Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Serasa Pulang Ke Rumah


Bagaikan bertahun-tahun hilang, dan akhirnya bisa pulang. Usai berikrar kalimat syahadat, aku serasa pulang ke rumah. Ya, Islamlah rumahku yang sebenarnya. Aku merasakan nyaman berada di dalamnya. Sejak lama aku menyimpan kekaguman diam-diam. Mulai dari masa kecil saat aku melihat orang lalu lalang pergi ke masjid, mendengar adzan, sampai beranjak dewasa aku menyaksikan sendiri temanku shalat dan mengaji.
Pemandangan itu membuatku merasakan suatu ketenangan dalam hati, walaupun waktu itu aku masih terlalu takut untuk menindaklanjuti. Agama ini mendekatiku secara emosional dahulu sebelum pengetahuan.
Tinggal di lingkungan keluarga yang tidak terlalu religius, aku seolah butuh oase sebagai penyejuk kekeringan. Aku butuh makna, dari sekedar rutinitas keagamaan yang sebelumnya aku jalani. Entah mengapa batinku lebih percaya keesaan, daripada konsep dewa-dewa di agamaku sebelumnya. Itulah mengapa ada kegamangan, dan aku tergerak untuk mencari di mana letak pintu kebenaran.
Selama perjalanan hidupku, aku memang lebih banyak memiliki teman muslim. Karena itu, aku sebetulnya lebih banyak masuk masjid daripada ke tempat ibadahku sebelumnya. Walaupun hanya sekadar menjaga tas teman-teman yang sedang shalat, entah mengapa aku merasa nyaman berada di sana. Saat masih kuliah di Universitas Indonesia dan tinggal di kos, aku pun kerap mengamati temanku sekamar yang shalat dan mengaji. Aku ikut larut dalam ketenangan itu. Perasaanku seolah diketuk-ketuk oleh hidayah yang ingin masuk ke dalamnya.
Tiba pada suatu malam aku bermimpi. Aku memakai mukena dan berada di ruangan yang tampaknya seperti dalam masjid. Subhanallah… benar-benar masih teringat jelas mimpi itu. Aku akan melaksanakan shalat ketika itu. Bangun dari mimpi pun aku masing terngiang-ngiang, mengapa gambaran dalam mimpiku itu begitu spesifik. Aku pun lalu bercerita pada temanku, dan setelah sharing, juga karena sudah tak merasakan ikatan di agamaku sebelumnya, aku akhirnya mantap untuk memeluk Islam pada Agustus 2014.
Setelah menjadi muallaf, aku sempat ditanya temanku, apakah aku sudah membandingkan antara kitabku yang dulu dengan al-Qur’an. Jujur tidak, namun aku merasakan ada kedekatan emosional dengan Islam sejak dulu. Aku sudah tertarik dengan agama ini bahkan sebelum paham. Memang terdengar klise, namun aku begitu yakin harus memilih agama ini.  Setelah resmi menjadi muslimah, barulah aku mencari-cari pengetahuan mengenai Islam. Alhamdulillah banyak teman sesama muslim yang memberi support, mereka memberiku buku-buku tentang Islam. Bimbingan di Masjid Al-Falah Surabaya tempatku berikrar dulu juga memberiku banyak pelajaran mengenai keislaman.

Perubahan dalam hidup begitu kurasakan setelah menjadi hamba Allah. Aku merasa lebih tenang ketika menghadapi suatu masalah. Berkat pesan ibuku bahwa ketika benar-benar memutuskan menjadi muslimah aku harus menjadi seorang muslimah yang benar, dari situlah aku ingin mengamalkan nilai-nilai dalam Islam sepenuhnya. Aku ingin terus menambah keilmuanku tentang Islam, pun mengamalkannya dengan sepenuh hati. [islamaktual/al-falah/niwayanfebrigisella]

NABI SYU'AIB [1]


