Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Raja Edward I, Si Pengusir Yahudi dari Tanah Inggris


Raja Edward I pernah mengusir kaum Yahudi secara besar-besaran dari Inggris pada 1290 akibat dendam masyarakat Inggris yang berlanjut. Sebagian warga Yahudi akhirnya memilih agama Nasrani sebagai pelindung untuk menghindari pengusiran tersebut.
Dalam buku “Sejarah Inggris” disebutkan bahwa keluarga Cromwell adalah satu dari sekian banyak keluarga yang mengumumkan kenasraniannya. Kelak, dari keluarga Cromwell akan lahir Oliver Cromwell yang nantinya akan memimpin revolusi menentang Raja Charles I, menciptakan undang-undang pencabutan larangan masuknya warga Yahudi ke Inggris, dan mengizinkan keluarga Yahudi yang terusir untuk kembali ke Inggris.
Tahun 1830 lobi Yahudi berhasil menekan parlemen Inggris agar mengeluarkan undang-undang hak berpolitik penuh bagi warga Yahudi. Mereka pun berhasil mengangkat Benjamin Disraeli menduduki posisi di parlemen hingga ada juga wakil Yahudi yang dapat menduduki kursi perdana menteri.
Klimaks pengaruh Yahudi terjadi pada masa pemerintahan Raja Edward VII yang sistem pemerintahannya didominasi warga Yahudi. Sir Anton Rothschild yang terlibat dalam skandal cinta dengan putri raja dan Arnest Kassel yang menjadikan Gold Schmid sebagai pengawal pribadinya adalah bukti pengaruh orang-orang Yahudi pada sistem pemerintahan Edward VII hingga akhirnya Schmid berhasil menjabat sebagai Kepala Staf Komando Angkatan Bersenjata Inggris yang bertanggung jawab atas keamanan Afrika.
Hubungan Yahudi dengan Raja Edward VIII sudah terjalin sejak Yahudi mengetahui kebiasaan Edward VIII, yang ketika itu masih menjadi putra mahkota, terhadap wanita-wanita cantik. Ketika pada tahun 1901 dia diangkat menjadi raja, hubungannya dengan Yahudi semakin erat, sehingga banyak jabatan yang dia percayakan kepada warga Yahudi. Mereka dipercaya untuk menjadi walikota London, penguasa tanah jajahan di Hongkong, direktur jenderal pos tanah jajahan di India, penguasa tanah jajahan di Australia, walikota Capetown di Afrika Selatan, jaksa agung di Inggris, dan lain-lain.
Pengaruh itu berlanjut hingga pemerintahan Raja George dan Ratu Maria melalui jabatan wakil kerajaan di India, rektor Universitas Oxford tahun 1935 (Devid Levi), inspektur pada Akademi Seni di Inggris (Darwin), dan lain-lain.
Tokoh Yahudi lainnya yang menduduki jabatan vital untuk melancarkan program Zionis, di antaranya, adalah Khaem Wiseman yang kelak menjadi presiden Zionis pertama di tanah Palestina. Jasa terbesar Wiseman terhadap pemerintahan Inggris adalah keberhasilannya mempersembahkan rumusan bom ketika dia menjabat Kepala Labolatorium Angkatan Bersenjata Inggris periode 1916-1919 melalui klaim bahwa rumusan itu adalah temuannya. Hasilnya, dia meraih penghargaan berupa deklarasi Balfour yang dimanfaatkan Zionis untuk menguasai bumi Palestina.
Pada tahun 1951, Churchill, salah seorang tokoh pemerintahan Inggris yang mengatakan bahwa bangsa Arab adalah anjing yang kalau dipukul kepalanya akan mencium kaki, memperjuangkan pengangkatan Charphill menjadi Menteri Bidang Energi Nuklir.
Lebih jelasnya, ketika buku ini ditulis, dalam parlemen Inggris telah terdapat 46 orang wakil Yahudi. Lewat keluarga Rothschild, Sason, dan miliuner Yahudi lainnya, mereka berhasil mendominasi sektor ekonomi yang di dalamnya termasuk penguasaan atas bank, perusahaan perdagangan, dan industri berat.
Mereka pun berhasil menguasai pusat-pusat tambang di negara-negara jajahan Inggris dan menguasai juga sebagian besar saham-saham Bank Central Inggris yang mencetak mata uang kertas serta saham-saham perusahaan minyak Inggris, Iran, Irak, clan Kuwait.
Di Inggris pun terdapat konglomerat-konglomerat yang menjadi donatur tetap perjuangan Zionis Israel di bumi Palestina, di antaranya adalah Edward Seves, pemilik Mark Spencer, yang meninggal tahun 1982. Pada tahun 1967, dengan lancar dia menambah bantuan dananya hingga sepuluh juta poundsterling berkat izin khusus dari Ratu Elizabeth. [islamaktual/islampos.com]

Sumber: Yahudi dalam Informasi dan Organisasi / Penulis: Fuad bin Sayyid Abdurrahman Arrifa’i / Cet. 1. / Penerbit: Gema Insani Press, 1995, Jakarta

