Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dikisahkan oleh para mufassir dan sejarawan, bahwa pada mulanya Ayyub adalah seorang yang kaya raya; punya banyak tanah perkebunan dan pertanian, punya ribuan ternak unta, kambing, dan domba. Semuanya diurus oleh para pekerja yang dibayarnya dengan teratur. Ayyub punya keluarga, isteri dan anak-anak. Dalam Perjanjian Lama kitab Ayyub ayat 2 disebutkan anak-anaknya berjumlah sepuluh orang, tujuh laki-laki dan tiga perempuan.
Tidak hanya kaya, Ayyub juga dermawan tiada tara. Tidak hanya mensejahterakan para karyawannya, tetapi juga sangat senang membantu fakir miskin, anak-anak yatim, para janda dan rakyat kecil lainnya. Sebagai seorang Nabi dan utusan Allah SwT, tentu saja Ayyub juga merupapakan seorang hamba yang shalih dan selalu taat dan rajinberibadah kepada Allah SwT.
Dalam at-Tafsir al-Kabir, Ar-razi --mengutip riwayat dari Wahab ibn Munabih-- menceritakan bahwa Allah SwT membanggakan Ayyub kepada Jibril sebagai hamba-Nya yang bersyukur dan selalu taat kepada-Nya pagi sore siang malam. Oleh Jibril pujian Allah SwT itu diteruskan kepada para malaikat lainnya dan segenap penghuni langit. Berita itu sampailah kepada Iblis. Iblis menyatakan pantaslah Ayyub bersyukur dan selalu taat karena Allah memberikan segala kenikmatan kepadanya. Keluarga dan harta kekayaan yang melimpah serta badan yang sehat wal’afiat. Coba kalau semua kenikmatan itu dicabut, tentu Ayyub akan berbalik mengutuk Allah. Lalu Allah SwT memberikan kuasa kepada Iblis untuk menghancurkan harta kekayaannya.
Setelah kebun-kebun dan semua isinya terbakar serta ternak-ternaknya mati, Ayyub tidak berubah sedikitpun. Dia tetap saja beribadah dan bersyukur kepada Allah SwT. Harta benda habis tetapi dia masih memiliki keluarga yang utuh, isteri, dan anak-anak. Iblis tidak puas dan minta izin kepada Allah untuk menghancurkan semua anak-anaknya. Allah mengabulkan permohonan Iblis sehingga musuh umat manusia itu diberi kuasa menghancurkan semua putera-puteri Ayyub. Tetapi Ayyub tetap tidak berubah sedikitpun. Cobaan beruntun tersebut tidak melemahkan imannya kepada Allah dan tidak mengurangi syukurnya.
Tentu saja Iblis tidak puas, dia menyatakan kepada Allah, Ayyub tetap taat kepada Engkau karena dia masih memiliki tubuh yang sehat. Coba Engkau ambil kesehatannya itu, pasti dia akan mengutuk-Mu. Lalu Allah memberi kuasa kepada Iblis untuk mendatangkan penyakit yang paling hebat dan menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi Ayyub, hamba dan utusan Allah yang sangat shalih dan penyabar tersebut. Lalu Iblis mendatangkan penyakit kulit yang luar biasa kepada Ayyub tetapi Ayyub tidak berubah sedikitpun. Dia tetap saja menyembah Allah dengan khusyuk, berdzikir pagi sore siang malam. Sedikitpun dia tidak mengeluhkan penyakitnya. Akhirnya Iblis mengakui kekuatan iman Ayyub.
Begitulah penulis ringkaskan kisah panjang yang dikutip oleh ar-Razy bersumber dari Wahab ibn Minabbih. Sepertinya kisah ini bagian dari kisah-kisah Israiliyat. Kisah yang sama, bahkan lebih detail lagi masih dapat kita baca dalam Al-Kitab. Menyikapi kisah yang bersumber dari Ahlul Kitab ini kita kembali kepada pedoman yang diberikan Rasulullah saw: Jangan benarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakannya (la tushaddiqu ahlal kitab wa la tukadzdzibuhum). Al-Qur’an lah yang menjadi muhaimin atau batu ujiannya. Yang dibenarkan oleh Al-Qur’an kita benarkan, yang didustakan oleh Al-Qur’an kita dustakan.Yang didiamkan oleh Al-Qur’an kita anggap sebagai informasi tambahan yang belum ada verifikasinya.
Dalam hal kisah Nabi Ayyub as ini Al-Qur’an sama sekali tidak menyebutkan kenapa Allah SwT menguji beliau dengan ujian beruntun yang sangat berat. Nabi Muhammad saw tidak menceritakannya. Kalau begitu kita kembalikan saja kepada norma standar dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa para Nabi lah yang paling berat dapat ujian dari Allah SwT untuk jadi pelajaran bagi umat manusia.
