Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Karena turun di tanah Arab, maka adat yang diubah oleh Al-Qur’an adalah adat Arab. Ketentuan yang diperlakukan kepada adat Arab ini berlaku untuk semua adat manusia. Para ulama diminta memperhatikan adat lokal sebelum menentukan hukum atas sesuatu perbuatan atau ketika akan mengubah isi dari sesuatu konsep. Sekiranya sejalan dengan Al-Qur’an, maka adat itu dapat diterima. Ketika bertentangan dengan Al-Qur’an harus diubah. Penerimaan adat lokal oleh para ulama akan dianggap sebagai bagian dari ijtihad dan akan dimasukkan ke dalam fiqih. Dalam hubungan ini, salah satu tugas ulama mujtahid adalah menentukan batas mana adat yang harus diubah dan mana adat yang dapat diterima oleh syari‘at.
Dengan jalan pikiran ini, adalah wajar sekiranya para Sahabat setelah Rasululah wafat, menerima sebagian dari adat Arab sebagai tafsir atas Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, yang lantas menjadi bagian dari fiqih mereka. Kelihatannya, pada masa dahulu tidak ada diskusi tentang kebenaran dan penyimpangan pendapat Sahabat yang berasal dari adat Arab, karena mereka dianggap orang yang paling memahami pengajaran Rasul dan ijtihad mereka dianggap sebagai yang paling benar, sehingga tidak layak dipertanyakan, apalagi dikritik dan diganti. Bahkan, sesuai dengan pemahaman para ulama atas beberapa Hadits, pendapat para Sahabat ditingkatkan kedudukannya menjadi bagian dari Sunnah dan karena itu menjadi bagian dari syari‘at, sehingga dianggap ma‘shum.
Tetapi di zaman modern sekarang, muncul diskusi tentang pendapat Sahabat yang diduga berasal atau dipengaruhi adat jahiliyah tersebut. Para ulama pembaru menganggap ijtihad dan pendapat para Sahabat sebagai fiqih karena mereka adalah manusia biasa yang tidak ma‘shum.Pendapat mereka ini tidak dapat dianggap sebagai bagian dari Sunnah karena sunnah dibatasi hanya pada pengajaran dan bimbingan Rasulullah sebagai manusia yang ma‘shum. Sedang pendapat para Sahabat, khususnya yang dianggap terpengaruh dengan adat Arab, oleh sebagian ulama pembaru dirasa perlu untuk diuji, diteliti, dan dikritik secara cermat. Sebagian pendapat Sahabat dianggap mengandung bias karena “membelokkan” pemahaman Al-Qur’an dari berupaya meninggalkan adat Arab jahiliyah menjadi menerima dan melestarikannya.
Untuk mengetahui apakah pendapat para Sahabat masih terpengaruh dengan adat Arab yang sudah ditinggalkan Al-Qur’an, dapat dilakukan dengan mengikuti diskusi yang terjadi di antara mereka secara kritis, lalu membandingkannya kepada kaidah-kaidah ushul fiqih, serta perlu juga menggunakan isi dan temuan ilmu pengetahuan modern, misalnya saja antropologi, psikologi, dan ekonomi sebagai alat bantu analisis. Menurut penulis, dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan modern sebagai alat analisis tambahan, akan kita ketahui bagaimana tuntunan Al-Qur’an dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan budaya dan adat seharusnya dimaknai dan ditentukan. Misalnya, saja bagaimana konsep-konsep yang ada dalam Al-Qur’an seperti “keluarga, kerabat dan keturunan” diberi isi ketika diketahui bahwa konsep-konsep tersebut dimaknai secara berbeda dalam berbagai suku bangsa di dunia ini. Apakah makna yang diberikan oleh para Sahabat atas konsep-konsep tersebut berdasarkan adat Arab akan dianggap telah memenuhi syarat metodologis (dianggap benar), karena itu akan dipertahankan dan akan diupayakan penggunaannya dalam masyarakat-masyarakat lain dengan adat yang berbeda.
