Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Al-Maududi: Pejuang Islam di Anak Benua Asia


Al-Maududi adalah seorang ahli politik yang juga sastrawan, negarawan, dan cendekiawan. Ia adalah seorang muharrik yang juga mufassir. Tokoh yang selalu mengobarkan jihad Islam. Namun, ia adalah jurnalis handal pada zamannya. Ia terlibat dalam banyak penerbitan surat kabar dan majalah. Ia berdakwah lewat jurnalistik dan buku.
Namanya adalah Abu al-A’la al-Maududi, lahir pada 3 Rajab 1321 H atau 1903 M di Kota Aurangabad, di wilayah Haidar Abad (India). Dia berasal dari keluarga yang sangat terhormat. Ia dibesarkan dalam keluarga yang zuhud. Dialek dan tutur katanya terjaga meskipun sering berpindah tempat. Keluarganya sangat terkenal dalam masalah-masalah keilmuan dan Agama.
Ayah al-Maududi tidak memasukannya ke sekolah-sekolah yang didirikan oleh Inggris. Ia diajar sendiri oleh ayahnya di rumah. Ayahnya senang membacakan Sirah Nabi dan Tarikh Islam sejak ia kecil. Ayahnya menginginkan al-Maududi menjadi seorang ulama, sehingga fokus memberikan pelajaran bahasa Arab dan Persia, Ilmu Fiqh dan Hadith. Al-Maududi tidak tertarik mempelajari bahasa Inggris.
Al-Maududi tergolong anak yang cerdas. Di sekolah, ia begitu menonjol. Ia duduk di kelas 8 pada usia 11 tahun. Pada usia ini, ia telah menulis artikel dan menyampaikan ceramah. Guru-guru dan para temannya sangat kagum. Pada usia 15 tahun, ia bekerja sebagai editor pada surat kabar harian yang terbit di kota kecil, Pajnoor. Ia bekerja untuk menghidupi dirinya dan membantu orangtuanya. Ayahnya sakit parah. Hanya bisa duduk dan sulit untuk bergerak hingga wafatnya.
Pada 1818 M, Abu al-Khair al-Maududi, kakak kandung al-Maududi, menjadi pemimpin redaksi surat kabar Bajamur. Ia pun ikut bekerja di sana. Inilah awal kiprah al-Maududi dalam dunia pers dan jurnalistik. Ketika surat kabar tersebut dibekukan oleh pemerintah, dua bersaudara ini lalu bergabung dengan gerakan kekhilafahan. Mereka sempat berkerja di majalah Taaj. Tugas jurnalistik majalah tersebut memaksa al-Maududi belajar bahasa Inggris. Setelah itu, ia mulai membaca buku-buku sejarah, filsafat, politik, sosial, perbandingan agama, dan lain-lain. Majalah itu pun ternyata kemudian ditutup oleh pemerintah.
Ia kemudian kembali ke Delhi dan menjadi pemimpin redaksi majalah Jaridah Muslim yang diterbitkan Organisasi Ulama India. Majalah itu ditutup oleh pemerintah pada tahun 1341 H. Awal tahun 1342, Al-Maududi diminta Muhammad Ali Jauhar membantu penerbitan surat kabar Hamdarat (Saling Kasih). Mereka berdua aktif menjawab tuduhan-tuduhan terhadap Islam yang dilontarkan Mahatma Gandhi. Sementara itu, Syaikh Ahmad Said ingin menerbitkan surat kabar dengan nama al-Jam`iyah, di bawah Organisasi Ulama India. Keduanya terbit awal tahun 1343 H. Keterlibatannya dalam dunia jurnalistik adalah dalam rangka membela Islam, yang saat itu menjadi sasaran tuduhan-tuduhan Mahatma Gandhi. Ketika itulah al-Maududi menulis dua buku, al-Jihad fil Islam dan al-Dawlah al-Ashifiyah wa al-Hukumah al-Birithaniyah.
Setelah menulis dua buku tersebut, al-Maududi keluar dari organisasi pers dan mulai menulis pemikirannya sendiri. Ia mulai menuangkan pemikirannya secara bebas. Ia menulis dengan metode yang ia yakini, bahwa setiap pemikiran memiliki lafal-lafal tertentu dan datang dengan lafalnya sendiri. Pada masa ini, al-Maududi banyak menulis makalah ilmiah dan buku-buku pemikiran Islam.
Al-Maududi memiliki pandangan yang integral antara perbaikan sistem dan perbaikan individu. Bahkan beliau tidak membedakan masalah pemikiran dengan masalah akhlak. Menurutnya, sistem yang baik hanya dapat dibentuk dan diemban oleh orang-orang baik. Akan tetapi, perbaikan individu harus dilanjutkan dengan memperbaiki sistem dan tatanan sosial dan pemikiran masyarakat.
Di sinilah konteks konsep jihad yang dipahami al-Maududi. Jihad tidak melulu membentuk sistem masyarakat atau politik, melainkan juga akhlak. Demikian juga sebaliknya. Dalam pandangan al-Maududi, jihad berwujud dalam 4 jenis konfrontasi: menentang sistem nasionalisme tunggal kesukuan, menentang hegemoni dan dominasi peradaban Barat, menentang pemimpin yang mengusung pemikiran kafir dan bertentangan dengan Islam, dan menentang kejumudan dalam fiqh dan ulumuddin. Oleh karena itu, ia menulis banyak karya di berbagai bidang. Ia tidak hanya menulis dan mendakwahkan persoalan politik dan undang-undang, tapi juga masalah pendidikan dan tafsir Al-Qur`an. Ia juga tidak hanya berjiwa revolusioner, tapi seorang pecinta sastra dan keindahan.
Pada 1943, al-Maududi mendirikan Jama’at Islami. Dengan menggunakan pengaruhnya dan juga organisasinya, ia membantu perjuangan rakyat Palestina. Pada 1948, dia dipenjara dan dibebaskan pada 1950. Pada 1953, ia dipenjara dua kali. Pada tahun ini pula ia dijatuhi hukuman mati, tetapi hukuman tersebut diganti dengan hukuman penjara seumur hidup. Pada 1955, ia dibebaskan. Pada tahun 1958, Jama’at Islami dibubarkan. Keputusan tersebut kemudian dicabut karena dianggap bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku. Pada tahun 1964, para pemimpin Jama’at Islami dipenjara. Oleh karena adanya tekanan dari masyarakat, akhirnya mereka dibebaskan.
Ketika kondisi kesehatan al-Maududi mulai menurun, kepemimpinan Jama’at Islami diserahkan kepada Muhammad Thufail. Al-Maududi kemudian berkonsentrasi dalam bidang pemikiran Islam. Pada 1961, dia membuat rencana yang matang untuk mendirikan sebuah universitas Islam di Madinah Munawwarah. Dia juga mendirikan organisasi Rabithah Alam Islami.