Nama Nabi Syu’aib ‘alaihi as-salam disebut di dalam al-Qur’an sebanyak 11 kali. Lima kali disebut dalam surat al-A’raf (ayat 85, 88, 90 masing-masing satu kali dan ayat 92 dua kali), empat kali dalam surat Hud (ayat 84, 87, 91, dan 94), satu kali dalam surat asy-Syu’ara (ayat 177) dan satu kali dalam surat al-’Ankabut (ayat 36).
Dalam surat al-A’raf, mulai ayat 59 sampai dengan ayat 84, Allah SwT berkisah tentang Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Luth ‘alaihimus salam dengan kaumnya masing-masing. Setelah itu mulai ayat 85 Allah SwT melanjutkan dengan kisah Nabi Syu’aib dan kaumnya di Madyan. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman’.” (QS. al-A’raf [7]:85)
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Syu’aib diutus kepada kaumnya sendiri yaitu kaum Madyan. Hal yang sama disebutkan kembali di awal kisah Syu’aib pada surat Hud 84. Allah SwT berfirman:
11_84.png
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan (kiamat).” (QS. Hud [11]:84)
29_36.png
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Masyan, saudara mereka Syu’aib. Maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan” (QS. al-’Ankabut [29]:36)
Di awal tiga ayat di atas disebutkan dengan redaksi yang persis sama, bahwa kepada kaum Madyan diutus saudara mereka sendiri yaitu Syu’aib. Madyan adalah sebuah negeri atau kawasan yang terletak antara tanah Hijaz dan Syam, sebelah timur teluk Aqabah. Menurut Muhammad al-Washfi dalam Tarikh Al-Anbiya’ wa ar-Rusul wa al-Irtibath az-Zamani wa al-’Aqaidi(2001:177), Madyan sendiri aslinya adalah nama nenek moyang mereka yaitu Madyan ibn Ibrahim ‘alaihis salam dari isteri beliau bernama Qathurah.
Menurut Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi (2011:245-246), penduduk Madyan adalah suatu kaum yang tinggal di kota Madyan, yang terletak di daerah Mi’an di perbatasan negeri Syam (Syiria) yang dekat dengan Hijaz. Penduduk Madyan itu tidak lama setelah kaum Luth binasa. Mereka ini dari Bani MAdyan ibn Madyan ibn Ibrahim ‘alaihis salam. Tetapi Ibnu Katsir tidak menyebutkan nama ibu dari Madyan. Selama ini yang sangat terkenal Nabi Ibrahim punya anak laki-laki bernama Ismail dari isteri beliau Siti Hajar dan Ishaq dari isteri beliau Siti Sarah.
Nabi Syu’aib diutus setelah Nabi Luth, masa antara adzab Allah dijatuhkan kepada kaum Luth dan diutusnya Nabi Syu’aib tidaklah terlalu jauh seperti ditegaskan sendiri dalam dialog Nabi Syu’aib dengan kaumnya yang durhaka. Allah SwT berfirman:
11_89.png
“Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa adzab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.” (QS. Hud [11]:89)