Ribuan Sisa Peledak Masih Tertanam di Jalur Gaza


Laporan United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) memperlihatkan, lebih dari 3.000 sisa-sisa bahan peledak masih berada di jalur Gaza. Seperti dikutip islampos.com pada Rabu (27/1) kemarin, pernyataan ini diutarakan, setahun setelah serangan musim panas Israel pada tahun 2014.
UNRWA menyatakan, dari 7.000 bahan peledak yang tertanam, 30 persen dari sisa peledak tersebut telah diidentifikasi dan dibuang. Sementara 70 persen lainnya, masih berada di wilayah Gaza. Tentu, ini menjadi ancaman keselamatan bagi warga setempat, terutama anak-anak.
Sejak serangan tahun 2014 lalu, 16 orang diidentifikasi tewas, 90 luka-luka, termasuk 38 diantaranya adalah anak-anak.
Dukungan pun datang dari Direktorat Jenderal Kementrian Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Italia, UNRWA, serta PBB Mine ActionService (UNMAS).
Mereka akan berusaha mengadakan kegiatan pendidikan, cara untuk melindungi diri dan mengetahui dampak, dari sisa-sisa peledak yang masih ada, sisa perang lalu.

Badan yang menangani teknik bahan peledak dari Kementrian Dalam Negeri Palestina mengatakan, setidaknya, roket dan peledak masih terdapat di bawah 40 rumah warga Palestina, yang diblokade. [islamaktual]

Berjumpa Dengan Allah SwT


Setiap Muslim tentu ingin -setidaknya merasakan- bertemu dengan Allah SWT. Secara umum, orang Islam beranggapan, berjumpa dengan Allah SWT hanya bisa dilakukan melalui ibadah-ibadah ritual, seperti shalat, berdoa, berzikir, sampai pergi ke tempat-tempat suci seperti Makkah untuk berhaji dan umrah.
Tentu anggapan ini tidak salah, namun tidak seratus persen benar. Melakukan ibadah ritual saja tanpa berdampak pada akhlak sosial, ibadah tersebut tidak hanya sia-sia (tidak bermakna) tapi juga bisa mendatangkan kecelakaan bagi pengamalnya.
Shalat yang tidak melahirkan kepedulian sosial disebut dalam Alquran sebagai shalat sahun (lalai) dan pengamalnya digelari sebagai pendusta agama. Shalat model begini alih-alih berpahala atau dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, malah yang ada ancaman kecelakaan (neraka wail).
Sebagaimana firman Allah SWT, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. Maka, celakalah bagi orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (QS al-Maun: 1-7).
Dalam pandangan Islam, hubungan ibadah ritual dan akhlak sosial bagaikan ruh dan jasad pada diri manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Satu dengan yang lain saling berkaitan. Jika salah satu dari keduanya tidak ada, namanya bukan lagi manusia.
Demikian juga hubungan ibadah ritual dengan akhlak sosial. Keduanya tidak boleh dipisahkan, tapi satu yang lain harus saling berhubungan. Shalat yang baik mesti melahirkan kesadaran zakat, infak, dan akhlak baik.
Mengenai hal tersebut ditegaskan oleh Alquran, “Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat.” (QS al-Baqarah: 110). “.... Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) keji dan munkar.” (QS al-Ankabut: 45).
Pandangan Islam seperti di atas menyadarkan kita bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak hanya dapat dilakukan melalui shalat, doa, zikir, atau ibadah ritual lainnya. Tapi, dapat juga melalui pengkhidmatan (pelayanan) terhadap sesama manusia.
Salah satu indikator kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT adalah mendapat pertolongan dari-Nya. Sabda Nabi SAW, “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya sepanjang hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim).
Bahkan, di dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan bahwa pengkhidmatan kepada sesama manusia tidak hanya dapat mendekatkan diri kepada Allah, tapi sekaligus sebagai upaya bertemu dengan Allah SWT.
Ketika kita menjenguk orang sakit, memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan hakikatnya kita sedang bertemu dengan Allah SWT sebab ia berada di sisi dan di tengah-tengah mereka.
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam! Aku sakit mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam. Allah berfirman: Engkau tahu bahwa seorang hamba-Ku sakit di dunia, akan tetapi engkau tidak menjenguknya, seandainya engkau menjenguknya sungguh engkau akan dapati Aku di sisinya.
Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku? Orang itu berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan sedangkan engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: Engkau mengetahui ada dari hamba-Ku yang kelaparan dan engkau tidak memberinya makan, sekiranya engkau memberinya makan, niscaya engkau dapati Aku di sisinya.''
''Wahai anak Adam Aku meminta minum padamu sedang engkau enggan memberi-Ku minum. Ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah menjawab: Seseorang meminta minum padamu dan engkau tak memberinya, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau dapati Aku di sisinya.” (HR Muslim).

Jadi, bertemu dengan Allah SWT tidak mesti melalui shalat dan zikir di tempat yang sepi saja, tapi juga dapat melalui pengkhidmatan terhadap sesama di tempat keramaian. Wallahu alam. [islamaktual/rol/h.karman]