Setelah penyerangan pasukan India ke Pakistan pada 1965, al-Maududi menyerukan umat Islam untuk melakukan jihad. Ia juga mengecam dengan keras kekejaman pasukan India di wilayah Kash­mir. Pada 1967, ia dipenjara selama dua bulan. Pada 1979, al-Maududi wafat di Kota New York (Amerika Serikat), setelah menjalani operasi perut. Maksud dari kepergiannya ke New York adalah untuk menengok puteranya. Di samping berhasil mewariskan konsep jihad, al-Maududi meninggalkan warisan ilmu pengetahuan yang luas kepada dunia, khususnya umat Islam. Ia menulis ratusan karya yang fokus pada Al-Qur`an dan Hadits, pendidikan Islam, sejarah dan peradaban, politik, hukum dan Undang-Undang, ilmu sosial, ilmu ekonomi, dan kemasyarakatan. [islamaktual/sm/wahyumuktiasri]

Menko Darmin Nasution : Hasil Tax Amnesty Belum Menggembirakan


Capaian amnesti pajak belum menggembirakan hingga menjelang akhir periode pertama September ini. Hal ini diakui oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.
Meski begitu, Darmin menegaskan bahwa pemerintah belum akan mengambil langkah lanjutan termasuk pemangkasan anggaran, sebelum tiba akhir periode. Pemerintah menurutnya masih akan menunggu capaian amnesti di periode pertama ini.
"Kita belum bicara seperti itu (pemangkasan anggaran jilid III). Tapi ya memang sampai sekarang hasilnya masih kurang menggembirakan, tapi tunggu lah sampai akhir bulan ini," katanya di Badan Anggaran DPR, Rabu (14/9) kemarin.
Darmin menambahkan pemerintah belum menyiapkah peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk memperpanjang periode pertama amnesti pajak. Hal ini menyusul permintaan sejumlah pihak agar tenggat waktu periode pertama diundur, dari seharusnya akhir September ini.
Perlu diketahui bahwa besaran tarif tebusan untuk periode pertama adalah 2 persen. Tarif tebusan akan terus meningkat untuk periode kedua hingga Desember tahun ini sebesar 3 persen dan periode ketiga hingga akhir Maret tahun depan sebesar 5 persen.
"Saya sih lebih senang menjawabnya kita lihat perkembangan sampai akhir bulan dulu deh ya. Memang ya itu tadi, perkembangannya tidak seperti diharapkan, tapi kita coba push itu supaya aparat pajak bergerak lebih gesit utk yakinkan para pembayar pajak supaya gunakan waktu yang ada," ujarnya.
Sejak awal memang Darmin mengaku enggan berspekulasi atas penerimaan amnesti pajak di periode pertama ini. Ia memilih untuk menunggu hingga periode pertama habis untuk kemudian mengambil langkah lanjutan.

Banyak pihak sebelumnya memprediksi bahwa pemerintah akan melakukan pemangkasan anggaran jilid ketiga untuk menyelamatkan APBN bila penerimaan amnesti pajak tak tercapai. Kementerian Keuangan sempat mengkonfirmasi adanya opsi tersebut, namun keputusannya tetap menunggu capaian amnesti pajak periode pertama. [islamaktual/rol]

Berhadapan dengan Gereja, Sholat Dianggap Bukti Pluralisme


Dalam sebuah foto diunggah oleh Wasito Adi melalui akun Facebook miliknya, pada tanggal 12 September 2016, jam 16.24 salah satu stasiun televisi swasta nasional Trans 7 menyiarkan liputan sholat Idul Adha di kota Malang dengan judul yang diselewengkan, "Salat Menghadap Gereja: Budaya Menghormati Antar Umat".
Judul semacam  ini sangat mudah menyulut persepsi yang keliru, karena seolah-olah terdapat unsur kesengajaan untuk sholat menghadap ke gereja guna menonjolkan sikap menghormati antar umat beragama (dalam hal ini agama Nasrani). Penyebutan sholat sebagai sebuah bentuk budaya juga dipertanyakan, mengingat budaya sudah lazim didefinisikan sebagai hasil cipta karya manusia, sedangkan sholat itu sendiri merupakan bentuk ibadah mahdhoh yang mutlak mengikuti contoh Nabi Muhammad SAW tanpa boleh diubah-ubah.
Masjid Jami' di Alun-alun kota Malang berdiri berdampingan dengan sebuah Gereja kuno yang pada setiap pelaksanaan sholat hari raya umat Muslim, jamaah masjid selalu meluber hingga luar area masjid, sampai ke badan jalan yang berada didepan gereja. Para jamaah yang sholat di daerah itu mau-tak-mau terpaksa berhadapan dengan bangunan gereja sehingga terkesan menghadap gereja.
Pemaksaan Pluralisme
Upaya memanfaatkan momen Idul Adha untuk menggencarkan paham pluralisme ini juga dikhawatirkan akan membenturkan logika yang salah, mengingat di belakang jama’ah sholat juga terdapat gereja Katolik Kayu Tangan, maka dengan asumsi terbalik bisa-bisa dianggap membelakangi gereja secara disengaja sebagai bentuk kebencian, padahal itu sama sekali merupakan kebetulan.
sholat membelakangi gereja.jpg