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, yang dimaksud dengan ba’id dalam ayat di atas bisa zaman (waktu) dan bisa pula makam (tempat). Kalau waktu berarti jarak antara adzab Allah yang ditimpakan kepada kaum Luth dengan masa Nabi Syu’aib tidaklah terlalu jauh. Kalau tempat, berarti memang lokasi negerinya tidak jauh dari daerah Madyan.
Nabi Syu’aib juga diutus kepada Ashhabul Aikah sebagaimana yang dapat dibaca dalam surat asy-Syu’ara ayat 176-179, Allah SwT berfirman yang artinya:
“Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. asy-Syu’ara [26]:176-179)
Aikah masih bagian dari Madyan, terletak di bagian pedalaman yang ada hutannya. Ada juga yang mengatakan Aikah adalah nama lain dari kota Tabuk terletak sebelah timur Madyan, antara dua gunung Jasama dan Syaraura (Syauqi Abu Khalil: Athlas al-Qur’an, 2001:71). Aikah adalah sejenis kayu yang mereka sembah, sehingga mereka disebut Ashhabul Aikah. Ibnu Katsir menguatkan bahwa sebenarnya mereka juga kaum Madyan, bukan kaum yang berbeda. Sehingga dengan demikian tidak benar Syu’aib diutus kepada dua kaum, tetapi hanya satu kaum yaitu Madyan. Al-Qur’an tidak lagi mengaitkan Syu’aib dengan para penyembah Aikah karena mereka tidak lagi menyembah Allah SwT, sehingga redaksi ayatpun berbeda. Untuk Madyan, disebutkan bahwa Syu’aib adalah saudara mereka sendiri, tetapi tatkala menyebut Ashhabul Aikah hanya disebut berkata kepada mereka Syu’aib, tanpa kata akhukum (saudara mereka).
Nama dan Nasab
Menurut ‘Atha’ dan Ibn Ishaq, Syu’aib adalah putera Mikyal ibn Yasyjar ibn Madyan ibn Ibrahim. Dalam bahasa Siryaniyah namanya adalah Beirut, ibunya bernama Mikail bintu Luth. Versi lain menyebutkan Syu’aib putera dari ‘Aifa’ ibn Yubab ibn Madyan ibn Ibrahim. Versi lain lagi menyebutkan beliau adalah Syu’aib ibn Jaza ibn Yasyjar ibn Lawi ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Yang lain menyebutkan Syu’aib adalah putera Shafwan ibn ‘Ifa’ ibn Tsabit ibn Madyan ibn Ibrahim (Washfi : 175).
Dalam Shahih Ibn Hibban diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah saw pernah menyatakan: “Ada empat orang yang termasuk bangsa Arab, yaitu Hud, Shaleh, Syu’aib dan Nabimu (Muhammad) ini hai Aba Dzar.”
Menurut Washfi, beberapa nama dlam nasab Syu’aib tidak ditemukan dalam sumber-sumber Bani Israil, barangkali hal itu terjadi karena orang-orang Yahudi tidak menganggap penting kecuali nasab yang ada hubungannya dengan sejarah mereka saja dan menurut cara pandang mereka sendiri. Lalu Washfi mencoba menggabungkan antara sumber-sumber Islam dan Yahudi sehingga nasab Syu’aib menjadi berikut: Yu’aib ibn Jaza ibn Yasyjar ibn Lawi ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Dalam versi ini tidak ada Madyan. Sepertinya yang ada Madyannya yang lebih sejalan dengan al-Qur’an yang menyatakan bahwa Syu’aib adalah dari kaum Madyan.

