Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dosen Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, DR. Adian Husaini dalam sebuah acara menyatakan bahwa akar krisis umat Islam adalah akibat hilangnya Adab (Loss of Adab), baik Adab terhadap Allah, Rasulullah, maupun ulama. Menurut Adian, ini harus disikapi secara serius. Adab yang hilang terjadi akibat kekacauan ilmu pengetahuan (Confusion Knowledge).
Dampaknya adalah kehilangan proyeksi, mana yang penting dan kurang penting, mana yang didahulukan, dan mana yang ditunda, mana yang strategis dan mana yang kurang strategis.
“Adab adalah konsep yang sangat luas. Ulama terdahulu seperti Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan Imam Malik selalu menjaga adab. Karena adab inilah yang menjadi tegaknya masyarakat. Adab yang dimaksud adalah memahami sesuatu sesuai harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah, adil atau meletakkan sesuatu pada tempatnya,” ungkapnya dikutip islampos.com, ketika bicara tentang Refleksi dan Proyeksi Gerakan Dakwah di tahun 2016, baru-baru ini.
Dikatakan Adian, kita peduli dengan aliran sesat, tapi juga seberapa energi yang dikeluarkan untuk menghadapi aliran sesat. Tazkiyatun nafs dan thalabun ilmi inilah yang menjadi tegaknya agama (taffaquh fiddin). Sesibuk apapun, kita tidak boleh melupakan tazkiyatun nafs dan thalabun ilmi  tadi, sehingga tidak keliru dalam melangkah.
“Sangat disesalkan mengumandangkan azan di saat perayaan natal. Begitu juga terompet bersampul Al Qur’an, atau sejadah untuk shalat digunakan tari-tarian. Ironinya terjadi di Kementerian Agama. Inilah konsep adab yang sangat bertentangan,” ujar Adian.
Sayangnya lagi, lanjutnya, tidak ada gerakan Islam yang membawa kasus ini ke ranah hukum agar menimbulkan efek jera.
“Adab terhadap Allah itu penting, jangan dianggap sepele, ini masalah serius,” kata Adian.
Adian Husaini menyukuri fenomena tumbuhnya perkembangan dakwah di negeri ini. Keberadaan majelis taklim, lembaga dakwah, dan berbagai harakah patut disyukuri. Bagaimana pun dakwah tak bisa berhenti. Jika dulu Indonesia 100 persen bukan Islam, dengan kehadiran Walisongo, dakwah Islam tersebar di seluruh Nusantara.
“Jika dulu jilbab dilarang, sekarang Polwan boleh berjilbab. Sekolah-sekolah Islam dan pesantren pun turut berkembang. Sekarang ini, orang kalau nggakngomong Islam rasanya nggak enak,” terangnya.
Suasana Islamisasi pun terus tumbuh. Melihat kondisi ini, kita tidak boleh pesimis. Setiap tahapan perkembangan selalu ada tantangannya.
“Semakin tinggi prestasi dicapai, tantangannya akan semakin berat,” tukas Adian.

Bukan tidak mungkin juga, kata Adian, suatu saat, sekolah-sekolah Islam yang sebelumnya mendapat kepercayaan, suatu ketika bisa hancur.  Begitu pula Partai Islam, yang sebelumnya dipercaya, boleh jadi tak lagi mendapat tempat di hati umat. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top