Panggilan Hati Menuju Rahmat Allah


Perceraian papa dan mama, ditambah kondisi perekonomian keluarga yang sedang jatuh kala itu, membuat mama tiba-tiba mengasingkanku dan kakakku Emilio di sebuah kota di pulau seberang, tepatnya di Manado. Aku kira kami berdua dititipkan ke saudara disana, ternyata bukan. Kami dititipkan kepada orang yang tidak kami kenal. Aku yang ketika itu masih kelas 5 SD, sedang kakak empat tahun di atasku, dititipkan kepada saudara dari teman mama yang merupakan jemaat gereja di Jakarta.
Disana aku merasa dijual, karena aku dipindahtangankan dari satu orang ke lain orang. Aku sempat merasa kesal, kok teganya mama berbuat seperti ini pada anaknya. Sekilas kalimat yang masih kuingat, “Kalian disini itu numpang, jadi kalian harus kerja. Tidak ada uang sepeserpun untuk kalian dari gereja, kalian makan pakai uang saya!” Aku yang masih di bawah umur kala itu, juga kakakku, dipaksa bekerja dan mendapat kekerasan. Menyapu, mengepel, membereskan ruangan, hingga berkebun namun tak mendapat upah. Kekerasan fisik yang kualami membuatku ingin berontak dan melarikan diri.
Sempat aku mencoba mengontak keluargaku di Jawa, namun hasilnya nihil. Aku yang waktu itu sudah tidak tahan namun bingung mencari pertolongan, mencari cara agar bisa pergi dari sana. Ada seorang guru di sekolah yang merasa prihatin karena tahu apa yang aku alami. Dari situlah akhirnya aku bekerja sama dengan guruku itu. Setiap pergi ke sekolah tasku selalu penuh dengan baju-baju, lalu aku titipkan di sekolah. Hal itu kulakukan agar bisa kabur bersama barang-barang yang perlu kubawa. Beruntung, kakakku akhirnya mendapat nomor telepon papa yang berada di Madiun. Papa seketika mengirimkan uang untuk kami berdua agar membeli tiket pulang.
Tiba di Madiun, aku mengungkapkan panggilan hatiku pada papa bahwa aku ingin masuk Islam saja. Pengalaman tidak mengenakkan yang kudapat dari jemaat gereja juga merupakan salah satu faktor mengapa aku ingin pindah agama. Papaku yang seorang Muslim akhirnya menyekolahkanku di SMP Muhammadiyah di Madiun, di sekolah itu pula aku berikrar dua kalimat syahadat, dibimbing guru dan disaksikan teman-teman sekelas. Lega dan nyaman, itulah yang aku rasakan saat menjadi mualaf.
Tahun 2009, tepat aku kelas 2 SMP. Papaku menghadap pada Sang Khalik terlebih dahulu. Sedih, namun hidup harus terus berjalan. Dan aku mulai terbiasa dengan yang namanya kemandirian. Dengan mama aku lepas kontak. Aku tak tahu dimana dia berada, dimana alamatnya, juga tinggal dengan siapa. Sampai pada usai lulus SMA, aku memutuskan untuk sekolah pramugara di Surabaya. Setelahnya, aku bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pramugara kereta.

Semua kebekuan menjadi cair, saat Allah mempertemukanku lagi dengan mama. Aku sempat bertemu dengannya di Jakarta, walau hanya sebentar di sela-sela jam kerja menjadi pramugara. Walau tak tahu di mana tempat tinggalnya berada, namun aku tetap menjaga kabar lewat pesan singkat dengan mama hingga kini. Walaupun mama sempat marah dan kecewa mengetahui aku pindah Islam, namun aku tetap berusaha memegang teguh keyakinan ini. Semoga aku istiqamah dalam melaksanakan kewajiban dan menjalankan sunnatullah yang aku bisa. [islamaktual/al-falah]

'Jangan Kucilkan Eks Anggota GAFATAR'


Pemulangan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dari Bumi Borneo kembali berlanjut. Salah satunya sebanyak 301 eks anggota Gafatar asal Sumatra Utara (Sumut) akan segera dipulangkan ke daerah asal mereka masing-masing. Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi pun meminta masyarakat tidak mengucilkan para eks Gafatar ini jika sudah kembali nanti.
"Jangan mengucilkan mereka. Kita harus rangkul mereka," kata Erry di kantor Pemprov Sumut, Medan, Rabu (27/1) kemarin.
Erry menduga bergabungnya masyarakat menjadi anggota Gafatar karena tidak mengetahui ajaran Gafatar secara menyeluruh. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati menyikapi gerakan-gerakan yang ada di masyarakat. "Kita harus waspada. Jangan sampai terjerumus hingga mengikuti ajarannya," ujarnya.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi antar lembaga sore ini, para eks Gafatar yang akan dipulangkan nantinya akan ditempatkan di penampungan sementara di beberapa kesatuan TNI di sejumlah kabupaten/kota di Sumut. Pemilihan lokasi ini dengan mempertimbangkan fasilitas yang sudah ada di sana.

Data yang dimiliki Pemprov Sumut, kota Medan menjadi kota dengan eks anggota Gafatar terbanyak, yakni berjumlah 135 orang. Kota Binjai menyusul dengan jumlah 36 orang, Deli Serdang 25 orang dan Batubara 24 orang. Sedangkan untuk Simalungun sebanyak 15 orang, Tebing Tinggi 14 orang, Langkat 13 orang, Padang Sidempuan 11 orang,Serdang Bedagai sepuluh orang,  Asahan delapan orang, Sibolga tujuh orang, dan Tapanuli Utara tiga orang. [islamaktual/rol]

