Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kedua, diskusi tentang pengangkatan khalifah sebagai pengganti Rasulullah. Al-Qur’an dalam banyak ayat menyatakan bahwa semua manusia adalah sama, tidak ada kelebihan atau kekurangan antara yang satu dengan yang lain karena perbedaan asal usul, warna kulit ataupun suku bangsa. Menurut Al-Qur’an, yang membedakan mereka di sisi Allah adalah ketakwaannya. Praktik Rasulullah sendiri menunjukkan adanya kesederajatan perlakuan terhadap para Sahabatnya yang berasal dari berbagai suku, daerah, asal usul, status, dan dengan warna kulit yang tidak sama.
Rasulullah pernah menunjuk anak Sahabat bekas budak (Usamah) sebagai pemimpin pasukan perang. Beliau juga pernah menunjuk sahabat yang buta (Ibnu Ummi Maktum) sebagai pemimpin sementara di Madinah ketika beliau bepergian ke luar kota. Tetapi Abu Bakar, ketika terjadi kemelut dalam upaya mencari pengganti Rasulullah sebagai pemimpin kaum Muslimin, menyatakan berdasar adat (realitas dalam masyarakat) Arab, pemimpin yang ditaati oleh orang Arab hanyalah orang yang bersuku Quraisy dan karena itu pengganti Rasulullah hendaklah dipilih dari orang Quraisy. Usul ini diterima dengan baik serta dapat menghindarkan perpecahan, dan akhirnya mereka memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Fakta bahwa Islam ingin menghapus sifat ‘ashabiyyah (ta‘ashshub/kesukuan), mungkin sekali tersingkirkan secara tidak sengaja, karena ada kebutuhan praktis ingin menghindarkan umat Islam Madinah yang baru terbentuk dari perpecahan. Kelihatannya, keputusan Abu Bakar ini mendorong para ulama pada masa belakangan untuk berpendapat bahwa khalifah haruslah keturunan (berkabilah) Quraisy dan ini berkembang secara amat luas di kalangan kaum Muslimin sunni sampai berabad-abad sesudahnya.
Ketiga, kedudukan perempuan dengan laki-laki. Dalam adat Arab, kedudukan perempuan sangat rendah, sehingga seorang ayah boleh membunuh anak perempuan. Al-Qur’an mencela adat Arab Jahiliah yang merendahkan perempuan dan secara amat jelas mengangkat derajat perempuan. Pertanyaan yang muncul, apakah Al-Qur’an mengangkat derajat perempuan sehingga setara dengan laki-laki (kecuali dalam beberapa hal tertentu yang disebutkan secara khusus di dalam Al-Qur’an); atau Al-Qur’an mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi dari yang ada dalam adat Arab jahiliah, tetapi tidak sampai ke tingkat sederajat dengan laki-laki (kecuali dalam beberapa hal yang secara jelas disamakan Al-Qur’an).
Para Sahabat kelihatannya belum dapat menerima penafsiran bahwa Al-Qur’an berkeinginan mengangkat perempuan menjadi sederajat dengan laki-laki (kecuali dalam beberapa hal yang dikhususkan). Mereka kelihatannya telah sepakat untuk menghargai perempuan lebih tinggi dari yang ada dalam adat jahiliah, tetapi tidak sampai ke tingkat sederajat dengan laki-laki. Ayat-ayat Al-Qur’an cenderung ditafsirkan ke arah yang menjadikan perempuan tidak sederajat dengan laki-laki. Al-Alusi dalam kitab tafsirnya, Ruh al-Ma‘ani, ketika menafsirkan ayat-ayat kewarisan dalam surat An-Nisa’ menyatakan bahwa ada belasan perbedaan (kelemahan) pada orang perempuan yang menyebabkan mereka diakui sebagai setengah laki-laki.
Masalah ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 282. Sekiranya diperhatikan, penempatan dua orang perempuan sebagai ganti satu orang laki-laki dalam masalah kesaksian ini, tidak bersifat mutlak, tetapi ada ‘illat (rasio legis)- nya, yaitu kekhawatiran bahwa dia akan lupa. Jadi, kalau satu orang lupa, masih ada satu orang lagi yang masih mengingatnya. Pertanyaannya, kalau salah satu dari dua orang perempuan tersebut ingat, tetapi yang satu lagi lupa, dan tetap lupa walaupun sudah diingatkan, bagaimana nilai kesaksian satu orang perempuan tersebut? Menurut para Sahabat, kesaksian yang hanya diberikan oleh satu orang perempuan karena saksi perempuan yang satu lagi lupa, dianggap belum cukup. Menurut mereka, kesaksian dua orang perempuan dihargai sama dengan kesaksian satu orang laki-laki. Jadi, kesaksian satu orang tersebut baru setengah kesaksian laki-laki.
Dalam hal ini, ada Hadits sahih yang menyatakan bahwa Allah menciptakan orang perempuan lebih rendah dari orang laki-laki, karena akal dan ibadat orang perempuan lebih rendah dari akal dan ibadat laki-laki. Ibadat orang perempuan lebih rendah dari laki-laki karena orang perempuan tidak boleh shalat dan puasa ketika haidh; akal orang perempuan lebih rendah dari laki-laki karena kesaksian orang perempuan hanya setengah dari kesaksian orang laki-laki. Jadi, kesaksian perempuan dihargai setengah kesaksian laki-laki, sama seperti bagian kewarisan mereka yang juga hanya setengah bagian kewarisan laki-laki.
