Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Salah satu tema Hadits yang menarik diperbincangkan adalah Hadits tentang “ramalan” masa yang akan datang seperti informasi tentang kedatangan Dajjal dan Nabi Isa as. Kedua isu ini selalu diasosiasikan dengan Hari Kiamat. Kedatangan mereka menunjukkan Kiamat sudah dekat. Sebenarnya, andainya pun tidak diasosiasikan dengan Kiamat, hari yang agung ini sudah dengan sendirinya semakin dekat dengan hari-hari kita. Wajar bila kedatangan Dajjal dan Nabi Isa as dinyatakan sudah dekat dengan Kiamat. Yang perlu diperjelas agaknya, bagaimana informasi Haditsnya dan bagaimana memahaminya. Salah satu redaksi Hadits berbunyi:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw telah bersabda: Perhatian! Aku akan menceritakan kepada kamu tentang Dajjal apa yang diceritakan oleh Nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya, Dajjal itu buta sebelah matanya. Dia akan datang membawa bersamanya seperti surga dan neraka. Surga yang didakwakan oleh Dajjal itu sebenarnya adalah Neraka. Aku memperingatkan kamu (dalam masalah Dajjal) sebagaimana Nabi Nuh memperingatkan kaumnya (HR. al-Bukhari).
Sebenarnya, ada beberapa Hadits yang isinya seperti ini dengan redaksi yang informasinya bertambah dan saling melengkapi, diriwayatkan oleh imam Hadits lain, seperti Muslim, Ahmad, At-Turmudzi, Abu Daud, dan Ibn Hibban. Di tingkat sahabat pun, Hadits ini tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah, tetapi juga oleh Abdullah ibn Umar ibn al-Khatthab dan Anas ibn Malik. Misalnya, Hadits dengan redaksi sebagai berikut:
…Anas bin Malik menceritakan dari Nabi saw yang bersabda, “Tidak seorang Nabi pun diutus kecuali sungguh mengingatkan umatnya tentang (kedatangan) Dajjal yang buta matanya sebelah lagi pembohong. Ingatlah, ia buta sebelah, dan Tuhanmu tidak. Sesungguhnya, di antara kedua matanya ada tulisan ‘kafir’….”
Secara ringkas, perlu disebut di sini bahwa ada redaksi Hadits menyebutkan bahwa para rasul mengingatkan kepada kaumnya tentang kedatangan Dajjal yang membawa malapetaka itu. Adapun ciri Dajjal matanya buta sebelah hanya informasi Rasulullah saw kepada umatnya. Informasi tambahan lainnya adalah bahwa pada jidat antara kedua matanya tertulis “kafir”. Hadits yang membicarakan Dajjal berpredikat masyhur dan tergolong shahih.
Dalam memahami Hadits ini, kita tidak boleh terjebak dalam arti harfiah. Terkadang, Hadits dan Al-Qur’an itu menggunakan ungkapan metaforis, bukan kata dengan arti harfiah; dan itu terjadi juga dalam semua bahasa. Misalnya, Hadits yang menyatakan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Ini tidak berarti bahwa di akhirat kelak ibu berjalan-jalan di atas atap penduduk surga. Bahkan, ahli surga tidak perlu khawatir bila ibunya menjadi penduduk neraka dengan bertanya, “… kapan aku masuk surga bila ibuku disiksa di neraka?” Ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu” sekedar menunjukkan betapa pentingnya peran ibu bagi anak, karena itu ibu menjadi orang spesial dalam pengabdian.
Begitu juga halnya dengan Dajjal dalam Hadits ini. Agaknya, Dajjal bukan sosok personal, tetapi ia merupakan gerakan dalam skala besar dengan semangat menebar kepalsuan yang akan merugikan masyarakat banyak. Gerakan ini dilukiskan oleh Hadits sebagai Dajjal yang mengklaim diri membawa angin surga; dengan harapan masyarakat luas memercayainya. Padahal, yang sebenarnya mereka bawa adalah sesuatu yang berbahaya bagi masyarakat, disimbolkan dengan “neraka.” Yang tampak oleh Anda di tangannya sebagai benda surgawi itu sebenarnya benda yang menjerumuskan Anda ke neraka.
Dalam kehidupan yang semakin komplek ini, kita selalu menemukan orang-orang yang menawarkan diri untuk dipilih, apakah atas nama kelompok ataupun atas nama pribadi, dengan menunjukkan sejuta kebaikannya. Mereka datang kepada Anda dengan janji bahwa masyarakat akan sejahtera, makmur, tenteram, dan damai dalam kepemimpinan mereka kelak. Orang yang track-record-nya hancur pun tidak segan mengumbar janji membahagiakan rakyat banyak. Kebusukan dibalut rapat dengan kulit indah yang mengecoh pandangan mata. Dengan doa rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar, maka setiap orang mendambakan kesejahteraan. Bagi orang yang polos-polos saja, menghadapi tawaran dengan iming-iming yang menggiurkan itu mudah menerima. Mereka baru sadar bahwa iming-iming itu pepesan kosong setelah beberapa tahun berjalan apa yang dijanjikan tidak pernah terwujud, bahkan sang pengiming akhirnya ditangkap pihak yang berwajib. Hal ini terjadi di berbagai wilayah dan tidak sulit mendapatkannya.