Lagi pula bila terdapat jamaah sholat berhadapan dengan Kantor Pos akan diartikan sebagai "Budaya Menghargai Filateli"?  Pemberitaan bernuansa framing seperti inilah yang dikhawatirkan akan semakin menyesatkan masyarakat. Bentuk protes netizen terhadap kasus ini diwujudkan dengan membagikan tautan melalui media sosial dan juga melayangkan petisi melalui alamat berikut ini. [islamaktual/gilig]

Percaya Diri Karena Allah


3_139.png
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu­lah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs Ali Imran [3]:139)
Ayat ini turun setelah umat Islam mengalami kekalahan dari kaum kafir Quraisy pada perang Uhud. Kaum muslimin saat itu merasa terpukul. Di antara mereka ada yang merasa bersalah, rendah diri, bersedih dan kemudian tidak percaya diri untuk bisa menjadi pemenang kembali di pertempuran berikutnya. Allah kemudian menghibur dan memberi semangat kepada umat Islam dengan menurunkan ayat ini. Kata Allah pada ayat berikutnya, “Jika kamu mendapat luka, mereka juga luka. Dan jika mereka menang, pada perang Badar kamu pun sebagai pemenang. Dan itulah cara Allah menunjukkan kepada umat Islam dan manusia bahwa kemenangan dan kekalahan itu akan dipergilirkan di antara manusia.
Itulah ketidakpercayaan diri gaya masa lalu sejarah Islam. Dalam konteks kekinian, fenome­na ketidakpercayaan diri umat Islam itu sesungguhnya mulai tampak –meski kadang tidak disadari. Tandanya, sebagai seorang mukmin sea­kan sudah tidak lagi percaya diri de­ngan keimanan dan sudah tidak lagi peduli dan cenderung meninggalkan ibadahnya. Bahkan, tidak pernah malu saat mengambil prosesi ritual yang dilaksanakan umat agama lain. Umat Islam juga cenderung meniru perilaku dan ritual orang-orang non-muslim yang dibungkus dengan statemen budaya, modernitas, “biar gaul” atau mengikuti perkembangan zaman.
Ketidakpercayaan diri itu muncul misalnya saat Hari Natal. Atas dasar toleransi dan menghargai teman, tidak sedikit umat Islam ikut-ikutan Natalan atau setidaknya memberi uca­p­an selamat Natal. Di tahun baru Masehi umat Islam ikut meniup terompet layaknya orang Yahudi; menyalakan kembang api layaknya orang Majusi saat hendak beribadah; ikut menabuh genderang dan bunyikan lonceng layaknya orang Nasrani hendak melakukan kebaktian. Bukan hanya itu, pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan Maulid Nabi ju­ga dianggap tidak ramai jika tidak ada perayaan kembang api.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakpercayaan diri itu sering muncul karena dorongan hal-hal yang bersifat duniawi. Tidak menjadi “orang” kalau tidak punya mobil. Malu karena tidak sama deng­an yang dimiliki tetangganya. Merasa minder karena tidak punya jabatan yang bi­sa dibanggakan. Dan, anak-anak kita pun tidak pernah percaya diri di hadapan teman-temannya jika tidak bersepeda motor bagus dan ber-handphone mahal. Mena­rik­nya, para muslimah banyak yang tidak percaya diri ke undangan resepsi pernikahan jika tidak berhijab –meskipun jika keluar rumah masih sering lupa dengan hijabnya itu.
Dalam konteks yang demikian, kita bisa bandingkan keadaan kita ini dengan kondisi pada masa Jahiliyah. Dulu, orang-orang kafir Quraisy merasa percaya diri karena memegang jabatan tertentu, seperti pemegang kunci Ka’bah, penjaga air Zamzam, penjaga patung-pa­tung di Ka’bah. Mereka menjadi percaya diri karena silsilah keturunan dengan beragam suku­nya. Mereka juga percaya diri karena kekayaan yang dimiliki.

Tetapi, setelah Rasulullah menyampaikan risalah tauhid, semua berbalik 180 dera­jat. Kemuliaan dan derajat seseorang sudah tidak lagi didasarkan pada kekayaan, keturunan dan jabatannya. Tetapi, kemuliaan, ketinggian dan derajat seseorang lebih ditentukan oleh ke­imanan dan ketakwaannya. Para sahabat yang digembleng oleh Rasulullah merasa yakin de­ng­an keimanan mereka. Mereka percaya diri dengan jaminan Allah di dunia dan akhirat. Saat perintah hijrah turun, mereka tinggalkan harta benda yang dimiliki untuk membangun peradaban baru di Madinah atas dasar iman. Di kemudian hari, generasi awal Islam bisa mengalahkan orang kafir Quraisy, Persia, Romawi, merebut kembali Palestina, menaklukkan Semenanjung Spanyol (Andalusia), bukan karena kaum muslimin saat itu banyak jumlahnya. Namun, lebih karena kepercayaan diri bahwa seorang mukmin itu lebih mulia. Semoga kita bisa meneladaninya. Amin. [islamaktual/sm/bahrussururiyunk]