Disebut-sebut juga oleh sebagian mufassir seperti Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (VIII:2960) bahwa Nabi Syu’aib adalah mertua dari Nabi Musa. Tatkala pemuda Musa -dalam statusnya sebagai buronan Fir’aun_ membantu puteri Nabi Syu’aib mengambilkan air dari sumur untuk minuman ternak gembalaan keluarga Syu’aib, puteri Syu’aib tertarik dengan kebaikan dan ketulusan pemuda itu, sehingga dia mengusulkan kepada bapaknya untuk mempekerjakan Musa. Akhirnya Musa diundang dan ditawari untuk dinikahkan dengan salah seorang puteri beliau dengan mahar bekerja delapan tahun, tetapi lebih baik kalau secara sukarela menggenapkannya menjadi sepuluh tahun. [islamaktual/sm/yunaharilyas/bersambung]

Menjumpai Allah Lewat Orang Lemah


Sebagian orang terkadang menyangka bahwa keshalihan individual punya nilai lebih tinggi sehingga ia begitu bersemangat mengejar keshalihan individual dan kurang memperhatikan keshalihan sosial. Banyak orang yang bangga kalau bisa naik haji dan umrah berulang-ulang, atau rajin puasa sunnah dan shalat malam, namun di sisi lain tumpul kepekaan sosialnya di saat melihat saudaranya menanggung sakit, putus sekolah, menganggur, kelaparan, dan juga kehausan.
Padahal begitu besar hak sesama yang musti dipenuhi oleh manusia dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga bila hak ini tidak dipenuhi padahal yang bersangkutan mampu dan longgar, maka kelak ia akan dituntut bukan oleh temannya itu, namun Allah sendiri yang akan menuntutnya. Hadits Qudsi riwayat Imam Muslim berikut ini membuktikannya.
Bersumber dari sahabat Abu Hurairah ia berkata bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Pada hari kiamat kelak, Allah, mengatakan: ‘Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku’. Hamba bertanya: ‘Bagaimana aku harus menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab: ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Seandainya kamu menjenguknya pasti kamu temui Aku di sisinya.’
“Allah bertanya lagi: ‘Hai anak Adam, Aku lapar, tetapi kamu tidak beri Aku makan’. Hamba menjawab: ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau adalah Tuhan alam semesta?’. Dia mengatakan: ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak berikan dia makan? Seandainya kamu beri makan si Fulan, niscaya kamu dapati Aku berada di sisinya’.
“Allah bertanya lagi: ‘Hai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak beri Aku minum’. Hamba menjawab: ‘Bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan ENgkau Tuhan bagi alam semesta?’ Allah mengatakan: ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu tapi kamu tidak memberinya minum. Seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu akan mendapati dan menemui Aku di sisinya’. “ (Hadits Qudsi, Shahih Muslim).
Sakit, lapar, haus adalah sebagian kecil dari problem mendasar yang masih selalu menghinggapi sebagian masyarakat di mana pun ia berada. Sudah semestinya sebagian yang lain terutama yang hidup dalam kelapangan dan kelonggaran untuk sudi membantu dan meringankan beban saudaranya. Rasa sakit, lapar, dan haus pada dasarnya butuh segera pemenuhan tanpa harus ditunda-tunda lagi pemenuhannya.
Jangan meringankan penderitaan manusia, dalam Hadits riwayat Imam Bukhari ditemukan riwayat bagaimana dosa seorang pelacur diampuni Allah karena menghilangkan rasa haus yang dialami oleh seekor anjing.
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam msalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim)

Alangkah indahnya jika dalam kehidupan ini yang kuat bersedia membantu dan melindungi yang lemah, yang sukses menuntun yang gagal, yang kaya menolong yang miskin, yang alim membimbing yang awam, yang tua memberi teladan pada yang muda, serta yang muda menyayangi dan menghormati yang tua. Semua itu mungkin dan bisa kita lakukan, tentunya kita mau bukan? [islamaktual/sm/alitrigiyatno]

Menanggapi Shalat Versi Kristen Ortodoks Syiria


oleh : Abu Deedat Syihab, MH.


