Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada masa sekarang ini, banyak bermunculan da’i-da’i dari kalangan kaum Muslimin. Akan tetapi, di tengah menjamurnya juru dakwah di negeri ini justru dimanfaatkan oleh saudara sendiri yang menjadi racun yang membinasakan kekuatan kaum Muslimin dari dalam. Mereka ibarat kuman-kuman busuk yang menyelinap ke dalam tubuh kaum Muslimin yang lambat laun akan menyebabkan kebinasaan. Sebuah Hadits Nabi saw sangat relevan untuk mengantisipasi fenomena semacam ini.
“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman ra berkata: “Manusia bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada dukhanun”. Aku bertanya: Apakah dukhanun itu? Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah”. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: “Ya”, da’i– da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jamaah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu” (HR. Bukhari VI 615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238).
Takhrij Hadits
Hadits ini tergolong Hadits Shahih yang banyak diriwayatkan oleh Muhaddisin, misalnya; Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247. Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387; 403- 404, 406; 391-399.
Penjelasan
Mengetahui kebenaran saja tidak cukup hanya dengan menjelaskan jalan kebenaran yang disampaikan, akan tetapi harus mengenal dan cara menyingkap kebatilan, mengungkap kepalsuan jalan orang-orang yang tersesat. Sehingga jelaslah jalan orang yang benar-benar beriman dan orang yang sesat keimanannya. Sebagaimana firman Allah SwT; “Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, supaya jelas jalan orang-orang yang benar dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang tersesat” (Q.s. al-An’am [6]:55). Seorang penyair berkata, “Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk menjauhinya. Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan, dia akan terjerumus ke dalam keburukan itu”. Maka dari itu, Rasulullah saw ketika menampilkan generasi pertama, yaitu para sahabat dan para tabi’in, bertujuan untuk menjelaskan jalan kebenaran yang harus diikuti oleh generasi berikutnya sampai pada kita dan yang akan datang, dan tidak ada yang menyelisihi. Hal ini sesuai firman Allah SwT. “Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman, maka Kami palingkan dia ke mana dia berpaling dan Kami akan memasukannya ke dalam neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (Q.s. an-Nisa [4]: 116).
Salah satu penyebab hilangnya kekuatan kaum Muslimin adalah menjangkitnya sikap dan sifat munafik sehingga menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya serta kaum Muslimin secara keseluruhan. Sesungguhnya, musuh-musuh Allah SwT terus mengintai Islam hingga ketika mereka telah melihat penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) telah menjalar dalam tubuh kaum muslimin. Dari Tsaubah ra bahwa Rasulullah saw bersabda; “Hampir saja orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Tidak! Bahkan, kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di lautan. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud: 297. Ahmad V/278). Lalu, mereka melakukan penyimpangan terhadap ajaran syari’at, sehingga ajaran Islam terlihat kabur dan kontroversial, ibarat asap yang menyelimuti langit, seperti yang disinggung oleh Rasul dalam Hadits Hudzaifah, “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku dan memberikan petunjuk bukan dari petunjukku …..
Jadi, asap itu adalah penyimpangan dan apa yang terjadi pada saat itu seakan-akan kebaikan, sebenarnya bukan kebaikan tapi kebinasaan, dan hal ini terus-menerus menyebar sampai kejelekan merajalela di muka bumi ini. Sesungguhnya, yang meniup asap tersebut adalah para da’i penyesat. Dan ini menunjukkan bahwa rencana busuk untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin telah mengakar kuat dalam sejarah Islam. Inilah yang dimaksud oleh Rasul dalam Hadits di atas, “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita...” bahkan dalam Hadits Muslim, “Akan muncul manusia-manusia yang berhati setan.
Dalam mengemban tugas dakwah, mereka menampakkan kesungguhan dalam memberi solusi dan maslahat bagi umat. Semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah diubah! Itulah sebabnya, Rasul bersabda; “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.” Dalam riwayat lain, dari ‘Irbadh Ibnu Sariyah, “Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan Sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian” (HR. Abu Dawud: 4607, Tirmidzi: 2676, Ibnu Majah: 440).
Jika kita menggabungkan Hadits Hudzaifah Ibnul Yaman ra tentang menjauhi firqah dengan Hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu, perintah untuk ber-i’tisham pada as-Sunnah an-Nabawiyah dengan pemahaman Salaf al-Shalih manakala muncul firqah-firqah sesat dan menjadi sebab hilangnya kekuatan kaum Muslimin.
Maka dari itu, umat Islam menjadi terbelakang dan menjadi objek bagi setiap musuh serta menyebarnya kerusakan. Di samping itu, setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita mengetahui bahwa bahaya bid’ah lebih besar daripada musuh-musuh yang lainnya (orang-orang kafir), karena bid’ah merusak hati dan badan, sedangkan musuh-musuh hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat wajibnya memerangi ahli bid’ah dan memboikot mereka. Imam Dzahabi mengatakan: “Para salaf sering mentahdzir ahli bid’ah, mereka mengatakan: Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat (dari ahli bid’ah itu) cepat mencengkeram.

Terakhir, lafadz “an ta’adhdha bi ashliy syajaratin” dalam Hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara tekstual, akan tetapi bermakna perintah untuk berpegang teguh dan bersabar dalam memperjuangkan al-haq serta menjauhi firqah-firqah sesat, dengan segenap jiwa-raga dan harta. Ke depan, bukannya tidak mungkin bakal muncul penghalang-penghalang yang lebih besar dan bervariasi. Wallahu a’lam bish shawab! [islamaktual/sm/hafidzjm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top