Standarisasi Kebijakan Keuangan Mikro Syariah Dunia

Add caption

Dalam perhelatan World Islamic Economic Forum (WIEF) ke 12 di Jakarta belum lama ini, ada salah satu pekerjaan rumah yang menuntut beberapa pihak yang terlibat aktif dalam Policy Roundtable Discussion (PRD) dalam acara tersebut adalah merumuskan dan mengoperasionalkan lima pilar program IDB dalam rangka merealisasikan dan mensukseskan program IMPACT (Islamic Microfinance for Poverty Alleviation and Capacity Transfer) Islamic Development Bank (IDB).
Kelima pilar IMPACT itu adalah regulasi dan standarisasi kebijakan, operasional, teknologi, monitoring dan evaluasi, serta ad vo kasi. Forum diskusi yang mengangkat tema Enabling Regulatory Environment for Islamic Microfinance Institutions tersebut memiliki target penting agar lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) di masing-masing anggota IDB memiliki peran yang signifikan agar jargon IMPACT bisa terealisasi dengan baik dalam kerangka lima pilar tersebut.
Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana merumuskan standarisasi kebijakan dalam rangka memperkuat peran sentral LKMS dengan latar belakang beragam masing-masing negara anggota IDB; kerangka kebijakan yang vis-a-vis menegaskan perbedaan antara LKMS dengan lembaga keuangan mikro konvensional.
Dengan latar belakang sosio-politik yang berbeda tentunya bukan pekerjaan mudah untuk merumuskan standarisasi kebijakan LKMS tersebut. Belum lagi penggunaan kata mikro seringkali memicu perdebatan. Dalam konteks regulasi Indonesia misalnya, perdebatan bisa muncul di seputar siapa yang "layak" untuk menjadi nasabah dalam kerangka regulasi otoritas jasa keuangan (OJK) atau anggota dalam kerangka regulasi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Di Indonesia sendiri ketika muncul kata pengentasan kemiskinan, maka ada potensi perluasan klasifikasi nasabah atau anggota; dari masyarakat yang unbankable ke masyarakat miskin yang unbmtable (the poorest of the poor). Untuk masyarakat yang tergolong miskin, jangankan mendapatkan pelayanan keuangan dari bank, pelayanan keuangan dari BMT (Baytul Mal wat Tamwil) dan sejenisnya saja mungkin tidak layak.
Oleh karena itulah, ketika berbicara masalah pengentasan kemiskinan harus bermula dari definisi kemiskinan yang dimaksud. Dalam Islam, kemiskinan tidak hanya dipandang dari dimensi materi atau ekonomi saja, tapi termasuk isu-isu ketidakberdayaan dari dimensi non-ekonomi; seperti literasi keuangan yang buruk, pesimis, pasif, tidak memiliki skill, integritas, dan lain-lain.
Terlepas dari ikhtilaf mengenai "subjek pelayanan" keuangan, beberapa pa kar yang terlibat dalam PRD sepakat bahwa ketika LKMS di masing-masing negara memiliki target untuk merealisasikan jargon IMPACT, paling tidak harus merujuk ke empat isu utama dalam kerangka kebijakannya; fungsi pemberdayaan (baytut tamkin), fungsi sosial-ekonomi (baytul mal), fungsi bisnis (baytut tamwil), dan fungsi proteksi (baytut ta'min) dengan memastikan setiap fungsi tersebut patuh syariah.
Pilihan LKMS yang mengusung target pengentasan kemiskinan dari pengentasan non-materi bisa berawal dari upaya mengoptimalkan fungsi pemberdayaan (baytut tamkin). Dari perspektif pemberdayaan ini, negara-negara anggota IDB diharapkan mampu merumuskan kerangka kebijakannya yang mendukung fungsi pemberdayaan ini bisa di lakukan oleh LKMS. Penggunaan instrumen filantropi Islam seperti ZISWAF perlu mendapatkan ruang yang luas agar bisa diberdayakan dalam rangka mengoptimalkan fungsi pemberdayaan LKMS tersebut.
Kedua, fungsi sosial-ekonomi (baytul mal), bisa diterapkan sebagai tahap an masyarakat yang tergolong miskin untuk bisa mandiri dan memiliki kemampuan untuk bisa masuk pada ta hapan dimana dia layak untuk mendapatkan pelayanan keuangan yang berbasis akad bisnis. Masyarakat miskin belajar untuk amanah ketika diberikan layanan keuangan dalam bentuk pinjaman (qardh). Tidak ada kewajiban untuk menambah jumlah tertentu dari pinjaman yang didapatkan kecuali sejumlah uang pinjaman yang dia terima dari LKMS. Pada tahapan ini, bisa juga mengoptimalkan penggunaan dana ZISWAF.
Tantangannya adalah, bagaimana LKMS bisa memilah mana masyarakat yang betul-betul dinilai amanah setelah "lulus" dari tahapan fungsi pemberdayaan non-materi dari LKMS.
Ketiga, fungsi bisnis (baytut tamwil) LKMS bisa menjadi katalisator bagi masyarakat miskin menuju masyarakat yang berdaya dari sisi materi/ekonomi. Tahapan ini menjadi sebuah proses dimana masyarakat miskin bisa memulai hidupnya dengan mandiri secara ekonomi dan layak naik kelas untuk mendapat kan pelayanan keuangan dengan akad atau kontrak bisnis. Perpaduan antara berdaya secara non-ekonomi (integritas) dan ekonomi itulah yang bisa dikatakan bebas dari kemiskinan secara paripurna.
Masyarakat miskin dengan integritas yang kokoh, akan mengantarkan dia sebagai sosok individu yang gemar berinfaq. Ketiga fungsi di atas sangat erat kaitannya dengan upaya IDB untuk melakukan transfer kapasitas (transfer of capacity) bagi masyarakat yang tergolong miskin. Keempat, fungsi proteksi (baytut ta'min) yang tidak bisa dipisahkan dalam seluruh proses pelayanan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh LKMS.
Seluruh tahapan yang dilakoni oleh LKMS memiliki risikonya masing-masing, terutama ketika menyangkut kontrak atau akad bisnis. Islam mengajarkan perlunya melakukan mitigasi risiko baik itu dalam kontrak yang mengedepankan tujuan sosial, apalagi menyangkut tujuan bisnis. Disinilah perlunya kerangka kebijakan yang mengakomodir fungsi proteksi bagi LKMS.
Pesan dari keempat fungsi di atas adalah perlunya standarisasi kebijakan LKMS yang integratif bagi negara-negara anggota IDB dalam rangka pengentasan kemiskinan dan transfer kapasitas. Konsekwensi logis dari kebijakan integratif ini berdampak pada model kebijakan pengawasan yang integratif pula.
Kerangka kebijakan yang integratif ini senada dengan definisi keuangan mikro yang dinyatakan United Nation bahwa keuangan mikro adalah lebih dari sekedar simpanan dan pinjaman. Pelayanan ke uang an mikro meliputi dwifungsi peran, yaitu intermediasi sosial dan keuangan. Wallahu a'lam.  [islamaktual/rol]