Dengan membaca antropologi, akan diketahui bagaimana perbedaan isi dan pengertian dari berbagai konsep kekeluargaan tersebut. Lantas dengan membandingkan berbagai konsep yang ada dalam berbagai masyarakat di dunia akan diketahui apakah pendapat para Sahabat, dalam masalah yang berhubungan dengan konsep-konsep dan hubungan kekerabatan masih mengandung bias adat jahiliyah atau tidak. Selanjutnya, dengan bantuan ilmu ekonomi, akan diketahui perkembangan berbagai konsep mengenai tata cara tukar menukar barang dan alat tukarnya serta bentuk gharar (ketidakjelasan) dan riba yang terjadi pada abad ketujuh Masehi, masa Rasulullah dan Sahabat. Bagaimana menjelaskan peranan uang dan lembaga keuangan seperti perbankan dan asuransi pada masa sekarang sekiranya dibandingkan dengan keadaan pada masa tersebut.
Dengan menggunakan ukuran ini, ada beberapa penalaran Sahabat yang layak dipertanyakan karena ada dugaan masih mengandung bias adat Arab yang sebetulnya ingin ditinggalkan Al-Qur’an. Di bawah ini sekedar untuk contoh, dikemukakan tiga kasus yang dapat memperlihatkan kecenderungan tersebut. Pertama, makna “kalalah.” Lafadl ini tercantum dalam surat An-Nisa’ ayat 174.
Dalam ayat ini, lafadl kalalah digunakan untuk menunjuk orang yang mati tidak meninggalkan anak, tetapi meninggalkan saudara (laki-laki dan atau perempuan). Umar bin Khaththab menganggap lafadl ini termasuk salah satu dari beberapa lafadl yang belum sempat dijelaskan Rasulullah secara memadai. Kuat dugaan, Umar sudah merasa bahwa Al-Qur’an sudah menggunakan lafadl ini untuk makna baru yang berbeda dengan makna yang ada dalam adat Arab. Keyakinan Umar ini mempunyai dasar dan alasan yang relatif kuat sekiranya kita ingat bahwa Al-Qur’an dalam masalah kewarisan telah mengubah adat Arab secara relatif total. Al-Qur’an mengubah sebab pewarisan dari hubungan kekerabatan dan keanggotaan kabilah yang saling membantu dalam peperangan menjadi anggota keluarga dengan hubungan darah tertentu atau perkawinan. Al-Qur’an juga memberi hak kepada anak-anak dan orang perempuan untuk menjadi ahli waris, yang dalam adat Arab jahiliyah sama sekali tidak diperhitungkan. Tetapi karena Rasulullah tidak menjelaskan makna kalalah secara rinci, atau karena tidak ada kasus kongkrit pada masa Rasulullah sebagai contoh untuk penerapannya, maka Sahabat kelihatannya menjadi ragu-ragu dan tidak mampu memberikan makna baru, dan malah merasakannya sebagai aturan yang tidak jelas.
