mewaspadai kalbunya dengan sebaik-baiknya, sehingga selalu bersih, lapang, dan selamat. Sedangkan kalbu yang selamat, tidak bisa tidak, akan membuahkan kepekaan. Peka terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
Kepekaan akan membuat dunia ini berubah menjadi samudera ilmu yang teramat luas. Dunia ini akan terang benderang dan lapang karena cahaya ilmu yang telah dikaruniakan Allah SwT pada setiap apapun. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang didengar dari aneka kejadian di bumi ini tidak ada yang perlu disikapi dengan salah.
Karena, pada semua kejadian itu pastilah Dia menebarkan ilmu yang tidak hanya akan membuat kita semakin arif dan bijak, tetapi juga semakin memiliki kesanggupan untuk bersungguh-sungguh kepada-Nya. Sekiranya sudah memiliki kepekaan, maka kita pun niscaya akan dikaruniai kesanggupan memiliki jiwa besar.
Nah, jiwa besar yang bersimbah keimanan dan ma’rifat (pengenalan) yang baik kepada Allah inilah, yang akan membuat pemiliknya dapat merasakan nikmat dan manisnya menyaksikan kebaikan yang tersebar. Tentulah dalam hal ini tidak mesti melalui lisan ataupun perbuatan kita sendiri, namun bisa melalui siapa pun. Sama sekali tidak ada dalam kalbu kita prasangka-prasangka, yang justru hanya akan menggelincirkan kita pada perasaan atau sikap negatif.
Masalahnya, tidak semua di antara kita yang memiliki tingkat seperti ini. Tidak jarang ketika mendengar adzan berkumandang di masjid saja, kita serta-merta merasa terganggu. Apalagi mendengar adzan Subuh yang “mendengking-dengking” justru pada saat-saat sedang enak-enaknya tidur mendengkur.
Duh, speaker masjid itu. volumenya tampak seperti disengaja hanya untuk membangunkan kita sendiri. Betapa mangkelnya hati ini pada speaker murahan itu, pada muadzin yang suaranya buruk itu, dan akhirnya pada masjid yang mengapa kok dibangun dekat-dekat rumah kita. Padahal, sebenarnya merupakan suatu karunia yang besar manakala tiba waktu sholat ada yang mengingatkan.

Keterlenaan kita menikmati selimut dari dinginnya udara Subuh sangat potensial membuat setan, (maaf) mengencingi telinga kita, sehingga membuat tidur semakin pulas, dan Allah membiarkan kita. Kita tenggelam dalam kesibukan kerja beserta tumpukan masalahnya pun sangat potensial membuat setan mengelabui kita dengan fatamorgana cinta dunia, dan Allah SwT membiarkan kita. Na’udzubillah! Wallahu’alam. [islamaktual/al-falah/abdullahgymnastiar]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top