Dr Yulizar D. Sanrego

Peneliti, Pusat Studi & Pengembangan Ekonomi & Keuangan Islam Pesantren (PUSPEKIN) Universitas Darussalam Gontor

Kisah Nabi Musa as [14]


Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip Ibn Katsir dalam Kisah Para Nabi (hal. 409), sebagian Bani Israil ragu-ragu terhadap kematian Fir’aun, sehingga ada yang berkata bahwa Fir’aun belum mati. Maka Allah SwT perintahkan kepada laut untuk mengangkat jasad Fir’aun, lalu jasad Fir’aun terangkat dan terdampar ke daratan masih memakai baju besi perangnya yang sudah sangat dikenal baik oleh Bani Israil dan penduduk Mesir, sehingga mereka semua yakin memang Fir’aun sudah binasa. Jasad Fir’aun yang selamat tersebut dapat menjadi bukti kekuasaan Allah baik bagi Bani Israil, penduduk Mesir dan siapapun yang datang belakangan jauh sesudah peristiwa tersebut. Peristiwa kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya itu terjadi pada tanggal 10 Muharram atau hari ‘Asyura.
Setelah berhasil menyebrangi laut Qalzum atau Laut Merah dengan mukjizat dari Allah SwT, Bani Israil meneruskan perjalanan meninggalkan daerah pantai menuju negeri yang dijanjikan. Dalam perjalanan mereka bertemu suatu kaum yang masih menyembah berhala. Melihat hal tersebut, sebagian Bani Israil langsung mengajukan permintaan kepada Nabi mereka Musa untuk membuatkan bagi mereka berhala yang sama untuk disembah. Konon berhala yang disembah oleh kaum itu berbentuk seekor sapi. Tentu saja permintaan yang bodoh ini serta merta ditolak Musa. Allah Swt berfirman yang artinya:
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf [7]:138-139)
Tentu saja Nabi Musa as sangat kecewa dengan permintaan bodoh sebagian Bani Israil ini. Bayangkan, baru saja mereka diselamatkan oleh Allah SwT dari kejaran Fir’aun dengan cara yang luar biasa, kok tiba-tiba sekarang, hanya karena melihat suatu kaum menyembah berhala yang mereka pertuhan, mereka juga minta dibuatkan tuhan. Sungguh tepat apa yang dikatakan Musa, bahwa mereka belum paham hakikat Tuhan yang sebenarnya. Berhala itu hanya benda mati, tidak dapat menolak mudharat dan tidak bisa memberi manfaat sedikitpun. Berhala itu diciptakan bukan menciptakan. Justru misi Musa dan Harun dan seluruh Nabi-nabi yang diutus oleh Allah SwT adalah mengajak umat manusia untuk menyembah Allah SwT semata dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Penyembahan berhala itu akan dihancurkan.
Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (XVI: 198), bertahun-tahun sebelum pergi meninggalkan Mesir, Musa telah mengingatkan kepada Bani Israil tentang ajaran Tauhid. Musa menjelaskan bahwa keturunan Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub bukanlah umat penyembah berhala, tetapi penyembah Allah SwT semata. Rupanya pengaruh pergaulan dengan orang-orang Qibti atau golongan Fir’aun selama 400 tahun itu belum hilang sama sekali. Masih banyak di kalangan Bani Israil itu yang belum juga mengerti.
Tatkala permintaan mereka ditolak habis oleh Musa, mereka terdiam, tidak menjawab lagi. Tetapi bukan berarti kebodohan itu telah habis. Terbukti nanti sepeninggal Musa yang pergi menghadap Tuhan ke bukit Thursina untuk menerima kitab suci, mereka segera terpedaya dengan Samiry dalam mempertuhankan anak lembu.
Barangkali memang waktu berada bersama bani Israil di Mesir, Musa lebih fokus dengan tugas membebaskan Bani Israil dari Fir’aun. Waktunya tersita untuk menghadapi musuh besar yaitu Fir’aun dan para pembesarnya sehingga tidak banyak waktu untuk mendidik Bani Israil dan menanamkan akidah yang kuat. Sehingga kaumnya mudah tergoda untuk menyimpang dari akidah yang benar.
Bagaimana pun keadaan Bani Israil, yang jelas Musa sudah berhasil menjalankan tugas yang diberikan oleh Allah SwT di Bukit Thursina pada pertemuan pertama setelah dia meninggalkan Madyan beberapa waktu tahun yang lalu. Sekarang untuk menghadapi periode berikutnya dalam membawa Bani Israil ke negeri yang dijanjikan, Musa mengharapkan dapat bertemu kembali dengan Allah SwT untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk selanjutnya.
Allah SwT mengabulkan keinginan Musa dan menjanjikan kepadanya untuk memberinya kitab Taurat setelah berlalu waktu 30 malam ditambah 10 malam lagi. Allah SwT berfirman:
7_142.png
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi). Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”. (QS. al-A’raf [7]:142)
Dalam masa menunggu tiga puluh malam itu Musa berpuasa. Kemudian ditambah lagi oleh Allah sepuluh malam lagi, Musa terus berpuasa sepuluh hari lagi. Sehingga sempurna menjadi empat puluh. Sebagian mufassir menyebutkan 30 malam pertama itu selama bulan Zulqaidah dan 10 malam lagi bulan Zulhijjah. Setelah datang waktu yang dijanjikan berangkatlah Musa ke bukit Thursina.
Sebelum berangkat, Musa mendelegasikan tugas memimpin Bani Israil kepada saudaranya Harun. Ada dua pesan Musa kepada saudaranya Harun. Pertama, terus menyelesaikan pekerjaan yang masih terbengkalai dalam memimpin Bani Israil menuju negeri yang dijanjikan; kedua, teguh hati dalam memimpin, jangan mudah terpengaruh apalagi dengan orang-orang yang ingin membuat kerusakan. Sepertinya Musa menyadari kelemahan Harun, yakni tidak punya sikap tegas.
Sesampainya di bukit Thursina, Musa segera menuju lembah Thuwa tempat dulu dia berbicara dengan Tuhan. Pada kedatangan yang kedua ini, Musa ingin tidak hanya sekedar berbicara, tapi kalau bisa bertemu langsung dengan Allah SwT. Lalu Musa mengajukan permohonan kepada Allah SwT untuk dapat melihat-Nya. Allah SwT berfirman :
7_143.png
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. al-A’raf [7]:143)
Memang tidak ada yang bisa melihat Allah SwT secara langsung tanpa hijab di dunia ini. Nanti Nabi Muhammad saw waktu peristiwa mi’raj pun tidak dapat melihat Allah SwT langsung, hanya bisa berbicara. Nabi Muhammad saw hanya dapat berbicara dengan Allah SwT min wara’i hijab yang secara harfiah berarti dari balik tabir. Maksudnya hanya bisa berbicara tapi tidak bisa melihat langsung. Begitu juga yang dialami oleh Nabi Musa di lembah Thuwa bukit Thursina ini.