Para Sahabat melakukan diskusi untuk menetapkan arti dari lafadl tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang waktu itu memangku jabatan khalifah, menetapkan arti kalalah adalah orang yang mati tidak meninggalkan anak laki-laki dan ayah tetapi meninggalkan saudara. Abu Bakar menyatakan bahwa dia memberikan pendapat ini berdasarkan pendapat pribadinya (ra’yu). Umar mengeritik arti ini, karena berbeda dengan maksud dari redaksi yang digunakan Al-Qur’an, yang secara relatif jelas menyatakan bahwa kalalah adalah orang yang mati tidak meninggalkan anak (baik laki-laki atau perempuan), tetapi meninggalkan saudara, tanpa menyebut keberadaan ayah (dan juga ibu). Abu Bakar menyatakan bahwa arti yang dia berikan adalah arti yang dipakai oleh masyarakat Arab; itulah arti yang mereka pahami dari lafadl kalalah.Sedang arti yang diusulkan Umar adalah arti baru, yang tidak dikenal oleh masyarakat Arab. Dengan demikian, secara sadar atau tidak, Abu Bakar telah mengembalikan (mentakwilkan) arti yang ada dalam Al-Qur’an kepada arti yang sesuai dengan adat Arab, yaitu orang yang mati tidak meninggalkan anak laki-laki (keturunan laki-laki garis laki-laki) dan ayah. Umar kelihatannya tetap tidak puas, karena redaksi di dalam Al-Qur’an cukup jelas menyatakan bahwa kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak (laki-laki dan perempuan) tanpa menyebut ketiadaan ayah. Jadi, kalalah menurut Al-Qur’an mungkin dilekatkan kepada orang yang wafat yang masih meninggalkan ayah sebagai ahli waris; sebaliknya orang yang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan sebagai ahli waris seharusnya tidak dianggap sebagai kalalah. Umar kelihatannya tidak mampu membantah Abu Bakar, karena mungkin sekali dia tidak mempunyai rujukan atau logika untuk itu. Di dalam riwayat disebutkan bahwa Umar pernah berjanji akan memberikan arti baru tentang kalalah yang akan mengejutkan masyarakat, tetapi tidak kesampaian karena dia ditikam secara tiba-tiba yang menyebabkan kematiannya.
Kelihatannya, pendapat Abu Bakar relatif mudah diterima oleh para Sahabat lainnya karena ada Hadits yang menyatakan bahwa isteri seorang Sahabat yang syahid dalam Perang Uhud mengadu kepada Rasulullah, bahwa saudara laki-laki almarhum suaminya telah mengambil semua harta warisan suaminya, sehingga dua anak perempuannya tidak mendapat apa-apa. Ketika inilah turun An-Nisa’ ayat 11. Berdasarkan ayat ini, Rasulullah menyerahkan dua pertiga warisan kepada anak perempuan dan menyerahkan sisanya kepada saudara almarhum. Kelihatannya Sahabat memahami Hadits ini sebagai pernyataan bahwa saudara akan mendapat warisan (menjadi ahli waris) ketika bersama dengan anak perempuan dalam semua keadaan. Karena itu, ketika seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan, tidak dianggap sebagai keadaan kalalah. Para Sahabat kelihatannya menjadikan Hadits yang merupakan putusan Rasulullah untuk sebuah kasus, sebagai ketentuan umum karena mereka menggunakannya untuk membatasi isi Al-Qur’an. Sebetulnya, Sahabat dapat menafsirkan Hadits ini sebagai ketentuan khusus, atau bahkan mansukh. Kesimpulan ini menurut penulis setelah memperhatikan waktu turun ayat, bahwa ayat kalalah merupakan kelompok ayat yang turun paling akhir, sekitar tahun 9 H. Sedangkan Hadits di atas terjadi setelah Perang Uhud pada tahun 3 H. Dengan demikian, karena isi Hadits ini tidak sejalan dengan isi ayat yang turun lebih belakangan, maka akan lebih tepat sekiranya Hadits ini dianggap mansukh oleh ayat tersebut. Adalah kurang tepat menjadikan Hadits (peristiwa) yang terjadi pada tahun tiga Hijriyah untuk menjelaskan (dalam hal ini mengubah arti) ayat Al-Qur’an yang turun pada tahun sembilan Hijriyah.
Memperhatikan diskusi yang terjadi di kalangan Sahabat dapat disimpulkan bahwa sebagian Sahabat merasakan ada isyarat bahwa lafadl kalalah sudah mengalami perubahan makna.Tetapi sayang, isyarat ini tidak dapat mereka tangkap secara cermat, mungkin karena terlalu jauh dengan arti yang ada dalam masyarakat Arab jahiliyah.

Kalau arti kalalah tidak dibelokkan, tetapi diartikan menurut apa adanya, maka kuat dugaan akan terjadi perubahan besar pada hukum faraidh, karena saudara akan mewaris ketika bersama ayah, dan sebaliknya saudara tidak akan mewaris ketika bersama dengan anak perempuan. [islamaktual/sm/yasa’abubakar/bersambung]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top