Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : (alm) KH. Mu’amal Hamidy, Lc.
Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra mengatakan : Rasulullah saw bersabda kepadanya: “Hai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan yang bangun malam tetapi tidak shalat malam.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penjelasan
Seruan atau anjuran qiyamullail itu sangat banyak, dan dipertegaskan dalam Hadits Nabi saw yang lain sebagai berikut:
Abu Darda’ mengatakan: Rasulullah Keutamaan Shalatul Lail untuk Mengatasi Keterpurukan Bangsa Mu’ammal Hamidy, Lc saw bersabda: “Ada tiga golongan yang dicintai Allah, dan Allah tertawa serta memberikan kabar gembira, yaitu: 1) seseorang yang ketika menjumpai ada sekelompok orang yang sedang menyerbu musuh dia langsung turut berperang di belakang mereka tanpa menghiraukan apakah dia akan terbunuh atau mendapat pertolongan Allah alias menang, dan itu dipandang sudah cukup baginya. Terhadap orang tersebut Allah menyerukan kepada Malaikat: “Lihatlah hamba-Ku itu bagaimana dia bisa begitu tabah demi keredhaan-Ku.” 2) Seseorang yang mempunyai isteri cantik dengan tempat tidur yang empuk, lalu dia bangun malam (untuk shalat malam). Dalam hal ini, Allah mengatakan kepada Malaikat: “Lihat dia meninggalkan syahwatnya demi mengingat Aku, padahal jika dia mau bisa saja dia tidur.” 3) Seseorang yang dalam bepergian dengan rombongan lalu semuanya bangun lalu tidur kembali, tetapi dia sendiri yang bangun malam di waktu sahur baik dalam keadaan payah maupun santai” (HR. Hakim dan Thabrani, dengan sanad shahih).
Hadits ini terdapat dalam at-Targhib wa at-Tarhib, juga di Majma’z Zawaid, yang oleh al-Mundziri dikatakan berderajat hasan (1/245). Sementara al-Haitsami mengatakan: rawi-rawinya terpercaya (2/ 25). Sedang Imam al-Hakim mengatakan: sahih dan rawi-rawinya dapat dijamin kebaikannya (1/77, no. 68).
Qiyamullail (bangun malam) yang dimaksud adalah Shalatul Lail atau shalat malam yang biasa kita kenal dengan tahajjud atau tarawih di bulan Ramadlan, adalah shalat sunat, yang keafdlaliyahannya secara umum adalah menambah pahala, juga menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam shalat wajib. Namun, secara khusus, Shalat Lail ini ada keistimewaan tersendiri, yaitu Allah akan menyambut orang tersebut dengan tertawa, yang menggambarkan kegembiraan-Nya. Sementara Al-Qur’an menyambutnya dengan memberikan tempat istimewa (maqaman mahmuda), seperti disebutkan dalam surat Al-Isra’ ayat 79:
17_79.png
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji (Al-Isra’ [17]: 79).
Untuk itu, maka usai shalat tahajjud diserukan untuk berdo’a, antara lain:
17_80.png
Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (Al-Isra’ [17]: 80).
Dianjurkan juga untuk menegaskan, bahwa yang haq pasti jaya sedang yang batil pasti hancur:
17_81.png
Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (Al-Isra’ [17]: 81).
Kalau dalam ayat di atas ditegaskan bahwa dengan Shalat Tahajjud itu pelakunya, dalam hal ini Nabi Muhammad saw ditempatkan dalam posisi terpuji (maqaman mahmuda), maka salah satu wujud maqaman mahmuda itu adalah ditaklukkannya Makkah (Fathul Makkah) dan dibersihkannya Kakbah dari berhala-berhala yang tidak kurang dari 630 patung. Karena menurut salah satu riwayat, bahwa ayat ini diturunkan menjelang hijrah, menyusul Fathul Makkah. Sehingga kalimat “keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik” itu ialah keluar Madinah. Sedang “masukkanlah aku dengan cara masuk yang baik” itu adalah masuk Makkah. Ada pula yang menafsiri “keluar masuk Makkah dengan keadaan selamat dari gangguan kaum musyrikin” (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Juz 15, hlm. 147). Sementara pengertian “telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan” itu, adalah datangnya tauhid dan hancurnya berhala. Dari sini, maka dapat diistinbatkan, bahwa doa tersebut baik sekali dibaca setiap usai shalat malam, dan sebagai doa menyelesaikan problem.