Musa sadar bahwa tidak mungkin dia dapat melihat Allah SwT di dunia ini. Dia tidak akan sanggup. Bukit saja tatkala Allah SwT tajalli, bukit hancur, apalagi dirinya yang lemah. Musa mengucapkan tasbih, dan memohon ampun kepada Allah SwT atas kelancangannya. Tapi semua itu didorong oleh rasa cintanya yang mendalam kepada Allah SwT. [islamaktual/sm/yunaharilyas]

Amien Rais : Tak Ada Diskriminasi Pria dan Wanita Dalam Islam


Amien Rais menegaskan bahwa Islam telah jauh lebih dahulu bicara tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Demikian pula di Muhammadiyah.
Menurut Amien Rais, banyak perempuan telah menjadi pemimpin di negeri Islam, bahkan dalam skala pemerintahan. “Pakistan, Turki, juga Indonesia telah memilih perempuan sebagai Presiden,” kata tokoh reformasi ini dalam Temu Tokoh Nasional di Islamic Centre UAD (25 Agustus 16) yang diselenggarakan serangkaian  Muktamar NA (Nasyiatul ‘Aisyiyah)  di Yogyakarta.
Di Muhammadiyah sendiri, tandas Amien Rais, tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Menyinggung tentang Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda berkemajuan, tokoh reformasi yang juga Ketua MPR Periode 1998-2004 ini kemudian menggarisbawahi pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi.

“Kompetisi mendatang adalah kompetisi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai iptek, dan bangsa yang tidak menguasai iptek akan menjadi bangsa terbelakang,”  tegas Amien Rais. [islamaktual/sm.id]

MPR : Pemerintah Harus Lobi Kuota Haji Ke Arab Saudi


Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid meminta agar pemerintah lebih mengintensifkan lobi ke Arab Saudi untuk meminta tambahan kuota haji. Sejumlah negara Muslim tidak akan menggunakan kuotanya dengan maksimal karena kondisi dalam negerinya.
"Kita ketahui sejumlah negara Muslim seperti Irak, Suriah, Yaman dan beberapa lainnya tengah dilanda konflik di dalam negeri, sehingga kemungkinan negara-negara itu tidak mungkin memaksimalkan kuota haji yang didapat," kata Hidayat lewat keterangan tertulisnya, Rabu (24/8) kemarin.
Karena itu, pemerintah harus dapat melobi kuota tidak terpakai itu supaya diberikan sebagian ke Indonesia. Penambahan kuota haji sangat mendesak untuk Indonesia mengingat animo masyarakat yang begitu besar. Hal itu bisa terlihat dari panjang dan lamanya antrean untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji.
"Di Jakarta saja antreannya sudah sampai 18 tahun. Jadi kalau daftar sekarang baru tahun 2035 nanti bisa berangkat. Di Kalimantan Selatan lebih lama lagi, tahun 2043 baru berangkat. Jadi kondisinya sudah sangat mendesak untuk tambahan kuota," kata dia.
Selain dapat memperpendek antrean haji, kata dia, penambahan kuota juga bisa menghindarkan masyarakat dari tergoda bujuk rayu menempuh jalan pintas untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Misalnya, seperti yang terjadi dalam kasus jamaah haji Indonesia yang ditahan karena menggunakan paspor Filipina.
Jamaah Indonesia yang ditahan di Filipina, kata dia, adalah korban bujuk rayu oknum yang melihat ada peluang dari negara-negara yang memiliki kuota haji, tetapi tidak memaksimalkan kuotanya karena jumlah penduduk muslimnya sedikit. "Mereka mau menempuh cara itu karena ada jaminan mereka bisa ke Tanah Suci dengan aman. Kalau mereka tahu bahwa mereka akan berangkat dengan paspor palsu, dengan cara ilegal mereka juga tentu tidak akan mau," kata Hidayat.