Berbeda dengan pendapat di atas, para ulama modern cenderung berpendapat bahwa kesaksian satu orang perempuan seharusnya dihargai sama dengan kesaksian satu orang laki-laki karena alasan menetapkan dua orang tersebut di dalam ayat adalah untuk membantu para pihak, jangan sampai transaksi tersebut dianggap tidak terjadi karena saksinya lupa. Dengan kata lain, perintah menyediakan dua orang saksi adalah untuk berjaga-jaga dan kehati-hatian, sekiranya satu saksi perempuan tersebut lupa masih ada satu lagi yang akan mengingatkan. Jadi, sekiranya satu dari dua orang perempuan tersebut menyatakan transaksi telah terjadi, maka kesaksian ini harusnya dianggap cukup, dihargai sama dengan kesaksian seorang laki-laki, tanpa perlu mempertimbangkan satu orang yang lupa tersebut. Pengertian dan tafsir seperti ini telah diajukan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim pada masa yang lalu (Ibnu Qayyim, I‘lam jilid 1, hlm. 95), dan pada masa modern sekarang diulang kembali oleh Mahmud Syaltut. Menurut mereka, ayat tentang kesaksian ini tidak untuk merendahkan perempuan menjadi setengah laki-laki, tetapi sekedar untuk berjaga-jaga dan kehati-hatian. Dengan demikian, boleh saja para pihak menempatkan satu orang perempuan sebagai pengganti satu orang saksi laki-laki, atau dua orang perempuan sebagai pengganti dua orang laki-laki. Resikonya, kalau para saksi perempuan ini lupa, maka transaksi tersebut akan dianggap tidak terjadi oleh hakim. Tetapi, kalau saksinya lebih dari dua orang, maka ketika ada yang lupa masih ada yang lain yang akan mengingatkan, sehingga transaksi tersebut tetap dianggap ada.
Sebagai kelanjutan dari kecenderungan untuk menghargai kesaksian perempuan hanya setengah kesaksian laki-laki, sebagian Sahabat yang kemudian diikuti oleh sebagian imam mazhab membatasi pula masalah-masalah yang boleh dibuktikan dengan kesaksian perempuan. Ulama Hanafiah berpendapat bahwa kesaksian orang perempuan hanya diterima dalam masalah yang berkaitan dengan harta dan perkawinan, tetapi tidak diterima dalam masalah hudud (pidana).
Sebaliknya, pada masa sekarang ada kelompok yang ingin menyamakan derajat orang perempuan dengan laki-laki secara sedemikian rupa, sehingga beberapa pengecualian yang disebutkan Al-Qur’an pun cenderung ditakwilkan dengan cara-cara yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Dalam Al-Qur’an, secara jelas disebutkan adanya izin kepada suami untuk berpoligami, dan bagian anak laki-laki sama dengan dua kali bagian anak perempuan dalam warisan dan beberapa hal lainnya. Aturan ini disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur’an sehingga sukar untuk ditakwil, ke arah yang menjadikan poligami tidak ada dan bagian warisan anak laki-laki disamakan dengan bagian anak perempuan. Karena disebutkan secara relatif sangat gamblang, maka perbedaan ini harus dianggap sebagai perkecualian yang dibuat oleh Al-Qur’an. Karena merupakan perkecualian, maka aturan ini tidak akan diperluas kepada hal lain yang tidak disebutkan Al-Qur’an. Pada bidang lain, yang tidak disebutkan secara khusus, maka laki-laki dan perempuan harus dianggap sederajat.
Masalah kedudukan perempuan dan kesederajatannya dengan laki-laki merupakan masalah besar yang masih memerlukan penelitian mendalam. Sekiranya ditemukan bias dari adat Arab yang merendahkan perempuan, maka harus ditinjau dan diperbaiki, sehingga tidak terus berkelanjutan dalam fiqih yang kita amalkan. Terobosan besar yang sudah dilakukan di Indonesia adalah keberanian para ulama menetapkan adanya harta bersama di dalam perkawinan, yang sampai batas tertentu menjadikan posisi perempuan di dalam perkawinan menjadi lebih kuat dari keadaan sebelumnya. Ketentuan ini merupakan hal yang betul-betul baru karena tidak ditemukan di dalam pemahaman Sahabat dan fiqih mazhab.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman Sahabat melalui kegiatan internaliasi dan sosialisasi bukanlah pemahaman yang bebas dari kekeliruan. Seperti terlihat dalam contoh di atas, Sahabat belum mampu melepaskan diri dari pengaruh adat Arab jahiliah, utamanya dalam masalah yang berhubungan dengan hukum kekeluargaan. Mungkin lebih tegas lagi mengenai hukum kekeluargaan yang berkaitan dengan upaya mengangkat derajat orang perempuan dari penghinaan dan keterpurukan dalam adat Arab jahiliah. Hal ini mungkin sekali terjadi karena masalah tersebut merupakan masalah ijtihadiah dan mereka tidak mempunyai pembanding yang memudahkan untuk keluar dari lingkungan adat jahiliah yang baru ditinggalkan tersebut.

Pada masa sekarang, setelah adanya perkembangan logika serta kemajuan ilmu dan teknologi yang spektakuler, adalah mungkin untuk menafsirkan dan memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah melalui penelitian terstruktur dan sistematis dengan metode penelitian yang jelas, serta mempunyai nilai kebenaran yang sama tinggi dengan pemahaman dan penafsiran yang diperoleh melalui pemikiran kontemplatif sebagai hasil kegiatan belajar secara internalisasi dan sosialisasi, bahkan mungkin lebih tinggi dari itu. [islamaktual/sm/yasa’abubakar]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top