Kembali kepada Ayyub as, Allah menguji keimanan dan kesabaran Ayyub dengan mengambil semua kekayaannya satu demi satu sampai habis. Ayyub tetap taat dan senantiasa beribadah kepada Allah SwT tanpa ada keluhan sedikitpun. Ayyub berkata:”Saya datang ke bumi ini tidak membawa apa-apa, dan akan kembali kepada-Nya nanti juga tidak membawa apa-apa kecuali amal yang shalih.” Begitulah prinsip Ayyub. Cobaan kehilangan harta itu tidak mengurangi sedikitpun ibadah dan ketaatannya kepada Allah SwT.
Allah SwT mengujinya lagi dengan mengambil semua anak-anaknya. Sehingga tinggal dia berdua dengan istrinya yang setia. Ayyub tetap tidak berubah sedikitpun, dia betul-betul memahami makna Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sungguh semua kita adalah milik Allah dan semua kita akan kembali kepada-Nya). Ayyub tetap taat beribadah kepada Allah, semua cobaan yang berat itu tidak melemahkan imannya sedikitpun.
Untuk selanjutnya dia diberi cobaan yang langsung menyentuh tubuhnya. Ayyub diserang penyakit kulit di sekujur tubuhnya yang menyebabkan tubuhnya mengeluarkan bau busuk. Masyarakat akhirnya mengasingkan Ayyub ke daerah pinggiran, ditemani oleh isterinya yang setia. Istrinyalah sekarang yang berusaha mencari nafkah ke kota dengan menjual jasanya mengerjakan apa saja yang halal asal dapat membawa makanan untuk suami dan dirinya sendiri.
Memang ada yang memberinya pekerjaan, tetapi tatkala tahu bahwa dia adalah isteri Ayyub, sang majikan langsung mengusirnya takut tertular penyakit kulit Ayyub. Begitulah isteri Ayyub tidak lagi bisa mendapatkan pekerjaan menjual jasanya. Untuk mendapatkan makanan, bahkan dia memotong rambutnya yang panjang dan menjualnya.
Isterinya sudah pernah meminta Ayyub sebagai Nabi Allah untuk meminta pertolongan kepada Allah. Tidak sekali dua kali dia meminta bahkan mendesak suaminya berdo’a meminta kesembuhan kepada Allah, tapi Ayyub tidak mau. Dia bertanya kepada isterinya: “Sudah berapa tahun aku diberi kesehatan oleh Allah?” “Kalau aku sakit selama aku sehat, barulah aku akan meminta tolong kepada-Nya. Kalau tidak, aku malu meminta sembuh kepada-Nya.” Waktu itu umur Ayyub sudah 70 tahun. Berarti dia harus menunggu sakit selama 70 tahun dulu baru akan meminta kesembuhan kepada Allah SwT.
Isterinya tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Ayyub untuk mohon kesembuhan kepada Allah SwT. Tiba-tiba dia dapat ide, dan idenya ini berhasil membuat Ayyub mau memohon pertolongan Allah. Apa yang dilakukan isterinya? Isterinya menyatakan: “Ayyub, jika engkau tetap saja tidak mau memohon kesembuhan kepada Allah, sementara masyarakat sudah membuangmu dan sangat jijik melihat tubuhmu seperti ini, aku khawatir orang-orang yang tadinya sudah percaya engkau itu adalah utusan Allah, nanti tidak akan lagi percaya kepadamu”.
Akhirnya luluh juga hati Ayyub. Lalu dia bermohon dengan hati-hati dan sangat halus:  ‘Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang” (QS. al-Anbiya’ [21]:83).
Perhatikan doa Ayyub as yang sangat hati-hati khawatir kalau dalam doanya terkandung keluhan yang menunjukkan ketidaksabaran. Membaca doa Ayyub ini kita jadi malu apabila hanya diberi sakit sedikit, sakit ringan, kita mengeluh luar biasa dan lupa dengan kesehatan yang sudah diberikan Allah berpuluh tahun lamanya. Kita malu dengan Ayyub yang sekalipun dalam kepapaan dan ketidakberdayaan tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan Allah SwT. Betapa banyak di antara kita yang sama sekali tidak sabar tatkala ditimpa musibah bahkan memprotes Allah SwT. Tanpa malu berkata: “Kenapa harus saya ya Allah yang menanggung semua ini? Kurang apa taatnya saya kepada-Mu.”
Allah SwT mengabulkan doa Ayyub as. Allah SwT berfirman: “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’ [21]:84)
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.”
“(Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’”
“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.”
“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)” (QS. Shad [38]:41-44).
Demikianlah, dengan firman Allah SwT keluarlah air dari hentakan kaki Ayyub dan air itu terkumpul menjadi kolam kecil, lalu Ayyub mandi dengan air itu, serta merta tubuhnya kembali sehat. Kehidupan Ayyub kembali normal, sedikit demi sedikit harta kekayaannya didapat kembali bahkan menjadi dua kali lipat lebih banyak dari semula. Dia juga kembali dianugerahi putra-putri yang jumlahnya juga dua kali lipat dari putra-putri yang sudah meninggal dunia.

Demikianlah, contoh teladan kesabaran dari Nabi Ayyub as. [islamaktual/sm/yunaharilyas]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top