Terkait paspor palsu calon jamaah haji, Hidayat berharap pemerintah dapat melindungi warga negaranya yang menjadi korban bujuk rayu kemudahan berhaji melalui negara orang. Lobi-lobi perlu dilakukan dengan pemerintah Filipina dalam konteks tetangga satu kawasan ASEAN. [islamaktual/rol]

Merasa Bersalah Dan Takut Diazab


Pada suatu hari, Ma’iz bin Malik ra digoda setan untuk bercumbu rayu dengan seorang budak perempuan sahabat Anshar. Dia menyepi bersama budak itu di suatu tempat yang tak diketahui warga Madinah. Setan “beroperasi”  dengan lihai menggoda dua insan yang “dimabuk cinta”. Percintaan illegal itu benar-benar dibuat indah oleh setan, sehingga keduanya berzina.
Setelah tersadar, Ma’iz menangis, dan mencaci maki dirinya sendiri. Dia merasa bersalah dan takut diazab Allah SwT di akhirat kelak. Hidupnya tidak tenang, setiap hari ia selalu merasa salah dan berdosa, sehingga dosa itu seakan membakar hatinya. Ma’iz kemudian menghadap Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, orang terjauh darimu (Ma’iz) telah berzina; sucikanlah diriku!” Rasul memalingkan muka darinya. Lalu dia kembali menatap wajah Rasulullah dari sisi lain dan berkata: “Ya Rasulullah, aku telah berzina. Sucikanlah diriku…!” Rasul menjawab: “Celakalah engkau… Pulanglah, lalu beristighfar dan bertaubatlah kepada Allah.”
Ma’iz pun pulang. Namun belum jauh dari majelis Rasulullah, dia tidak bisa menahan diri dari kegelisahan hatinya, lalu kembali menemui Rasulullah dan berseru: “Ya Rasulullah, aku telah berzina. Sucikanlah diriku…!” Rasululllah lalu bersuara keras: “Celakalah engkau, tahukah engkau apa itu zina?” Ia lalu diminta pergi meninggalkan majelis Rasulullah.
Ma’iz tetap bersikeras menemui Ra­sul dengan tujuan yang sama, na­mun Rasul selalu menolak, bahkan memintanya meninggalkan ma­jelisnya sambil bertanya: “Tahukah ka­mu, apa itu zina?” Setelah sekian kali menemui Rasul dan mengetahui niat baiknya, akhirnya beliau meminta kesaksian warga masyarakat di mana Ma’iz tinggal. “Apakah dia (Ma’iz) itu gila?” “Tidak, ya Rasul” jawab mereka. “Apa dia termasuk peminum miras?” “Tidak ada tanda-tanda dan tidak tercium bau miras padanya, ya Rasul”, jelas mereka.
Rasul kembali bertanya kepada Ma’iz: “Tahukah kamu apa itu zina?” “Ya, saya tahu ya Rasul. Zina itu ber­hu­bungan badan dengan perempuan yang tidak halal, sebagaimana layaknya hubungan suami istri,” jawab Ma’iz. Lalu Rasul bertanya, “apa yang eng­kau inginkan?” “Aku ingin engkau menyucikan diriku” jawab Ma’iz. Rasul kemudian menyuruhnya untuk dirajam (ditanam dalam tanah hingga leher lalu kepalanya dilempari batu). Diapun akhirnya dirajam hingga meninggal, lalu dishalatkan dan dikuburkan.
Kisah “dramatis” tersebut mengandung pelajaran teologis dan mo­ral: Pertama, berzina itu merupakan do­sa besar, perbuatan keji, menjijikkan, dan merupakan jalan kehidupan yang buruk.
17_32.png
Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32).
Kedua, Rasululullah tidak langsung memberlakukan hukuman kepada Ma’iz sebelum melakukan klarifikasi dan verifikasi, apakah dia berbuat zina itu dalam kondisi sadar (normal), tidak waras (gila) atau karena di bawah pengaruh minuman keras? Tabayyun (verifikasi dan klarifikasi) itu penting untuk memastikan dan membuktikan status hukum seseorang, agar jangan sampai hukuman menimpa orang yang tidak bersalah.
Ketiga, Rasululullah secara tegas menghukum pelaku zina dengan meminta para sahabat merajam Ma’iz sebagai “tebusan” atas kesalahan dan dosanya. Penegakan hukum secara tegas ini untuk menimbulkan efek jera pada orang lain, agar perbuatan yang sama tidak diulangi lagi. Pelaku zina layak dihukum berat karena perbuatannya memang merusak tatanan kehidupan rumah tangga.
Keempat, keinsafan dan penyesalan sang pelaku zina diapreasiasi oleh Rasulullah dengan “penyucian diri” melalui hukuman rajam, dan setelah meninggal, tetap dishalatkan dan dikuburkan.

Sayangnya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, teladan penyesalan, dan kesediaan menerima hukuman setimpal perbuatan salahnya dari Ma’iz tersebut sulit ditemukan. Hampir tak ada pelaku kejahatan mendatangi KPK atau kepolisian minta dihukum atas kejahatannya. Padahal, jika ada ruang keinsafan dalam diri setiap insan, pasti ia menyesali perbuatan dosanya, sesuai ayat: “Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan azab pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS Az-Zumar [39]: 13). [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

Kisah Nabi Musa AS [13]


