Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dari kegiatan menafsirkan Al-Qur’an melalui metode dan pendekatan tertentu, penulis menemukan beberapa pendapat Sahabat yang diduga kuat masih terpengaruh adat Arab. Tetapi, secara sadar atau tidak, Sahabat telah membelokkan pemahaman Al-Qur’an yang berupaya meninggalkan adat  Arab menjadi mengikutinya, sehingga perubahan yang diinginkan Al-Qur’an tidak terjadi.
Tulisan ini akan menjelaskan hal tersebut dan memberikan beberapa contoh pendapat Sahabat yang dianggap terpengaruh adat Arab. Sebelumnya, perlu dijelaskan dua hal: pertama, kenapa pertanyaan dan kritik mengenai adanya kelebihan para Sahabat dibandingkan generasi sesudahnya tidak muncul pada masa lalu, tetapi muncul pada masa sekarang? Apakah Hadits tentang adanya kelebihan tersebut tidak dapat dipahami dengan cara yang lain, karena ada penelitian masa sekarang yang sampai pada kesimpulan bahwa sebagian pemahaman Sahabat masih mengandung bias adat Arab jahiliah yang sebetulnya ingin ditinggalkan Al-Qur’an. Kedua, bagaimana kedudukan atau hubungan antara adat Arab dengan syari‘at dan fiqih Islam?
Pertanyaan tentang keutamaan Sahabat atas semua umat Islam yang datang sesudahnya, muncul pada masa sekarang karena kemajuan ilmu pengetahuan serta semangat peradaban yang sudah berubah. Pada masa sekarang belajar melalui internalisasi bukan lagi cara paling baik, karena belajar dengan cara terprogram di dalam kelas tidak kalah baiknya. Penelitian yang dilakukan secara terencana, terstruktur, dan sistematis dengan metode dan pendekatan tertentu, pada masa sekarang diyakini akan memberikan hasil yang lebih kuat dari pendapat yang diberikan hanya berdasar perenungan subjektif-kontemplatif setelah belajar secara internalisasi dan sosialisasi.
Menurut penulis, perkembangan cara belajar, menganalisis, dan menafsirkan Al-Qur’an untuk memecahkan masalah, sejak masa Sahabat sampai ke masa sekarang dapat dibagi kepada tiga tahap. Tahap pertama adalah masa Sahabat. Pada saat itu alat analisis relatif sangat terbatas. Mereka berpikir dan memberikan pendapat hanyalah berdasar kecerdasan pribadi yang dituntun oleh kata hati dan nurani di bawah sinaran iman dan bimbingan yang mereka peroleh dari Rasulullah, yang kita sebut internalisasi dan sosialisasi. Pada masa tersebut, logika formal Aristoteles belum digunakan dan mungkin juga belum dikenal.
Tahap kedua adalah masa imam mazhab. Pada masa ini, metode berpikir mulai dirumuskan, yang kemudian dikenal dengan kaidah-kaidah ushul fiqih. Tidak lama sesudah ini, logika formal Aristoteles mulai diterima yang lantas dimasukkan dan akhirnya diterima sebagai bagian integral dari pengkajian fiqih (ushul fiqih). Metode yang dihasilkan tersebut secara umum tidak digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an secara langsung, tetapi hanyalah untuk menyeleksi pendapat Sahabat. Dengan demikian, keyakinan bahwa pendapat Sahabat merupakan pendapat yang paling benar tidak diuji secara “ilmiah”, sebaliknya diterima sebagai bagian dari keimanan. Tahap ketiga adalah masa sekarang. Ketika ilmu pengetahuan dan cara berpikir masyarakat sudah berkembang dan relatif menjadi sangat berbeda dengan keadaan masa imam mazhab dan Sahabat. Sekarang, belajar secara internalisasi tidak lagi diandalkan sebagai cara utama untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Cara yang pada masa sekarang diandalkan adalah belajar secara formal di dalam kelas, serta penelitian yang dilakukan secara terencana, terstruktur, dan sistematis, dengan menggunakan metode, teori, dan pendekatan tertentu. Di sisi lain, bidang dan cabang ilmu pengetahuan telah berkembang sangat pesat. Begitu juga isi dan kedalaman tiap bidang telah berubah. Dengan demikian, akan sangat memberikan banyak kemudahan sekiranya digunakan sebagai alat bantu dalam penelitian dan penafsiran Al-Qur’an.
