Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kekerasan yang bernuansa agama menjadi problem hampir semua agama. Di Eropa dan Filipina ada kekerasan orang-orang Kristen terhadap Muslim, di Palestina orang Yahudi terhadap Muslim, di Timur Tengah (ISIS) Muslim terhadap sesama muslim. Di Myanmar orang Buddha terhadap Muslim (Rohingya), di India orang-orang Hindu terhadap Muslim, di Mesir orang Muslim (rezim militer) terhadap sesama Muslim, dan di Yaman Muslim (Sunni-Shi’i) terhadap sesama Muslim.
Hampir semua umat beragama memiliki sejarah kelam. Perang pemeluk antar-agama (misalnya, Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha) dan juga antar-pemeluk satu agama (misalnya, Kristen dan Katholik, Syi’ah dan Sunni) telah menelan banyak korban dan penderitaan, termasuk mereka yang sama sekali tidak faham mengapa peperangan terjadi.
Demikian pula apa yang terjadi di Nigeria, sebuah negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Nigeria hampir selalu dilanda konflik antara Muslim dan Kristen. Negeri dengan jumlah penduduk 150 juta ini, terbelah menjadi dua golongan: Islam (60%) dan Kristen (30%). Sisanya (10%) penganut animisme. Posisi umat Kristen relatif lebih baik dibanding dengan umat Muslim karena menguasai pemerintahan, militer dan ekonomi. Dalam situasi komposisi keagamaan seperti itulah Boko Haram yang didirikan pada 2002 muncul sebagai kelompok ekstrem radikal.
Konon Boko berasal dari kata buku, dan dengan demikian punya kaitan dengan pendidikan. Haram bermakna “tidak asli” atau “palsu”. Nama itu muncul dalam konteks penjajahan Inggris. Pada 1903, Khalifah Sokoto, yang menguasai daerah yang sekarang menjadi Nigeria Utara, Niger dan Kamerun Selatan, dikalahkan oleh penjajah Barat. Kemudian, wilayah itu menjadi daerah jajahan Inggris. Pemaksaan pendidikan Barat yang diterapkan Inggris menimbulkan kemarahan warga Muslim. Karena itulah terjemahan Boko Haram menjadi “Pendidikan Barat adalah tidak asli atau dosa”. tetapi, nama yang sesungguhnya adalah Jama’ah Ahlus Sunnah lid Da’wah wal Jihad.
Boko Haram berkeyakinan bahwa Nigeria adalah negara kafir dan karena itu harus diubah menjadi negara Islam, yang berdasarkan syariah dan menentang apa saja yang berbau Barat, seperti Pemilu, kemeja dan celana panjang. Mereka menganggap keterlibatan Muslim dalam partai politik atau kegiatan sosial yang memiliki korelasi dengan Barat sebagai sesuatu yang ilegal.
Kelompok ini menggunakan strategi kekerasan. Sekitar 10.000 orang diperkirakan tewas di tangan Boko Haram sepanjang periode 2002-2013. Menurut Human Right Watch, Boko Haram selama periode 2009-2012 bertanggung jawab atas 900 pembunuhan melalui berbagai tindak kekerasan. Pada tahun 2009, Boko Haram menyerang gedung pemerintah, kantor polisi, gereja, dan sekolah. Pada 2014, sebanyak 276 siswi di Provinsi Borno diculik ketika sedang bersekolah. Penculikan ini hanyalah satu dari 800 kejahatan yang dilakukan Boko Haram. Konflik antara Boko Haram dengan pemerintah Nigeria telah membuat 90.000 orang terlantar.
Teori konspirasi menyebutkan bahwa Boko Haram didirikan oleh kekuatan Barat untuk merusak Islam dan melemahkan wilayah utara secara politik, ekonomi, dan keamanan. Teori ini mungkin saja benar. Jika demikian, maka bisa dibayangkan betapa bodoh dan lemahnya umat Islam yang mudah di adu domba untuk melemahkan umat Islam sendiri. Akibat kekerasan ini, semua dana bantuan yang berasal dari pemerintah maupun swasta di wilayah utara langsung menghilang, ratusan sekolah dan yayasan Islam ditutup, aktivis-aktivis Islam ditangkap.
Pada saat yang sama, kelompok non-Muslim mendapatkan keuntungan. Dengan dalih melawan bahaya Boko Haram, mereka mendapat amunisi tambahan untuk melawan partai oposisi Islam dan menuntut pemisahan wilayah selatan yang mayoritas Kristen sebagai negara yang berdiri sendiri.
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari fenomena Boko Haram. Pertama, membangun kehidupan yang damai dan kerjasama dengan siapa saja untuk kebaikan adalah bagian dari amal saleh. Perjuangan menegakkan Islam perlu dilakukan dengan jalan damai. Gerakan pencerahan harus diutamakan dari gerakan kekerasan. Kekerasan akan memperburuk citra Islam dan menjadikan perjuangan Islam tidak membawa hasil.
Kedua, umat Islam jangan mudah dipecah-pecah sehingga menjadi lumpuh, ghutsaun ka ghutsaissail (laksana buih yang terombang-ambing terbawa arus). Konspirasi apapun tidak akan mampu menghancurkan Islam jika umat Islam cerdas dan tidak mudah di adu domba.

Ketiga, Islam yang diperjuangkan haruslah merupakan agama yang memancar dari tauhid, mengabdi kepada Allah semata bukan kepada hawa nafsu. Mengabdi dilakukan dengan rasa cinta, yakni mencintai Allah dan mencintai makhluk-Nya, termasuk manusia. Dakwah harus dilakukan dengan semangat cinta, bukan dengan semangat kebencian terhadap sesama manusia. [islamaktual/matan/syafiqmughni]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top