KAMMI : Penderita LGBT Bisa Disembuhkan


Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) mengajak kader-kader KAMMI dan seluruh masyarakat Indonesia untuk merangkul para penderita LGBT agar dapat keluar dari lingkaran penyakit lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
dr. Ni Nyoman Indira, Ketua Bidang Perempuan (BP PP KAMMI) menerangkan bahwa LGBT merupakan penyakit psikis, bukan fisik yang bisa disembuhkan. Tidak ada anak terlahir dengan gen LGBT. Namun polemik ini menimbulkan kesenjangan masyarakat akibat gangguan ketidaknormalan LGBT dan masyarakat tidak menerima.
“Dari segi kesehatan penderita LGBT lebih rentan terkena HIV/AIDS, hepatitis B, dan penyakit kelamin lainnya. Penyakit-penyakit itu bisa muncul sebab mukosa anus yang lebih rentan terjadi perlukaan atau pendarahan dibandingkan mukosa vagina. Sebab mukosa anus lebih rapuh,” terang dr. Indi yang sehari-hari bekerja di RSCM ini dikutip islampos.com, Rabu (27/1) kemarin.
Sementara itu, Ketua Bidang Seni dan Olahraga PP KAMMI M. Maulana S. A. menambahkan bahwa secara psikologis penderita LGBT ini berpotensi menimbulkan depresi akibat pengucilan dari masyarakat.
”LGBT itu sebuah aktivitas yang bertentangan dengan nilai dasar dan nilai luhur budaya bangsa Indonesia,” kata pemuda asal Bogor ini.

“LGBT bisa disembuhkan secara internal dan eksternal. Secara internal perlu kesadaran untuk sembuh dan kemauan untuk berubah. Secara eksternal butuh dukungan keluarga dan orang-orang sekitarnya agar keluar dari lingkungannya,” tutup Maulana. [islamaktual]

Dianggap Hina Islam, Penulis Sekuler Mesir Dipenjara


Mesir melakukan tindakan tegas terhadap para penghina Islam. Salah satunya pada Selasa (26/1) lalu, Pengadilan Mesir memenjarakan seorang penulis perempuan kontroversial atas tuduhan melakukan penghinaan terhadap Islam, kata sumber peradilan setempat dikutip islampos.com.
Fatima Naoot dikenakan hukuman penjara selama tiga tahun serta denda setara 2.550 dolar karena dianggap menghina agama Islam melalui akun media sosialnya, sumber tersebut menambahkan.
Fatima menghina Islam setelah dia mengkritik praktik menyembelih domba di perayaan Idul Adha yang merupakan salah satu dari dua perayaan keagamaan besar dalam kalender Islam.
Oktober lalu, Naoot yang dikenal memiliki pandangan sekuler menulis di akun media sosialnya Facebook bahwa penyembelihan domba di Idul Adha adalah pembantaian terbesar yang dilakukan oleh manusia.
Akan tetapi Naoot membantah semua yang telah dituduhkan. Menurutnya komentarnya itu bukan dimaksudkan untuk menghina Islam.
Di bawah hukum Mesir, penghinaan terhadap agama bisa dihukum hingga lima tahun penjara.

Bulan lalu, presenter televisi Beheiri dipenjara selama satu tahun atas tuduhan menghina Islam setelah ia mempertanyakan kredibilitas beberapa sumber yang dikutip dari hadits Nabi Muhammad. [islamaktual]

Menikmati Tersebarnya Kebaikan


Alangkah indahnya hidup ini sekiranya kita ditakdirkan memiliki kondisi hati yang membuat kita selalu merasakan nikmat dan bahagia setiap kali melihat kebaikan tersebar di muka bumi ini. Juga selalu merasakan nikmat dan lezat manakala kita sendiri berbuat kebaikan. Dan bahkan setiap desah nafas kita adalah cerminan rindunya senantiasa untuk dapat melakukan aneka kebaikan dan rindu pula akan semakin banyaknya saudara-saudara kita yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menyebarkan kebaikan.
Orang-orang yang semula kafir dan ingkar menjadi muslim. Orang-orang yang semula munafik dan durjana menjadi bertaubat. Orang-orang yang semula fasik dan durhaka pun menjadi taat. Ya, kita memang harus menginginkan sebanyak mungkin makhluk-makhluk Allah di muka bumi ini menjadi mulia.
Orang-orang yang pernah menyakiti kita semoga oleh Allah SwT diampuni dan dikaruniai petunjuk. Begitupun orang-orang yang pernah tersakiti oleh kita, Semoga Dia yang Mahaperkasa mengangkat derajat kemuliaannya. Bukankah Allah telah berfirman yang artinya,”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah?” (QS. Ali Imran [3]:110).
Artinya apa? Umat yang terbaik adalah umat yang memiliki kesanggupan untuk selalu menata, menjaga, merawat, dan mewaspadai kalbunya dengan sebaik-baiknya, sehingga selalu bersih, lapang, dan selamat. Sedangkan kalbu yang selamat, tidak bisa tidak, akan membuahkan kepekaan. Peka terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
Kepekaan akan membuat dunia ini berubah menjadi samudera ilmu yang teramat luas. Dunia ini akan terang benderang dan lapang karena cahaya ilmu yang telah dikaruniakan Allah SwT pada setiap apapun. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang didengar dari aneka kejadian di bumi ini tidak ada yang perlu disikapi dengan salah.
Karena, pada semua kejadian itu pastilah Dia menebarkan ilmu yang tidak hanya akan membuat kita semakin arif dan bijak, tetapi juga semakin memiliki kesanggupan untuk bersungguh-sungguh kepada-Nya. Sekiranya sudah memiliki kepekaan, maka kita pun niscaya akan dikaruniai kesanggupan memiliki jiwa besar.
Nah, jiwa besar yang bersimbah keimanan dan ma’rifat (pengenalan) yang baik kepada Allah inilah, yang akan membuat pemiliknya dapat merasakan nikmat dan manisnya menyaksikan kebaikan yang tersebar. Tentulah dalam hal ini tidak mesti melalui lisan ataupun perbuatan kita sendiri, namun bisa melalui siapa pun. Sama sekali tidak ada dalam kalbu kita prasangka-prasangka, yang justru hanya akan menggelincirkan kita pada perasaan atau sikap negatif.
Masalahnya, tidak semua di antara kita yang memiliki tingkat seperti ini. Tidak jarang ketika mendengar adzan berkumandang di masjid saja, kita serta-merta merasa terganggu. Apalagi mendengar adzan Subuh yang “mendengking-dengking” justru pada saat-saat sedang enak-enaknya tidur mendengkur.
Duh, speaker masjid itu. volumenya tampak seperti disengaja hanya untuk membangunkan kita sendiri. Betapa mangkelnya hati ini pada speaker murahan itu, pada muadzin yang suaranya buruk itu, dan akhirnya pada masjid yang mengapa kok dibangun dekat-dekat rumah kita. Padahal, sebenarnya merupakan suatu karunia yang besar manakala tiba waktu sholat ada yang mengingatkan.

