Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Hari itu Edwin, anak sulungku tiba-tiba ingin berbicara empat mata. Tidak seperti biasanya, ia terlihat serius. Setelah membuka pembicaraan, ia langsung menyampaikan maksudnya. Aku terperanjat ketika anakku mengatakan ingin segera menikah dan meminta untuk dilamarkan dalam waktu dekat. Perasaan senang bercampur bingung seketika mengisi kepalaku. Bukan hanya karena belum siap secara materi, tapi yang lebih membuat gelisah adalah status keyakinanku yang masing berseberangan dengan istri dan anak-anak.
Sejak kecil, aku dibesarkan sebagai penganut Nasrani. Fatalnya, keyakinan itu masih kubawa sampai aku menikah dan mempunyai tiga anak. Istri dan anak-anakku, muslim. Beberapa hari setelah berbincang dengan anak sulungku, aku tidak bisa tidur nyenyak. Dalam hati, aku segera mengambil keputusan. Masuk Islam atau tetap pada agamaku saat itu.
Sesungguhnya sudah sejak lama aku mengenal Islam dari keluarga papa. Papaku seorang muslim, pekerjaannya sopir dan jarang di rumah, sebab itu aku lebih dekat dengan mama yang non-muslim. Tak heran jika aku dan kedua saudaraku ikut agama mama sampai kami dewasa. Tapi, ada perasaan yang ‘aneh’ setiap kali melihat kakek (orangtua papa) yang tengah melakukan shalat. Hatiku menjadi teduh.
Kekhusyukan ibadah kakek seolah menggambarkan interaksi yang luar biasa antara manusia dengan Tuhannya. Itulah yang menggugah keinginanku untuk bisa melakukan hal yang sama, dekat dengan Tuhan.
Jujur saja, selama masih non-muslim, aku bukan penganut yang taat. Jarang ke tempat ibadah dan merasa jauh dengan Tuhan. Khusyuknya ibadah kakek, mampu menggetarkan hatiku sampai sekarang. Aku ingin masuk Islam tapi terasa begitu berat untuk melakukannya. Keinginan itu sudah lama kupendam.
Akhir Penantian
Permintaan anakku untuk dinikahkan, semakin membuatku tak tenang. Diam-diam aku mulai intensif mendalami Islam tanpa sepengetahuan seorangpun dari keluargaku. Bertanya pada teman maupun membaca buku-buku tentang Islam. Ya, kurasakan sentuhan Islam menancap di hati.
Suatu hari di bulan Mei 2010, aku mengajak istriku pergi tanpa memberitahu tujuannya. Istriku menurut saja dan terkejut ketika Masjid Al Falah Surabaya menjadi jujugan. Ia hanya bisa meneteskan air mata tanpa berkata apa-apa ketika akhirnya tahu aku melantunkan kalimat syahadat.
Setelah mengucap ikrar, aku dan istri langsung dinikahkan ulang sesuai syariat Islam. Karena tak ada persiapan, maharnya pun seadanya. Untung ada beberapa lembar uang seribuan di dalam dompet. Ketegangan yang menyelimuti proses ikrar langsung mencair pada momen itu. Alhamdulillah, hatiku menjadi plong, karena kini aku bisa menyatu dengan anak istriku dalam naungan Islam.
Hanya saja, ada yang masih mengganjal di dada, aku tidak ingin menyakiti perasaan mama soal keputusanku masuk Islam. Karena menjaga perasaan mama adalah salah satu penyebab ketidakberanianku untuk melangkahkan kaki merengkuh Islam saat ini. Dengan tetap memuliakannya sebagai orangtua, kucoba menyampaikannya dengan santun.
Bayanganku mama akan bereaksi keras menanggapi keputusanku ini, tapi syukurlah itu tidak terjadi. Mama mengiyakan. Semua proses yang berat itu telah dimudahkan oleh Allah.

Kemudahan dalam perjalanan merengkuh Islam menjadi bukti bahwa Allah telah memilihku. Semoga aku bisa menjadi Muslim yang sempurna dan Allah selalu menjaga keluargaku dalam satu iman dan Islam yang kuat. Amin. [islamaktual/alfalah/djanuri]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top