Kesimpulan-kesimpulan tentang model dan bentuk masyarakat termasuk adat istiadatnya berdasarkan kajian atas berbagai masyarakat di berbagai belahan dunia telah mencapai kemajuan yang luar biasa sekiranya dibandingkan dengan pengetahuan pada masa Sahabat dan masa imam mazhab. Lebih dari itu, logika pun mencatat kemajuan yang mungkin sekali tidak pernah diprediksi oleh para ulama masa dahulu kala. Pada masa sekarang, menurut Noeng Muhadjir, logika sudah berkembang menjadi: i) logika formil Aristoteles; ii) logika matematik deduktif; iii) logika matematik induktif; iv) logika matematik probabilistik; v) logika linguistik; vi) logika kualitatif; vii) logika reflektif; dan viii) logika parakonsisten (Noeng Muhadjir, hlm. 6), yang kuat dugaan belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para ulama masa sekarang untuk mengembangkan fiqih. Karena alasan inilah, maka cara belajar dan cara menafsirkan berdasar internalisasi dan sosialisasi dianggap bukan lagi cara yang paling baik.
Kelihatannya, karena menggunakan hasil kemajuan ilmu pengetahuan, Fazlur Rahman dapat mengidentifikasi cara Sahabat memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan sebutan internalisasi, sebuah istilah yang kuat dugaan dipinjam dari disiplin psikologi. Di sisi lain, karena kemajuan ilmu pengetahuan, para ulama menganggap mungkin untuk menghasilkan pemahaman (fiqih) baru yang tetap dianggap memenuhi syarat walaupun berbeda dengan pemahaman Sahabat. Pemahaman baru ini akan menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan bertumpu pada logika dan ilmu pengetahuan modern.
Mengenai hubungan Al-Qur’an dengan adat Arab, khususnya dalam kaitan dengan pelestarian dan pengubahannya, menurut jumhur ulama terbagi ke dalam tiga bentuk. Pertama, Al-Qur’an mengubah adat tersebut secara total, seperti pembatalan lembaga anak angkat dan larangan mengawini ibu tiri, pemberian hak warisan kepada anak perempuan, dan larangan riba dalam utang piutang. Kedua, mengubah sebagian, seperti pengubahan izin poligami dari tanpa batas menjadi terbatas, pengubahan bentuk talak dari tanpa batas menjadi terbatas, dan pengenalan masa ‘iddah. Ketiga, penerimaan dan pelestarian adat Arab menurut apa adanya, seperti penerimaan aturan diyat dan penerimaan lembaga jual beli.
Berbeda dengan anggapan umum ini, penulis cenderung beranggapan bahwa semangat dasar Al-Qur’an adalah mengubah adat Arab dari jahiliah menjadi hidayah.Menurut penulis, tidak ada adat Arab yang betul-betul dipertahankan Al-Qur’an tanpa perubahan sedikitpun. Ada yang diubah secara total dan ada yang diubah sebagiannya saja. Bukti untuk itu dapat dilihat dalam berbagai masalah yang disebutkan Al-Qur’an yang ada hubungannya dengan adat Arab. Ketentuan dalam adat Arab tentang perkawinan, perceraian, kewarisan, hubungan anak dengan orangtua, penentuan batas aurat, berbagai bentuk jual beli, pengharaman riba, penentuan berbagai perbuatan pidana, penentuan jenis dan jumlah hukuman dan sebagainya, semuanya diubah oleh Al-Qur’an.