Keterlenaan kita menikmati selimut dari dinginnya udara Subuh sangat potensial membuat setan, (maaf) mengencingi telinga kita, sehingga membuat tidur semakin pulas, dan Allah membiarkan kita. Kita tenggelam dalam kesibukan kerja beserta tumpukan masalahnya pun sangat potensial membuat setan mengelabui kita dengan fatamorgana cinta dunia, dan Allah SwT membiarkan kita. Na’udzubillah! Wallahu’alam. [islamaktual/al-falah/abdullahgymnastiar]

Iman dan Bisnis yang Membebaskan


Tidak ada manusia yang ingin merugi dalam hidupnya. Semua mendambakan keuntungan, termasuk dalam berbisnis, berniaga, atau berdagang. Mendapatkan untung atau laba besar dalam berbisnis itu bukan saja harapan dan tujuan, tetapi juga salah satu indikator kesuksesan hidup di dunia. Namun demikian, Mukmin tidak boleh terjebak dalam “bisnis duniawi” yang membuatnya melupakan Allah SwT dan Rasul-Nya. Bisnis duniawi yang dilakukannya juga tidak boleh menghalalkan segala cara, karena Islam memberi tuntunan mulia dalam berniaga.
Islam menawarkan bisnis jangka panjang, bisnis masa depan, atau bisnis duniawi-ukhrawi, yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga menyelamatkan dan membebaskan sang pebisnis atau saudagar dari azab Allah SwT yang pedih. Bisnis ini bukan sembarang bisnis, melainkan “bisnis berbasis iman dan jihad” di jalan Allah. Inilah bisnis yang tidak pernah merugi dan selalu menjanjikan harapan masa depan yang paling mencerahkan, yaitu mendapatkan ampunan dari Allah dan surga-Nya. Dalam hal ini Allah SwT berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. as-Shaff [61]:10-12)
Ayat tersebut turun berkaitan dengan pertanyaan sejumlah sahabat kepada Nabi saw mengenai amalan paling dicintai oleh Allah SwT, lalu turunlah ayat tersebut. Artinya, amalan paling dicintai Allah adalah berbisnis dengan Allah dengan cara mengimani-Nya sepenuh hati, mengaktualisasikannya dalam amal shalih dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, dan konsistensi. Meyakini Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati membuat Mukmin mencintai keduanya dengan penuh ketaatan. Jika Mukmin sudah merasakan cintanya yang tulus dan mendalam, maka melakukan amal shalih, termasuk jihad di jalan Allah dengan mengurbankan harta dan jiwa, menjadi ringan dan kebiasaan positif. Iuran anggota dalam sebuah Persyarikatan juga merupakan bentuk jihad finansial yang sangat strategis bagi pemberdayaan, peningkatan, dan pemajuan peradaban masa depan umat dan bangsa.
Dengan kata lain, bisnis berbasis iman dan jihad di jalan Allah: jalan kebenaran, jalan keadilan, jalan kedamaian, jalan keberuntungan, dan jalan kemenangan, merupakan bisnis super menguntungkan. Iman menjadi energi penggerak dan pemacu Mukmin untuk gigih memperjuangkan kebenaran, keadilan, tegaknya hukum, kedamaian, kerukunan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Energi iman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan energi cinta yang melimpah, tidak kenal lelah, tetapi selalu menginspirasi Mukmin untuk selalu mendedikasikan dirinya dalam ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan), bukan ber-fastabiqul ma’ashi wal munkarat (berlomba-lomba dalam melakukan kemaksiatan dan kemunkaran).