Dajjal dalam Hadits tersebut juga diberi tanda ada tulisan kafir di jidatnya. Ini artinya, Dajjal akan tampil sebagai gerakan yang akan membuat keonaran dan merusak ketenteraman. Dengan kedatangan Dajjal, dunia akan semakin kisruh. Dajjal dengan ciri buta matanya sebelah merupakan simbol kesombongan. Begitu sombongnya dinyatakan dalam Hadits ini bahwa ia memandang segala sesuatu cukup dengan sebelah mata. Persoalan umat yang begitu serius dan memerlukan kesungguhan perjuangan hanya dilihat dengan sebelah mata dianggap sebagai masalah enteng. Sang Dajjal tidak mau tahu betapa pedih derita yang dirasakan umat asalkan ia, sekutunya, dan keluarganya senang.
Dengan kelihaiannya mengecoh sebagaimana dilukiskan membawa “neraka” yang dibungkus “surga”, Dajjal bisa tampil dengan berbagai gaya, bisa lembut dengan tebar pesonanya, bisa juga kasar. Karena itu masyarakat harus waspada. Kalau ada pertanyaan apakah Dajjal itu sudah tiba, maka jawabnya, mereka sudah mulai berdatangan. Sifat mereka bisa menular ke orang biasa sehingga yang tadinya orang biasa lama-lama menjadi Dajjal juga.
Sehubungan dengan gambaran di atas kita prihatin dengan ungkapan banyak orang untuk tidak mau mengikuti pemilu alias golput dengan alasan akan memilih pemimpin yang tidak peduli terhadap nasib rakyat seperti pada pengalaman yang sudah. Agaknya, para elite yang diorbitkan oleh hasil pemilu yang sudah-sudah telah mengecewakan pemilihnya, bahkan seperti Dajjal yang indikatornya kita bicarakan ini. Mereka tidak lagi setia mengemban amanat rakyat seperti yang tertuang dalam konstitusi, karenanya sejajar dengan label “kafir” yang melekat di jidat Dajjal. Janji yang indah ketika mereka kampanye tidak terwujud dalam kiprahnya bagai Dajjal yang membawa berita gembira dari surga.
Untuk menghadapi sikap apatis ini, tentu ada pihak yang menyatakan bahwa jumlah calon pemimpin yang baik masih banyak. Bukankah yang seperti Dajjal jumlahnya sedikit? Repotnya, kalau dikomentari bahwa itu hanya laksana gunung es, Dajjal yang ketangkap hanya sedikit, yang belum tertangkap banyak. Tetapi apa pun bantahannya, kita semua berkewajiban untuk meminimalisasi kiprah Dajjal yang sudah semakin berani tampil kendati terkadang secara sembunyi-sembunyi.
Adapun Hadits tentang akan turunnya Nabi Isa berbunyi sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya, telah hampir masanya Nabi Isa bin Maryam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah. Sehingga tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya. (Hadis shahih diriwayatkan oleh banyak ahli, seperti Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Turmudzi, Ibn Majah).
Seperti halnya memahami Hadits tentang Dajjal, kehadiran Isa ibn Maryam tampaknya bukan secara fisik beliau turun ke Bumi, tetapi berupa gerakan yang membawa ajaran benar sedemikian rupa sehingga kepalsuan ajaran salib dan kotoran yang disimbolkan dengan celeng akan diberantas dengan kebenaran yang sesungguhnya. Kalau Hadits tentang Dajjal membawa berita yang menyedihkan, maka Hadits yang ini membawa berita yang melegakan. Tidak dijelaskan, siapa yang lebih dahulu datang, Nabi Isa ataukah Dajjal. Tetapi bila kita yakin bahwa Dajjal sudah mulai bermunculan sementara gerakan yang membawa kebenaran dan mendatangkan kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana disimbolkan dengan Nabi Isa ini belum menggejala, agaknya Dajjal datang lebih dulu, kemudian dihancurkan oleh “Nabi Isa as.” Memang ada Hadits yang menyebutkan bahwa kelak Nabi Isa membuka pintu gerbang, dari sana puluhan ribu Dajjal keluar kemudian dihancurkan oleh Nabi Isa yang memakan waktu 40 tahun di bumi ini.
Bila Nabi Isa yang kelak akan datang itu simbolik gerakan kebenaran dan membawa keselamatan, maka kita bisa mengaitkannya dengan keyakinan banyak orang akan datangnya “juru selamat” di berbagai agama dan tradisi lokal. Kaum Syi’ah, misalnya, sangat antusias menyongsong datangnya “al-Muntazhar” (Imam yang ditunggu-tunggu kedatangannya), “al-Mahdi” yang juga ditunggu oleh sebagian umat Islam, begitu juga “Ratu Adil” yang diyakini masyarakat Jawa sebagai sosok pemimpin yang akan datang membawa kemakmuran dan keadilan. [islamaktual/sm/muh.zuhri]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top