Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam Al-Qur’an, kita dianjurkan untuk secara terus-menerus (ketika berdiri, duduk, dan merebahkan badan) untuk berdzikir (mengingat Kebesaran-Nya) dan memanfaatkan untuk berfikir (mendalami segala ciptaan-Nya (Ali Imran [3]: 190- 191). Mengapa anjuran dzikir diletakkan lebih dulu dan sekaligus ditekankan sifat keterus-menerusannya dilakukan dalam ayat tersebut (Ali Imran [3]: 191)dibandingkan anjuran fikir yang tidak ditekankan kapan untuk dilakukannya? Menurut penulis, hal ini menunjukkan pentingnya perkara dzikir itu. Boleh dikatakan, dzikir merupakan manifestasi konkret dari rasa iman seseorang Mukmin.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, bahwa sehebat-hebatnya manusia, misalnya kalau dilihat dari aspek keilmuannya (yang dapat disimbolkan dengan “kepala”), kekuasaannya (yang dapat disimbolkan dengan “dada”) dan kekayaannya (yang dapat disimbolkan dengan “perut”) atau juga kekuatan fisiknya (yang dapat disimbolkan dengan otot), namun pandangan, wawasan, dan cara berpikirnya tidak jarang justru sangat pendek dan dangkal. Sebabnya adalah karena setiap manusia, tanpa kecuali (selain Nabi tentu saja), gampang sekali terkooptasi atau tertelikung oleh lingkungan dekatnya, entah itu berupa kewilayahan (lingkungan geografis), kebendaan (lingkungan materi), dan pergaulan (lingkungan sosial dan budaya).
Kita ambil contoh konkret sekonkret-konkretnya. Misalnya ada seorang ulama yang mendalam ilmu agamanya, atau seorang ilmuwan profesional (dokter misalnya), atau seorang pejabat birokrasi tertentu, atau seorang kaya raya, atau seorang atlet yang terkenal, lalu pada suatu ketika, entah karena tak sengaja atau karena memang direncanakan, berjumpa atau menghadapi langsung seorang perempuan yang sungguh-sungguh cantik rupawati dan berpostur sangat ideal, maka apa yang akan terjadi dalam ruang hati/batin si pria yang ulama, dokter, pejabat, si kaya, dan si atlet tadi? Kalau benar-benar menjawab secara jujur sejujur-jujurnya, maka yang akan terjadi adalah “hilangnya sementara” ilmu dari diri si ulama, profesionalitas dari si dokter, kewibawaan kepemimpinan si pejabat, kewaspadaan terhadap harta si kaya, dan keunggulan prestasi si atlet.
Mereka seolah-olah lumpuh tak berdaya di hadapan realitas kecantikan, kerupawatian, dan kemolekan postur tubuh seorang perempuan yang sedang dihadapi. Hal seperti ini normal, apalagi bagi kaum laki-laki. Persoalan yang mendasar di sini bukan persoalan normal atau tidaknya laki-laki dalam menghadapi lawan jenis yang cantik, jelita, dan molek seperti itu, melainkan hal itu menandakan benarnya peringatan Al-Qur’an tentang begitu gampangnya pandangan manusia, wawasannya, dan cara berpikirnya menjadi sangat pendek dan dangkal. Al-Qur’an mengingatkan, kependekan dan kedangkalan pandangan, wawasan, dan cara berpikir tersebut tersebab adanya syahwat (keinginan-keinginan) yang berjangka pendek dan dangkal (dalam bahasa filosofinya “ di sini dan kini”) (Ali Imran [3]: 14). Itulah dalam bahasa agama Islam disebut “ad-dunya” (sesuatu yang hakikatnya “dekat”; danaa = dekat dengan; bhs. Arab). Jadi, kecenderungan ruang hati/batin manusia itu gampang sekali menjadi berjarak pendek terhadap hal yang sedang dihadapi yang disebabkan faktor syahwat (keinginan-keinginan) yang mengepung secara ketat dalam dirinya. Kalau sudah begini, maka mudah sekali menjadi rabun (samar-samar) pandangannya, wawasannya, cara berpikirnya. Akibatnya, keunggulan ilmu seorang ulama, profesionalitas seorang dokter, kewibawaan seorang pejabat, kemilau harta seorang kaya, dan prestasi seorang atlet menjadi menurun tajam sampai hampir-hampir pada titik nol. Al-Qur’an memberikan solusi jitu untuk mengatasi hal semacam ini.
Al-Qur’an mengajukan konsep ilmu. Apa sebenarnya hakikat iman itu sendiri? Pada hakikatnya iman adalah proses transendensi atau proses pengangkatan ke arah langit (Tuhan) agar sesuatu tersebut tidak tertarik oleh gaya tarik (gravitasi) pusat bumi (keinginan-keinginan kuat manusia yang berjangka pendek dan dangkal). Dengan proses transendensi tersebut, maka dalam diri setiap manusia akan terjadi proses-proses “pembuatan jarak” terhadap lingkungan dekatnya. Dalam kata lain, ada “jarak batin” antara diri seseorang terhadap hal-hal yang bersifat duniawi yang sering mengajak untuk direalisasikan secepatnya, “kini dan di sini” ini. Pembuatan “jarak hati” ini sangat ditekankan bagi orang beriman. Sebagai contoh, ibadah shiyam.Apa artinya shiyam? Shiyam berarti “menahan/mencegah diri sementara mulai dari terbitnya fajar (waktu shubuh) sampai tenggelamnya matahari (waktu maghrib) dari tarikan syahwat yang melekat badan kasar, yaitu tarikan makanminum dan tarikan hubungan seksual, walaupun makan minumnya halal dan istrinya juga halal.

Shiyam atau menahan/mencegah diri sementara ini untuk menyadarkan dan melatih perlunya orang Mukmin untuk peka dan cerdas membuat “jarak hati” terhadap apa saja yang sedang dihadapi. Iman yang hakikatnya adalah transendensi di atas dan shiyam yang pada hakikatnya menyadarkan dan melatih membuat “jarak hati” terhadap segala sesuatu yang sedang dihadapi akan membuahkan “ketelitian hidup” yang luar biasa. Hati menjadi bening. Pandangan, wawasan, dan cara berpikir akan berjalan sebagaimana mestinya dan proporsional. Itulah sebabnya amal shalih yang benar-benar berperingkat “shalih” hanya akan dihasilkan oleh orang-orang yang benar-benar beriman, benarbenar membuat “jarak hati” secara proporsional terhadap segala hal yang sedang dihadapi. Layakkah untuk kita tunda-tunda memraktikkannya? Wallaahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top