Bisnis berbasis iman dan jihad adalah bisnis petunjuk (huda), bisnis komitmen untuk selalu mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Pesan-pesan al-Qur’an dan as-Sunnah tidak hanya penting dijadikan sebagai landasan dan manual kehidupan, melainkan juga diimplementasikan sebagai petunjuk dalam meraih keberuntungan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Oleh karena itu, berbisnis dengan Allah harus terus dibarengi dengan etos ilmiah dan etos amaliyah untuk mau “membeli petunjuk” itu sendiri, bukan malah “membeli kesesatan”, karena membeli petunjuk Ilahi pasti mengantarkan kepada keberuntungan, bukan sebaliknya. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya: “Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]:16). [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

Boko Haram


Kekerasan yang bernuansa agama menjadi problem hampir semua agama. Di Eropa dan Filipina ada kekerasan orang-orang Kristen terhadap Muslim, di Palestina orang Yahudi terhadap Muslim, di Timur Tengah (ISIS) Muslim terhadap sesama muslim. Di Myanmar orang Buddha terhadap Muslim (Rohingya), di India orang-orang Hindu terhadap Muslim, di Mesir orang Muslim (rezim militer) terhadap sesama Muslim, dan di Yaman Muslim (Sunni-Shi’i) terhadap sesama Muslim.
Hampir semua umat beragama memiliki sejarah kelam. Perang pemeluk antar-agama (misalnya, Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha) dan juga antar-pemeluk satu agama (misalnya, Kristen dan Katholik, Syi’ah dan Sunni) telah menelan banyak korban dan penderitaan, termasuk mereka yang sama sekali tidak faham mengapa peperangan terjadi.
Demikian pula apa yang terjadi di Nigeria, sebuah negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Nigeria hampir selalu dilanda konflik antara Muslim dan Kristen. Negeri dengan jumlah penduduk 150 juta ini, terbelah menjadi dua golongan: Islam (60%) dan Kristen (30%). Sisanya (10%) penganut animisme. Posisi umat Kristen relatif lebih baik dibanding dengan umat Muslim karena menguasai pemerintahan, militer dan ekonomi. Dalam situasi komposisi keagamaan seperti itulah Boko Haram yang didirikan pada 2002 muncul sebagai kelompok ekstrem radikal.
Konon Boko berasal dari kata buku, dan dengan demikian punya kaitan dengan pendidikan. Haram bermakna “tidak asli” atau “palsu”. Nama itu muncul dalam konteks penjajahan Inggris. Pada 1903, Khalifah Sokoto, yang menguasai daerah yang sekarang menjadi Nigeria Utara, Niger dan Kamerun Selatan, dikalahkan oleh penjajah Barat. Kemudian, wilayah itu menjadi daerah jajahan Inggris. Pemaksaan pendidikan Barat yang diterapkan Inggris menimbulkan kemarahan warga Muslim. Karena itulah terjemahan Boko Haram menjadi “Pendidikan Barat adalah tidak asli atau dosa”. tetapi, nama yang sesungguhnya adalah Jama’ah Ahlus Sunnah lid Da’wah wal Jihad.
Boko Haram berkeyakinan bahwa Nigeria adalah negara kafir dan karena itu harus diubah menjadi negara Islam, yang berdasarkan syariah dan menentang apa saja yang berbau Barat, seperti Pemilu, kemeja dan celana panjang. Mereka menganggap keterlibatan Muslim dalam partai politik atau kegiatan sosial yang memiliki korelasi dengan Barat sebagai sesuatu yang ilegal.
Kelompok ini menggunakan strategi kekerasan. Sekitar 10.000 orang diperkirakan tewas di tangan Boko Haram sepanjang periode 2002-2013. Menurut Human Right Watch, Boko Haram selama periode 2009-2012 bertanggung jawab atas 900 pembunuhan melalui berbagai tindak kekerasan. Pada tahun 2009, Boko Haram menyerang gedung pemerintah, kantor polisi, gereja, dan sekolah. Pada 2014, sebanyak 276 siswi di Provinsi Borno diculik ketika sedang bersekolah. Penculikan ini hanyalah satu dari 800 kejahatan yang dilakukan Boko Haram. Konflik antara Boko Haram dengan pemerintah Nigeria telah membuat 90.000 orang terlantar.
Teori konspirasi menyebutkan bahwa Boko Haram didirikan oleh kekuatan Barat untuk merusak Islam dan melemahkan wilayah utara secara politik, ekonomi, dan keamanan. Teori ini mungkin saja benar. Jika demikian, maka bisa dibayangkan betapa bodoh dan lemahnya umat Islam yang mudah di adu domba untuk melemahkan umat Islam sendiri. Akibat kekerasan ini, semua dana bantuan yang berasal dari pemerintah maupun swasta di wilayah utara langsung menghilang, ratusan sekolah dan yayasan Islam ditutup, aktivis-aktivis Islam ditangkap.
Pada saat yang sama, kelompok non-Muslim mendapatkan keuntungan. Dengan dalih melawan bahaya Boko Haram, mereka mendapat amunisi tambahan untuk melawan partai oposisi Islam dan menuntut pemisahan wilayah selatan yang mayoritas Kristen sebagai negara yang berdiri sendiri.
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari fenomena Boko Haram. Pertama, membangun kehidupan yang damai dan kerjasama dengan siapa saja untuk kebaikan adalah bagian dari amal saleh. Perjuangan menegakkan Islam perlu dilakukan dengan jalan damai. Gerakan pencerahan harus diutamakan dari gerakan kekerasan. Kekerasan akan memperburuk citra Islam dan menjadikan perjuangan Islam tidak membawa hasil.
Kedua, umat Islam jangan mudah dipecah-pecah sehingga menjadi lumpuh, ghutsaun ka ghutsaissail (laksana buih yang terombang-ambing terbawa arus). Konspirasi apapun tidak akan mampu menghancurkan Islam jika umat Islam cerdas dan tidak mudah di adu domba.