Apa yang dikhawatirkan oleh Bani Israil ternyata benar. Setelah Musa dan Harun -atas perintah Allah SwT- membawa Bani Israil pergi meninggalkan Mesir, Fir’aun segera mengingkari janjinya. Raja yang lalim itu segera perintahkan kepada panglimanya menyiapkan pasukan untuk mengejar Musa dan Harun beserta seluruh Bani Israil yang pergi bersamanya. Fir’aun turun sendiri memimpin pengejaran. Dia sudah bertekad tidak akan membiarkan Musa dan Harun lolos. Dia akan habisi Musa dan Harun serta memaksa Bani Israil kembali ke Mesir. Para pembesar kerajaan ikut dalam rombongan besar Fir’aun.
Demi mengejar Musa dan Harun serta Bani Israil yang pergi meninggalkan Mesir malam hari, Fir’aun dan para pembesarnya “rela” meninggalkan segala kemegahan dan kesenangan hidup di Mesir. Allah SwT berfirman yang artinya:
Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil. Dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita. Dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”. Maka kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. (QS. asy-Syu’ara [26]:53-58)
Pasukan Fir’aun bergerak cepat mengejar Bani Israil, sehingga pada saat matahari terbit mereka sudah dapat menyusul Bani Israil. Dari jauh mereka dapat menyaksikan bahwa Bani Israil sudah sampai di pinggir laut. Allah SwT berfirman:
26_60.png
Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. (QS. asy-Syu’ara [26]:60)
Dari pihak Bani Israil, mereka juga sudah mendengar deru pasukan Fir’aun dan melihat dari jauh debu-debu padang pasir yang beterbangan. Bani Israil semakin cemas, takut dan terbayang nasib buruk yang akan menimpa mereka. Pada saat itulah mereka berkata kepada Musa dengan cemas: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Allah SwT berfirman:
26_61.png
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (QS. asy-Syu’ara [26]:61)
Secara logika Bani Israil pasti tersusul oleh pasukan Fir’aun, sebab tidak ada lagi jalan untuk menghindar atau lari karena di depan mereka laut dan di belakang musuh mengejar, lalu mau pergi kemana menyelamatkan diri? Tetapi dengan penuh yakin Nabi Musa menyatakan bahwa mereka tidak akan tersusul. Allah berfirman:
26_62.png
Musa menjawab: Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. asy-Syu’ara [26]:62)
Kalau ditanya kepada Musa bagaimana cara untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Fir’aun, tentu Musa juga tidak bisa menjelaskan. Tetapi Nabiyullah tersebut yakin dengan ma’iyyatullah yang dalam konteks ini Allah SwT pasti akan menolong walaupun Musa tidak tahu caranya. Dia pasrahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Musa ingat, tatkala dia dan saudaranya Harun diperintahkan oleh Allah SwT untuk pergi menemui Fir’aun, mereka berdua takut Fir’aun akan menyiksa mereka berdua, maka Allah memberikan jaminan akan selalu menyertai Musa dan Harun. Allah SwT berfirman:
20_46.png
Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha [20]:46)
Janji Allah untuk menyertai mereka berdua itu lah yang membuat Musa begitu yakin mereka tidak akan tersusul. Musa menjelaskan kepada pengikutnya bahwa Allah lah yang menyuruhnya membawa Bani Israil ke tempat ini. Allah pasti menolong. Dia tidak pernah menyalahi janji-Nya. Tetapi bagaimana caranya? Musa tinggal menunggu perintah Allah. Menurut Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya (VI:130) paling depan dari barisan Bani Israil berdiri Harun bersama Yusya’ bin Nur dan seorang beriman dari keluarga Fir’aun. Mereka berdiri bingung di pinggir laut Qulzum, tidak tahu apa yang akan diperbuat. Di depan laut, di belakang musuh. Musa yang tadinya berada di bagian belakang segera menuju ke bagian depan sehingga sampai ke pinggir laut. Pada saat itu Yusya’ bin Nur bertanya kepada Musa: “Apakah memang ke arah sini Allah memerintahkan engkau membawa kami?” Musa membenarkan, memang ke sinilah Allah perintahkan aku membawa kalian.
Akhirnya pada saat yang kritis itu petunjuk Allah datang. Allah SwT berfirman yang artinya:
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan disanalah kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. asy-Syu’ara [26]:63-68)
Allah SwT memerintahkan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya ke lautan. Tanpa berpikir panjang Musa langsung melaksanakan perintah itu. Menurut sebagian mufassir, sesaat memukulkan tongkat itu Musa berkata: “Terbelahlah dengan izin Allah.” Tiba-tiba laut terbelah dua, tiap-tiap belahan seperti dua gunung yang besar.  Di tengahnya terbentang jalan raya. Tanpa ragu sedikitpun, Musa, Harun, dan seluruh Bani Israil segera menempuh jalan tersebut sehingga sampai di seberang. Sungguh mereka menyaksikan peristiwa yang luar biasa, mukjizat dari Allah SwT.
Setelah sampai di seberang Musa ingin memukul sekali lagi agar laut yang terbelah kembali bertemu. Tetapi Allah SwT mencegah Musa, biarlah laut itu tetap terbelah agar Fir’aun dan bala tentaranya menyusul. Allah SwT berfirman:
44_24.png
Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan. (QS. ad-Dukhan [44]:24)
Melihat laut terbelah Fir’aun masih sempat menyombongkan diri kepada pasukannya, dia berkata, lihat laut terbelah untukku. Maka masuklah Fir’aun dan bala tentaranya ke jalan raya tersebut mengejar Musa dan Harun serta Bani Israil. Tapi persis saat mereka berada di tengah perjalanan, Allah SwT perintahkan Musa kembali memukulkan tongkatnya ke laut, maka laut kembali bertemu dan tenggelamlah Fir’aun dan para pembesarnya serta seluruh bala tentaranya.
Sekarang raja yang sangat perkasa, sombong, lalim dan sangat kejam tersebut tidak berdaya sama sekali menghadapi gelombang laut yang begitu besar membanting tubuhnya kesana kemari di tengah lautan yang dalam tersebut. Pada saat itu barulah Fir’aun menyatakan beriman kepada Tuhannya Bani Israil. Tapi kesadarannya sudah terlambat. Allah SwT menolaknya, Allah SwT berfirman yang artinya:
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus [10]:90-91)
Setelah Fir’aun mati tenggelam, Allah SwT menyelamatkan jasadnya agar menjadi pelajaran bagi umat manusia yang datang belakangan. Allah SwT berfirman:
10_92.png
Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus [10]:92)

Jasa Fir’aun kemudian terdampar ke pantai, ditemukan penduduk Mesir lalu dibalsem sehingga masih terjaga sampai sekarang di Museum at-Tahrir di Kairo Mesir. [islamaktual/sm/yunaharilyas]

Visit Us


Top