Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada awal abad XIX, setelah para cendekiawan Muslim yang menuntut ilmu di Eropa pulang ke negara asalnya yang kebanyakan dari Timur Tengah, mereka membentuk sebuah komunitas yang mengkaji Islam lebih dalam dan mencerahkan bagi umat Islam ketika itu.
Fenomena ini ternyata mendapat sambutan positif dari para cendekiawan Islam dari Indonesia yang ketika itu sedang belajar di sejumlah negara Timur Tengah ataupun juga menunaikan ibadah haji. Para cendekiawan Islam Indonesia tersebut kemudian memahami pengetahuan barunya itu dan mengajarkannya ketika telah pulang ke Indonesia. Pemikiran yang terhitung baru tersebut tidak serta-merta direspons secara positif oleh masyarakat Indonesia, namun sempat mendapat sejumlah hambatan. Para pendukung pemikiran baru ini di kemudian hari bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya dapat dikatakan cukup besar di Indonesia dewasa ini.
Bibit dari pembaruan Indonesia diawali dengan lahirnya gerakan Padri di Minangkabau, Sumatera Barat. Gerakan ini didirikan oleh Malim Basa di sebuah kota kecil yang bernama Bonjol. Di kemudian hari, orang ini dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Ketika pulang dari menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di Makkah, ia melakukan pemurnian ajaran Islam sebagaimana diinspirasi oleh Gerakan Wahabi di Tanah Suci. Gerakan ini ditentang dan sempat mendapatkan berbagai kecaman dari golongan orang yang masih berpaham tradisional. Golongan penentang ini kebanyakan masih mengikuti adat istiadat kebiasaan yang berlaku di masyarakat sejak turun temurun. Ketegangan antara golongan pembaru dengan konservatif sudah mengarah kepada konflik horizontal. Puncak dari konflik tersebut adalah terjadinya Perang Padri yang kebanyakan melibatkan antara golongan muda melawan kelompok tua. Perang ini berlangsung dari tahun 1803 hingga 1837.
Menurut Karim (2007: 57 – 58), di Pulau Jawa sendiri kehidupan beragama Islam mulai mendapat ancaman dari pemerintah Hindia Belanda. Ancaman dari pihak penjajah ini tidak terlalu terlihat namun pelan-pelan. Salah satu contohnya adalah penyisihan pesantren-pesantren ke luar kota ataupun juga menempatkan masjid desa di daerah pinggiran, bahkan kebanyakan berdekatan dengan makam. Penempatan masjid di pinggiran desa yang cenderung bersebelahan dengan makam ini juga upaya Belanda dalam menghilangkan spirit ke-Islaman penduduk pribumi. Karena beberapa dari masyarakat Indonesia ketika itu juga takut dengan hal-hal yang berbau misteri, dalam hal ini kuburan. Islam seakan-akan hanya berkutat pada bidang akidah dan ibadah saja. Bahkan pemikiran tasawuf dijadikan alat untuk menggiring umat Islam untuk berpikir tentang akhirat an sich, bukan urusan dunia, apalagi politik yang dapat mengganggu eksistensi pemerintahan kolonial Belanda.
Situasi ini sedikit mereda ketika sejumlah pemikiran Islam modern lahir di Indonesia. Pemikiran baru ini dibawa oleh para pelajar ataupun kaum cendekiawan yang baru saja menuntut ilmu di Timur Tengah. Para cendekiawan tersebut banyak mengenal pemikiran Islam yang bersifat pembaruan karena banyak bergaul dengan pemikir-pemikir yang dipengaruhi oleh beberapa ulama seperti Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridla, dan lain sebagainya.
Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pun bereaksi terhadap pemikiran Islam pembaru ini. Ceritanya diawali ketika Muhammad Adnan dipersiapkan untuk menjadi Kepala Penghulu di istana. Pada waktu itu, Sunan Paku Buwono X bermaksud untuk melakukan fit and proper test terhadap Adnan. Sang Raja mengajukan sebuah pertanyaan singkat, yaitu pengertian Islam sebagaimana yang dipahami oleh Muhammad Adnan. Setelah mendengar penjelasan Adnan, Paku Buwono X kecewa dengan pria yang di kemudian hari merupakan pendiri dari Universitas Islam Indonesia itu. Hal tersebut dikarenakan Muhammad Adnan menjelaskan pengertian Islam dari kacamata pembaruan sebagaimana diajarkan oleh gurunya ketika masih sekolah di Timur Tengah. Paku Buwono X kecewa karena Islam yang dia pahami adalah agama yang masih bersifat perenungan. Bukan seperti yang diterangkan oleh ayah dari Adi Sasono, mantan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Prihadiyoko, 2004: 156). Pria yang kemudian menjabat sebagai rektor Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta ini menjelaskan Islam sebagai agama yang berwawasan ke depan dan berkemajuan ataupun juga purifikasi sebagaimana yang dipelajari di Timur Tengah. Konflik ini dimanfaatkan Belanda untuk memantapkan posisinya di tanah Surakarta. Hal ini dikarenakan dua orang yang cukup berpengaruh baik dalam pemerintahan maupun agama masih bertentangan paham.
Jika Kraton Kasunanan Surakarta cenderung bereaksi negatif terhadap masuknya pemikiran pembaruan, beda cerita dengan yang terjadi di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono VII cenderung permisif dengan keberadaan pemikiran yang terhitung baru dalam kancah peribadatan di Indonesia ataupun Jawa pada khususnya. Bentuk reaksi positif dari Sultan Hamengku Buwono VII adalah dengan memberi restu kepada KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Gerakan pembaruan ini mempunyai tujuan mengembalikan ajaran Agama Islam kepada sumber yang asli, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pemikirannya antara lain menghilangkan pertentangan mazhab, khurafat, bid’ah, takhayul, dan klenik. Gerakan ini sangat terbuka dengan pintu ijtihad dan menolak semua bentuk ketundukan yang membabi-buta atau istilah lainnya taklid. Pemikiran pembaruan berkeinginan untuk merombak total pemikiran umat Islam karena telah keluar dari rel ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Perombakan ini menyeluruh dari sisi luar maupun dalam. Jiwa ke-Islaman dikembalikan dan diselaraskan dengan perkembangan zaman.
Organisasi Jami’at Khair yang ada di Pulau Jawa merupakan pionir Gerakan Islam Baru. Pada tahun 1905 pemikiran Jami’at Khair yang sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan pembaharuan telah sampai ke Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan adalah orang yang dapat membaca gejala-gejala pemikiran reformis ini. Berdirinya Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912 direspons secara positif oleh gerakan serupa. Misalnya al-Islam wa al-Irsyad (1914 di Jakarta), Persatuan Islam (1923 di Bandung), serta Persatuan Umat Islam. Semua perkumpulan ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran reformasi.
Di antara keempat organisasi reformis ini, Muhammadiyah adalah yang paling banyak pengikutnya, memiliki sistem yang teratur, serta giat dalam berjuang. Berdirinya Muhammadiyah merupakan bentuk implementasi pemikiran-pemikiran pembaruan yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan tentunya didapat dari Makkah ketika menunaikan ibadah haji serta menuntut ilmu. Muhammadiyah adalah gerakan pembaruan pertama yang diizinkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan berbadan hukum. Beberapa kelompok yang beraliran pembaruan di kemudian hari merespons positif keberadaan Muhammadiyah dengan bergabung menjadi satu bersama organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut. Kelompok tersebut antara lain al-Munir, Shirat al-Mustaqim (keduanya dari Makasar), Nur al-Islam (Pekalongan), alHidayah (Garut), dan Sidiq-Amanah-Tabligh-Fathanah (Surakarta).

Respons terhadap gerakan atau pemikiran Islam pembaru tidak selamanya bernada positif. Berbagai tanggapan negatif sempat diterima oleh para cendekiawan Islam yang terinspirasi pemikiran-pemikiran reformis tersebut. Salah satu contohnya adalah hal yang pernah menimpa KH Ahmad Dahlan. Pemikiran pembaru dalam peribadatan yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik oleh sebagian kalangan. [islamaktual/sm/shubhimahmashonyharimurti]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top