Ketiga, Islam yang diperjuangkan haruslah merupakan agama yang memancar dari tauhid, mengabdi kepada Allah semata bukan kepada hawa nafsu. Mengabdi dilakukan dengan rasa cinta, yakni mencintai Allah dan mencintai makhluk-Nya, termasuk manusia. Dakwah harus dilakukan dengan semangat cinta, bukan dengan semangat kebencian terhadap sesama manusia. [islamaktual/matan/syafiqmughni]

Mukmin Perkasa


Jika merujuk pada perintah puasa sebagaimana tertuang dalam Surat al-Baqarah ayat 183, setidaknya ada empat kata kunci dari ayat itu, yaitu, aamanuu (mereka yang telah beriman), kutiba (diwajibkan), al-shiyaam (puasa), serta tattaquun (kalian senantiasa bertakwa). Makna iman, sebagaimana yang diutarakan oleh Ar Raazi dalam kitab tafsirnya juz 5 halaman 10 adalah al-tashdiiq bi al-qalbi wal iqraar bil-lisaan wal ‘amal bil-jawaarih, meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan merealisasikan dengan amal perbuatan. Ketiganya harus simultan dan dalam satu kesatuan. Tidak boleh terpisah satu dengan yang lainnya. Jika terpisah melahirkan iman yang bohong/palsu.
Meyakini sepenuh hati, artinya kebenaran Dinul Islam harus mengakar dalam hati sanubari kita, mendarah daging. Tidak boleh ada kebimbangan dan keraguan sedikitpun tentang kebenaran Islam. Mengucapkan dengan lisan, maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai perwujudan isi hati yang tersembunyi. Dan merealisasikan keyakinan hati dan ucapan lisan tadi dalam perbuatan nyata. Pendek kata, Mukmin harus seia-sekata, senada-seirama antara hati, lisan dan aktivitasnya; sesuai perkataan dan perbuatannya, pernyataan dan kenyataannya.
Iman pangkalnya ada di hati. Hati dalam bahasa Arab disebut qalbun: sesuatu yang berubah-ubah, tidak tetap. Kadang senang, kadang sedih; suatu ketika marah, di lain waktu sabar; bisa ragu atau mantap, dan seterusnya. Jadi hati manusia itu bersifat labil, sementara hati tempat bersemayamnya iman. Konsekuensinya, iman juga akan naik-turun, tambah dan berkurang.
Salah satu wahana pemantapan iman yang ada di hati masing-masing orang yang beriman agar stabil dan tidak labil adalah “diwajibkan” atau “dipaksakan” orang beriman berpuasa. Wajib apabila tidak dilaksanakan mendapat punishment/dosa dan apabila dikerjakan ada reward/pahala. Mengapa ayat tersebut menggunakan kata kerja pasif/mabni majhul: pertama, karena sudah jelas Allah SwT yang memerintahkan, dan kedua, karena puasa itu sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia untuk hidup lebih baik dan sehat.
Kata shaum atau shiyaam secara bahasa adalah al-imsaak, al-shumt, dan al-rukuud (menahan, diam dan beku). Dalam al-Qur’an al-Shiyaam disebut 7 kali, dan al-shaum disebut sekali. Adapun puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, yaitu makan, minum dan berkumpul, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SwT dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Inti dari pesan puasa adalah pengendalian diri dari melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam rangka mengantarkan mukmin menjadi bertaqwa (tattaquun). Lalu apa takwa itu? Arti harfiahnya: takut, menjaga diri, dan sebagainya. Istilah syar’inya adalah menjalankan segala kewajiban, menjauhi segala larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara makruh (dibenci). Sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata ketika menafsirkan firman Allah surat Ali Imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beirman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya.” Katanya : “Hendaklah Dia (Allah) ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri dan tidak diingkari, diingat serta tidak dilupakan.” (HR. al-Thabrani).
Kata taqwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah ra ketika ditanya tentang taqwa. Dia mengatakan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, “Ya.”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, mak aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah” Maka berkata Abu Hurairah: seperti itulah taqwa.
Taqwa berada dalam wilayah abstrak, ibarat energi listrik dalam sistem mekanik, maka yang nampak adalah output dari energi tersebut. Lampu bisa menyala, mesin bisa berjalan, rice cooker bisa panas, kulkas bisa dingin, dan lainnya adalah karena ada energi listrik. Nabi saw bersabda: “Taqwa ada disini, sambil beliau menunjuk ke arah dada tiga kali” (HR. Muslim).
Yang nampak dari taqwa adalah perilaku dari pemiliknya atau “penampakannya”, baik perilaku dalam hubungannya dengan Allah SwT maupun sesama manusia. Ciri, sifat, atau perilaku orang yang bertaqwa telah banyak digambarkan dalam al-Qur’an maupun sunnah Rasul. Kiranya agar mudah dipahami dan diingat kalangan awam, untuk menggambarkan perilaku orang bertaqwa diformulasikan dalam sebuah akronim “PERKASA”. Meski belum memenuhi sebuah kriteria rumusan jami’ wal mani’, setidak-tidaknya telah memenuhi standar minimal sebuah akronim. Apa itu PERKASA? Kata PERKASA terdiri dari tujuh huruf, yaitu: P-E-R-K-A-S-A yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