Memang ada adat Arab jahiliah yang kelihatannya dilestarikan Al-Qur’an, terutama pada penggunaan nama atau sebutannya. Tetapi fakta ini, menurut penulis, tidaklah meruntuhkan prinsip bahwa Al-Qur’an ingin meninggalkan dan mengubah adat jahiliah. Untuk itu, ada dua penjelasan yang dapat diberikan. Pertama, adat tersebut tidak betul-betul diterima menurut apa adanya, tetapi diubah oleh Al-Qur’an sehingga menjadi peraturan baru, walaupun mungkin masih menggunakan nama atau istilah yang sama. Misalnya, jual beli (barter) memang diterima oleh Al-Qur’an, tetapi ada bagian jual beli dalam adat Arab yang dilarang Islam, seperti jual beli gharar dan riba.
Penerimaan Al-Qur’an terhadap qishash dan diyat dilakukan dengan perubahan. Tuntutan qishash hanya berlaku untuk pembunuhan sengaja, sedang pembunuhan tidak sengaja diganjar dengan diyat.Tuntutan penjatuhan qishash atau diyat serta pemaafan diberikan kepada keluarga, bukan lagi kepada suku seperti dalam adat Arab. Izin poligami pun diubah dengan cara membatasinya, baik tentang persyaratan ataupun jumlahnya, sehingga tidak sama lagi poligami yang tanpa batas dalam adat Arab jahiliah. Begitu juga izin perceraian, diberikan perubahan penting seperti jumlah talaq yang dibatasi, masa ‘iddah yang berbeda-beda untuk berbagai keadaan perempuan yang diceraikan, adanya kewajiban nafkah dalam masa ‘iddah, adanya aturan tentang ruju‘ dan kawin kembali, serta beberapa aturan lainnya.
Kedua, penerimaan Al-Qur’an atas ketentuan dalam adat jahiliah harus dianggap sebagai pernyataan Al-Qur’an bahwa peraturan itu bukan hanya merupakan adat lokal yang cocok untuk masyarakat Arab jahiliah, tetapi merupakan peraturan (adat) yang berlaku secara relatif universal, yang ditemukan dalam berbagai masyarakat adat di dunia. Paling tidak, adat tersebut akan sesuai dan dapat dimasukkan pada semua masyarakat manusia bagaimanapun adat dan budaya mereka dan kapan serta di manapun mereka hidup. Jadi, ketentuan dalam Al-Qur’an yang berasal dari adat Arab tersebut, harus dianggap sebagai bukan adat Arab lagi, tetapi merupakan peraturan yang bersifat universal dan eternal (abadi), yang dapat dan bahkan harus diberlakukan kepada semua manusia (masyarakat).
Namun harus tetap diingat, keyakinan bahwa ketentuan yang ada dalam AlQur’an (yang diambil alih dari adat Arab) tersebut sudah bersifat universal, tidaklah berarti bahwa makna atau peraturan yang ada dalam Al-Qur’an itu harus diterima secara harfiah, tanpa perenungan dan tanpa penelitian, tentang tujuan dan kegunaannya.

Dalam hubungan ini bermanfaat disebutkan, secara umum semua ketentuan dalam Al-Qur’an masih harus ditafsirkan dan dipahami, sebagiannya diijtihadkan dengan menggunakan metode lughawiyyah (kaidah-kaidah yang bertumpu pada kaidah dan makna kebahasaan), sebagian dengan metode ta‘liliyyah (kaidah-kaidah yang bertumpu pada upaya menemukan rasio logis atau kausa efektif dan efisien dari sesuatu perintah dan larangan) dan sebagian lagi dengan metode istishlahiyyah (kaidah-kaidah yang bertumpu pada pertimbangan kemaslahatan dan berdasarkan dalil umum). Jadi, paling kurang sampai batas tertentu, tuntunan dan bimbingan dalam AlQur’an yang bersifat universal dan eternal tersebut masih harus dipikirkan dan diteliti, apa yang menjadi tujuan dan apa kemaslahatan yang ingin dicapainya dan bagaimana cara mencapainya. Karena itu, hampir selalu ada ruang untuk berbeda pendapat. [islamaktual/sm/yasa’abubakar/bersambung]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top