Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah, Islam itu adalah agama yang diajarkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Jika jelas bahwa al-Qur’an itu adalah wahyu, maka bagaimana dengan Sunnah? Sesungguhnya, ia juga adalah wahyu.
Dalam surat al-Najm, Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengatakan sesuatu apapun dari keinginannya, tetapi dari wahyu (wama yanthiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyuyyuha). Demikian juga apa yang dilakukan Nabi, selalu dibimbing oleh Allah. Jika sesekali melakukan kesalahan, Nabi pasti ditegur oleh Allah. Jadi, hanya ada satu Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw, yakni agama yang universal, berlaku dimana saja dan abadi sampai akhir zaman.
Namun demikian, bisa jadi ada banyak Islam sebagai pemahaman atau pengamalan agama. Jumlahnya semakin hari semakin bertambah seiring dengan perkembangan peradaban manusia dan perluasan geografis dunia Islam. Dalam pengertian ini, ada Islam klasik, pertengahan, dan modern; ada Islam modern dan tradisional; ada juga Islam Timur Tengah, Islam Amerika, dan Islam Eropa. Bahkan, akhir-akhir ini ada wacana Islam Impor, Islam Nusantara, dan Islam Berkemajuan.
Pertama, Islam Impor adalah pemikiran atau gerakan yang dibawa masuk ke Indonesia dari negara lain. Dari Saudi Arabia, masuklah faham atau gerakan “Wahhabi”, yang berfaham Salafi, literalis, serta anti bid’ah dan khurafat. Dari Mesir, masuklah Ikhwanul Muslimin, yang bercita-cita mendirikan negara Islam, menegakkan syariah, bergerak dengan sistem usrah (keluarga); di situ ada kegiatan-kegiatan yang khas Ikhwan, seperti daurah (putaran), halaqah (lingkaran), liqa’ (perjumpaan), mabit (bermalam).
Dari Yordan, masuklah Hizbut Tahrir, yang berjuang untuk mendirikan khilafah Islamiyah. Dari Pakistan-India, masuklah Jamaah Tabligh, yang sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain, dan tinggal di masjid-masjid selama khuruj (berkelana) itu untuk mengajak kaum Muslimin agar melaksanakan ajaran Islam dan memakmurkan masjid.
Di Indonesia, pengikut dari Islam Impor ini berpenampilan khas, seperti memelihara jenggot, celana cingkrang, memakai jubah atau gamis ala tradisi masing-masing negara asal. Tentu tidak semua pengikutnya berpenampilan sama; banyak yang berpenampilan seperti umumnya tradisi Indonesia atau berpenampilan khas itu di saat-saat tertentu saja.
Kedua, Islam Nusantara adalah pemikiran atau gerakan yang ingin menampilkan Islam yang telah berkembang di Indonesia sejak zaman awal. Misalnya, Islam yang konon dikembangkan oleh Wali Songo, yang berdamai dengan budaya atau adat-istiadat lokal. Ciri Islam Musantara ini antara lain, kebiasaan mengadakan slametan, tahlilan, ziarah kubur, dan mengkultuskan wali.
istilah Nusantara itu sesungguhnya digunakan untuk menjadi anti-tesis dari Islam Impor. Pendukung Islam model ini berpendapat bahwa Islam yang damai di Indonesia berubah menjadi tegang karena masuknya Islam impor, yang mengritik banyak tradisi Indonesia sebagai berbau bid’ah, khurafat, takhayul, dan syirik. Sebelum nama Islam Nusantara ini dipopulerkan, oleh beberapa ilmuwan Islam model ini dikenal dengan nama Islam tradisional. Karena nama itu dipandang bernuansa pejoratif (ngenyek), maka sebagian ilmuwan mengubahnya menjadi Islam akomodatif (mau menerima tradisi), dan kemudian belakangan menjadi Islam partisipatif (ikut serta mengikuti tradisi).
Ketiga, Islam Berkemajuan adalah pemikiran atau gerakan yang berada di tengah-tengah, di antara Islam Impor dan Islam Nusantara. Islam Berkemajuan bermakna proses untuk semakin maju. Islam ini berfikir reformis, terus-menerus menggerakkan masyarakat untuk mendialogkan tradisi lokal dan arus global dengan Islam yang universal. Islam Berkemajuan, karena itu, bersifat kritis dan selektif terhadap tradisi atau budaya yang telah mapan di kalangan masyarakat Indonesiadan pada saat yang sama terhadap pemikiran atau gerakan yang datang dari negara-negara lain.
Dalam pengalaman sejarahnya, Islam ini melakukan kritik terhadap tradisi sinkretis (kepercayaan campuran) tetapi juga mengadopsi tradisi-tradisi lokal Jawa, misalnya. Ia juga melakukan kritik terhadap sebagian dari apa yang datang dari luar, dan menerima sebagian lainnya. Sikap ini terlihat dalam strategi dakwah kultural, yang berpangkal pada dua prinsip, yakni purifikasi dalam soal-soal akidah dan ibadah, dan dinamisasi dalam soal-soal muamalah duniawiyah.
Dari pembicaraan di atas, kita bisa menarik benang merah (mainstream) dari masing-masing Islam. Islam Nusantara adalah faham atau gerakan yang menerima tradisi lokal dan menolak pengaruh Islam Impor. Islam Impor adalah faham atau gerakan yang pengimpor modelnya di atas tradisi lokal; dan Islam berkemajuan menjadi jalan tengah dengan cara mendialogkan antara tradisi lokal dan paham yang datang dari luar Indonesia dengan Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.

Islam Berkemajuan tidak tersandera oleh tradisi dan juga tidak terkesima oleh “barang impor”. Ia bersikap kritis dan selektif serta mendorong ijtihad menghadapi tantangan zaman. [islamaktual/matan/syafiqmughni]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top