P=PATUH. Patuh atau taat maknanya menjalankan ketentuan Allah SwT dan Rasul-Nya sepenuh hati, totalitas lahir batin, tanpa pertimbangan untung rugi, tanpa banyak bertanya. Karakter utama seorang Mukmin adalah menjalani kepatuhan kepada hukum dan ketentuan Allah dan Rasul-Nya secara total dalam hidup dan kehidupan sepanjang hayatnya. Firman Allah SwT dalam surat an-Nuur ayat 51, yang artinya: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘kami mendengar, dan kami patuh’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
E=EMPATI. Yaitu kemampuan seseorang merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga tumbuh kedermawanan dan kesetiakawanan sosial. Lahir semangat gotong royong antar sesama, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya menyantuni yang papa. Solidaritas sosial dan kedermawanan dalam Islam adalah nilai utama yang harus ditegakkan. Banyak instrumen kedermawanan yang disediakan oleh Islam, mulai yang wajib seperti: zakat, kafarat sumpah, fidyah maupun yang sunnah seperti: wakaf, infak, dan sedekah. Rasul saw bersabda: “Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim).
R=RAJIN. Rajin dalam bahasa Arab berarti istiqamah atau mujahadah, perilaku sungguh-sungguh dan giat dalam beraktivitas dan dilakukan secara kontinyu/terus menerus. Islam meniscayakan berperilaku rajin dalam kebaikan dan taqwa dan melarang pemeluknya untuk menjadi pemalas. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Ali Imran ayat 114, yang artinya: “dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”
Kebaikan yang kita kerjakan harus ajeg atau terus-menerus/rutin, jangan hangat-hangat tahi ayam, sesekali saja dikerjakan dengan jumlah banyak, setelah itu berhenti. Taraweh sampai 23 rakaat di bulan Ramadhan, setelah itu tidak sama sekali. Sabda Rasul saw: “Sebaik-baik agama (amalan) yang dikerjakan berkelanjutan/rutin oleh pelakunya.” (HR. Muslim).
K=KOMPAK. Orang yang bertaqwa dalam menjalani kehidupan sosialnya harus menjadi perekat dalam persatuan dan kesatuan umat. Mendorong agar aktivitas dalam berjamaah berjalan kompak, kompak antara para pemimpin, antara pemimpin dan yang dipimpin dan antara para anggota. Saling bahu-membahu dan bekerjasama menuju target dan tujuan yang sama.
Kekompakan menghadirkan kesatuan, kesatuan modal utama sukses. “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”, demikian ungkapan klasik yang sudah sangat terkenal. Kebersamaan dalam bekerja dalam wujud kerjasama dan sama-sama kerja. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.
“Sesungguhnya orang Mukmin terhadap Mukmin lainnya laksana bangunan, saling menguatkan satu dengan lainnya.” (HR. Bukhari).
A=ARIF. Yaitu bertindak dengan bijak, penuh pertimbangan dari berbagai aspek dengan matang dan tidak gegabah. Bila kita mampu menahan diri, tidak cepat emosi, bertindak gegabah dan sebagainya, itu pertanda kita telah dewasa. “Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan”, demikian salah satu bunyi iklan. Sejalan dengan sabda Nabi saw: “Buknalah orang kuat itu orang yang mempunyai kompetensi kecepatan penyerangan dalam peperangan, tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri.” (HR. Bukhari-Muslim).
S=SABAR. Artinya tahan/tabah menghadapi cobaan, tenang dan tidak terburu-buru serta putus asa. Sabar meliputi: sabar menghadapi masalah, sabar menjalani ketaatan, dan sabar berpantang melakukan kemaksiatan. Sabar merupakan potensi diri untuk menggapai kesuksesan demi kesuksesan. Oleh karenanya, dalam banyak ayat dan hadits, Allah dan Rasul-Nya mengharuskan adanya kesabaran dalam menjalani kehidupan untuk meraih sukses. Firman Allah SwT dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 153, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
A=AMANAH. Yaitu sesuatu kepercayaan yang dititipkan kepada seseorang, baik berupa harta maupun non-harta dan seseorang tersebut wajib menjaga kepercayaan saudaranya. Misalnya jabatan yang dititipkan oleh rakyat kepada seseorang maka ia wajib melaksanakan tugas dan tanggungjawab jabatan itu sebagaimana seharusnya. Firman Allah SwT dalam QS an-Nisa’ ayat 58, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Demikian akronim PERKASA yang menggambarkan ‘keperkasaan’ orang Mukmin yang telah menjalani ibadah Ramadhan. Hadir menjadi insan yang berkarakter mulia: patuh kepada ketentuan agamanya, empati terhadap sesama, rajin dalam menjalankan amal kebajikan, kompak dalam kerjasama untuk kebaikan dan ketakwaan, arif dan bijak dalam bertindak, sabar dalam menghadapi ujian dan amanah jika menerima kepercayaan. Itulah gambaran manusia taqwa, insan kamil yang senantiasa didambakan oleh Allah SwT dan sesama manusia. Semoga kita tergolong hamba-hambanya yang bertaqwa. Amin Yaa Robbal ‘Alamien. [islamaktual/matan/zahri,sh]

Visit Us


Top