Menurut Bambang Noorsena, pendiri Kristen Ortodoks Syiria (KOS) di Indonesia, ibadah shalat dan haji di dalam Islam mengadopsi dari Kristen Ortodoks Syiria, yaitu shalat dari asal kata tselota dan haji diambil dari kata hag (naik ke tanah suci).
Di dalam Kristen Ortodoks Syiria mengajarkan Shalat Tujuh Waktu yang dalam bahasa Arab disebut as-Sab’u ash-shalawat; merupakan salah satu ritual atau tata ibadah Kristen dalam Gereja Ritus Timur, khususnya di dalam Gereja Ortodoks. Liturgi shalat ini terus dilakukan di gereja-gereja Arab, sebagaimana juga terdapat dalam tradisi Gereja Katolik Roma dengan nama “Brevir” atau “De Liturgia Horanum”. Hampir seluruh gereja-gereja di Timur masih melaksanakan “Shalat Tujuh Waktu” ini. Dalam gereja-gereja Ortodoks, jam-jam shalat (bahasa Aram: ‘iddana tselota; bahasa Arab: sa’atush shalat) ini masih dipertahankan tanpa putus sebagai doa-doa baik kaum imam (klerus) maupun untuk umat (awam).
Pemakaian Kata “Shalat” dalam Agama Kristen
Kata “shalat” jarang disinggung oleh orang Kristen di Indonesia, karena kata yang identik dengan “shalat” yang umum dipakai untuk ibadah dalam agama Islam. Padahal jauh sebelum kaum Muslim menggunakan kata ini, penganut Gereja Kristen Ortodoks, yang dicatat sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 M, telah menggunakan kata “shalat” saat menunaikan ibadah.
Kata “shalat” dalam bahasa Indonesia merupakan kata ambilan dari bahasa dari bahasa Arab, yang berasal dari kata tselota dalam bahasa Aram (Suriah) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus Kristus pada masa hidupnya di dunia. Bagi umat Kristen Ortodoks yang berada di Mesir, Syiria, Palestina, Yordania, Lebanon dan daerah Timur Tengah lainnya, menggunakan kata tselota tersebut dalam bentuk bahasa Arab shalat, sehingga do’a “Bapa kami” oleh umat Kristen Ortodoks Arab disebut sebagai sholattul Rabbaniyah.
Istilah Tselota, Shalat dan Shalawat
Kata Arab “shalat” berasal dari bahasa Arab “tselota”. Contoh kata ini misalnya terdapat dalam teks Peshitta, yaitu terjemahan kuno Alkitab dalam bahasa Aram/Suryani: “waminin hu bsyulfana dshliha wmishtautfin hwo batselota wbaqtsaya deukaristiya” (Mereka bertekun dalam pengajaran para Rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu menjalankan shalat-shalat dan merayakan Ekaristi atau “khidmat al-Quddus”).
Dalam Alkitab bahasa Arab, kedua ibadah itu disebut: “kasril khubzi wa shalawat” (memecah-mecahkan roti dan melaksanakan shalat-shalat). Dua corak ibadah ini merupakan pelaksanaan kedua corak ibadah Yahudi: “Mahzor dan Siddur”. Mahzor ialah perayaan besar yang diselenggarakan 3 kali dalam setahun di kota suci Yerusalem. Kata yang diterjemahkan “perayaan”, dalam bahasa Ibrani adalah: Hag (yang seakar dengan kata Arab: Hajj). Ketujuh ibadah sakramental, khususnya “qurbana de qaddisa” (Ekaristi/Perjamuan Kudus) yang meneruskan ibadah hag, maupun “Shalat tujuh waktu” non-sakramental, dapat dilacak asal-usulnya dari Siddur Yahudi.
Kata bahasa Aram tselota merupakan nomen actionis, yang berarti “ruku” atau “perbuatan membungkukkan badan”. Dari bentuk kata tselota inilah, bahasa Arab melestarikannya menjadi kata shalat.
Mar Ignatius Ya’qub III dari gereja Ortodoks menekankan bahwa orang Kristen hanya “melanjutkan adab yang dilakukan orang-orang Yahudi dan bangsa Timur lainnya ketika memuji Allah dalam praktek ibadah mereka” (taba’an lamma kana yaf’aluhu al-Yahudi wa ghayrihim fii al-syariq fii atsna’ mumarasatihim al ‘ibadah). Dan perlu dicatat bahwa, “pola ibadah ini telah dilestarikan pula oleh umat Muslimin” (wa qad iqtabasa al-Muslimun aidhan buduruhum hadza al-naun min al ‘ibadah).