ni salah satu bentuk posisi maqaman mahmuda bagi Nabi saw di dunia, dan juga bagi kaum Muslimin. Sementara maqaman mahmuda di akhirat, bagi beliau jelas adalah surga Firdaus, surga yang tertinggi, yang juga bisa kita raih, insya Allah asal kita bisa berperilaku seperti perilaku Rasulullah saw.
Apakah kita akan masuk syurga sama dan serajat dengan syurganya Nabi ataukah sekedar sama-sama masuk syurga. Hakikatnya kita tidak tahu. Bisa saja sederajat. Wallahu a’lam! Yakni, orang ahli tahajjud bisa saja sederajat dengan Nabi saw di Firdaus nanti, insya Allah. Karena itu tidak perlu rasanya kita mengatakan “ilaahi lastulil firdausi ahlan “ (Ya Tuhan, aku tidak layak masuk surga Firdaus). Bila perlu bisa saja kita katakan, se-bagai rasa optimis: “ilaahi kuntu lil firdausi ahlan“ (Ya Tuhan, aku juga layak masuk surga Firdaus). Karena itu, aku terus berusaha untuk itu, antara lain dengan menekuni Shalatul Lail ini. Secara umum, bagi orang yang menekuni Shalatul Lail, itu dalam Al-Qur’an dikatakan: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu sahur ( adz-Dzariyat [51]: 15-18).
Sedang dalam Hadits Nabi saw dikatakan: Abdullah bin Salam menceritakan, bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah orang pada lari-lari untuk melihatnya sambil mengatakan: “Rasulullah saw sudah datang, Rasulullah saw sudah datang, Rasulullah saw sudah datang.” Lalu aku pun datang di tengah khalayak untuk melihat beliau. Setelah saya mengenal wajahnya dengan jelas, saya tahu bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta. Maka pertama-tama kalimat yang saya dengar dari beliau adalah: “Wahai manusia, sebarluaskanlah salam, berilah makan orang miskin, hubungilah keluarga, dan shalatlah di waktu malam di saat orang-orang lain pada tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat (dengan mulus)” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibnu Abi Syaibah).
Masih banyak lagi Hadits semakna dengan itu. Dalam Hadits ini, dijelaskan salah satu jaminan bagi orang yang biasa shalat malam adalah masuk surga dengan mulus. Surga mana yang dimaksud? Tidak dijelaskan. Bisa saja surga Firdaus. Karena sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an, bahwa bagi semua orang yang beramal shalih dijamin akan masuk surga Firdaus:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya (Q.s. Al-Kahfi [18]: 107-108).
Melihat begitu pentingnya Shalatul Lail, maka banyak sekali hadits Rasul saw yang menyerukannya, antara lain dua Hadits yang kita tampilkan di atas. Pentingnya Shalat Lail ini tidak saja mengenai pribadi-pribadi, bahkan bisa juga mengatasi problem sosial, problem bangsa dan Negara.

Kini, kita bangsa dan Negara Indonesia sedang dalam keterpurukan. Maka kegiatan Shalat Lail adalah salah satu solusi mengatasi keterpurukan itu. Namun, harus pula dibarengi dengan keimanan yang baik, iman yang bersih dari syirik, ketulusan beribadah, moralitas yang tinggi dan ketakwaan kepada Allah yang sebenarnya. Dan ini terlebih khusus bagi para pejabat teras. Semoga! [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top