Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bagaikan bertahun-tahun hilang, dan akhirnya bisa pulang. Usai berikrar kalimat syahadat, aku serasa pulang ke rumah. Ya, Islamlah rumahku yang sebenarnya. Aku merasakan nyaman berada di dalamnya. Sejak lama aku menyimpan kekaguman diam-diam. Mulai dari masa kecil saat aku melihat orang lalu lalang pergi ke masjid, mendengar adzan, sampai beranjak dewasa aku menyaksikan sendiri temanku shalat dan mengaji.
Pemandangan itu membuatku merasakan suatu ketenangan dalam hati, walaupun waktu itu aku masih terlalu takut untuk menindaklanjuti. Agama ini mendekatiku secara emosional dahulu sebelum pengetahuan.
Tinggal di lingkungan keluarga yang tidak terlalu religius, aku seolah butuh oase sebagai penyejuk kekeringan. Aku butuh makna, dari sekedar rutinitas keagamaan yang sebelumnya aku jalani. Entah mengapa batinku lebih percaya keesaan, daripada konsep dewa-dewa di agamaku sebelumnya. Itulah mengapa ada kegamangan, dan aku tergerak untuk mencari di mana letak pintu kebenaran.
Selama perjalanan hidupku, aku memang lebih banyak memiliki teman muslim. Karena itu, aku sebetulnya lebih banyak masuk masjid daripada ke tempat ibadahku sebelumnya. Walaupun hanya sekadar menjaga tas teman-teman yang sedang shalat, entah mengapa aku merasa nyaman berada di sana. Saat masih kuliah di Universitas Indonesia dan tinggal di kos, aku pun kerap mengamati temanku sekamar yang shalat dan mengaji. Aku ikut larut dalam ketenangan itu. Perasaanku seolah diketuk-ketuk oleh hidayah yang ingin masuk ke dalamnya.
Tiba pada suatu malam aku bermimpi. Aku memakai mukena dan berada di ruangan yang tampaknya seperti dalam masjid. Subhanallah… benar-benar masih teringat jelas mimpi itu. Aku akan melaksanakan shalat ketika itu. Bangun dari mimpi pun aku masing terngiang-ngiang, mengapa gambaran dalam mimpiku itu begitu spesifik. Aku pun lalu bercerita pada temanku, dan setelah sharing, juga karena sudah tak merasakan ikatan di agamaku sebelumnya, aku akhirnya mantap untuk memeluk Islam pada Agustus 2014.
Setelah menjadi muallaf, aku sempat ditanya temanku, apakah aku sudah membandingkan antara kitabku yang dulu dengan al-Qur’an. Jujur tidak, namun aku merasakan ada kedekatan emosional dengan Islam sejak dulu. Aku sudah tertarik dengan agama ini bahkan sebelum paham. Memang terdengar klise, namun aku begitu yakin harus memilih agama ini.  Setelah resmi menjadi muslimah, barulah aku mencari-cari pengetahuan mengenai Islam. Alhamdulillah banyak teman sesama muslim yang memberi support, mereka memberiku buku-buku tentang Islam. Bimbingan di Masjid Al-Falah Surabaya tempatku berikrar dulu juga memberiku banyak pelajaran mengenai keislaman.

Perubahan dalam hidup begitu kurasakan setelah menjadi hamba Allah. Aku merasa lebih tenang ketika menghadapi suatu masalah. Berkat pesan ibuku bahwa ketika benar-benar memutuskan menjadi muslimah aku harus menjadi seorang muslimah yang benar, dari situlah aku ingin mengamalkan nilai-nilai dalam Islam sepenuhnya. Aku ingin terus menambah keilmuanku tentang Islam, pun mengamalkannya dengan sepenuh hati. [islamaktual/al-falah/niwayanfebrigisella]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top