Selain dari itu, gereja mula-mula juga meneruskan adab ‘Tilawat Muzamir’ (yaitu bagian-bagian Kitab Zabur/Mazmur) dan shalat-shalat yang ditentukan pada jam-jam ini (wa qad akhadzat ba’dha al-Kana’is ‘an Yahudu tilawat Muzamir wa shalawat mu’ayyanat fii hadzihis sa’ah).
Kiblat Shalat
Menurut Bambang Noorsena, Shalat dalam KOS menghadap kiblat ke Yerusalem ke arah Timur, sedangkan kaum Muslim shalatnya menghadap kiblat ke Mekah al Mukaramah ke arah Barat. Alkitab mencatat kebiasaan Nabi Daniel berkiblat “ke arah Terusalem, tiga kali sehari ia berlutut dengan kakinya (ruku’) mengerjakan shalat” (Daniel 6:11, dalam bahasa Aram: “negel Yerusyalem, we zimnin talatah be Yoma hu barek ‘al birkohi ume Tsela”). Seluruh umat Yahudi sampai sekarang berdo’a dengan menghadap ke Baitul Maqdis (bahasa Ibrani : Beyt ham-Miqdash), di kota suci Yerusalem. Sinagoga-sinagoga Yahudi di luar Tanah Suci mempunyai arah kiblat (bahasa Ibrani : Mizrah) ke Yerusalem. Kebiasaan ini diikuti oleh Umat Kristen mula-mula, tetapi mulai berkembang beberapa saat setelah tentara Romawi menghancurkan Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 M.
Kehancuran Bait Allah membuat arah kiblat shalat Kristen menjadi ke arah Timur, berdasarkan Yohanes 4:21, Kejadian 2:8, Yehezkiel 43:2 dan Yehezkiel 44:1. Kiblat ibadah ke arah timur ini masih dilestarikan di seluruh gereja Timur, baik gereja-gereja Ortodoks yang berhaluan Kalsedonia (Yunani), gereja-gereja Ortodoks non-Kalsedonia (Qibtiy/Koptik dan Syiria), maupun minoritas gereja-gereja Nestoria yang masih bertahan di Irak.
Tata Cara Shalat
Pada gereja Ortodoks Syiria, setiap shalat terdiri dari tiga rakaat (satuan gerakan). Pada rakaat pertama hanya dilakukan qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan ruku’, dan sujud. Pada saat ruku’ dan sujud ini dilakukan gerakan tanda salib. Dan, do’a yang digunakan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani, dan Ibrani. Lalu dibacakan pujian (qari’ah) yang dikutip dari Kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al iman, yaitu syahadat Kristen Ortodoks Syiria (KOS).
Menurut Said Aqiel Siradj, MA dalam buku “Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam” karya Bambang Noorsena, SH, ‘Wacana mitra: ‘Prof Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA’, di halaman 164 menyebutkan:
Agama yang membawa misi tauhid adalah Yahudi, Kristen dan Islam”. Ketiga agama tersebut datang dari Tuhan melalui seorang Rasul dan Nabi pilihan. Agama Yahudi diturunkan melalui Musa, agama Nasrani diturunkan melalui Isa (Yesus) dan agama Islam melalui Muhammad. Singkatnya, “ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid”. Di halaman 165 menyebutkan: “dari ketiga macam tauhid, Kanisah Ortodoks Syiria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam”. Secara al-rububiyyah, KOS jelas mengakui Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga telah mengikrarkan laa ilaaha ilallah, “Tida tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit.
Meluruskan Said Aqiel Siradj
Pandangan Said Aqiel Siradj jelas keliru karena Allah SwT tidak pernah menurunkan agama Yahudi kepada Musa as, dan agama Kristen kepada Isa as (Yesus). Melainkan semua para nabi dan Rasul yang diutus Allah ke muka bumi agama hanya satu yaitu Islam (lihat QS. 2:132, 3:67, 3:19,85).
Benarkah agama Yahudi dan Kristen sama-sama menegakkan kalimat Tauhid?
Benarkah Kristen Ortodoks Syiria mengakui Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah?
Benarkah Kristen Ortodoks Syiria mengikrarkan Laa Ilaaha ilallah, sebagai ungkapan ketauhidannya?
Untuk meluruskan dan menjawab kekeliruan Said Aqiel Siradj yang terpilih kembali sebagai Ketua PB NU, penulis tampilkan Kanun al Iman (Syahadat KOS), di halaman 167-169, “... menyatakan satu-satunya Tuhan (Rabb), yaitu Isa Almasih putra Allah yang Tunggal. Dan kami percaya ruh kudus yang menjadi Tuhan (Rabb) bersama bapa (Allah). Dan Maryam sebagai “walidatul illah” yang telah menjadi manusia.”
Berdasarkan Kanun al Iman KOS “menyatakan satu-satunya Tuhan (Rabb) adalah Isa Almasih”, sedangkan kaum muslim Rabb-nya adalah Allah. Dan yang mempertuhankan Isa adalah kafir (lihat QS. 5:72-73 dan QS. 9:30).
Shalat mereka juga tidak sama dengan shalat kaum Muslimin. Lihat shalatnya; ruku’ membungkuk membuat tanda salib yang menyatakan Isa Almasih mati di tiang salib untuk menebus dosa, itulah aqidah mereka. Menurut mereka shalat bukanlah ibadah melainkan dalam rangka mengenang sengsaranya sayyidina Isa yang mati di tiang salib. Berikut tata cara shalatnya:
  1. Shalat dimulai dengan posisi berdiri yang dipimpin oleh seorang imam berpakaian jubah putih. Imam meletakkan kedua tangan di dada, sambil membuat tanda salib, kemudian mengucapkan lafadz: “Bismi abi wal Ibni wa Ruhil Quddusi ilahun Wahid” (Dengan nama Bapa dan putra dan Roh Kudus, Tuhan yang Esa). Jamaah menyambutnya: Amin.
  2. Imam melanjutkan do’a dengan mengangkat kedua tangan dan disahuti oleh jamaah. Kemudian imam membungkuk (ruku’) sambil membuat tanda salib.
  3. Setelah membuat tanda salib, berikutnya imam membungkukkan badan seperti posisi ruku’ dan mengucapkan: Quddusun anta, ya Allah (Kuduslah Engkau, ya Allah). Jamaah menyambut dengan menyucikan nama Allah Yang Maha Kuasa, Yang Tak Berkematian. Jamaah memohon kasih sayang Allah yang telah disalibkan sebagai ganti umat manusia.
  4. Imam berdiri tegak dan menadahkan tangan lagi.
  5. Lalu Imam bersujud, dan diikuti seluruh jamaah. Ketika bangun dari sujud, Imam membaca Subhanaka Allahumma (Maha Suci Engkau, ya Allah), jamaah menyahut bersamaan. Sambil menadahkan tangan, Imam dan jamaah membaca Do’a Rabbaniyah (Do’a Bapa kami versi bahasa Arab).
  6. Selanjutnya dibaca Salam Walidatullah atau Salam Maria.
  7. Imam kemudian membaca ayat Zabur (alias Mazmur dalam bahasa Aramaik), dan shalat pun berakhir.
Makna Teologis Ketujuh Waktu Shalat
L.E. Philips, berdasarkan penelitian arkeologisnya menulis bahwa umat Kristiani paling awal sudah melaksanakan daily prayers (shalat) pada waktu pagi, tengah hari, malam, dan tengah malam.
Menurut Syaikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, pimpinan Kristen Ortodoks Syiria dalam makalahnya yang disampaikan pada Syiar Injiliyah di Hotel Surabaya, 19 Juni 1998, shalat dalam Kristen sesungguhnya mengikuti shalat yang berlaku dalam agama Yahudi.
Ketujuh shalat dalam gereja purba (Kanisah Ortodoks Syiria, pen), yang penyusunannya didasarkan hitungan waktu Yahudi kuno itu, antara lain:
  1. Shalat Sa’at al-Awwal, dalam gereja Latin disebut Laudes (dilakukan pada waktu Subuh);
  2. Shalat Sa’at ats-Tsalitsah, atau hora tertia (dilakukan pada waktu Dhuha) sekitar pukul 9 pagi;
  3. Shalat Sa’at as-Sadisah atau hora sexta (dilakukan pada waktu Dzuhur);
  4. Shalat Sa’at at-Tasi’ah atau minah atau hora nona (dilakukan pada waktu Ashar);
  5. Shalat Sa’at al-Ghurub atau verper (dilakukan pada waktu Maghrib);
  6. Shalat an-Naum, atau virgi (sama dengan shalat Isya’); dan
  7. Shalat Layl atau shalat satar atau copletorium (shalat tengah malam yang dalam islam dikenal dengan shalat Tahajud).
Menurut Bambang Noorsena, shalat dalam konsep Kristen ini tidak terkait dengan syari’ah seperti dalam Islam.
Kesimpulan

  1. Kristen Ortodoks Syiria tidak mengajarkan tauhid melainkan Tuhan Trinitas;
  2. Kristen Ortodoks Syiria meyakini bahwa sayyidina Isa adalah Tuhan (Rabb);
  3. Shalat dalam Kristen Ortodoks Syiria bukanlah syariah/ibadah seperti dalam Islam, melainkan mengenang sengsara sayyidina Isa almasih. [islamaktual/tabligh]

Visit Us


Top